
MUSE S6
EPISODE 8
S6 \~ MENYERAH
\~ Memang pada dasarnya Gabby yang terlalu bodoh, masih saja berharap padahal sudah tak ada kesempatan. \~
__________________
Gabby menatap wajah Krystal yang tertidur pada pangkuannya. Gabby mengelus rambut Krystal, berusaha membuat tidurnya nyenyak. Sesekali Krystal sesunggukan, sisa tangisan masih membayangi waktu istirahnya. Gabby terus mengelus rambut Krystal, membisikkan kata-kata semangat.
“Semuanya akan baik-baik saja, Krys. Kau kan punya aku.” Setelah berucap lirih, Gabby mengecup dahi Krystal.
Gabby bersandar pada sofa, memandang ke langit-langit plafon. Putih bersih, cahaya downlight berpendar remang. Tak terasa mereka bercerita cukup lama sampai hari sudah petang. Gabby ikut menutup matanya, mencoba untuk menata kembali hatinya. Krystal seakan menyisakan asa dikala ia mulai menyerah akan perasaannya.
— MUSE S6 —
Kini Krystal sudah jauh lebih baik setelah satu bulan berlalu. Ia tak lagi menangis seorang diri. Baginya yang tumbuh sebagai gadis sebatang kara, cinta palsu Ivander seakan adalah oasis untuk hatinya yang kering. Maka itu, Krystal sangat mencintai Ivander, bahkan sampai saat ini kisah singkat mereka tetap membekas di dalam hatinya. Nama Ivander masih punya tempat tersendiri di hati Krystal.
Krystal yang sempat depresi karena Ivander perlahan mulai bangkit. Beruntung ada Gabby yang kembali hadir dan menenangkan Krystal, membuat hatinya jauh lebih baik. Lagian, kini Krystal sudah mendapatkan pekerjaan, ia bekerja sebagai pramugari pada sebuah lembaga penerbangan.
Seperti saat ini, Krystal berpamitan dengan Gabby di bandara. Ia sudah memakai seragam lengkap, menyanggul rambutnya ke belakang, make up flawess yang lembut dan juga sepatu heels yang cukup tinggi membuat penampilannya terlihat anggun.
“Aku berangkat, Gabby.” Krystal memeluk Gabby.
“Hati-hati, ya!” Gabby melepaskan pelukannya.
“Aku akan bawakan oleh-oleh untukmu.”
“Yang penting kau selalu sehat, kembali dengan selamat, itu sudah cukup bagiku.” Gabby menepuk pelan lengan Krystal.
“OK, bye!”
“Bye.”
Krystal kini lebih sering meninggalkan Gabby pergi ke Luar Negeri untuk bekerja. Menjadi stewardess, Krystal hampir tak pernah pulang karena tuntutan pekerjaan. Namun dia selalu memberi kabar atau mampir saat punya waktu untuk libur.
Gabby juga sudah lulus kuliah, ia mulai meniti karirnya dibidang musik. Selain bermain biola, Gabby juga mendirikan lembaga musik yang memberikan kursus belajar alat musik. Tak hanya kursus, Gabby juga mendirikan sebuah grup orkestra dan juga band. Dia bersama Nick, kakaknya memproduseri dan mengorbitkan para pelaku seni baru.
“Kak Nick!!” teriak Gabby, ia langsung berlari pada koridor gedung kesenian. Gabby baru saja selesai pentas dan Nick menontonnya.
“Bagaimana kabarmu, Gab?!” Nick langsung memeluk adiknya begitu ia keluar dari ruang ganti artis.
“Baik, kau?”
“Baru saja putus cinta dan terluka.” Nick mengelus pucuk kepala Gabby.
“Sama! Hahaha ... ah, aku tidak putus cinta sih, memang dari dulu tak pernah tersampaikan,” hela Gabby panjang.
“Krystal apa kabarnya?” tanya Nick penasaran.
“Dia sekarang jadi pramugari, tak pernah pulang, keliling dunia terus, bahkan dia sering mengirimiku foto dan juga souvenir. Ah, luapkan masalahku. Kau sendiri bagaimana bisa putus? Aku kira cowok dingin sepertimu tak akan bisa jatuh cinta.” Gabby menyikut lengan Nick.
“Aku melepaskannya, untuk kembali dengan mantannya.” Nick merangkul pundak adiknya.
“Omo?”
“Cinta tak harus memiliki, Gabby!” Mereka menelusuri koridor untuk kembali ke parkir mobil. Nick mengantarkan Gabby pulang.
“Mulia sekali kau?!” Gabby terkikih.
“Akukan lembut seperti Mommy, nggak kejam seperti Daddy,” tawa Nick. Di tempat yang jauh Arvin bersin tiga kali.
“Ck, kau benar, dia kejam. Sampai sekarang Daddy tak mau membelikanku motor seperti milikmu.” Gabby berdecak sebal. Lagi-lagi Arvin bersin tiga kali.
“Beli sendiri, donk! Kaukan sudah ada penghasilan.”
“Ya tapikan masih terlalu mahal untuk ukuran kantongku,” sela Gabby.
Nick menyeringai ke arah adiknya sembari menyetir mobil. Gabby memandangnya dengan heran.
“Apaan, sih?” Gabby heran. Lalu tiba-tiba.
“Ini.” Nick melemparkan kunci.
“Kak Nick!!!” Mata Gabby berbinar saat melihat kunci motor Nick.
“Ambillah! Rawat baik-baik, dia banyak menemaniku! Aku mencintainya seperti aku mencintaimu, Sista!!” Kekeh Nick.
“Seriuskan?” Gabby mengerjapkan matanya.
“Tentu saja aku serius. Soalnya aku baru saja beli yang baru.” Nick tertawa.
“Shit! Kau bilang cinta padanya! Ada yang baru, yang lama dilupakan.” Gabby memukul pelan lengan Nick.
“Ya udah kalau nggak mau! Bawa sini!”
“Enak aja!! Barang yang sudah diberikan tak bisa diambil kembali!!” Gabby menyembunyikan kuncinya.
“Oke, siap!” Gabby memberi tanda hormat pada Nick seperti saat menghadap komandan.
“Dan segeralah bertemu dengan pria baik Gabby.” Nick tersenyum kecut, ia tahu betul perasaan Gabby, namun sebagai saudara ia harus mengingatkan Gabby kalau perasaannya itu adalah hal yang salah, yang menyimpang.
“Doakan saja,” lirih Gabby.
“Pikirkan baik-baik, Gabby. Kau gadis pintar, aku percaya padamu.” Nick menepuk punggung tangan adiknya.
— MUSE S6 —
Dua tahun kemudian ...
Sudah dua tahun Gabby dan Krystal berjalan pada jalan mereka masing-masing. Krystal pulang ke apartemen Gabby empat sampai enam bulan sekali. Ia sangat menikmati kebebasan dan pencapaiannya selama menjadi seorang stewardess, bahkan kini Krystal hanya melayani kelas bisnis ke atas. Bertemu banyak pria kaya dan jatuh cinta pada beberapa orang selama dua tahun ini.
Krystal menceritakan semua mantan-mantannya pada Gabby. Ia juga bercerita, walaupun sering berganti pacar, mencoba cinta yang baru, bahkan sampai bercinta dengan mereka pun, tak ada yang bisa menandingi Ivander. Krystal tetap mencintai Ivander.
“Ck, pesonanya tetap yang terbaik, sayangnya dia b4jingan.” Krystal menggigit buah jaitun yang diambilnya dari gelas coctail. Mereka berdua tengah ngobrol santai pada sebuah lounge di pusat kota.
“Kau belum bisa melupakan Ivander?” tanya Gabby dengan heran.
“Belum.” Krystal menenggak habis isi gelas mungil itu sampai habis.
Gabby diam saja, bahkan dia yang sudah menemani Krystal dari kecil, menenangkan hatinya, dan memberikannya perhatian pun kalah dengan sosok Ivander. Padahal pria itu mengkhianatinya, memberikan cinta palsu, dan juga luka yang dalam.
“Sekarang kau punya pacar?” tanya Gabby penasaran.
“Ada, malam ini dia mendarat di ibu kota, Gabby. Aku akan memperkenalkanmu padanya.” Mata Krystal berbinar antusias.
“Oh, ya? Siapa?” Gabby tersenyum kecut, lagi-lagi tak ada kesempatan untuknya masuk ke dalam hati Krystal. Memang pada dasarnya Gabby yang terlalu bodoh, masih saja berharap padahal sudah tak ada kesempatan.
“Namanya, Jae Hyung, dia orang Korea. Pilot. Tampan sih, tapi jarak umur kami memang agak jauh, hm ... walau agak bimbang, tapi aku rasa kami akan cocok.” Krystal memesan lagi sebuah coctail dan juga kacang almond sebagai teman minum.
“Berapa umurnya? Tahun ini aku 25 tahun, dan dia 35 tahun, beda kami 10 tahun.”
“Yah, Daddy dan Mommyku malah terpaut 13 tahun, nyatanya mereka enjoy aja tuh.” Gabby ikut mencemil kacang almond.
“Kau benar Gabby. Mungkin aku harus mempertimbangkannya.” Senyum Krystal.
“Mempertimbangkan apa?” Gabby mengangkat dagunya.
“Dia melamarku, ingin menikahiku akhir tahun ini.”
Hati Gabby berdegup tak karuan, ulu hatinya seakan ada yang menghantam saat Krystal menceritakan perihal lamaran dari Jae Hyung pacarnya. Selama ini Krystal tak pernah serius, ia hanya sekedar pacaran dan tak pernah mengatakan ingin menikah.
“Sudah berapa tahun kalian pacaran?”
“Baru jalan empat bulan, Gab.”
“Apa kau sudah yakin betul?”
“Entahlah, tapi di usiaku sekarang, memangnya aku bisa apa selain menikah dan membangun keluarga? Hah, lagi pula, Jae Hyung begitu baik, selain perhatian dia juga sangat kaya.” Krystal memuji-muji pacarnya.
“Krys ...,” ucapannya tersela.
“Ssstt ... sudahlah, Gab! Doakan saja aku, OK! Tak perlu berpikir macam-macam.” Krystal menyuapkan almond untuk membungkam Gabby.
Gabby membisu, memilih untuk memandang Krystal dengan sendu. Hatinya sakit dan terluka. Padahal Gabby selalu menunggu hati Krystal terbuka untuknya. Tapi kenapa? Kenapa bukannya semakin terbuka hati itu malah rasanya kian tertutup. Gabby merasa semakin jauh dari Krystal.
Apa kata Kak Nick benar? Aku harus merelakannya? Aku harus melepaskan cintaku? Pikir Gabby dalam hati.
Apakah aku benar-benar harus menyerah akan cintaku padamu, Krys?
Gabby memandang wajah cantik Krystal yang sedang asyik meminum coctailnya.
— MUSE S6 —
PENGUMUMAN!!
Giveaway datang lagi!!!
Kumpulin poin kalian terus vote pada GORESAN WARNA PELANGI DAN DAPATKAN KESEMPATAN UNTUK MEMENANGKAN 3 buah buku dari AUTHOR!!!
Caranya gampang:
- Follow IG @dee.Meliana
- Share pengumuman preorder Goresan Warna Pelangi di media sosial kalian, IG, Facebook, dll. (Screen shoot)
- Lalu vote sebanyak-banyaknya.
Vote Di tutup tanggal 1 Oktober 2020 jam 12 siang. Diumumkan tanggal 2 Oktober 2020.
Bagi yang sudah vote terbanyak tapi nggak ada bukti share di media sosial kalian terpaksa author anulir ya, soalnya sudah termasuk syarat give away!!
Lop yu gaes!! A lot!! ❤️❤️❤️