MUSE

MUSE
S3 ~ UNTUK KANNA



MUSE S3


EPISODE 106


S3 \~ UNTUK KANNA


\~ Aku mengais sedikit rupiah dengan kemampuan yang aku punya. Aku melakukan ini untuk Kanna, agar dia bisa sedikit terbantu. Biaya dietkan cukup mahal.\~


_______________


Aku telah berjanji membantu Kanna untuk menguruskan badannya. Makanya aku sibuk men- scroll layar ponselku untuk mencari beberapa artikel seputar penurunan berat badan. Mulai dari makanan sehat sampai olah raga yang bisa membentuk tubuh.


“Ternyata diet itu nggak murah, ya?” gumamku sembari mencatat menu makanan.


Nasi putih bisa diganti dengan beras merah, kentang, oats, ataupun jagung, dimana harga bahan makanan itu lebih mahal dari pada nasi putih. Lalu asupan protein yang paling penting, Kanna harus makan daging putih seperti dada ayam juga ikan agar otot tubuhnya terbentuk. Harganya juga lebih mahal dari protein nabati seperti kedelai, lagi pula tak mungkinkan tiap hari Kanna harus makan tahu dan tempe sebagai sumber proteinnya. Belum lagi sayuran dan juga buahnya, lalu ditambah dengan suplemen vitamin E agar kulitnya tetap elastis dan rambutnya tidak mudah rontok.


“Apa aku cari kerja sambilan, ya?” akhirnya setelah menimbang cukup lama aku memutuskan untuk mencari kerja sambilan.


Sebenarnya aku agak merasa bersalah terhadap kedua orang tuaku. Mereka kerja kerasa sambil merawat Nenek di desa. Mereka mengumpulkan uang untuk biaya sekolah dan juga kuliah karena tahun ini aku sudah kelas tiga. Dan kini, bukannya belajar untuk mempersiapkan ujian kelulusan aku malah kerja sambilan demi memenuhi keinginan Kanna.


Tapi it’s OK, aku masih bisa membagi waktuku. Lagi pula otakku cukup encer untuk belajar sambil bekerja. Yang penting Kanna bisa bahagia. Membayangkan wajah ceria dan senyumannya saja sudah membuatku bahagia.


Triiing... 🎶


Lamunanku terhenti saat sebuah chat masuk.


Kanna:


Leon, temani aku


Jalan-jalan


Bisakah?


Leon:


Boleh, pulang sekolah?


Mau ke mana?”


Kanna:


Mall, ingin melihat-lihat


Ada barang yang ingin


Aku beli.


Leon:


OK.


See you after school, girl


Kanna:


See you pacar.


Aku senyum-senyum sendiri saat membaca chatnya. Aku suka saat Kanna memanggilku pacar. Ah, hal kecil saja bisa membuatku sebahagia ini. Sepertinya aku benar-benar kena pelet wajah imutnya itu.


Nampaknya aku memang harus lebih bersemangat mencari uang lagi, agar Kanna bisa terus memberikan senyuman manisnya itu setiap hari.


— MUSE S3 —


•••


Kami berjalan pada sebuah pusat perbelanjaan yang menyediakan berbagai macam barang. Kanna berjalan dengan riang menuju ke sebuah konter optik. Ia melihat-lihat lensa kontak. Kanna memilih dan bertanya dengan detail. Tak lama kemudian aku melihatnya keluar dengan wajah kecewa.


“Kenapa?” tanyaku.


“Terlalu mahal, Leon. Uangku tidak cukup.” jawabnya lesu.


“Kurang berapa, Kanna?” Aku mengeluarkan dompetku. Untung saja pagi ini aku mengambil uang saku yang ditransfer oleh Papa dan Mama.


“Nggak usah, Leon. Aku akan menabung lagi.” Kanna berjalan lesu meninggalkanku, aku nggak tega melihatnya sedih.


“Kanna, ayolah, kau bisa pakai uangku dulu,” paksaku.


“Leon, kau juga butuh uang itu untuk saku, dan biaya makankan?” Kanna tersenyum lalu menggandengku untuk melanjutkan kembali perjalanan kami.


Kami berhenti untuk membeli camilan dan juga minuman dingin. Duduk pada bangku-bangku besi yang memang disediakan manajemen mall agar pengunjung bisa beristitahat.


“Memang harganya berapa?” tanyaku setelah meneguk es teh dari botolnya.


“Dengan cairan pembersih dan juga tetes mata, hampir 200 ribu, Leon.” jawab Kanna.


“Ah, mahal juga,” uang 200 ribu untuk pelajar seperti kami memang berat. Uang sakuku selama satu minggu bakalan langsung habis kalau aku membelinya.


“Kita nabung sama-sama, ya,” tanganku mengelus kepalanya agar Kanna kembali tersenyum.


“Iya, thanks, Leon.” akhirnya Kanna kembali tersenyum.


— MUSE S3 —


•••


1 bulan kemudian...,


Aku memandang langit malam yang bertaburkan bintang di langit, cukup cerah untuk memakan bekal makan malamku. Bekal sederhana berisi nasi dan telur dadar terlihat sangat menggiurkan.


“Leon, ini!” Kak Iksan memberikanku sebotol air mineral dingin.


“Thanks, Kak,” kuucapkan rasa terima kasihku pada kakak senior tempatku bekerja sambilan saat ini.


“Betah kerja di sini?” tanyanya sembari membuka kotak bekalnya.


“Betah, Kak,” jawabku dengan mulut penuh makanan.


Aku sudah satu minggu bekerja sambilan di POM Bensin dekat sekolahan. Aku sengaja memilih shiff malam agar saat pagi dan sore aku bisa belajar dan beristirahat. Shiffku tidak panjang, hanya 7 jam kerja, aku berangkat pukul 6 malam dan pulang jam 1 pagi. Aku masih punya 5 jam untuk tidur sebelum berangkat ke sekolahan.


Begitulah keseharianku saat ini. Aku mengais sedikit rupiah dengan kemampuan yang aku punya. Aku melakukan ini untuk Kanna, agar dia bisa sedikit terbantu. Biaya dietkan cukup mahal.


“Kau tidak lelah dengan semua rutinitasmu? Bukankah kau sudah kelas tiga? Pasti banyak tambahan pelajaran.”


“Tidak, Kak. Aku masih bisa mengerjakan tugas-tugas sekolahku dengan baik.”


“Baguslah.” Kak Iksan menepuk pundakku.


“Lagi pula aku tidak punya niat untuk kuliah. Aku ingin mengasah kemampuanku dalam bidang seni keramik.”


“Wah, ternyata kau seorang seniman?”


“Not yet, but I’ll,” kataku mantab.


“Aku suka semangatmu, Bro!!”


Aku membalas senyuman dan pujian Kak Iksan dengan anggukan pelan.


“Oh, ya, Leon. Aku juga punya adik seumuranmu, namanya, Lova. Dia satu sekolahan denganmu.”


“Oh, ya? Aku belum pernah dengar.”


“Dia terlalu introvet, jarang bergaul. Tapi kalau kau bertemu dengannya di sekolah, tolong bertemanlah dengannya, ya.” pinta Kak Iksan.


“Siap, Kak.”


Kami menikmati obrolan dan sesekali bercanda. Berbagi pengalaman dan juga cerita. Kak Iksan adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang membutuhkan dana untuk skripsi. Makanya dia bekerja sambilan juga di tempat ini. Orangnya ramah dan suka membantu, aku langsung cocok dengan karakternya yang baik.


“Ada yang beli bensin, Kak.” Aku menutup kotak bekal dan bangkit untuk melayani pembeli.


Sebuah mobil keluarga berhenti di depan area pengisian. Aku membetulkan topiku dan mengucapkan salam, “pertalite atau pertamax?”


“Pertalite, 150 ribu, ya.”


“Baik,” jawabku seraya membuka cap bensin dan mulai mengisinya.


“Hei!! Bagaimana, sih?!” teriak laki-laki paruh baya pemilik mobil itu.


“Maaf, Tuan, saya tidak sengaja.” Aku membungkukkan badanku untuk meminta maaf padanya.


“Enak saja hanya meminta maaf! Kau harus bertanggung jawab! Panggil managermu kemari!!” teriaknya dengan kencang.


Haduh, susah payah aku bisa diterima kerja di sini. Bagaimana kalau sampai manager marah dan memecatku? Tak ada tempat lain dengan jam kerja sefleksibel ini juga dengan gaji yang lumayan tinggi.


“Maaf, Tuan. Saya benar-benar minta maaf,” sekali lagi aku menundukkan diriku agar dia mau memaafkanku.


“Mobilku jadi lecet! Dasar brandalan! Kerja nggak bener!” pria seumuran Papaku itu mengeplak kepalaku dengan kasar.


“Ada apa ini?” Kak Iksan menahan pergelangan tangan pria itu agar menghentikan kelakuannya.


“Apa kau managernya?”


“Benar.” jawab Kak Iksan berbohong.


“Anak ini menggores mobilku. Kau tau kan kalau biaya cet sekarang sangat mahal?!” ucapnya.


“Iya, Tuan. Saya mewakili anak ini minta maaf. Kira-kira berapa biayanya, Tuan?”


“Satu sampai dua juta!”


“Akan saya tukar, ini 500 ribu, akan saya transfer kekurangannya.” Kak Iksan mengeluarkan dompetnya.


“Kak, jangan!! Tuan, tolong maafkan saya, saya akan menukarinya. Berikan saya waktu, Tuan!” pintaku, aku tak bisa membiarkan Kak Iksan menanggung rugi karena kesalahanku.


“Hah..., baiklah, kalian membuatku seperti orang jahat.” pria itu menyahut uang 500 ribu pemberian Kak Iksan.


“Ini saja cukup! Lain kali hati-hati!” ujarnya sebelum berlalu pergi.


“Kak!! Kenapa kau memberikan uangmu? Kaukan sedang membutuhkan uang?!”


“It’s OK, Leon. Masih ada tabungan di saldo rekeningku.” Kak Iksan tersenyum dan menepuk pundakku.


“Tapi, Kak...,”


“Aku nggak bilang cuma-cuma, Leon. Cicillah saat kau menerima gajimu.”


Mendengar ucapannya pada saat itu membuat mataku mulai berkaca-kaca. Aku terharu dengan kebaikan hati Kak Iksan. Karena kecerobohanku dia harus merelakan uang 500 ribu yang sangat berarti bagi dirinya. Tanganku mengepal, dalam hati aku bertekat akan membalas kebaikannya suatu saat nanti.


“Terima kasih, Kak,” air mataku tumpah, malam itu untuk pertama kalinya aku menjadi lelaki yang cengeng.


— MUSE S3 —


•••


Setelah 3 bulan berlalu, tubuh Kanna mulai siap untuk menjalankan dietnya. Setiap pagi aku mulai mengatur jadwal olar raga dan juga makanan Kanna.


Pagi hari aku menemaninya berlari mengelilingi kompleks perumahan selama 30 menit. Siangnya kami bersekolah, saat sore aku mengajak Kanna latihan beban agar tubuhnya kencang, malamnya aku bekerja di POM. Di saat tubuhku lelah, aku malah lebih mengkhawatirkan kondisi Kanna.


“Lelah?” tanyaku.


“Iya, capek sekali, sampai mau muntah rasanya.” Kanna mengusap keringat sebesar biji jagung dari dahinya.


“Sabar, hasilnya tak akan pernah mengecewakan,” senyumku memberi semangat.


“Iya, Leon, fighting!!”


“Fighting!!”


Saat Kanna mulai melambat, aku mendorong tubuhnya agar dia terus berlari. Saat ia berhenti untuk menghapus keringat, aku yang membantu untuk menyeka dahinya. Aku juga membantunya membawakan tas sekolah saat berangkat dan pulang sekolah agar tubuhnya tidak terlalu menanggung beban berat.


Aku juga mulai belajar memasak, memasak menu makanan sehat untuk Kanna. Porsi makanan dengan gizi yang seimbang. Untuk satu piring berisi 1/4 karbohidrat, 1/4 protein, dan 1/2 serat dari sayur dan buah. Aku mengganti-ganti menunya dengan berbagai macam bahan agar dia tidak bosan. Mulai dari daging cincang, tahu, tempe, telur rebus, sampai ikan air tawar yang rendah lemak. Semua masakannya aku buat rendah sodium, jadi tidak menggunakan banyak garam dan gula.


Untung saja pekerjaanku juga sudah mulai settle, jadi aku punya tambahan uang lebih untuk membeli semua ini. Gajiku selalu habis untuk membeli bahan makanan juga menyicil hutangku.


“Bagaimana?” tanyaku sambil menyuapkan sesendok nasi, kami sedang makan siang bersama di atas atas sekolahan.


“Hambar....” keluh Kanan.


“Namanya juga sedang diet.” Aku mengelus pucuk kepalanya.


“Tapi terasa enak karena memakannya bersamamu.” senyum Kanna.


“Dasar, kau mulai belajar ngegombal rupanya.” Aku mencubit pipinya.


“Akukan belajar darimu.”


“Bisa aja,” tawaku, “lanjutin makannya, habiskan!”


“Siap, pacar!”


Sebuah busur manis langsung tersungging pada wajahku. Melihatnya makan dengan lahap dan juga bertekat kuat membuatku lega, tak sia-sia aku melakukan semua ini untuknya.


“Jangan lupa minum vitamin dan susunya, Kanna.”


“Iya, pacar.”


“Oh, iya, aku ingin memberimu sesuatu, Kanna,” tanganku merogoh masuk ke dalam tas sekolahan. Aku mengeluarkan bungkusan kantong plastik berwarna pink dan memberikannya pada Kanna.


“Apa ini?”


“Buka saja.”


Kanna membuka isinya dan langsung memelukku. Ah, ya, ampun. Begitu senangnya dia menerima benda itu, ternyata Kanna memang sangat menginginkannya.


“Kau memberiku lensa kontak? Bukankah harganya sangat mahal?” Kanna memelukku semakin erat.


“Aku menabung.” Aku memang tak pernah bercerita padanya kalau aku sampai bekerja sambilan di POM bensin.


“Padahal tiap hari kau juga mengirimiku makanan, Leon. Apa uangmu cukup?” Kanna menarik tubuhnya dan memandang lekat ke arah wajahku.


“Cukup, makankukan nggak banyak,” tanganku merapikan rambutnya agar dia berhenti khawatir.


“Leon...!” Kanna menangis, ia kembali memelukku.


“Kenapa kau malah menangis? Apa kau nggak suka sama hadiah itu?!”


“Nggak, aku suka, suka sekali!” Kanna bergeleng di pundakku, ia masih terisak.


“Aku nggak apa-apa, Cimut, yang penting kamu suka.” Aku mengusap pipinya yang penuh air mata.


“Makasih, Leon.”


“Sama-sama.”


Kami menghabiskan waktu istirahat makan siang dengan saling berpelukan dan menguatkan. Aku harap semua usahaku ini tak sia-sia, Kanna. Aku bahkan akan berusaha lebih keras dan lebih keras lagi asal kau bahagia.


— MUSE S3 —


Ya ampun Leon.


Nangisnya aku Leon 😭😭


MUSE UP!!


YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.


VOTE, LIKE, dan COMMENT


PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!


Terima kasih sudah membaca,


Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama


Love,


Dee ❤️❤️❤️