MUSE

MUSE
S3 ~ PAHIT



MUSE S3


EPISODE 118


S3 \~ PAHIT


\~Wajah cantiknya, senyuman manisnya, juga keindahan lekukan tubuhnya, semuanya menjadi inspirasiku dan aku pasti akan mempersembahkan sebuh kemenangan untuknya.\~


_______________


5 hari yang lalu.


Setibanya aku di sebuah rumah asri diwilayah desa T. Mama terlihat sedang membersihkan pekarangan dan Papa sibuk menyiram tanaman hias.


“Leon!!” Mama langsung berlari dan memelukku saat ia sadar anaknya berdiri di depannya.


“Mama!!” balasku juga dengan pelukkan erat.


“Leon.” Papa meletakkan selang air dan berjalan memelukku juga.


“Papa.” Aku memeluknya tak kalah erat.


“Kau kini lebih tinggi dari Papa?” Papa menepuk pundakku.


“Iya,” tawaku senang, Papa tak lagi bisa mengelus rambutku.


“Dasar anak tak tau diri. Pulang bukannya langsung ketemu orang tua malah pacaran dulu!” Papa menjepit leherku dengan lengannya.


“Hahaha, kangenlah, Pa. Kayak nggak pernah muda aja,” ledekku juga.


“Sudah-sudah, ayo masuk! Leon pasti lelah.” Mama mendorong kami berdua.


“Ayo!” Papa mengangkat tasku, kami bergegas masuk.


Aku langsung mencium punggung tangan Kakek dan Nenek. Nenek tampak pucat dan wajahnya lesu, namun ada senyuman puas saat melihatku datang menjenguknya.


“Makan dulu, Leon!” Mama menyuruhku duduk di meja makan bersama dengan mereka.


Hidangan sayuran hijau hasil kebun sendiri begitu menggoda. Mulai dari cabai, tomat, sampai sayurannya semua ditanam oleh Kakek dan Papaku.


“Enak?”


“Enak banget, Ma. Ya ampun sudah lama Leon nggak makan masakan Mama. Rasanya sampe meleleh di mulut.”


“Dasar anak penjilat!” Papa menyeringai.


“Hehehe, Tulus ini, Pa!! Tulus,” kekehku.


“Oh, ya, Leon. Papa dapat pesan di E-mail dari asossiasi seniman.”


“Apaan, Pa?”


“Ada kompetisi seni keramik terbesar se-Indonesia. Kau mau coba ikut?” tanya Papa.


“Mau! Leon mau ikut, Pa,” jawabku menggebu-gebu. Aku harus cepat-cepat di akui oleh para pecinta seni keramik. Setidaknya aku harus segera sukses agar Papa Kanna mau menerimaku.


“Baguslah, besok kau bikin karyamu. Kita kirim, akan ada pameran besar dan dinilai oleh banyak kurator seni kelas dunia. Begitu menang, namamu bisa melejit, Leon.”


“Baik, Pa, Leon akan mencobanya,” rasa antusias tinggi membuatku tersenyum bahagia.


“Oke selesaikan makanmu, kita ke studio Kakek.” ajak Papa.


“Siap.”


Dengan segera aku menyelesaikan makan siangku dan mengekor Papa. Aku ingin cepat-cepat mengasah kemampuanku bersama Papa, banyak yang belum aku pelajari dari beliau. Bagiku Papa adalah seniman terbaik, karyanya selalu membuatku tak berhenti terkesima. Walaupun mungkin nasib tak begitu berpihak padanya, tapi nyatanya karya Papa tetap laku di pasaran. Papa bahkan bisa membesarkanku, menyekolahkanku, bahkan menabung hanya dari karya tangannya.


Aku teringat ucapan Papa Kanna saat aku meneleponnya tadi. Dia bilang aku tak bisa membahagiakan putrinya, uang dari seorang pekerja seni tak akan pernah mencukupi kebutuhan dalam rumah tangga.


Aku juga harus membuktikan pada Papa Kanna kalau ucapannya salah. Aku bisa sukses sebagai seorang seniman. Aku pasti bisa membahagiakan Kanna. Kalau bekerja keras masih kurang, aku akan bekerja lebih keras dua kali lipat, kalau masih kurang aku akan bekerja lagi empat kali lipat. Yang pasti aku tak akan menyerah untuk menyenangkan Kanna.


“Kemarilah, Leon!” Papa sudah bersiap, memberikan sebongkah tanah liat berukuran besar.


“Buatlah botol sake, lengkap dengan cangkir minumnya.”


“Itu terlalu mudah, Papa.”


“Ei!! Jangan sombong, coba dulu.”


Akhirnya aku mencoba, Papa terus menilai hasil karyaku. Tak ada satupun yang memenuhi standart kepuasannya. Ternyata seorang Leo tak mudah untuk disenangkan. Alasan Papa begini lah, begitu lah, ga ada alasan yang kongkrit. Aku frustasi dan hampir menyerah, tapi saat teringat Kanna aku kembali bangkit. Aku terus bersemangat demi Kanna.


“Yang ini mulai bagus.” akhirnya pujian keluar dari mulut Papa.


“Benarkah?”


“Perhatikan detailnya, Leon. Detail sangat penting. Rasakan kehalusan permukaannya, tiap guratan sudipnya, juga keindahan lekukannya.”


“Aku mengangguk tanda mengerti.”


“Kalau kau sudah siap, kau bisa buat satu karya terbaikmu. Papa akan mengirimnya ke kompetisi itu.”


“Ok, Pa.” Papa meninggalkan studio setelah mengusap kasar pucuk kepalaku. Akupun menghela napas panjang dan bersiap dengan sebongkah tanah liat.


Aku memejamkan mataku dan membayangkan Kanna. Bagiku dia adalah inspirasiku, Muse dalam setiap karya tanganku. Wajah cantiknya, senyuman manisnya, juga keindahan lekukan tubuhnya, semuanya menjadi inspirasiku dan aku pasti akan mempersembahkan sebuh kemenangan untuknya.


— MUSE S3 —


•••


Beberapa hari kemudian aku kembali ke kota J, lebih cepat 2 hari dari jadwal. Aku terpaksa kembali karena Kanna sama sekali tak menjawab ataupun membalas chat dariku. Aku khawatir padanya, ia tak pernah marah padaku sebelumnya. Kami tak pernah bertengkar, pribadi Kanna terlalu lembut, dia selalu hanya menangis saat ada masalah. Aku tak ingin dia menangis karena diriku. Melihat air matanya di VC saja sudah membuat hatiku sakit. Kenapa dia marah padaku?


Untung saja semuanya kembali baik, kami bahkan kembali memadu kasih selepas malam dan saling mengobrol sampai subuh. Kanna menceritakan videonya hari ini, wajahnya begitu berseri-seri saat menceritakan tentang hobinya itu. Aku ikut bahagia saat melihatnya bahagi. Dulu dia adalah gadis pemurung yang selalu menyimpan segala kepahiatnnya seorang diri. Kini aku bisa melihat perubahan gambar dirinya yang mulai pulih seiring dengan perubahan bentuk tubuh dan juga wajahnya.





Paginya, aku mengajak Kanna sarapan di rumahku. Memasakkannya sup ayam kampung agar tenaganya pulih setelah sakit. Aku ingin dia selalu sehat, aku tak bisa menemaninya saat ia di rumah sakit karena kompetisi itu, jadi setidaknya aku akan memasakkan makanan penuh gizi untuknya.


Tubuh Kanna kini memang sangat kurus, makanya dia gampang sakit. Dia harus makan banyak agar tenaganya pulih dan tidak lagi sakit-sakitan. Lagi pula sedikit menggendut juga tidak masalah, aku tetap mencintainya.


Namun, kenyataan yang aku lihat saat ini membuat hatiku miris. Disaat aku pamit untuk mandi, Kanna memuntahkan semua makanannya.


“Hoek..!” terdengar suara lirih dari toilet, aku bergegas menghampirinya, aku kira perut Kanna sakit lagi. Tapi ternyata, Kanna sedang memasukkan dua buah jarinya ke dalam mulut, merangsang agar makanan yang dimakannya keluar. Ia memuntahkan kembali makanannya. Aku yang terbelalak kaget langsung berteriak memanggil namanya.


“KANNA!!”


Kanna menoleh, wajahnya sama terkejutnya denganku.


“Apa yang kau lakukan?!” Aku kembali berteriak padanya.


“Leon? Aku bisa jelaskan semua ini.”


“Kenapa kau muntahkan semua makananmu?” Aku tak habis pikir dengan tindakkannya. Bukankah memuntahkan makanan secara sengaja merupakan sebuah penyakit psikis?


“Leon....”


Mataku tertuju padanya, aku memandangnya dengan nanar. Aku tak pernah menyangka ternyata Kanna sendirilah yang telah merusak tubuhnya.


“Sejak kapan kau melakukannya?”


“Aku...,”


“Sejak kapan kau mengidap bulimia???!” bentakku.


“Leon.” Kanna memanggil lagi namaku, dia menangis. Kanna melangkah mendekatiku, ia menggenggam erat kaos yang ku kenakan.


Aku membuang muka, aku kecewa. Tapi aku juga tak ingin melihat wajah cantiknya mengeluarkan air mata. Hatiku sangat terluka mengetahui kenyataan ini, aku marah dengan kelakuannya. Aku begitu menjaganya, begitu mencintainya, aku ingin segala yang terbaik bagi dirinya, namun apa yang aku lihat??! Dia malah merusak sendiri tubuhnya! Lalu apalah artinya semua perhatinku baginya? Apalah artinya aku bagi dirinya?


“KENAPA??!” bentakkanku membuatnya berjengit takut.


“Maaf, Leon. Berat badanku susah terkontrol.” Kanna merosot ke bawah.


“Lalu kenapa? Apa itu alasan yang tepat untuk merusak tubuhmu sendiri?” tanyaku dengan nada tinggi. Tidak ada yang menyalahkannya punya berat badan berlebih. Seandainya Kanna ingin menjaga beratnyapun bukankah bisa dengan cara yang aman?! Yang lebih sehat!


“Aku tak punya pilihan Leon. Aku sudah berusaha memperbaiki cara dietku. Tapi lusa adalah batas upload story live kontrak endorse yang ku terima.” Kanna menjelaskan alasannya. Alasan yang tak masuk akal menurutku.


“Hanya demi video live, Kanna?? Serius? Hanya demi video kau merusak dirimu??! Tak sadarkah kau baru saja keluar dari RS?” Aku melihatnya dengan iba, sejak kapan Kannaku bisa berubah menjadi wanita yang haus akan pujian dan juga uang.


“Kau tak tahu betapa aku membutuhkan uang itu, Leon. Semua keluargaku bergantung padaku.”


“Lalu apa? Apa hanya karena itu kau akan terus melakukan hal bodoh ini? Demi keluarga? Demi rupiah? Atau demi pujian?”


“Leon!!” Kanna bangkit, ia membentakku, “pikirkan sedikit saja tentangku, dukung sedikit saja perbuatanku, aku melakukan semua ini tak hanya semata-mata demi uang dan ketenaran. Aku melakukan semua ini demi dirimu. Demi bisa cocok bersanding denganmu.”


“Jangan bodoh, Kanna!! Aku tak ingin!!! Aku tak ingin kau menjadi cantik dengan merusak dirimu!! Sudah ku bilang, aku cinta kau apa adanya!!”


“Ternyata kau memang tak mengerti....” Kanna melirihkan suaranya, wajahnya tertunduk, seakan ia pun kecewa padaku.


“Aku memang tak mengerti kenapa kau merusak tubuhmu demi diriku!! Aku tak pernah menuntutmu untuk tampil cantik maupun langsing. Kau gendutpun aku suka.”


PLAK!!!


Kanna menamparku. Rasanya perih dan panas.


“Kau jahat, Leon.”


“Jahat????” Aku mencengkram pergelangan tangannya. Aku masih tidak tau letak kejahatanku, letak kesalahanku?


“Hiks..., aku benci padamu Leon.”


“Kanna!!! Sadarlah, semua itu hanya obsesimu!! Aku tak pernah menuntutmu tampil sempurna, aku mencintaimu dengan tulus!”


“Lepaskan aku, Leon!” Kanna memberontak ia menarik pergelangan tangannya.


“Tidak!! Ayo makan! Aku ambilkan makan!Kau harus makan!” Aku menariknya keluar dari kamar mandi menuju ke meja makan.


“Nggak, Leon!! Jangan paksa aku.” Kanna menolak.


“Kanna!! Sepiring nasi tak akan merusak siaran live mu. Tapi tanpa sepiring nasi kau akan merusak tubuhmu.”


“Leon!! Tolonglah!! Kali ini saja, aku tak ingin makan.” Kanna memberontak.


“Makanlah, Kanna.”


“Tidak.”


“Apa kau tetap tak mau makan, meskipun kau melakukannya untukku, Kanna?” Aku memeluknya, walaupun Kanna menangis dan meronta-rontapun aku tetap memeluknya.


“Hiks, jangan paksa aku, Leon!” Kanna menangis lebih keras.


“Baiklah,” ku lepaskan pelukkanku. Kanna tersungkur ke bawah, aku pun terduduk di atas sofa. Aku mengatur emosi dan juga napasku yang menderu tak beraturan.


Ternyata Kanna sudah tak lagi mencintaiku, obsesinya menutup semua rasa cintanya padaku. Aku kira Kanna akan mengorbankan semua ketenarannya demi diriku. Ternyata pemikiranku salah, aku tak lebih hanyalah orang yang tak berharga dimatanya.


Ternyata rasanya sangat pahit, kenyataan ini sangat memuakkan.


“Pulanglah Kanna! Lakukan semua yang kau mau.” Aku bangkit dan bergegas meninggalkannya naik ke atas kamar. Aku membanting pintu kamarku dan termenung seorang diri.


— MUSE S3 —


Trus Kanna - Leon bakalan putus nggak nih?


Next episode ya readers.


MUSE UP!!


YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.


VOTE, LIKE, dan COMMENT


Masih ada dua hari untuk vote berhadiah kaos MUSE dari author!!


So... PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!


Terima kasih sudah membaca,


Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama


Love, dee


❤️❤️❤️