
MUSE S7
Episode
S7 \~ MURID BARU
\~Nama Levin di elu-elukan oleh seantero negeri, sang juara terlahir dari bumi pertiwi. Levin pun menjadi semakin terkenal baik di luar maupun dalam negeri.\~
___________
Beberapa pengendara lain terkena imbasnya termasuk motor Levin. Levin bersama dengan motornya terhantam. Terseret beberapa meter sampai keluar dari sirkuit. Membuat semua penonton yang menyaksikan kecelakaan itu langsung melongo, terkesiap tak bisa berkata-kata.
Levin terbakar, dengan cepat ia berguling di pasir. Para petugas medis dan keamanan menyemprotkan pemadam api. Semuanya menarik Levin, takut bila motornya meledak karena api muncul saat motor terseret di aspal jalan.
“Tidakk … tidak mungkin!!” Leoni bergeleng, wajahnya penuh dengan keringat dingin. Jantungnya berdebar seakan ingin meledak. Ketakutan mulai menghantuinya.
Kecelakaan beruntun itu terjadi tepat di depan mata Leoni dan ribuan penontong lain. Menghantam lima orang riders, semua tim medis bergegas menolong. Suasana tegang menyelimuti tribun penonton. Mereka menutup mulutnya saat para tim medis yang menolong para pembalap menaikkan bendera merah.
“Hentikan balapan!!” Bendera merah berarti ada yang meninggal dalam kecelakaan dan balapan harus di hentikan untuk menghormatinya.
Peristiawa balapan hari itu memakan seorang korban jiwa, pembalap muda seumuran dengan Levin.
...— MUSE S7 —...
Lantas bagaimana dengan Levin?? Bagaimana keadaannya??
“Levin??” Suara Leoni menggema di speaker ponsel Levin sampai pemuda itu terpaksa menjauhkannya agar pendengarannya tidak rusak.
“Wow, suaramu keras sekali, Singa?? Apa kau ingin membuatku tuli??” Levin terkikih, ia mengupil dengan jari kelingkingnya.
“Jangan terkikih!! Kau tidak tahu betapa cemasnya hatiku saat melihat kecelakaan itu terjadi?!! Setelah dua puluh jam lebih aku baru bisa menghubungimu!! Kau membuatku tersiksa!!” Leoni mencerca Levin dengan luapan rasa khawatir, matanya berkaca-kaca, bagian bawahnya sembab karena menangis sepanjang hari. Dan si cowok tengil ini dengan seenak udelnya sendiri justru terkikih seakan kecelakaan itu bukanlah masalah besar.
“Sungguh aku tidak apa-apa, Sayang! Tak ada yang terluka parah.” Levin mendenguskan napasnya.
“Aku melihatmu terbakar, Levin!!! Jangan berkata seolah-olah itu bukanlah hal yang besar!” Tangis Leoni akhirnya pecah juga, kenapa sih Levin begitu menyepelekan nyawanya. Apa dia tak pernah tahu bahwa nyawanya itu sangatlah berharga bagi orang-orang yang mencintainya??
“Baju pembalap melindungiku dari apinya, Leoni. Tak ada luka bakar, aku sungguh baik-baik saja. Well, memang ada beberapa memar, tapi tak sampai membuatku patah tulang atau pun lecet. Kulitku masih mulus berkat baju pelindung.” Levin menceritakan pada Leoni bahwa tiap pembalap memiliki desain pakaian yang bisa melindungi mereka dari kecelakaan-kecelakaan semacam ini.
Levin saat ini memang berada di rumah sakit guna mengecek bila ada luka serius yang di alaminya. Thanks God, tak ada yang serius, kebakaran hanya terjadi di luar pakaian racingnya. Kepalanya juga terlindungi oleh helm dan ada pelindung tebal di lutut sampai ke mata kaki, jadi saat terjepit motor pun kaki Levin tidak sampai patah, hanya memar.
“Hiks … dasar bodoh!! Bodoh!!” Leoni mengumpati kekasihnya sambil berlinang air mata.
“Maaf … maaf kalau aku membuatmu begitu ketakutan, Sayang. Maafkan aku. Lain kali aku akan langsung menghubungimu. Supaya kau tahu bahwa aku baik-baik saja.” Levin menenangkan Leoni, gadis itu mengangguk di sela panggilan.
“Sekarang tersenyum, jangan cemberut mulu! Jelek tahu!”
“Iya … iya…”
Keduanya kembali mengobrol, mengutarakan seputar kehidupan mereka masing-masing. Sampai Levin akhirnya mengatakan keinginannya untuk pulang ke Indo dan bertemu dengan Leoni saat musim dingin.
“Tak akan ada pertandingan di musim dingin nanti. Jadi aku akan pulang ke Indo,” tukas Levin.
“Serius?” Wajah Leoni berseri-seri.
“Iya. Mungkin masih ada dua kali pertandingan mengingat pertandingan kali ini gagal memperoleh pemenang. Doakan aku menjadi pemenang salah satunya.” Levin tersenyum penuh kebanggaan. Sedang Leoni, ia justru berdebar tak karuan. Desiran halus merambat ke sekujur tubuhnya bila mengingat lagi tayangan balap motor itu.
...— MUSE S7 —...
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tanpa terasa sudah begitu banyak hari yang mereka jalani. Levin kembali mengikuti pertandingan ulang, ia tak memenangkan pertandingan itu. Pembalap besutan Du**ti itu harus puas berada di posisi ketiga. Meski Levin sangat kecewa namun tidak dengan manager dan pihak sponsornya. Mereka justru teramat bangga dengan prestasi Levin. Masuk dalam jajaran tiga besar dalam waktu sesingkat itu, kalau bukan bakat bawaan tentu saja akan sangat susah.
Pertandingan berikutnya, pertandingan terakhir di tahun ini. Menutup klasemen Moto Gp, mencari juara dunia baru. Levin pun begitu menantikan kejuaran ini. Ia harus berhasil membawa pulang piala sebagai hadiah untuk kekasih dan keluarga yang telah mendukungnya selama ini.
Levin bertekat untuk memenangkan pertandingan. Dan benar saja, Levin memenangkan pertandingan itu. Membuat seluruh dunia balap bergoncang. Kepemindahan juara bertahan yang telah beberapa kali diperoleh oleh brand Jepang bergeser menjadi brand Eropa.
Nama Levin di elu-elukan oleh seantero negeri, sang juara terlahir dari bumi pertiwi. Levin pun menjadi semakin terkenal baik di luar maupun dalam negeri.
Namun lain dengan Levin, Leoni yang menyaksikan pertandingan Levin selalu mengalami gejolak perasaan yang tak mampu di deskripsikan. Tiap kali Levin bertanding, tiap kali itu juga Leoni mengalami kecemasan hebat. Leoni menjadi sedikit pendiam, ia terus mengeluh kepada Kanna kalau ia mengalami nyeri di ulu hati dan juga mulas berujung diare tiap kali gugup.
Kanna menjadi cemas, sepertinya Leoni lah yang menderita kecemasan dan juga demam panggung saat Levin akan bertanding.
“Kenapa kau tidak mengalihkannya dengan balet, Sayang?? Kau bisa mengistirahatkan hati dan pikiranmu. Berhentilah mementingkan keselamatan Levin. Dia tahu resikonya, dan dia juga bukan lagi pembalap amatir, dia juara dunia.” Kanna menepuk pundak Leoni.
Leoni hanya diam saja, Kanna tidak tahu rasanya menjadi Leoni. Tak tahu rasanya menyaksikan pria yang dicintainya selalu berhubungan dengan bahaya yang mampu merenggut nyawanya kapan pun. Dalam kecepatan setinggi itu, kesalahan sedikit saja akan mampu membuatnya kehilangan nyawa.
“Leoni pergi dulu.” Leoni tak menggubris ucapan Kanna dan beranjak dari dalam mobil untuk kembali masuk ke sekolah.
“Hati-hati, Sayang! Pertimbangkan ucapan Mama!” Seru Kanna.
Leoni hanya menghela napas, ia mulai masuk ke dalam kelasnya. Mengolah kembali kerajinan kriya setelah libur kenaikan sekolah berakhir.
“Hei, katanya ada murid baru.” Teman seangkatan Leoni menyenggol lengan Leoni.
“Oh, ya?” Leoni acuh, namun masih menanggapi.
“Cewek, cantik banget. Anak-anak cowok pada ribut ngomongin dia.” tukasnya lagi.
“Namanya Johana. Dia yatim piatu, orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Dia hidup sendirian.”
“Kau tahu banyak tentangnya.” Leoni menata peralatan pahat batu dan mempersiapkan bongkahan gypsum padat untuk di ukir.
“Anak-anak cowok yang bilang, mereka sudah lebih dahulu mencari informasi tentangnya.” Tukasnya, Leoni hanya mengangguk tidak tertarik.
Sekejap kemudian, bel masuk berdentang nyaring. Anak-anak kembali ke posisi masing-masing. Jurusan seni memang terkenal dengan anak-anaknya yang nyentrik dan ceriwis. Namun keceriwisan mereka langsung terbungkam saat seorang gadis cantik masuk bersama guru wali kelas.
“Perkenalkan anak-anak, teman baru kalian, namanya Johana.”
“Halo, namaku Johana. Panggil saja aku Nana.”
Sorakan kembali riuh, di dominasi suara cowok-cowok yang mencari perhatian. Leoni tak peduli, benar, ia sungguh tak peduli padanya sampai …
“Duduklah di sebelah Leoni, Na. Kau bisa bertanya padanya bila belum mengerti.” Guru menyuruhnya mengambil tempat di sebelah Leoni.
“Hai.”
“Hai.” Kini, mau tidak mau Leoni harus peduli padanya.
...— MUSE S7 —...