MUSE

MUSE
S6 ~ LAVENDER



MUSE S6


EPISODE 20


S6 \~ LAVENDER


\~Bagi pria yang tak pernah mencintai sebelumnya, cinta baginya hanya berarti memiliki. Sedangkan bagi Gabby yang mencintai sangat lama dan tak terbalaskan, arti cinta baginya jauh lebih dalam dari pada sekedar memiliki.\~


____________________


“Liebst du mich?” tanya Ivander.


(Apa kau mencintaiku?)


Air mata Gabby kembali menetes dengan deras. Akhirnya pertanyaan yang paling susah dijawab olehnya kini keluar juga dari mulut Ivander.


“Ini sulit Ivander,” lirih Gabby. Ia menaruh dahinya pada dahi Ivander.


“Ungkapkan saja apa isi hatimu, Gabby. Ungkapkan saja apa yang kau rasakan?!”


“Aku ...,” jeda Gabby, tangannya menggenggam erat ujung sweaternya.


“Sungguhkah kau tak mencintaiku?” Alis mata Ivander meluruh, sedikit kecewa karena Gabby tak kunjung menjawab perasaannya. Ivander sempat mengira Gabby sudah menerima cintanya saat mereka bersatu siang tadi.


“Ini sangat membingungkan, Van. Hatiku merasa aneh, aku mencintai Krystal. Dia mencintaimu, dan kini kau mencintaiku. Ini bukan lagi cinta segitiga, Van. Ini seperti lingkaran.” Gabby menatap Ivander.


“Gabby, kenyataannya Krystal sudah tak ada lagi ditengah-tengah kita. Kini tinggal kita berdua, tinggal hatimu, Gabby! Tinggal bagaimana perasaanmu terhadapku!” Ivander mencengkram lengan Gabby.


Bagi Gabby, perasaannya yang gundah bukanlah hal sederhana seperti yang dipikirkan Ivander. Bagi pria yang tak pernah mencintai sebelumnya, cinta baginya hanya berarti memiliki. Sedangkan bagi Gabby yang mencintai sangat lama dan tak terbalaskan, arti cinta baginya jauh lebih dalam dari pada sekedar memiliki.


“Hatiku ...,” lirih Gabby, sebenarnya Gabby sangat jelas tahu bahwa ia telah jatuh dalam pesona Ivander, Gabby sungguh-sungguh menyadari bahwa ia mencintai Ivander. Gabby hanya merasa tidak enak, merasa aneh, merasa bersalah kepada Krystal.


Ivander memang tidak membunuh Krystal, tapi dulu Krystal begitu mencintai pria ini. Dia bahkan rela mati demi mendapatkan cinta Ivander. Lalu Gabby, dengan mudahnya malah mendapatkan cinta Ivander, mendapatkan perhatian lelaki ini. Bagaimana mungkin dia tidak bimbang?! Tentu saja hati nuraninya masih tak tega.


“Sungguh tak pantaskan aku untuk kau cintai, Gabby?” Mata Ivander berkaca-kaca, hatinya terluka saat Gabby seakan meragukan kesungguhan cintanya.


“Aku akan menebusnya, Gabby. Kesalahanku! Aku akan berlutut di depan makam Krystal karena menyia-yiakan cintanya.” Ivander mengambil napas panjang, “asal jangan tolak perasaanku, jangan pergi dariku.”


Iris mata Ivander penuh dengan bayangan wajah Gabby, membuat Gabby kembali luruh dengan mudahnya.


Bukankah menyakitkan bila harus memendam rasa cinta itu sendirian?


Bukankah menyakitkan bila harus mengambil cinta milik sahabatmu sendiri?


Marah


Sakit


Sedih


Kecewa


Pengkhianat


Andai masih hidup, mungkin itulah yang akan Krystal ungkapkan saat Gabby menerima perasaan Ivander.


Maafkan aku Krystal, sungguh maafkan aku. Aku tak pernah menyangka akan mencintai Ivander, pria yang juga kau cintai, desaah Gabby dalam hatinya. Perasaan dalam hatinya yang membuncah sungguh tak mampu untuk dibendungnya lagi.


“ich liebe dich auch, Ivander.” Gabby merangkul leher Ivander, membisikkan jawabannya.


(Aku juga mencintaimu, Ivander.)


“Ja, liebe!!” Ivander langsung membalas rangkulan Gabby, memeluknya dengan sangat erat. Memejamkan matanya untuk menikmati cintanya.


(Ya, Cinta)


“Tapi ...,” kata Gabby.


“Tapi apa?”


“Tapi aku tak bisa menerimamu sampai misteri kematian Krystal benar-benar terungkap. Aku tak akan menyerah mencari kebenarannya!” Mata Gabby berkilat penuh kemarahan. Ivander terdiam sesaat, mencoba untuk memikirkan masak-masak perkataan Gabby. Tak ingin orang yang dicintainya terluka, Ivander akhirnya memutuskan untuk membantu Gabby.


“Aku akan membantumu, Gabby! Kita pasti membongkar misteri kematian Krystal, kita pasti menghukumnya, dan membersihkan namaku.” Ivander mengelus rambut panjang Gabby, menawarkan bantuan yang membuat wanita itu bisa bernapas lega.


Gabby merasa tenang dan aman dalam pelukan Ivander.


— MUSE S6 —





Tapi nyatanya ... ketenangan itu tak berlangsung lama! Apartemennya yang biasa sepi mendadak ramai karena adu mulut Gabby dan Ivander begitu mereka sampai.


“Hentikan Ivander!! Aku bisa melakukannya sendiri!” Protes Gabby sore ini, Ivander melucuti pakaian Gabby, membantunya mandi.


“Dokter bilang lukamu tak boleh terkena air!” Tekat Ivander lebih kuat nyatanya.


“Hanya telapak tangan, aku bukan orang cacat yang harus dimandikan!” jerit Gabby sebal.


Mereka telah kembali ke ibu kota sore ini, menuruni kawasan puncak dengan hati yang penuh dengan haru biru. Baik Gabby dan Ivander jauh merasa lebih lega saat rasa cinta dengan keajaibannya mengikis hilang rasa sakit dan benci di dalam hati Gabby.


Ivander nekat menemani Gabby tinggal di apartemennya karena kondisi lukanya. Dokter bilang lukanya tak boleh terkena air, tak boleh kotor, dan Gabby harus meminum obatnya agar memastikan tidak ada infeksi. Maka di sinilah Ivander sekarang berada, meggondokkan hati Gabby karena tingkahnya.


“Kemari, Gabby! Menurutlah atau aku akan memaksamu!” Ivander menggoda Gabby lagi, senyum liciknya berhasil membuat Gabby sebal.


Ivander meluruhkan semua pakaian Gabby, celana dalam tentu saja bagian yang paling akhir. Ivander membungkuk, mencium perut ramping Gabby tepat di bawah pusar sebelum melepaskan cdnya. Gabby menggigit bibirnya, rasa geli yang aneh menjalar ke sekujur tubuhnya.


“Andai saja tanganku tidak terluka, aku pasti memukulmu.” Gabby menyerah, ia menurut saja saat Ivander menggendongnya perlahan masuk ke dalam bathtube berisi air hangat.


“Pukul saja! Berapa kalipun aku rela agar bisa melihat ekspresi wajahmu saat ini,” tukas Ivander dengan diiringi tawa kecil.


Aroma lavender tercium tajam, menggelitik hidung, membuat suasana lebih kalem. Hangatnya air juga membuat otot-otot yang kaku menjadi relaks.


Ivander menyusul masuk ke dalam bathtube, ia membuat air hangat luber keluar. Ivander menggosok punggung Gabby dengan sabun, aroma menenangkan kembali tercium, Gabby sepertinya begitu menyukai bunga lavender, terlihat dari semua perlengkapan mandinya yang beraroma lavender.


“Kau suka bunga lavender?”


“Suka.” Angguk Gabby sambil memejamkan mata, gosokkan pelan tangan Ivander membuatnya nyaman.


“Ada sebuah padang lavender yang sangat indah di Italy, Gabby,” ucap Ivander.


“Ah, aku tahu, benar di sana sangat indah.” Gabby tersenyum, membayangkan padang bunga yang sangat ingin ia datangi.


“Begitu kasus ini selesai, kita berlibur ke sana, bagimana?” tawar Ivander.


“Janji?”


“Yup, aku janji akan membawamu ke sana, Schatz.” Ivander mengecup tengkuk Gabby.


Gabby menikmati kecupan-kecupan ringan yang bersarang pada tengkuknya. Tangan Ivander masih melingkar pada pinggang ramping Gabby. Punggung Gabby menempel lekat pada dada Ivander, membuat keduanya merasa nyaman.


“Tentu saja, untuk menggelitik rasa cemburu dan penasaranmu.” Gabby terkikih.


“Kejamnya, tapi aku suka mendengarnya, itu berarti kau hanya milikku, Gabby. Aku tak harus berbagi dengan Adrian.” Ivander tersenyum.


“Saat itu aku benar-benar curiga padamu.”


“Kau mencurigaiku?”


“Iyalah, tak ada tersangka lain yang punya motif kuat selain dirimu.” Gabby mengankat dagunya, menengadah ke langit-langit, “Ah, kenapa kasus Krystal begitu pelik? Seakan tak ada bukti sama sekali.” Gabby mendesaah pelan, sebal dengan misteri yang tak kunjung mendapatkan titik terang.


“Bertanyalah lagi pada Adrian, Gabby, bagaimana pun Adrian yang menemukan mayatnya,” usul Ivander.


“Kau mencurigainya?”


“Tentu saja tidak, dia adikku, bagaimana pun aku tahu betul sifatnya, pria itu tak berani membunuh kelinci, bagaimana mungkin dia membunuh manusia?” Kepala Ivander bersandar pada punggung Gabby.


“Padahal Adrian selalu cerita padaku kalau dia membencimu karena kau menyebalkan, apa kau tak membencinya?”


“Membencinya? Tidak, bagaimana pun dia adikku,” jawab Ivander.


“Lalu kenapa kau sering memarahinya? Kata-katamu kasar saat bersamanya.”


“Aku hanya mendidiknya. Membuatnya menjadi seorang pria.” Ivander memutar tubuh Gabby.


“Kau merebut segalanya dari Adrian, perusahaan, kasih sayang Papamu, juga pacarnya.” Gabby menunjuk dada Ivander.


“Pacar pura-pura tidak masuk hitungan.” Ivander menarik tubuh Gabby masuk ke dalam dekapannya.


“WAW!” pekik Gabby.


Aroma air hangat bercampur dengan atsiri lavender yang menenangkan. Membuat keduanya kembali terbuai dalam indahnya rasa. Ivander mengecup pelan dahi Gabby, lalu turun, mendarat pada bibirnya yang merekah merah. Dengan gemas Ivander melumattnya, memanggutnya dengan penuh gairah. Gabby membalasnya, memainkan lidahnya pada selurunh rongga mulut Ivander. Terakhir, Gabby menggigit lembut bibir bawah Ivander.


“Für dich bin ich bereit, mein Leben aufzugeben.” Selesai berucap, Ivander mengecup leher Gabby, membuat rancauan pelan lolos dari bibirnya.


(Untukmu aku rela menyerahkan nyawaku.)


Ivander mengelus punggung, turun pada pinggang ke arah pinggul, mengusap lembut tiap jengkal kulit lembab Gabby dengan busa sabun. Aroma yang manis, suhu air yang hangat, madu dari bibirnya, indah senyuman dan nikmatnya persatuan menutup hari itu.


“Arg ..., Ivander!” rancau Gabby.


“Arg ..., ich liebe dich, Gabby!” rancau Ivander pada telinga Gabby, membisikkan cinta, gairah, dan juga luapan nafsu.


(Aku mencintaimu, Gabby.)


Apalah artinya nyawa kalau kau bisa menukarnya dengan cinta yang begitu indah? Takdir dan karma seakan membalasnya, kini demi secuil cinta dari Gabby, Ivander bahkan rela jatuh ke dalam neraka dan merasakan deritanya.


“Ja, Maine Liebe!” bisik Gabby.


(Ya, Cintaku.)


— MUSE S6 —


MUSE UP


YO DI LIKE


YO DI COMMENT


YO DI VOTE!!


❤️❤️❤️❤️


Sekilas info unfaedah.


Percakapan yang terjadi antara OR dan Bucinnya. Ini terjadi saat awal masuk sekolah anak piyik tahun ajaran baru. Malamnya OR curhat sama Bucin.


OR : Cin, tadi anakmu skolah online pertama kali masuk TK.


Bucin : teros?


OR : ditanya sama miss e namane siapa? Tau nggak anakmu jawab apa? 🙄


Bucin : dia jawab apa emangnya?😒


OR : namaku Batman. 🦹🏽‍♂️


Bucin : wkwkwk, Oh ya? Trus?


OR : Terus miss e juga nanya, cita-cita kalian kalau sudah besar apa? Yang lain bilang dokter, insiyur, fireman, tau ga anakmu bilang apa? 🙄


Bucin : apaan? Batman lagi?


OR : bukan.


Bucin : apaan donk!


OR : Pengangguran kaya raya 🙄🙄


Bucin : wkwkwkwk, bagus Nak!! Teruskan 👍


OR : dia bilang batman itu ga kerja tapi uang e banyak. Dia ga tau aja kalau warisan e bapak e ga abes tujuh turunan! 🙄🙄


Bucin : Cita-citanya mulia ya 👍


OR : mulia gundulmu Cin Cin


Bucin : cita-cita anak musti di dukung donk. 😒😒😒


OR : yo cari o duit xg banyak! 😩😩


PENGUMUMAN!!


Giveaway datang lagi!!!


Kumpulin poin kalian terus vote pada GORESAN WARNA PELANGI DAN DAPATKAN KESEMPATAN UNTUK MEMENANGKAN 3 buah buku dari AUTHOR!!!



Caranya gampang:


- Follow IG @dee.Meliana


- Share pengumuman preorder Goresan Warna Pelangi di media sosial kalian, IG, Facebook, dll. (Screen shoot)


- Lalu vote sebanyak-banyaknya.


Vote Di tutup tanggal 1 Oktober 2020 jam 12 siang. Diumumkan tanggal 2 Oktober 2020.


Bagi yang sudah vote terbanyak tapi nggak ada bukti share di media sosial kalian terpaksa author anulir ya, soalnya sudah termasuk syarat give away!!


Lop yu gaes!!