MUSE

MUSE
MUSE



MUSE


EPISODE 11


MUSE


\~Cukup jadi diri kamu sendiri saja.\~


“Pamerannya sudah saya atur seperti yang anda minta, Tuan.” Darren memasuki ruang kerjaku, wajahnya terlihat lebih santai.


“Kau senang?” tanyaku sambil tersenyum.


“Iya, pamerannya sukses besar, banyak yang memuji karya anda, Tuan.”


“Aku juga senang kok.”


“Apa anda tidak mau mempublikasikan diri anda?” nadanya dibuat sesopan mungkin.


“Nggak, masalah kantor aja sudah bikin aku pusing,” sahutku.


“Oh iya, manager Yoan menunggu anda di ruang tamu.”


“Suru dia masuk.”


“Baik, Tuan.” Darren sedikit mengangguk dan keluar.


Tak lama seorang lelaki muda masuk ke dalam ruang kerjaku. Namanya Yoan, orang yang baru saja aku tunjuk sebagai manager pemasaran di brand perhiasan JR. Baru- baru ini aku melirik bisnis perhiasan, aku membuat beberapa design sendiri. Brand nya belum terlalu besar dan terkenal, tapi aku yakin tahun ini bisa masuk dan bersaing ke jajaran high jewellry brand lainnya.


“Pagi, Presdir.” sapanya sopan.


“Pagi, Yoan.”


“Ini file dan hasil foto-foto kemarin.” Yoan menyerahkan sebuah amplop coklat besar kepadaku.


Aku membuka amplop coklat itu, nggak sabar melihat hasil foto perhiasan yang di pakai Lenna.


“Ada 4 Konsep, lembut, anggun, mewah, dan mempesona.” jelasnya padaku.


“Ini??? Kenapa jelek begini??” Aku melemparkan semua foto-foto itu ke atas meja.


Ekspresi Yoan tampak kaget.


“Tapi Presdir, ini difoto oleh fotografer iklan profesional.”


“Jelek! Ganti!!!” Aku menyuruh Yoan mengganti fotonya.


“Mohon maaf sebelumnya, Presdir. Mungkin karena modelnya adalah pemula.”


“Jangan mencari-cari alasan.”


“Maaf, Presdir.”


Aku menghela nafas panjang, mencoba mengatur emosiku.


“Aku berikan kalian model yang spesial, tapi kalian malah membuatnya nampak biasa saja.” Aku menggebrak mejaku sebal.


Aku menunjuk Lenna karena dia memiliki wajah dan pesonanya sendiri, matanya yang cantik, rambutnya yang berkilau, kulitnya yang putih. Tapi tim pemasaranku malah merusak Lenna dengan make up serta gaun- gaun dan merubahnya terlihat normal layaknya model biasa, menghilangkan hal yang paling spesial dari diri Lenna.


“Sudahlah, biar aku yang memfotonya.”


“Saya akan berusaha lagi, Presdir.”


“Nggak perlu, serahkan pemotretan Lenna padaku. Suru saja tim make up dan


kostummu kemari.”


“Ba..baik, Presdir.”


“Minggu depan, persiapkan semua dengan baik.”


—MUSE—


.


.


.


“Kau yakin nggak perlu sarapan?” Aku memberikan pertanyaan yang sama beberapa kali kepada Lenna.


Aku menjemputnya pagi ini untuk pemotretan, dan dia bersih keras nggak mau makan karena takut perut dan pipinya terlihat gendut.


“Nggak, nanti gendut.” Lenna menyahut pertanyaanku dengan sedikit sebal, tapi malah itu membuatnya terlihat imut.


“Oke deh. Ayo masuk.”


“Di mana ini?” Lenna melihat sekeliling bangunan rumah saat kami sampai.


“Rumahku.”


“Bukankah kita akan ke studio foto?” tanyanya heran.


“Kali ini aku yang akan memotretmu.”


“Hah???”


“Kenapa?” tanyaku.


“Kakak bisa?”


Aku menjawab Lenna dengan senyuman.


Lenna masih mengekor ke mana saja aku berjalan.


“Kau ini seperti anak ayam.”


“Habis aku nggak tahu harus bagimana.”


“Kau tunggu di sini saja. Darren akan segera datang dan menyuguhkan teh padamu.”


“Siapa Darren?”


“Pengurus rumah tangga.”


Aku meninggalkan Lenna di ruang keluarga dan bergegas menemui Yoan.


“Siapa ini?” tanyaku.


“Perkenalkan saya Lanny, MUA yang mendandani Lenna saat pemotretan.”


“Pokoknya jangan terlalu banyak make up, natural saja. Sedikit merah di bibir.”


“Baik, Presdir.”


“Lalu gaunnya mana?” Aku bertanya pada Yoan.


“Silahkan di pilih, Presdir.” Yoan menarik rak yang penuh dengan gaun-gaun indah.”


“Ini saja.” Aku mengambil sebuah gaun putih, model tank top dengan bahan tile.


“Apakah tidak terlalu polos?” Yoan tampak heran dengan pilihanku.


Aku nggak menjawab pertanyaan Yoan, dan memanggil Lenna.


“Lenna, kau mau make up sekarang? Sudah siap?”


“Oke, Kak. Aku ke sana.”


Lanny memberikan sentuhan warna peach di pipi dan coral di bibir Lenna. Aku memang sengaja nggak mau menggunakan banyak make up dan malah merusak wajah Lenna yang cantik apa adanya.


“Sudah selesai, Presdir.”


Aku memandang tubuh Lenna dari atas sampai bawah berulang-ulang. Dia terlihat gugup dan terus meremas jari tangannya. Lenna juga nggak berani menatapku, mungkin dia malu karena aku menatap terlalu lekat padanya.


“Kau siap?”


“Iya.” Lenna mengangguk.


Aku mengajaknya naik ke atas.


“Kenapa naik ke atas?”


“Di atas cahayanya lebih bagus.”


Aku mengajak Lenna masuk ke dalam ruang studio, tempat biasa aku mengerjakan hobiku.


“Wah gila, bagus banget!” Lenna berdecak kagum saat masuk ke dalam.


“Ini semua kakak kumpulin dari kecil??” tanyanya heran.


Lenna masih asyik berkeliling melihat rak-rak kaca tempatku menaruh semua kamera dan lensa serta perlengkapan fotografi lainnya.


“Keren, Kak.” Lenna mengacungkan jempolnya.


“Kau jangan membungkuk, nanti gaunnya kusut.” Aku melarang Lenna.


“Oke.”


“Ayuk mulai.” Aku mengambil sebuah kamera yang baru saja aku setting.


“Duduk di sini?” tanya Lenna.


“Iya, sana cepetan.”


“Posenya gimana?”


“Masa model nggak bisa pose??” Ledekku.


“Ih sebel deh! Kan Kakak yang suru aku jadi model. Aku tu bukan model beneran, mana bisa pose ala model profesional.”


“Hahaha.. Cukup jadi diri kamu sendiri saja.” Aku tertawa padanya.


Lenna duduk di kursi yang telah aku siapkan sebagai properti foto.


“Oke good, sekarang hadap kemari. Dagunya naik sedikit, tahan jangan senyum.” Aku memberikan sedikit arahan pada Lenna.


“Sekarang kita coba yang senyum ya. Nggak usah kaku, senyumnya sedikit saja,” pintaku pada Lenna.


Aku mengecek kembali gambar-gambar dari layar kecil di belakang kamera. Sepertinya wajah Lenna lebih cantik kalau dia nggak tersenyum. Lebih sendu dan matanya lebih menarik perhatian.


“Take lagi! Tanganmu taruh di pundak, Len. Oke gitu.. Jangan gerak dulu!”


Akhirnya sesi pemotretan selesai, aku cukup puas dengan hasil yang ku dapatkan.


“Lihat, Kak.” Lenna mendekat, samar-samar bisa kucium aroma manis dari tubuhnya.


“Ini, awal-awal masih terlihat kaku. Perlahan mulai dapat feel-nya.” Aku menunjuk beberapa foto.


“Wah.. Bagaimana bisa aku terlihat secantik ini?” Lenna tampak tak percaya.


“Mana yang cantik?” godaku.


“Ini.”


“Nggak ada tuh.”


“Jahat!”


Mata kami bertemu. Aku terpana melihat matanya yang begitu indah, violet yang menyala. Lenna tampak tersipu lalu menoleh untuk menghindari tatapanku.


“Kau mau makan?” Aku berusaha mencairkan suasana.


“Bo..boleh.”


“Tapi aku nggak punya junk food.”


“Sayur dan buah juga oke. Aku lapar.” pintanya.


“Oke, ganti bajumu. Darren akan menyiapkan makanan.”


“Baik.” Lenna bergegas keluar dan menuruni tangga.


Aku masih melihat-lihat hasil foto dari kamera. Baru aku sadari kalau Lenna memang terlalu cantik, sampai-sampai batu ruby merah di lehernya sama sekali tak terlihat.


—MUSE—


.


.


.


“Kau sudah kenyang?” Aku melirik piring Lenna yang bersih tanpa sisa.


“Sudah, tenyata enak juga.” Lenna tersenyum.


“Makan makanan yang sehat. Biar tubuhmu sehat dan otakmu pintar,” ledekku.


“Jahat.”


“Hehehehe..”


Jujur aku sangat suka menggodanya, ekspresinya sangat imut.


“Kau punya Ins****m dan sosmed lain?” tanyaku.


“Punya, ini.” Lenna menunjukan akun sosmed dari ponselnya.


“Isinya hanya foto makanan?? Kau nggak pasang foto wajahmu?” tanyaku heran. Bukankah semua gadis-gadis seusianya begitu menyukai selfie dan selalu memajangnya di setiap akun sosmed mereka?


“Aku malu.”


“Kenapa? Karena kamu spesial???”


Lenna mengangguk dan meneguk kembali jus jeruknya.


“Kakak sendiri apa nama akunnya, nanti aku follow.”


“LifeAngel.”


Lenna mencari nama akunku.


“Wah hebat, followers-nya ribuan.” Lenna terbelalak kaget.


“Foto-fotonya bagus banget, ternyata kakak juga fotografer.”


“Hanya hobi.” jawabku singkat.


“Ah enaknya punya hobi. Nggak kaya aku yang nggak punya hobi, keterampilan, dan tujuan hidup apapun.” Lenna bersandar pada kursinya.


“Kau cukup baik saat menjadi model.”


“Nggak ah.. Pose aja nggak bisa.” Lenna tertawa.


“Kau mau jadi model profesional?” Aku bertanya dengan nada serius.


“Bi.. Bisakah?”


“Tentu saja, lihat ini.”


Aku mengunggah sebuah foto hasil pemotretan Lenna hari ini ke sosmedku.


Menulis beberapacaptionsingkat


Fotografer by lifeangel


Necklace by JR collection


MUA by Lanny and team


MUSE by Cellena.


#highjewellrycltion#newproject#model


“Ini.” Aku menunjukan hasilnya kepada Lenna.


“Hah?? 10rb like dalam semenit upload.” Lenna menutup mulutnya dengan tangan, melongo tak percaya.


“Jangan sepelekan kekuatan netizen yang maha benar.” Aku tersenyum padanya.


“Hebat.” pujinya lagi.


“Ayo aku antar pulang, sudah malam.”


“Iya.” Lenna mengambil tasnya dan mengikutiku keluar.


—MUSE—


Like, comment, and +Fav


Follow dee.meliana for more lovely novels.


❤️❤️❤️


Thank you readers ^^


Bagi Votenya ya