
MUSE S6
EPISODE 12
S6 \~ PERTEMUAN KEDUA
\~ Arvin tak tahu betapa Gabby mencintai Krystal. Arvin tidak tahu derita hati Gabby saat menemukan mayatnya tergeletak tidak wajar di hadapannya. Tersuguh dengan ceceran darah merah yang masih segar. Darah milik wanita yang dicintainya.\~
______________________
(Jangan lupa like and vote sebelum membaca ❤️❤️ )
Flashback off ... kembali ke masa kini.
Triing ... 🎶
Suara ponsel terdengar, membuat Gabby terbangun dari tidurnya yang lelap. Sudah seminggu sejak pemakaman Krystal, baru siang ini dia bisa tertidur lelap, itupun setelah lelah menangis.
“Hallo, Dad.”
“Bagaimana keadaanmu, Girl? Feeling better?” tanya Arvin, ia dan Kalila begitu khawatir dengan keadaan Gabby.
“Sudah lebih baik.” Senyum Gabby kecut.
“Biar Nick menemanimu. Daddy akan meneleponnya.”
“Jangan, Dad! Kak Nick sibuk dengan film barunya. Aku tak ingin membuatnya repot. Aku sungguh baik-baik saja, akukan anakmu!” Gabby membesarkan hati orang tuanya, padahal saat ini hatinya memang benar-benar sakit karena kehilangan.
“Apa kau mau Daddy membalaskannya untukmu?” tawar Arvin sambil berbisik, takut Kalila mendengarnya.
“Aku bisa melakukannya sendiri, Dad. Aku bisa menghabisinya sendiri dengan tanganku.” Gabby menolak tawaran Daddynya.
“Kenapa begitu besar kau jadi mirip denganku?” Kikih Arvin.
“Yah, keturunan.” Gabby ikut terkikih.
“Daddy bercanda, Gabby! Lupakan prihal balas dendam itu dan hiduplah dengan nyaman. Pulanglah ke kota S dan jalani hidup dengan baik.” Arvin menegaskan suaranya.
“Beri aku waktu satu tahun, Dad. Kalau tidak berhasil aku akan pulang ke kota S.” Gabby menyisir rambutnya dengan jari tangan, tetap ingin menemukan bukti kesalahan Ivander.
“Baiklah! Tetap ingat Gabby, kau tidak sendiri, kau masih punya kami, dan kau tak bisa melakukan balas dendam hanya untuk menjadikan hatimu lebih baik.” Arvin menasehati Gabby lagi.
Gabby menitikkan air matanya, Arvin hanya bisa menasehati, ia tak tahu bagaimana rasa sakitnya hati Gabby. Arvin tak tahu betapa Gabby mencintai Krystal. Arvin tidak tahu derita hati Gabby saat menemukan mayatnya tergeletak tidak wajar di hadapannya. Tersuguh dengan ceceran darah merah yang masih segar. Darah milik wanita yang dicintainya.
“Baik, Dad.”
“Cheers up, Girl!”
“Thanks.”
Setelah pembicaraan itu berakhir Gabby menyahut tas dan juga jaket kulitnya. Ia memakai sepatu boot datar. Tangannya sibuk menggulung naik rambut hitam lurus panjangnya dan mengukungnya di dalam helm. Gabby kembali meninggalkan apartemennya untuk pergi ke kantor polisi.
•
•
•
“Bagaimana mungkin kalian membebaskan Ivander? Bukankah dia tersangka utama?” Gabby protes pada pihak yang berwajib.
“Dengarkan kami dulu, Nona!” tukas seorang petugas kepolisian.
“Alibinya kuat, dia berada dikantornya malam itu, banyak yang melihat dan memperkuat alibinya,” tambah petugas lain.
“Bisa saja orang-orang itu disogok! Merekakan bawahannya. Lagian siapa yang masih di kantor jam 10 malam?!”
“Nona ...,” sergah polisi.
“Cek CCTV hotel, cek koridor itu.” Sela Gabby dengan emosi.
“Tak ada CCTV di dekat kamar suite 1405 karena privasi pemilik hotel.” ujar kepala polisi.
Kamar 1405 memang adalah kamar yang secara khusus digunakan Zean saat masih muda. Setelah perbaikkan hotel, kamar itu disewakan untuk umum, walau sesekali Ivander pernah memakainya. CCTV tetap tidak terpasang karena telah terlupakan.
“Nah, benarkan, Pak!! Ini pasti perbuatan Ivander! Dia pemiliknya, itu pasti akal-akalan dia saja.”
“Nona, yang meminta tidak ada CCTV bukan Tuan Ivander. Melainkan ayahnya, Tuan Zean. Dan itu sudah lama jauh sebelum kasus ini meledak.”
“Bagaimana bisa?!” Gabby hampir menangis, kenapa tak ada bukti yang memberatkan Ivander.
“CCTV LIFT? CCTV FRONT OFFICE?” teriak Gabby.
“Tidak ada, Nona. Sudah kami cek, Tuan Ivander sama sekali tidak terlihat pada CCTV manapun,” desah mereka. Mereka pun merasa buntu dengan kasus pembunuhan ini.
“Bagaimana dengan hasil otopsinya, kenapa dia meninggal?”
“Ada dua, yang pertama karena kehabisan darah akibat pisau yang menancap pada dadanya. Oh, iya, sempat ditemukan penggunaan obat tidur yang kelewat banyak.”
“Iya, Krystal sempat mengeluh tak bisa tidur dengan nyenyak setelah Ivander kembali memutuskannya,” kata Gabby.
Malam sebelum ia terbunuh, Gabby memang menelepon Krystal, wanita itu curhat, menceritakan kekesalan dan hatinya yang hancur karena perkataan Ivander. Ia berkata tak bisa tidur dengan nyenyak dan membeli obat tidur ringan yang dijual di apotek.
Esoknya, Krystal telah kembali sumringah. Dia bahkan bercerita bahwa Ivander menghubunginya dan mengajaknya keluar malam ini. Terlalu sumringah sampai Krystal menolak tawaran Gabby menjemputkan malam itu, lebih memilih bersama dengan Ivander.
“Sudahlah, Nona. Kau tunggu saja hasil penyelidikan kami. Jangan main tuduh orang sembarangan, salah-salah kau bisa ikut dituntut karena pencemaran nama baik.” Nasehat kepala polisi.
Akhirnya Gabby menyerah. Tak ada gunanya ia menyerahkan kasus ini pada kepolisian. Ivander adalah orang kaya, bisa saja ia telah menyumpal mulut petugas-petugas itu dengan segepok uang.
“Nikmati saja kebebasanmu, Ivander! Karena aku yang akan merenggutnya setelah semua kejahatan ini terkuak!” geram Gabby, ia kembali menaiki motor sportnya pulang.
— MUSE S6 —
Berbeda dengan Gabby yang terus memikirkan Ivander dengan penuh luapan emosi dan amarah. Ivander justru memikirkan Gabby dengan luapan rasa penasaran dan ingin memiliki. Tatapan tajam Gabby tak mau hilang dari benaknya.
Rasa penasaran akan sosok wanita yang tak bertekuk lutut padanya membuat Ivander semakin tertantang untuk menundukkan Gabby. Apalagi malam hari itu, bukannya masuk ke dalam selimut Ivander, Gabby malah meninggalkannya begitu saja. Menyisakan luapan nafsu yang tak tersalurkan.
“Ck, wanita itu!” Ivander lagi-lagi tersenyum saat mengingatnya, ia geli karena berhasil ditipu oleh Gabby dengan mudah.
“Bagaimana? Kau sudah berhasil menemukannya?” tanya Ivander saat sekretarisnya masuk ke dalam.
“Namanya Gabriella, anak ke tiga dari Marvinous, seorang pengusaha besar di kota S,” jawab wanita itu, ia menyodorkan file berisi data diri dan latar belakang keluarga Gabby.
“Arvin?? Adik dari Kakek Julius?? Ah, dia sering diceritakan oleh bibi Diana.” Ivander terkikih geli, ia tak pernah menyangka dunia yang mereka tempati ini terlalu sempit.
“Betul, Presdir. Dia punya latar belakang yang kuat. Saya tak bisa mencari informasinya dengan lebih dalam.”
“Tak apa. Tapi siapa yang mengundangnya ke ulang tahun Papa?”
“Tuan Adrian. Tuan Adrian yang mengundangnya.”
“Adrian? Apa hubungannya dengan Adrian?” Ivander penasaran.
“Kalau itu saya tidak tahu, Presdir. Tapi kampus mereka sama, mungkin teman satu kampus.”
“Hm ... baiklah, kau boleh pergi.”
“Saya undur diri, Presdir.”
Ivander tersenyum senang. Ia mengamati lagi wajah cantik Gabby.
•
•
•
Ivander pulang, seorang asisten rumah tangga langsung menerima jas dan juga tas kerja Ivander. Mengembalikan ke tempat yang seharusnya. Sambil mengendurkan dasinya, perlahan Ivander memasuki ruang makan. Zean sedang membaca berita dari tabletnya sedangkan Mira menata meja makan.
“Kau sudah pulang, Van. Kemarilah!” Zean menepuk kursi di sampingnya.
“Kenapa banyak sekali makanan hari ini? Ada perayaan apa?” Ivander mencomot buah anggur dari keranjang buah.
“Adrian akan memperkenalkan kekasihnya,” jawab Zean.
“Oh, anak itu sudah dewasa rupanya,” ucap Ivander.
“Katanya dia sangat cantik.”
“Oh, siapa namanya?”
“Papa juga belum tahu.”
“Kau juga jangan hanya bergonta ganti wanita! Menikahlah! Cari wanita baik seperti Adrian.” sindir Mira.
“Cih.” Ivander berdecis sebelum pergi meninggalkan ruang makan.
“Ke mana?”
“Mandi.”
•
•
•
Suasana makan malam di kediaman Zean terasa sangat hangat dengan kedatangan seorang gadis cantik mendampingi Adrian. Ia melingkarkan tangannya pada sikut lengan Adrian.
Penampilannya begitu anggun dan berkelas. Ia mengunakan blouse ungu dengan bahan sifon, ditambah pita putih cantik pada kerahnya. Dipadukan dengan rok pensil 3/4 dan sepatu heels tinggi.
Rambutnya yang panjang, hitam, dan lurus bergoyang pelan saat berjalan. Terlihat begitu mengkilat saat terkena siluet cahaya temerang dari lampu downlight.
“Wah kau cantik sekali,” puji Mira, ia langsung menggandengnya untuk duduk di meja makan.
“Selamat malam, Om, Tante.”
“Malam. Bagaimana kabar Papamu?”
“Daddy baik.”
“Baguslah, bisa kita mulai makan malamnya?” Adrian tersenyum.
“Kita tunggu Ivander turun.”
“Ck, anak itu pasti sengaja membuang-buang waktu.” decis Mira sebal.
“Aku akan memanggilnya.” Adrian menawarkan diri.
“Kau mengobrol saja dengan Papa dan Mama.”
“Baiklah.”
Tak butuh waktu lama, Ivander mengekor kebawah dengan malas. Ia sebenarnya tak ingin mengikuti acara ramah tamah makan malam keluarga. Menyambut gadis pilihan Adrian. Ivander tak pernah dianggap oleh Mira dan Adrian sebagai keluarganya, jadi diapun malas menanggapi acara keluarga itu. Sayangnya Ivander tak punya pilihan, Zean akan marah kalau dia tak turun untuk makan.
“Jaga sikapmu, Kak! Aku tak mau kau menyinggung kekasihku.” Adrian memberi peringatan pada kakaknya.
“Kenapa? Kau takut aku merebutnya darimu?!” Ivander tersenyum licik.
“Coba saja kau rebut dia!” Adrian menyeringai.
Di ruang makan, Adrian dan Ivander datang. Ia langsung memperkenalkan Kakaknya.
“Perkenalkan ini Ivander, Kakakku.”
Mata Ivander langsung membelalak begitu melihat siapa kekasih adiknya. Wanita cantik itu berdiri dengan anggun. Ia berjalan mendekati Ivander. Tanpa ragu ia mengulurkan tangannya, menyambut perkenalan Ivander.
“Gabriella, senang berkenalan denganmu.”
“I—ivander.” Dengan gelagapan Ivander menjabat tangan Gabby.
— MUSE S6 —