MUSE

MUSE
S4 ~ EKSTRA PART



MUSE S4


EPISODE 29


S4 \~ EKSTRA PART


\~ Ingat Ra, kalian berdua adalah milikku!! Tak perlu ada yang pergi, tak perlu menjadi satu kalau memang tidak bisa. Aku akan selalu mencintai kalian \~


___________________


AUTHOR POV


3 Tahun kemudian ....


Keano (25 tahun) baru saja menyelesaikan proses koasnya dan kembali ke kota S. Keano sekarang sudah berhasil membuka tempat prakteknya sendiri. Lumayan ramai juga soalnya dokter kita yang satu ini terkenal lembut dan juga ganteng. Apa lagi selalu bertangan dingin dalam mengobati tiap-tiap pasiennya.


Inggrid (23 tahun) baru saja pulang dari London, kembali dari tour keliling dunianya. Inggrid menghabiskan dua tahun untuk keliling dunia dan menjelajah tiap-tiap daerah yang belum pernah di datangi sebelumnya. Inggrid sengaja tidak mengabari Keano tentang kepulangannya ke kota S.


“Masih ada pasien?” tanya Keano pada bagian pendaftaran.


“Tinggal seorang lagi, Dok.”


“Baiklah suru dia masuk!”


“Baik.”


“Pasien selanjutnya!”


“OK!” jawab seorang wanita.


Tubuhnya langsing, dan perawakkannya tinggi. Ia menggerai rambut jingga panjangnya. Sepatu heels dengan tumit setinggi 10 cm membuat bunyi berirama saat beradu dengan lantai keramik. Blouse broklat berwarna khaki ia padukan dengan rok pensil di atas lutut, tak lupa stokking hitam agar membuat penampilannya semakin terlihat dewasa dan seksi.


Keano sedang mencuci tangan saat pasien terakhirnya masuk ke dalam ruang praktek.


“Keluhannya ap—a?” ucapan Keano memanjang begitu membalikkan badannya dan melihat wajah cantik pasiennya itu.


“Dada saya sesak, Dok. Jantung saya berdebar dengan cepat dan tak beraturan. Belakangan ini saya juga nggak nafsu makan, Dok!”


“Wah penyakitmu parah sekali, Nona!” jawab Keano, ia semakin berjalan mendekati pasiennya.


“Iya, Dok. Semakin hari semakin parah,” jawabnya sambil tersenyum manis.


“Penyakitmu aneh sekali?”


“Ini namanya penyakit Rindu, Dok!”


Keano berdiri di depannya saat ini, membalas senyuman itu. Terlihat binaran pelangi di matanya yang berkaca-kaca. Mereka saling bersitatap sebentar sebelum akhirnya terkikih perlahan.


“Sudah lama, girl! Kau semakin cantik.”


“Halo, sudah lama juga, ya, suamiku!” seru Inggrid senang.


“Ck, teganya kau menganggurkan suamimu selama dua tahun?!” Keano protes dengan cara mengecup bibir istrinya.


“Kau meninggalkanku duluan ke puskesmas di pelosok desa.” Inggrid mengalungkan lengannya di leher Keano.


“Aku hanya menjalankan tugas profesi dan kau membalasnya dengan pergi bermil-mil jauhnya!” protes Keano.


Keano menarik lengannya yang dari tadi bersarang pada pinggang Inggrid, membuat tubuh mereka saling berdekatan.


Debaran jantung mereka saling bersahutan, tak terbendung lagi rasa cinta dan kerinduaan yang tak bisa tersampaikan selama dua tahun ini.


“Suara jantungmu terdengar sampai kemari, girl.” Keano menaruh telinganya di atas dada Inggrid.


“Melihatmu memakai jas putih seperti ini benar-benar membuatku kehilangan akal sehat, Dok!” Inggrid terkikih karena merasa geli dengan sentuhan Keano.


“Kau mau memakainya?”


“Tidak!! Aku mau kau memeriksaku! Sepertinya aku butuh obat atau mungkin suntikan, Dok!” Inggrid mengerling nakal ke arah suaminya.


“OK! Silahkan berbaring, Nona manja! Aku pastikan kau memperoleh pengobatan terbaik untuk penyakitmu itu!” Keano beranjak untuk mengunci pintu ruang prakteknya.


“Dokter mesum!” Inggrid tertawa kecil dan mengikuti instruksi dokter muda paling ganteng sedunia (baginya).


“Oke, dimulai dari mana dulu?” Keano mengambil stetoskopnya, hendak menempelkannya di depan dada Inggrid. Keano sengaja melepaskan beberapa kancing baju Inggrid.


“Tunggu!! Kau sengaja ya?” Inggrid menutup dadanya.


“Ck, katanya mau diperiksa?!”


“Oke, lanjutkan!”


Keano kembali menyentuhkan stetoskopnya ke depan dada Inggrid. Rasa dingin dari alat berbahan stenlist membuat Inggrid harus menggigit bibirnya untuk menahan desahan keluar dari mulutnya.


“Dok!!” protes Inggrid.


“Sabar belum kedengeran!” goda Keano.


Inggrid mengdengus sebal, dengan cepat ia bangkit dan duduk di pinggir kasur priksa.


“Kau benar-benar sudah tak sabar rupanya, girl!” Keano mendekat dan mengelus wajah Inggrid. Semburat merah memenuhi wajah cantiknya saat Keano mulai menyesap bibirnya pelan.


“Kan sudah aku bilang, penyakitku sangat parah, Dok!” Inggrid membalas sesapan itu.


“Nama penyakimu tadi adalah ....”


“Rindu, nama penyakitnya adalah kerinduan!” Inggrid melepaskan jas putih yang menempel di tubuh suaminya. Menyisakan kemeja hitam slim fit yang menampilkan lekukan tubuh atletisnya.


Inggrid mengendus kasar di balik tengkuk Keano, mencari feromon manis yang begitu dirindukannya.


“Kaulah obatku, Dok! Cepat suntik aku!” Inggrid tertawa.


“Dengan senang hati, Nona cantik!” Keano menarik kaki Inggrid agar menjepit tubuhnya.


Keano melepaskan semua pakaiannya sebelum beralih untuk melepaskan milik istrinya. Mereka saling berpanggutan, melakukan gerakan sensual dan berbagi suhu tubuh. Keano sesekali berbisik, mengucapkan kata cinta yang membuat Inggrid merasa bahagia. Tiap rasa manis dari ciuman dan juga merdunya desahan membuktikan bahwa kisah kasih merekalah yang terindah bagi keduanya.


“Sudah siap?”


“Heung?”


“Aku akan menyuntikmu sayang!” bisik Keano di telinga Inggrid, bisikkan panas itu membuat gairah semakin membuncah dan tubuh Inggrid semakin meleleh karena menginginkannya. Keano merobek kasar stocking hitam yang dipakai Inggrid saat itu.


“Tentu! Suntikkan cintamu, Ken!” Inggrid melengguh kasar.


“Baiklah! Ready, and Go!”


Ken membuat tubuhnya menghujam jauh ke dalam tubuh istrinya. Menimbulkan sensasi yang tak terungkapkan. Hanya lengguhan kasar dan rancauan yang terdengar saat mereka saling melepas rindu.


“Arg ... kau cantik Inggrid!! Teganya kau membuatku menahan rasa ini dua tahun?!! Nakal sekali!” Ken sesekali menyesapkan lidahnya dalam ke rongga mulut Inggrid, bermain di dalam sana dengan penuh gairah.


“Argh ...! Ken!” Inggrid merancau.


Ken melepaskan panggutan mereka dan merancau semakin keras saat mencapai kepuasan, sambil tersenyum bahagia Ken mengelus wajah Inggrid dan mencium keningnya.


“Kenapa kau tersenyum licik?” tanya Inggrid sambil mengatur napasnya yang menderu karena lelah.


“Maaf aku tidak memakai pengaman, girl!”


“Apa??” Inggrid mecelos, bagaimana kalau sampai hamil?!


“Sudah saatnya kau memberiku seorang bayi, Inggrid! Aku sudah mapan dan juga mampu menghidupimu dan keluarga kita.”


“Jahat! Aku belum ke Nepal, Burma, Myanmar!” Inggrid menghembuskan napasnya panjang.


“Ck, baiklah! Ayo kita bikin satu lusin anak!” Inggrid memeluk lagi tubuh suaminya sampai dahi mereka bersentuhan.


“Oke, namun kali ini giliran, Ra.” Ken mengecup bibir Inggrid sebelum mengganti jiwanya dengan jiwa Ra.


“Ra!!!” Inggrid memeluk erat tubuh Keano yang berisi Ra.


“Halo, baby? Ready for second play?!” Ra melummat mesra bibir Inggrid.


“Always, Ra!” Inggrid meloncat masuk dalam dekapan Ra.


Mereka kembali mengulangi kenikmatan yang sama, lengguhan panjang dan juga rancauan. Sesekali Ra membungkam rancauan Inggrid dengan lidahnya.


“Jangan keras-keras, girl! Para suster di luar bisa mendengarmu!” Ra menahan dirinya sebentar untuk memperingatkan istrinya.


“Ken tidak melarangku berteriak! Kau tahu Ra, tak enak melakukannya tanpa berteriak!” Inggrid menggoda Ra.


“Oke, kau boleh berteriak! Asalakan ...!” Ra melepas penyatuan mereka dan mengambil sebuah lakban dari dalam laci meja kerjanya.


“Kita pakai ini!!” Ra menarik lakbannya.


“Enak aja!! Dasar iblis bodoh!!” Inggrid memukul dada bidang Ra, Ra tertawa sambil mendekap tubuh istrinya dan memaksanya membuka diri.


“Kemari!! Buka lagi kakinya!”


“Nggak mau gila!!!” umpat Inggrid sambil cekikikan.


“Hahaha ...!” tawa Ra membuat Inggrid ikutan tertawa. Mereka menyelesaikan lagi kegiatan yang sempat tertunda karena kekonyolan Ra.


Ra menuntaskan kepuasannya, lalu rebah di atas tubuh Inggrid. Memeluk dan menderukan napasnya yang panas pada cerukan leher Inggrid.


“Kalian bekerja sama dengan baik?” tanya Inggrid sembari mengelus rambut Ra.


“Iya, jiwa kami tak bisa kembali menjadi satu.” Ra memiringkan badannya untuk mendekap tubuh Inggrid, mereka berbagi satu ranjang periksa yang sangat sempit.


“Sudahlah, Ra. Bagiku kalian tetap adalah cintaku.”


“Iya.”


“Ingat Ra, kalian berdua adalah milikku!! Tak perlu ada yang pergi, tak perlu menjadi satu kalau memang tidak bisa. Aku akan selalu mencintai kalian.”


“Yes, Inggrid we love you too. We are forever yours, baby!” Ra mengecup lagi bibir Inggrid.


“Apa kau tahu Ra?”


“Apa?”


“Stockingku harganya mahal dan Ken merobeknya?” Inggrid mengambil stockingnya yang telah koyak tak beraturan.


Ra menelan ludahnya! Sialan si Ken! Kenapa jadi dia yang harus di tuntut atas kelakuan laknat alter egonya?


“Dan kau mau melakbanku?!”


“O—OK, lalu apa yang kau inginkan, girl?”


“Ini!!” Inggrid mengeluarkan blosur dari dalam tasnya.


“Bawa aku kemari, lalu suntik aku sampai berisi seorang bayi!”


“Greenland???” Ra melongo. Greenland adalah bagian dari antartika.


“Iya!!!” seru Inggrid bahagia.


“Ogah, apa yang mau di lihat di sana? Isinya es semua!”


“Huft ...! Coba kau bayangin naik kereta di tarik dengan anjiing-anjiing huskie, bermain ski sepanjang hari!! Lalu melihat aurora borelis di dalam sebuah iglo, Ra!! Terus karena hawanya dingin kita bisa tiap hari membuat bayi!! Ah aku tidak sabar!!” Inggrid bangkit dan memakai bajunya.


“Inggrid kenapa harga stokingmu mahal sekali?!” Ra meratapi hukumannya.


“Anggap saja bulan madu, Ra!” Inggrid memeluk tubuh suaminya dengan erat.


“Kita sudah bulan madu tiga kali sebelum kau pergi keliling dunia!” Ra menggelengkan kepalanya, pengeluaran istrinya begitu luar biasa mahalnya.


“Ahahaha, kapan? Sudah lupa tuh!”


“Huft ...! Baiklah! Asal kau bahagia!” tukas Ra.


“Nope dear!! Asal kita bahagia!!” sahut Inggrid.


“Benar, asal kita bahagia.”


“Berikan aku bayi, OK!” Ra mengatakan lagi keinginannya.


“Siap!” jawab Inggrid.


“Yang mirip denganku!” serunya.


“OK!!” jawab Inggrid.


“Yang banyak!” imbuh Ra.


“Dua anak cukup! Program pemerintah bossku!” tolak Inggrid.


“Dua kali kehamilan maksudmu?” Ra mempertanyakan pernyataan Inggrid.


“Hm, iya,” jawab Inggrid ragu-ragu.


“Baiklah, semoga sekali kehamilan kau hamil anak kembar!!”


“Doa apa itu?? Sengaja bikin istri mendekam di rumah?” keplak Inggrid.


“Benar, biar kau nggak kelayapan!! Biar hanya aku saja yang melihatmu setiap hari.” Ra memeluk tubuh Inggrid dari belakang.


“Dasar gila!”


“Aku memang gila, gila karenamu!! Ayo kita lakukan lagi!” ajak Ra.


“Lagi?? Nggak mau!!”


Ra menggelitik tubuh istrinya lalu kembali menghujaninya dengan cium mesra.


Mereka berdua bahkan tak menghiraukan nasib para pekerja yang bekerja dengan Keano. Padahal mereka sedang menunggu jam kerjanya berakhir. Sayangnya pasien terakhir dokternya itu tak kunjung juga keluar dari ruang praktek sang dokter.


— MUSE S4 —


MUSE UP


VOTE, COMMENT, DAN LIKE


Terima kasih buat dukungan kalian selama ini gaes. Maafkan kebucinan mereka yang membuatmu halu. Saya yang nulis aja jadi halu. Duh, kayaknya bikin cerita dokter boleh juga ya? Banyak adegan mendebarkannya.


Oke see you di MUSE S5 ya..


Author sudah nggak mau pakai sudut pandang orang pertama lagi kayaknya mau pakai POV Campuran atau orang ke tiga.


Stay read ya para bucinnya Ra dan Ken!!


Mohon maaf bila ceritanya nggak sebagus yang kalian harapkan. Saya akan terus berusaha jd lebih baik kedepannya.


Sweet, dee


❤️❤️❤️