
MUSE S6
EPISODE 17
S6 \~ SALAH
\~Gabby menangis, meletakkan wajahnya pada dada bidang Ivander. Terisak pelan, menangisi cinta yang muncul pada tempat dan orang yang salah. Sudah dua kali ia merasakan cinta, dan keduanya adalah hal yang SALAH!\~
_____________________
“liebe mich, Liebes! Ich werde dir alles geben.” Ivander mengecup pundak Gabby, tersenyum hangat padanya.
(Cintai aku, Sayang! Akan aku berikan segalanya untukmu.)
“Einschließlich deines Lebens?” Gabby memutar tubuhnya, bergelayut manja pada leher Ivander.
(Termasuk nyawamu?)
“Ja, einschließlich meines Lebens.” Ivander mengecup leher Gabby.
(Ya, termasuk nyawaku.)
Gabby tersenyum, mendesahh pelan saat bibir basah Ivander mengabsen lehernya. Mengecupnya mesra. Luapan gairah membuahkan kehangatan yang terus meningkat.
“Tubuhmu sangat hangat, Ivander.” Gabby mengelus otot perut Ivander dan naik ke dadanya yang bidang.
“Maka nikmatilah!” Ivander mengecup perlahan bibir Gabby sambil merangkulnya dengan erat. Berbagi kehangat suhu tubuh dan aroma parfum yang manis.
Gabby membalas kecupan bibir Ivamder, mereka saling beradu panggutan, memberikan kecupan-kecupan ringan yang berubah menjadi cepat dan dalam. Menimbulkan gerakan sensual yang membangkitkan gairah. Ivander terus menyerang bagian leher Gabby, membuat gadis itu mendesahh pelan. Sepertinya Ivander telah menemukan area paling sensitif milik Gabby.
“Kau bilang akan mengajakku mengelilingi vila?” Gabby menghentikan panggutannya, mendorong pelan dada Ivander. Ia harus menghentikan Ivander sebelum gairah lelakinya semakin tak terbendung lagi.
“Ah kau benar.” Ivender melepaskan Gabby, ia beralih pada lemari di dekat meja rias.
“Pakai ini, Gabby.” Ivander mengambil kemeja lengan panjang dan juga baju hangat.
“Aku bawa ganti di tas.” Tolak Gabby.
“Baiklah aku ambilkan tasmu, tapi tetap pakai baju hangatnya karena di luar sangat dingin waktu malam hari,” kata Ivander.
“OK,” jawab Gabby sembari membuat kode dengan jemarinya.
•
•
•
Bunyi serangga masih mendominasi suasana, menimbulkan kerikan pelan yang menenangkan. Suara gemericik air dari mata air yang dialirkan dengan bambu menuju ke danau kecil buatan membuat perasaan semakin nyaman. Grombolan kecil kunang-kunang terlihat bermain di atas permukaan danau dan beberapa bunga sedap malam.
Ivander tengah duduk dengan santai pada gazebo bambu di pinggir danau, ia menyalakan api unggun untuk menghangatkan diri. Pelayan menyuguhkan seteko penuh minuman hangat.
“Terima kasih, Icha,” kata Ivander.
“Sama-sama.”
Ivander selalu menghormati orang yang memang pantas ia hormati. Baginya Icha bukan hanya pelayan dan pengasuh, namun juga bagian dari keluarganya. Ivander tak pernah menunjukan sikap arogan, dingin, dan juga emosi saat berada di vila, karena memang tak ada yang harus dia pertahankan, tak ada yang harus dia lawan. Ivander bisa menunjukan sikap lemahannya kapan pun selama berada di vila ini.
“Waaa!!” Gabby mengagetkan Ivander dari belakang.
“Sudah selesai membersihkan diri?” tanya Ivander.
“Sudah, segar sekali airnya. Air pegunungan memang beda.” Gabby menempatkan diri di samping Ivander, mengambil segelas minuman untuk menghangatkan tangannya yang membeku. Ivander melihat tingkah imut Gabby, ia tersenyum.
“Bagaimana bisa kau begitu cantik? Bahkan saat minum?” Ivander menyisir rambut Gabby ke belakang telinganya.
“Jangan gombal, Van. Aku tahu kau berbicara seperti itu pada semua wanita-wanitamu.”
“Yah, begitulah. Tapi kali ini aku mengatakannya dengan tulus.” Ivander merangkul punggung Gabby, mendekapnya, menyalurkan rasa hangat.
“Van, bangunan apa itu?” Gabby menunjuk ke arah bangunan yang mirip dengan catedral kecil di seberang danau, catnya sedikit mengelupas karena suhu dingin dan lembab yang terus menerpanya siang dan malam.
“Oh, itu makam Mama dan Oma,” jawab Ivander.
“Oh, begitu.” Gabby kembali melihat ke arah catacomb* itu. “Cantik sekali,” lirih Gabby. Bangunan kecil itu dikelilingi oleh berbagai macam bunga cantik dan pepohonan rindang yang tumbuh subur serta terawat. Dari pada kuburan, bangunan itu lebih mirip untuk disebut toko bunga.
(|* semacam bangunan bawah tanah/kuburan.)
“Aku sengaja membuatnya sangat indah, Gabby. Seperti surga untuk mereka.” Ivander mengelus lengan Gabby, napasnya mengeluarkan embun karena hawa dingin.
“Yah, ditambah dengan danau dan juga kunang-kunang. Ini jauh lebih indah dari pada surga yang ada di dalam bayanganku, Van. Mereka pasti bangga padamu.” Gabby mengangkat tubuhnya dari dekapan Ivander, memandang wajah tampannya yang berhiaskan jambang dan bulu janggut tipis.
“Ayo kita ke sana! Aku ingin menyapa mereka.” Ajak Gabby, dengan cepat Gabby memakai sandalnya, lalu mengajak Ivander beranjak.
“Pelan-pelan,” tukas Ivander.
“Oh, aku ambil biolaku dulu.” Gabby kembali berlari.
Bayangan bulan terpantul pada permukaan danau, hari ini bulan tidak bulat penuh, namun tetap terlihat cantik dan terus menyinari bumi dengan setia. Cahaya keperakan itu membuat rambut Gabby yang hitam menjadi bercahaya.
Ivander menghidupkan lampu taman disekitar catacomb. Lalu membuka beberapa gembok sebelum akhirnya pintu kayu berukiran indah itu terbuka. Di dalamnya hanya ruangan kosong biasa dengan dua gucci berisi abu dan dua foto besar, satu foto Mama dan satunya Oma. Bisa Gabby lihat wajah keduanya masih tersenyum dengan manis dan hangat memamerkan dereta gigi mereka yang rapi.
Gucci keduanya di simpan dengan baik pada lemari kaca yang indah. Gabby kira ia akan menemukan dua buah makam batu, ternyata hanya abu kremasi pada gucci porcelain yang cantik. Gucci itu dipesan khusus oleh Zean dari Leon.
“Kenapa kau tidak mirip dengan Mamamu?” Gabby membandingkan wajah Ivander.
“Aku tampan seperti Papa, mewarisi darah asing darinya.” Ivander telihat mengelus dagunya bangga.
“Dasar.” Gabby mencubit perut Ivander.
“Apa kau tidak mau mengakui ketampananku?” Kikih Ivander, Gabby ikut terkikih.
“Kau memang tampan Ivander, sayangnya kau brengsek!!” Gabby mencibir sambil tertawa.
“Yah, aku anggap itu sebagai pujian.” Ivander mengelus pucuk kepala Gabby, membuat wajah Gabby menghangat.
“A—aku mainkan lagu untuk mereka, ya?” Gabby mencoba mengalihkan perasaannya.
“Bitte,” jawab Ivander.
(Silahkan)
Gabby mengeluarkan biola dari dalam wadahnya. Ia mengambil juga getah damar untuk mengelus rambut busurnya. Rambut putih yang terbuat dari ekor kuda itu mulai tidak kesat karena selesai dipakai untuk pentas, Gabby harus kembali memolesnya agar suara yang dihasilkan kembali jernih. Gabby mulai mengetes biolanya, senar-senar dari usus binatang memang sangat rapuh, namun menghasilkan suara yang lebih indah dibandingan senar serabut sintetis.
Jemari Gabby mulai menari pada leher biola, plitur pada kayu ebony semakin berkilat saat cahaya lampu menyentuh permukaannya. Dagu lancip Gabby menempel pada dudukan. Dengan piawai Gabby memainkan biolanya, membuat desiran melody yang menggetarkan jiwa. Gabby memainkannya dengan epic, sesekali ia memejamkan matanya untuk meresapi getaran suaranya. Ivander menatap permainan Gabby dengan terkagum-kagum.
“Sekian, salam kenal dari Gabby.” Gabby menurunkan biolanya, membungkuk memberi hormat pada kedua foto wanita yang sangat berharga dalam hidup Ivander itu.
“Kau luar biasa Gabby!” seru Ivander.
“Hanya biola keahlianku.” Gabby tersenyum.
“Vielen Dank, Liebie, kau membuatku sangat mencintaimu,” ucap Ivander.
(Terima kasih, cinta,)
“Kenapa Ivander? Kenapa dengan mudahnya kau bisa mencintaiku?”
“Entahlah, aku sendiri tak pernah tahu apa itu cinta sebelumnya. Aku hanya merasakan tak ingin berpisah darimu, hatiku sesak saat melihatmu bersama Adrian, hatiku berdebar tak karuan saat kau menyentuhku malam itu, Gabby,” tutur Ivander.
“Kenapa kau jatuh cinta padaku semudah membuka pintu, Van?”
“Jangan bertanya karena aku sendiri tak tahu jawabannya.” Ivander menarik Gabby dalam dekapannya, “satu hal yang aku tahu, saat kau menatap tajam padaku malam itu, aku yakin bahwa kaulah cintaku.” Ivander mengelus pipi mulus Gabby, menarik dagunya ke atas.
“Aku cinta padamu, Gabby, kalau kau mau mendengarnya seribu kali pun aku bersedia untuk mengungkapkannya.” Gabby terdiam, kembali terbuai dalam manisnya ucapan Ivander.
Ivander menggandeng Gabby ke luar, berjalan kembali mengitari danau buatan di depan catacomb. Sesekali Ivander mengambil batu kecil dan melemparkannya pada permukaan danau. Batu itu meloncat dua kali sebelum tenggelam. Membuat kunang-kunang kembali berterbangan.
“Apa kau tahu kunang-kunang jantan menghidupkan cahaya pada ekornya untuk menarik perhatian betina?” Ivander menunjuk ke arah kunang-kunang, “saat mereka ingin berreproduksi mereka menarik lawan jenis dengan pesona keindahan, begitu pula sang betina. Menghidupkan cahayanya untuk merespon ajakan si jantan.” Ivander menjelaskan pengetahuannya pada Gabby.
“Lalu mereka kawiin, setelah cahayanya redup mereka mati,” sela Gabby.
“Hei! Kau merusak suasana romantisnya!” protes Ivander.
“Apa yang romantis dari kematian pasca mencintai?” Gabby menatap tajam Ivander, seakan mencari tahu isi hati Ivander yang telah membunuh Krystal.
“Kata orang tak ada yang lebih romantis dibandingkan mati untuk orang yang kau cintai. Dongeng, cerita rakyat, novel romantis, bahkan dalam agama pun begitu.” Ivander membalas tatapan tajam Gabby yang menarik hatinya.
“Kata kan padaku, Van. Apa kau pernah membunuh orang sebelumnya? Berharap mereka mati demi cintanya padamu?”
Ivander terdiam sesaat, bersitatap dengan Gabby. Sorot mata heran menggelayut pelupuknya, sedangkan Gabby, tetap tajam tanpa rasa takut seperti biasanya.
“Kenapa kau bertanya seakan-akan aku pernah membunuh seseorang, Gabby?” Ivander duduk kembali pada gazebo bambu, menggenggam erat jemarinya. Hatinya penuh tanda tanya, apakah Gabby tahu tentang kasus pembunuhan yang melibatkan namanya sebulan belakangan ini? Apa Adrian yang memberi tahunya?
“Jawab saja!”
“Hah ... tidak, aku tidak pernah membunuh siapa pun. Secinta atau sebenci apa pun orang itu padaku, aku tak mungkin membunuhnya, Gabby.” Ivander menurunkan tangannya.
Gabby tertunduk, benarkah Ivander bukan orang yang membunuh Krystal? Ah, tidak!! Mana mungkin ada maling yang mau mengakui kesalahannya.
Mungkin aku harus lebih dalam lagi mendekatinya, pikir Gabby.
— MUSE S6 —
Pagi mulai menyingsing. Sinar keemasan mentari pagi menelisik masuk melalui sela-sela daun jendela. Angin pagi yang dingin pun tak ingin tertinggal, membuat Gabby meringkuk lebih dalam pada selimutnya. Ivander terbangun, ia memeluk Gabby dari belakang.
“Guten morgen!” Ivander mengecup tengkuk Gabby, membuat tubuhnya menggeliat pelan karena geli.
(Selamat pagi.)
“Morgen, Van. Ah, sepertinya kau harus mencukur bulumu, rasanya sangat geli.” Gabby memutar tubuhnya, berhadapan dengan Ivander.
“Ini daya tarikku.” Ivander kembali mengelus dagunya.
“Kalau begitu jangan menciumku.” Gabby menggembungkan pipinya sebal.
“No, baiklah aku akan mencukurnya.” Ivander menyerah, tentu saja ia lebih memilih ciuman dari bibir Gabby yang semanis madu dibandingkan dengan penampilannya.
“Kau tidak kembali ke kota untuk bekerja?” Gabby membenamkan wajahnya pada dada Ivander, menghirup wewangian yang dipakainya.
“Ini hari Sabtu, aku tak pernah datang ke kantor diakhir pekan,” tukas Ivander, ia kembali merenggangkan tangannya dan bangkit berdiri.
“Ada rencana apa kita hari ini? Keliling desa? Kau punya sepeda? Apa kita memancing? Memberi makan bebek atau kerbau di sawah?” Gabby terlihat antusias, mengelilingi desa sepertinya menarik.
“Kita bisa pinjam sepeda milik suami Icha.” Ivander mengangguk.
“YES!” sorak Gabby bahagia.
“Tapi sebelumnya, bagaimana kalau kita mandi bersama?!” Ivander menaik turunkan alisnya.
“No way!” tolak Gabby mentah-mentah.
“Ayolah!! Sudah lama aku ingin mencobanya.” Ivander memelas.
“Mencobanya???”
“Yup! Mandi di alam terbuka.” Ivander membuka jendela kamar, ada air yang mengalir dari bambu sebagai pengganti pipa.
“Alam terbuka??”
“Kemari! Lihatlah, ada mata air pegunungan yang mengalir langsung ke danau buatan itu.” Tunjuk Ivander, Gabby melihat pemandangan indah yang tersuguh di hadapannya.
“Serius?” Mata indah Gabby berbinar, semakin antusias.
“Mari lakukan permainan anak desa?” Ivander menyeringai, Gabby ikut tersenyum sebelum meloncat ke atas punggung Ivander.
“Let’s Go!!”
•
•
•
Gabby hanya memakai tank top dan celana pendek ketat, ia bergegas lari dan menceburkan diri ke dalam danau. Ivander melongo kaget, tak percaya dengan kelakuan absurb Gabby. Dia hanya mengajak gadis itu mandi di bawah pancuran bambu, bukannya menceburkan diri di dalam danau.
“Airnya dingin, Gabby! Jangan gila, kau bisa terkena frostbite!” teriak Ivander dari pinggir danau.
“Nggak, segar kok,” sahut Gabby, dia keluar dari dalam danau, dengan cepat Gabby menarik tangan Ivander, membuatnya terjungkal masuk ke dalam danau.
“Hah ... hah ...,” gelagap Ivander saat keluar dari air, tubuhnya tidak siap dan air masuk ke dalam hidung.
“Bagaimana?” tanya Gabby cekikikan.
“Iya, ternyata tidak terlalu dingin.”
“Matahari sudah sedikit tinggi, Van. Tentu saja udara semakin hangat.” Gabby mengalungkan lengannya pada leher Ivander.
“Benar.”
Ivander mendekatkan wajahnya, ingin mencium bibir merekah milik Gabby karena tak tahan melihat senyuman cantiknya. Gabby melingsut, ia berenang lebih dalam ke tengah danau. Ivander mengikutinya, mengejar dan memeluk pinggang langsing Gabby dari belakang.
Rambut hitam panjangnya semakin lurus karena basah, tiap helainya terlihat melayang indah pada permukaan air yang tenang.
“Kau satu-satunya wanita yang aku ajak kemari, Gabby.” Ivander mempererat pelukkannya, menjatuhkan kepalanya pada pundak Gabby.
“Oh, ya?” Gabby memutar pelan tubuhnya, melekatkan bagian depan badan mereka.
“Dan aku harap kita bisa sering kemari, Gabby. Membuat seribu satu kenangan indah.” Kecup Ivander.
...
Gabby terdiam, tujuannya adalah membalas dendam akan kematian Krystal, kenapa malah semakin ia mengenal Ivander, semakin ia melupakan tujuan utamanya.
Gabby kembali melingsut, ia berenang ke tepi danau, berhenti pada air terjun kecil yang dihasilkan oleh pipa bambu. Mata air pegunungan mengalir dari pipa itu, menghasilkan riak pada permukaan air danau.
Air beriak itu tak pernah tenang, seperti hatinya saat ini. Mendadak begitu kacau dan gundah. Sepatah kata dari bibir Ivander bisa membuat jati dirinya semakin menghilang.
“Gabby?!” Ivander mengejar Gabby.
“Jangan mengejarku, Van.”
“Kau tak mau? Apa semua ini karena Adrian? Apa karena kau kekasihnya jadi kau tak bisa menerimaku begitu saja?” Ivander mencengkram tangan Gabby, bertanya dengan nada tinggi. Gabby tak bisa jujur, bukan karena Adrian, tapi karena Krystal.
“Van ...,” lirih Gabby, sepertinya ada secuil keinginan kecil di dalam hati Gabby untuk menyanggupi permintaan Ivander.
“Gabby, lepaskanlah Adrian. Bersamaku saja!” Tatap Ivander.
Gabby membalas tatapan Ivander, wajah cantiknya berkerut, pandangan tajamnya berubah sendu. Andai saja pria ini tak pernah membunuh Krystal, pastinya Gabby akan dengan mudah menerima permintaannya, membuat seribu satu macam kenangan indah bersamanya.
“Seribu kalipun kau menolaknya, seribu kali pula pun aku akan mengucapkannya, Gabby!” Ivander mendaratkan ciumannya pada bibir Gabby yang merekah penuh. Menggulummnya dengan begitu dalam juga penuh gairah. Kedua tangannya terselip di belakang tengkuk Gabby, mengatur ritme arah kepala keduanya bergerak. Gabby yang semula memberontak berangsur-angsur terdiam, mengikuti alunan nalurinya untuk menikmati ciuman panas Ivander.
Air mata Gabby menetes saat mengingat Krystal disela-sela panggutan mereka. Benarkah ia mulai jatuh cinta pada sosok yang telah membunuh Krystal? Kalau benar, betapa hina dirinya?
Gemericik air sedingin es yang mengalir membasahi kepala Gabby bercampur dengan air matanya, menghapus rasa asin dan merubahnya menjadi rasa manis. Mineral alam membuat penukaran saliva di dalam rongga mulut mereka semakin terrasa menggairahkan.
“Ich liebe dich, Schatz,” lirih Ivander pada telinga Gabby.
(Aku mencintaimu, Sayang.)
Gabby menangis, meletakkan wajahnya pada dada bidang Ivander. Terisak pelan, menangisi cinta yang muncul pada tempat dan orang yang salah. Sudah dua kali ia merasakan cinta, dan keduanya adalah hal yang SALAH!
— MUSE S6 —
Hiks, Gabby, kemari nak, peluk saja diriku!!
Cinta tak pernah slah, huhuhu...
Ayo di VOTE!! OR nulis smpai keriting disko ini tangannya.. huhuhu...