
MUSE S2
EPISODE 42
S2 \~ EMOSI
\~ Emosiku saat mengetahui betapa gadis itu terluka membuatku tak bisa menahan diri untuk tidak menjadi seorang iblis. \~
Aku keluar dari ruang praktek dokter Kim dan berjalan kembali menuju mobil. Mobil sport berwarna orange terang menantiku di ujung area parkir. Aku membuka pintunya naik dan masuk ke dalam. Membenamkan dahiku pada stang bulatnya.
Terus terbayang dalam benakku perkataan dokter Kim tentang gadis tanpa nama itu. Benarkah aku mencintainya? Benarkah aku merindukannya?
Memang dadaku sesak dan hampir meledak saat mengingatnya.
Memang akupun kadang masih memimpikan malam-malam yang indah saat bersamanya.
Kalau benar aku merindukannya, berarti sudah dua tahun aku menahannya. Menahan rasa sesak yang menguras emosi itu sendirian. Menahan rasa sesak yang menghancurkan hatiku. Selama ini aku hanya menahan rasa cinta dan rinduku padanya. Aku tak pernah mencarinya.
Lantas terbesit pertanyaan besar dalam hatiku seandainya ucapan dokter Kim benar.
Pertama:
Benarkah jiwaku ini bisa disembuhkan saat aku mencintainya?
Kedua:
Atau malah aku akan kembali menyakitinya saat kami bertemu?
— MUSE S2 —
Aku melaju dengan kecepatan tinggi pada jalan sepi. Tol tidak begitu rame di jam-jam sibuk perkantoran. Pas untukku memacu adrenalin dan melepaskan penat. Sudah hampir satu minggu semenjak pertemuanku dengan dokter Kim terakhir kali. Aku tak meminum obat yang di resepkannya, menurutku itu sama sekali tak akan ada artinya. Aku tetap pria dengan nafsu yang cukup tinggi, aku masih muda, dan aku menginginkannya.
Pohon-pohon rindang di pinggir jalan tampak bagaikan frame gambar yang terus diulang-ulang, saat aku melihat ke arah luar jendela. Membuatku mengingat saat-saat aku mencarinya. Tepat sebulan setelah terakhir kali kami bertemu, aku mulai merindukkannya. Aku menyuruh Aleina mencari keberadaannya.
•
•
•
“Maaf, Tuan. Saya tidak bisa menemukannya.” ada nada penyesalan dalam ucapan Aleina, tak biasanya ia gagal dalam menjalankan tugas dariku.
“Di mana ia mencairkan ceknya?” tanyaku.
“Rumah sakit, Tuan. Orang tuanya meninggal hari itu.” jawab Aleina.
“Apa kau bilang??” sontak aku berteriak, aku menodainya dikala dia kehilangan orang tuanya. Walaupun aku sedikit gila tapi aku masih punya hati nurani.
“Alamatnya? Tanya pada pihak rumah sakit alamatnya!!”
“Dia sudah pindah, Tuan. Hanya sepasang lansia yang tinggal di sana. Dan mereka tak tahu apapun tentang gadis itu. Mereka sudah pikun.” Aleina memberikan foto rumah gadis itu padaku.
“Cek 500 juta? Di mana ia mencairkannya?”
“Di bank untuk menebus rumah itu, Tuan. Di gadaikan atas nama Pamannya. Gadis itu belum memiliki KTP. Jadi saya tidak bisa melacaknya.” Aleina melirihkan kalimat terakhirnya.
“FU*K!!!” umpatku.
Dasar pembohong kecil, dia bilang sudah punya KTP. Dia bilang sudah berumur 17 tahun.
“Apa di RS-pun tak ada yang mengenalnya?”
“Semua dokumen masuk di tanda tangani oleh Pamannya.”
“Di mana Pamannya?”
“Dia kabur dengan membawa uang gadai rumah gadis itu, Tuan.” Aleina memberikan padaku copy dokumen gadai dari pihak bank.
“Baji**an itu!!” aku geram, aku marah. Bagaimana mungkin seorang Paman bisa melakukan tindakkan menyedihkan dan keji seperti ini?
Sekarang aku tahu alasannya kenapa ia meminta begitu banyak uang dariku. Bodohnya aku yang tidak bisa menyadarinya. Tak mungkin ada gadis baik-baik yang menjual diri tanpa alasan.
“Baik, Tuan.”
“Buatlah kematiannya menyakitkan!!” jiwa Syco-ku bergejolak. Emosiku saat mengetahui betapa gadis itu terluka membuatku tak bisa menahan diri untuk tidak menjadi seorang iblis.
•
•
•
Krrriiinggg 🎶
Bunyi ponsel membuyarkan lamunanku..
Mama is calling..
Telfon dari Mama, aku malas mengangkatnya. Pasti dia akan menanyakan pertanyaan yang sangat klasik dan menakutkan. Yup.. as you thought...
Kapan kau akan menikah Arvin?
Mama mau cucu Arvin?
Sampai kapan kau akan sendiri?
Kapan kau kenalkan Mama pada calon menantu Mama?!
Oh Shit..! Haruskan aku mengangkatnya? Dan menjawab semua pertanyaan horor itu.
“Hallo, Ma..,” akhirnya aku memencet tombol telfon hijau pada stir mobil.
“Arvin!! Di mana kau? Kenapa lama sekali menjawab panggilan Mama?” suara Mama yang melengking tinggi terdengar memekakkan telinga.
“Arvin baru setir, Ma.” alasanku memang benar, aku sedang menyetir.
“Kapan kau pulang? Mama kangen. Ajak Arron, Mama juga merindukannya.” ucap Mama dari seberang sana.
“Tumben Mama nggak membahas tentang pernikahan.” Aku keheranan. Pertanyaan horor seputar pernikahan tak keluar dari mulut Mama.
“Minggu depan, Ma. Aku usahakan untuk pulang,” jawabku.
“Jangan diusahakan!! Pastikan kau pulang minggu depan!! Bawa Arron!” suara Mama kembali terdengar melengking.
“Iya.. iya.. Arvin pulang! Bawa Arron.” jawabku gemas.
“Good. Hati-hati menyetirnya, Mama arisan dulu.” pamit Mama.
“Bye, Ma.” Aku menutup panggilannya.
Aku kembali menghela nafas panjang dan membanting setir untuk kembali ke kantor.
— MUSE S2 —
Muse Up
Like dan comment ya..
Jangan lupa yang banyak..
Masuk yuk ke grup chatku..
Ada event giveaway diawal bulan April.
Thanks readers..
Buang sampah pada tempatnya.
Hemat penggunaan plastik, air, dan juga listrik.
❤️❤️❤️