MUSE

MUSE
S5 ~ BINGUNG



MUSE S5


EPISODE 41


S5 \~ BINGUNG


\~Kau yang menyayatnya dengan tajamnya perkataanmu, kau hanya menorehkan luka padaku, Lucas!! Kau hanya menyiksaku dengan cinta yang tak bisa ku raih.\~


___________________


BELLA POV


Enyahlah, Ella!!


Merangkaklah seperti anj1ng ...!


Aku tak lagi mencintaimu, pergilah dariku!


Sudah tak ada kau di hatiku.


Kenapa aku harus mencintai anak seorang pel4cur yang merusak keluargaku??


...


Kenapa Bella?! Kenapa harus Lucas?!


Ada jutaan lelaki di dunia ini? Kenapa harus dia?!


Lihat uang ini!!


Aku bisa memberikanmu segalanya! Gugurkan saja anak itu!





Mimpi buruk yang terus menghantuiku 4 tahun yang lalu kembali terngiang jelas. Kembali memenuhi benakku. Membuatku ketakutan.


Gelap, sendirian, rasa sakit, perih, derita. Aku takut!! Aku benar-benar takut!


Aku takut mengalami penolakan.


Aku takut mengalami kehilangan.


Aku takut mengalami rasa sepi itu lagi.


“Tidak!! Ku mohon tidak!! Berhenti!! Hentikan!!”


“TIDAK!!!!” Aku berteriak sekuat tenaga, bangkit dalam tidurku yang terasa begitu lama.


Peluh dan air mata membasahi keningku, napasku tersenggal, sudut mataku terasa begitu perih, kepalaku pening dan berkunang-kunang.


“Ach!!” Aku memegang luka memar karena benturan lantai.


“Di mana aku?” Baru sadar kalau aku tidak sedang berada di dalam rumahku.


Aku memutar mata, memandang tiap sudut ruangan yang tampak begitu asing. Ranjang besar, nakas, satu set sofa, dan kamar mandi dalam. Aku yakin aku sedang berada disebuah hotel. Ku lirik tubuhku, kemeja putih kedodoran dan celana boxer, milik laki-laki?? Ah, ya ampun!! Apa yang terjadi?


Terakhir yang ku ingat seseorang fans menerobos masuk dan hendak memperkossaku. Terakhir yang ku ingat adalah bayangan samar-samar wajah ...


Lucas ...?


Oh, Tuhan. Apa yang sedang terjadi? Kenapa aku membayangakan Lucas? Kenapa aku ada di sini? Apa yang terjadi padaku?? Apa yang dilakukan b4jingan itu?? Aku kebingungan!


Aku harus segera pergi dari sini!!


Aku segera bangkit dari atas ranjang, mencoba mencari sesuatu yang bisa aku gunakan sebagai alas kaki dan juga menyelimuti tubuh bagian bawahku. Nihil!! Tak ada apapun di kamar itu, hanya berbagai macam baju atasan laki-laki.


Bagaimana ini?? Oh, God, apa yang harus aku lakukan, aku bahkan tak punya uang, tak ada ponsel, bahkan alas kaki saja tak ada.


Aduh!! Kepalaku sakit sekali!!


Tidak, aku harus segera kembali! Aku harus pergi dari sini! Nick!! Nick pasti mengkhawatirkanku saat ini. Tanpa mengindahkan rasa sakitku aku mencoba untuk tetap bangkit dan berjalan menuju ke arah pintu keluar.


Namun, tinggal beberapa langkah saja aku merasa pandanganku memudar, aku kembali terjatuh. Sebelum aku sempat terantuk lantai seseorang menyelamatkanku, ia menangkap tubuhku.


“Ella!!” serunya.


Aku mengerjap kaget, hanya Lucas yang selalu memanggilku dengan panggilan itu. Sontak aku mengangkat wajahku. Mencari keberadaan dirinya. Mencari keberadaan pria yang pernah menggoreskan rasa manis dan pahitnya kehidupan dalam hidupku.


“Lucas.”


“Iya, Ella, ini aku. Ini aku Lucas.”


Ugh!! Hatiku terasa begitu nyeri, tiap-tiap tulangku terasa begitu linu, aku kembali merasakan rasa sakit yang teramat sangat menghantam sampai ke ulu hatiku.


“Ella?! Kau tidak apa-apa?” Lucas menggendongku naik ke atas ranjang. Ia merebahkanku.


Aku tak ingin tidur, aku langsung duduk, memeluk lututku. Entahlah, aku merasa sangat aneh saat ini.


Bagaimana bisa Lucas menemukanku?


Bagaimana bisa Lucas berada di sini?


Bagaimana kalau dia mencari Aiden?


Bagaimana kalau dia berusaha merebutnya dariku?!


Berbagai macam pertanyaan berkecambuk di dalam benakku. Namun aku lebih memilih diam, menunggunya berkata-kata terlebih dahulu. Aku harus tahu apa tujuannya.


“Ella, bagaimana keadaanmu?” tanyanya.


Tangannya hendak menyentuh tanganku, namun aku menariknya, kembali mempererat pelukan lututku.


Wajah Lucas menegang, aku tak peduli. Aku sungguh tak ingin melihatnya saat ini, aku takut, takut dia kembali membuangku, takut dia kembali menyakitiku, takut dia kembali merusak kebahagiaanku, takut dia kembali merebut milikku yang berharga.


Lucas menghela napas kasar, mencoba mengatur emosi. Wajahnya yang tampan tak berubah, tubuhnya pun masih sama atletis, hanya beberapa tato baru yang terlihat memenuhi sisi kulitnya yang lain.


“Maafkan aku, aku bersalah padamu, Ella,” ujarnya.


Apa dia bilang?? Maaf?!! Setelah semua yang terjadi dia meminta maaf padaku?!


Cepat-cepat aku menyeka air mata yang mencoba meleleh. Aku tak boleh terlihat lemah di hadapannya. Aku tak boleh terlihat menyedihkan.


“Ella, ku mohon, kembalilah padaku, aku sangat mencintaimu?” Lucas memelukku.


...


Aku terdiam, membisu, lidahku kelu, tak ada kata yang bisa menggambarkan betapa hatiku sangat kecewa padanya.


“Ucapkan sesuatu, Ella. Maki aku bila perlu, pukul aku, luapkan amarahmu!! Kau pasti sangat menderita selama ini karenaku.” Lucas mengambil kedua tanganku dan menggenggamnya.


Entahlah, dulu aku berharap ingin menggenggam tangan itu. Kini, menerima sentuhannya pun aku tak sudi.


“Bagaimana dengan anak kita, Ella? Siapa namanya? Dia laki-laki atau perempuan?” Lucas bertanya tanpa malu, membuatku semakin muak dengan tingkahnya yang seakan tak bersalah.


“Aku jijik padamu, Lucas!! Aku muak padamu!! Lepaskan aku, aku mau pulang,” tukasku geram.


“Tidak, Ella. Rumahmu bukan di sini. Aku akan membawamu pulang, kita akan hidup bahagia.”


“LEPASKAN AKU!!” teriakku.


“Ella??! Sebenci itukah kau padaku?”


“Iya!! Aku membencimu sampai ke sumsum tulangku!! Puas?! Mengerti!!!”


Aku menangis, akhirnya tak kuasa menahan air mata karena dadaku terasa begitu sesak.


Kemana dia dulu saat kami membutuhkan cintanya?


Kemana dia dulu saat kami membutuhkan perlindungannya?


Kemana dia dulu saat aku mengalami susahnya mengandung dan melahirkan?


Aku merantau sendiri, ke dokter sendiri, menahan cemoohan orang sendiri, aku melahirkannya tanpa dukungan suami. Membesarkannya dengan penuh keringat dan air mata. Menjual tubuh demi sesuap nasi dan biaya pendidikan yang kian tinggi. Kemana dia??!


Kini setelah ia tahu aku punya anak, ia mencoba berbaikan denganku. Mencoba merebut Aiden dariku?!! Tidak!! Selamanya aku tak akan memberikan Aiden padanya. Aku tidak rela.


Lucas bangkit, ia berlutut di hadapanku, membuatku mau tak mau memandangnya. Kami bersitatap, Lucas mulai menitikkan air matanya. Kenapa dia menangis? Kenapa pria dingin ini menangis? Apa dia mencoba menarik simpatiku?


Aku ikut menangis, bagiku Lucas yang ku kenal sudah mati. Cintaku padanya telah aku kubur dalam-dalam, ku buang jauh ke dalam tubir hatiku yang gelap dan tak berujung. Mustahil untuk kembali mencintainya karena aku telah terlanjur mencintai Nick.


“Lepaskan aku!! Kumohon Lucas!! Kalau kau memang mencintaiku, lepaskan aku!!” Aku memukul pundaknya.


“Ella!! Kau tahu seperti apa aku mencintaimu?!”


“Terakhir yang ku dengar kau berkata bahwa sudah tak ada aku di hatimu,” celaku. Aku masih ingat betul ucapannya saat di Pallete Cafe dulu.


“Aku berbohong Ella. Aku berbohong agar kau meninggalkanku saat itu.”


“Hahaha, ucapamu sungguh lucu, Lucas. Apa kau tahu, Lucas?!! Saat itu aku hendak mengatakan padamu kalau aku sedang mengandung anakmu!! Tapi kau menolakku, kau menolak kami!!” teriakku histeris.


“Ella!! Kumohon.” Lucas bangkit dan langsung mendekapku.


“Lepaskan!! Lepas!!” Aku meronta, namun dekapannya semakin erat.


“Tidak, Ella. Jangan lagi pergi dariku, kau tak tahu seberapa tersiksanya aku setiap malam tanpa dirimu. Tanpa kehadiranmu.” Lucas masih terisak.


“Kau egois, Lucas!! Kau jahat!!” Aku memukul-mukul dadanya.


“Kembalilah, Ella. Kembalilah padaku. Aku berjanji akan memcintaimu sepenuh hatiku, bukankah kau bilang aku segalanya bagimu?? Bukankah kau pernah bilang aku adalah satu-satunya cintamu.” Lucas mengecup keningku dalam.


“Tidak!! Kau yang menghapusnya!! Kau yang menyayatnya dengan tajamnya perkataanmu, kau hanya menorehkan luka padaku, Lucas!! Kau hanya menyiksaku dengan cinta yang tak bisa ku raih.”


“Itu dulu, Ella. Kumohon!!” Lucas membuat wajahku memandang dirinya. Wajah kami sama-sama memerah karena luapan emosi, sama-sama kacau karena luapan air mata.


“Kau kejam!! Kau egois,” lirihku.


“Ella cintai aku lagi!! Aku tak sanggup kehilanganmu.”


Tak ada gunanya aku berdebat dengannya, aku tahu betul sikapnya. Saat ini aku harus menuruti apa katanya, menuruti keinginannya. Lalu, tinggal menanti saat yang tepat untuk kabur dari sini.


“Baiklah, beri aku waktu untuk menata hatiku, Lucas. Kau tahu ini tidak mudah,” kataku bohong.


“Baik, Ella. Aku akan menunggumu, aku akan membuatmu kembali mencintaiku,” jawab Lucas, senyuman langsung terulas pada wajah tampannya.


“Thanks.”


“Aku yang seharusnya berterima kasih, Ella. Terima kasih telah memberiku kesempatan,” tukasnya sembari menyatukan dahi kami.


Lucas hendak mendekatkan wajahnya dan menciumku, namun aku membuang muka. Menghindar. Lucas terdiam sesaat, ia mengalihkan ciumannya pada dahiku lantas kembali memeluk tubuhku.


Semoga Nick tak melakukan tindakkan yang bodoh. Jangan mencariku Nick, Lucas terlalu berbahaya bagimu. Desahku khawatir dalam hati.


— MUSE S5 —


Esoknya ...


Setelah menghabiskan sarapan aku kembali mengelilingi kamar hotel. Mencoba mencari cara untuk keluar. Lucas selalu bekerja dari dalam hotel dengan laptopnya, jam-jam pagi hari adalah jam sibuknya.


Dua orang anak buahnya selalu berjaga di depan pintu keluar. Mereka berganti shiff sebanyak tiga kali sehari. Dan yang paling membuatku kesal adalah keberadaan Miller, pria seumuran ku itu begitu melekat pada Lucas, ia melaporkan segala macam gerak-gerik apapun pada Lucas termasuk diriku.


“Shit!! Bagaimana aku bisa kabur dari sini?!” gumamku saat mandi.


Aku benar-benar bodoh!! Harusnya aku mengikuti apa kata Nick kemarin. Instingnya jauh lebih baik karena sesama pria.


Ah, aku jadi merindukan senyuman dan wajah kikuknya. Candaku menyemangati diri.





“Bella, aku membelikanmu beberapa baju ganti dan juga alas kaki. Semoga aku tak salah mencari ukurannya.” Lucas datang dengan beberapa kantong belanja.


“Thanks, Lucas,” ucapku, aku berpura-pura saja menerima kebaikkannya. Toh aku juga butuh pakaian untuk kabur dari sini, tak mungkinkan aku kabur dengan jubah mandi hotel?


“Sama-sama, Ella. Kapan kita akan menjemput Aiden?? Kau bahkan belum menceritakan apapun tentangnya selain nama dan tanggal lahir.” Lucas duduk pada tepi ranjang, menepuk sebelahnya sebagai kode agar aku mengikutinya duduk.


“Emmp ... ceritanya setelah aku berganti pakaian saja, bisa kau keluar?” tanyaku.


“Ganti saja di sini, bukankah kita sudah lebih dari sekedar sama-sama tahu.” godanya.


“Lucas!!”


“Baiklah, baiklah!! Ck, kenapa kau sekarang tak bisa diajak bercanda?”


“Aku bukan Bella yang kau kenal dulu, Lucas. Aku bukan lagi gadis kecil yang naif dan bodoh,” pungkasku sebal.


“Bagiku kau selalu gadis kecil yang manis.” Lucas mengecup pipiku sebelum beranjak keluar.


“Lucas!! Tunggu!! Bisa kau berikan aku ponsel?” tanyaku ragu.


“Tidak.”


“Kalau begitu ajak aku makan di luar?”


“Tidak.”


“Lucas!!! Kenapa pelit sekali,” geramku.


“Aku tak ingin kau pergi lagi dari hadapanku, Ella. Aku tak rela.” Lucas lantas berlalu keluar.


Aku berdecak sebal, mengingat tak ada satu pun permintaanku yang diturutinya aku terpaksa kabur dengan cara biasa yang aku sendiri tak yakin akan berhasil atau tidak.





“Di mana Lucas, Mile?” tanyaku.


“Tuan ada di kamarnya, Nona. Mungkin sedang membersihkan diri.”


“Aku lapar, bisa kau belikan aku sekotak nasi?? Please?” Aku mengiba pada Miller, apa lagi yang aku punya selain pesona saat ini?


“Apa yang anda inginkan?”


“Nasi campur atau nasi ayam panggang, ah, sate juga enak, atau bakmi!! Ya ampun aku tambah lapar.” Renggekku manja.


“Baiklah, akan saya belikan.” Miller berbalik, ia berpesan pada penjaga pintu untuk tidak terlena.


Ck, dia bodoh sekali? Siapa pria yang tak terlena pada pesona seorang Belaciaquin?? Will dan Mark, hanya mereka yang tak terpesona denganku.


“Hei, Tuan-tuan. Apa kalian pernah melihat pole dancer?” Aku mendekat, membuka kaos dan menampilkan dada sintal yang hanya tertutup bra bruklat hitam.


“Nona apa yang anda lakukan??”


“Aku hanya ingin menari untuk menghibur kalian, kalian pasti lelahkan seharian berdiri.” Aku meliuk-liukan badanku sensual.


Huft, aku terpaksa membiarkan mata nakal mereka menghunusku. Maafkan aku Nick, aku harus melakukan semua ini agar bisa kabur untuk menemuimu lagi.


“Nona!!” pekik mereka.


“Apa kalian suka?” Aku melenggok semakin panas, menunjukan kebolehanku menari.


Tak butuh waktu lama dan mereka berdua hampir saling baku hantam karena terangsang dengan tarianku. Akhirnya satu per satu tak tahan, mereka berlari ke kamar mandi.


Binggo!! Pria memang makhluk yang sederhana, otak mereka hanya dipenuhi dengan 5eks dan juga kekerasan saja.


Aku bergegas memakai kembali pakaianku, membuka pintu dan menutupnya sepelan mungkin agar Lucas tidak mendengarnya.


Aku keluar!! Aku berhasil keluar dari kamar itu. Kini tinggal berlari secepat mungkin!! Tinggal pergi sejauh mungkin!! Aku menekan tombol lift dengan kasar, berharap pintu segera terbuka.


Ku mohon jangan sampai dia sadar dan mengejarku!!


— MUSE S5 —


Selamat idul adha bagi yang merayakannya.


Semoga berkah ya gaes.


Terima kasih sudah membaca Muse


Jangan Lupa Vote ya!! Biar semangat.


Like commentnya jg jangan lupa eeeaaaa....