
MUSE S6
EPISODE 5
S6 \~ BILIK TOILET
\~Hanya dengan melihat senyuman terkembang di wajah cantiknya, atau canda tawa yang tercipta dari bibir tipisnya sudah mampu membuat Gabby merasa bahagia, karena bagi Gabby —yang tak bisa mengungkapkan perasaannya—mencintai memang sesederhana itu.\~
_________________
Krystal membanting badannya ke atas kasur, ia sebal karena balasan Ivander tak kunjung hadir.
“Apa aku kurang menarik? Kurang cantik?” Krystal menatap pantulan wajahnya pada layar ponsel.
Arg!! Kenapa nggak dibalas?! Pekik Krystal dalam hatinya.
Sekali lagi Krystal mencoba untuk menghubungi Ivander. Namun lagi-lagi dia dikecewakan oleh layar kosong.
Tring ... 🎶
Saat ponselnya berbunyi, Krystal meloncat kegirangan, namun yang ada malah chat dari Gabby dan juga Adrian.
GABBY
Kau sudah makan?
Aku beli kepiting kesukaanmu.
Krystal mengacuhkan chat dari Gabby. Beralih pada Adrian.
ADRIAN
Krystal jangan hubungi
Ivander lagi.
Dia tak menyukainya.
Argh!! Shit!! Umpat Krystal dalam hati.
Krystal kembali pada ponselnya, ia tak menyerah dengan penolakan Ivander. Baru kali ini ia melihat pria sempurna seperti Ivander dan Krystal ingin memilikinya. Semakin cepat ia menghubungi Ivander, semakin berkurang saingan cintanya, bukan?
Dengan cepat jemari lentiknya bekerja, mengetik deretan kata kunci pada halaman pencarian. Krystal nekat mencari alamat perusahaan Ivander, ia akan mencoba peruntungannya dengan melamar pekerjaan di sana.
Krystal yakin, dengan kecantikan dan juga kemolekkannya ia akan memapu menggaet perhatian Ivander. Siapa tahu begitu ia memperoleh Ivander sebagai pacarnya, ia akan terbebas dari bayang-bayang Gabby. Ia tak perlu lagi tinggal bersama dengan Gabby.
Namun, lagi-lagi Krystal harus menelan pahitnya kekecewaan karena Ivander bahkan sama sekali tak meliriknya. Setelah seminggu berjuang untuk menghubungi Ivander sampai memasukkan lamaran kerjapun sama sekali tak ada balasan.
“Ugh, apakah sapaan lembutnya tempo hari hanya basa-basi?” Krystal mendengus sebal.
“Krys? Kau kenapa?” tanya Gabby, ia baru saja selesai tampil disebuah acara amal. Penasaran melihat Krystal terus medesahkan napasnya panjang.
“Bagaimana caranya agar seseorang menginginkanmu? Bagaimana caranya agar pria menyukaimu?” Krystal menaruh dagunya di atas meja bar.
“Apa maksudmu?” Gabby bingung dengan rancauan Krystal, ia mengambil air dingin dari dalam kulkas dan meminumnya dengan cepat.
“Ah, lupakan, cewek populer sepertimu tak pernah mengejar pria.” Krystal menyahut botol air mineral Gabby dan meminumnya.
“Ini, aku kembalikan,” kata Krystal. Wajah Gabby merona kemerahan, ciuman secara tidak langsung dengan Krystal.
“Kau ada masalah? Mau cerita?” tanya Gabby, Krystal mengangguk pelan.
“Kenapa?”
“Aku menyukai Ivander, Kakaknya Adrian. Tapi dia tak menyukaiku.” Ucapan Krystal membuat hati Gabby melonjak, sakit, namun tak bisa menyuarakannya. Beruntung pria itu tak menyambut perasaan Krystal, jadi Gabby bisa sedikit merasa lega.
“Oh, bagaimana kau tahu kalau dia tak menyukaimu?”
“Adrian yang bilang. Dia juga tak membalas pesanku.”
Gabby diam, Krystal pun hanya membenamkan kepalanya pada siku lengan. Mencoba mencari ketenangan akan perasaannya yang gundah.
“Kau mau ke club? Menari, minum, lalu melupakan dirinya?!” tawar Gabby semabari mengelus lengan sahabatnya.
“Kau yang traktir?”
“Yup, aku yang traktir!”
Krystal langsung meloncat girang, ia bergegas mencari pakaian terbaik dan juga berdandan dengan cantik. Pergi ke club dan juga minum adalah cara paling ampuh untuk melupakan masalah dan lari dari kenyataan, sayangnya biaya pergi ke sana tidaklah murah. Krystal bahkan menunda pembayaran uang semesternya karena kiriman uangnya habis untuk ke club.
“Bantu aku, Gab!” Krystal memberikan catokkan rambut pada Gabby.
“Kemarilah!” Gabby dengan senang hati membantu Krystal menata rambutnya. Dengan begini Gabby bisa berdekatan, bisa mencium wangi manis dari rambut ikal Krystal, juga bisa merasakan kelembutan kulitnya saat tak sengaja bergesekkan.
Gabby begitu mencintai Krystal, begitu menyayangi Krystal. Hanya dengan melihat senyuman terkembang di wajah cantiknya, atau canda tawa yang tercipta dari bibir tipisnya sudah mampu membuat Gabby merasa bahagia, karena bagi Gabby —yang tak bisa mengungkapkan perasaannya—mencintai memang sesederhana itu.
— MUSE S6 —
Suasana hura-hura begitu terasa saat Gabby dan Krystal memasuki HR club. Music keras menghentak penuh dentuman, alunannya berasal seorang DJ yang mengangkat tangannya ke atas. Mencoba berinteraksi dengan para pengunjung. Beberapa penari setengah telanjang, menari melenggok-lenggok dengan luwes pada sebuah tiang. Tampilan mereka sangat menggairahkan bagi siapapun yang melihatnya. Lampu sorot berputar-putar, menghujami tubuh mereka dengan cahaya remang kemerahan.
Gabby mengikuti Krystal yang bergegas menembus kerumunan manusia yang sedang asyik berdansa.
“Ayo kita berdansa sampai puas, Gabby!” Ajak Krystal.
“Baiklah!” Gabby ikut menggerakkan tubuhnya, menari.
Krystal tampak bahagia, ia sesekali meloncat mengikuti irama musik. Tak lama banyak pria-pria yang menawarkan diri untuk menari dengan Gabby, tapi tidak dengan Krystal. Membuat gadis cantik ini berdecak sebal.
Apa kurangnya aku dari Gabby? Kenapa selalu saja pria lebih memilihnya dibandingkan diriku? Pikirnya dalam hati.
Krystal mengambil segelas racikan vodca dari tangan pelayan dan meminumnya. Krystal menghabiskannya dalam satu tegukkan. Lalu mengambil gelas yang lainnya lagi. Lagi dan lagi! Krystal dengan sebal akhirnya meninggalkan Gabby yang kebingungan mencarinya. Jalannya mulai sedikit sempoyongan akibat terlalu banyak minum.
Mata Krystal membelalak saat melewati area VIP, Ivander, pria yang telah berhasil mengobrak abrik hatinya sedang berada di dalam sana.
“Ivander??” Krystal menerobos masuk ke dalam ruang VIP.
“Hei siapa wanita cantik ini?” Seorang teman Ivander menggiring Krystal masuk ke dalam.
“Ivander? Kenapa kau tak menjawab chatku?? Tak mengangkat telefoneku?!” Krystal yang agak sedikit mabuk meloncat ke dalam pelukan Ivander dan memukul dada kerasnya.
“Siapa kau?!” tanya Ivander. Ivander menyadari kehadiran Krystal tidak asing baginya.
“Ck, aku Krystal teman Adrian! Kenapa kau semudah itu melupakanku?!” cibir Krystal sebal.
“Oh, si rambut coklat! Mau apa kemari?”
“Menemuimu! Bilang cinta padamu?”
“Kalau aku tidak mau bagaimana?” Ivander mengangkat dagu Krystal dengan jari telunjuknya.
“Ck, dasar! Wkwkwk!! Tapi dia cantik juga, kalau nggak mau buatku saja.” Salah satu temannya menarik tangan Krystal.
“Lepasin!! Siapa kalian?! Aku cuma mau sama Ivander.” Krystal memberontak.
“Lepas!! Aku belum selesai dengannya.” Ivander menatap tajam pada temannya, membuat mereka ketakutan.
“Baik-baik! Cih, suasananya jadi tak enak hanya gara-gara seorang j4lang!” geram mereka.
“Aku bukan j4lang!! Aku masih perawan!!” teriak Krystal sebal karena mereka terus mengatainya wanita murahan.
“Kau masih gadis rupanya.” Seringai Ivander.
“Iya, donk! Hanya akan ku berikan untuk pria yang kucintai!” rancau Krystal, dia memeluk lengan Ivander.
“Kau mencintaiku?”
“Huum!”
“Aku belum pernah bermain dengan seorang perawan, kau mau menjadi yang pertama?” Goda Ivander.
“Mau! Tapi kau berjanji harus cinta padaku, ya.” Krystal semakin erat memeluk lengan kekar Ivander.
“Tentu saja.”
“Baiklah.”
“Kalau begitu ayo!”
“Ke mana?” Krystal kebingungan.
“Membuatmu melayang ke surga.” Ivander menarik tangan Krystal dan membawanya ke dalam toilet.
Ivander sengaja meletakkan benda segitiga berwarna kuning dengan tulisan ‘SEDANG DIBERSIHKAN!’ di depan pintu toilet.
Ivander menggiring Krystal memasuki salah satu bilik pada toilet itu. Dengan segera Ivander mencium bibir tipis Krystal, menyesapnya dengan begitu cepat dan tak beraturan. Ivander begitu ahli berciuman, membuat Krystal semakin jatuh dalam pesona Ivander. Jantung Krystal berdegup cepat, ia begitu kesusahan mengikuti ritme ciuman Ivander yang membuat napasnya terus menderu.
Ivander membuka satu persatu kancing baju Krystal, memaksanya menampilkan dua buah benda kesukaan para kaum Adam itu. Ivander memainkannya, meluapkan nafsunya di atas tubuh Krystal. Menyesap tiap-tipa jengkal kulit mulus Krystal, menorehkan bekas merah keunguan pada permukaannya.
“Uughh ... agh,” lengguh Krystal keenakkan. Ia tak pernah merasakan sentuhan pria yang penuh dengan gairah seperti saat ini.
“Aku sudah menyuruh Adrian untuk memperingatkanmu!!” Ivander menatap mata Krystal, lalu mengelus bibirnya dengan ibu jari. Krystal hanya terdiam, menelan salivanya. Krystal sudah kembali sadar dari buaian alkohil, ia sedikit takut juga dengan tatapan tajam Ivander.
“Tapi kau tetap nekat, jadi jangan salahkan aku, OK!” Ivander langsung kembali melummat bibir Krystal dengan rakus. Ciumannya semakin turun ke leher dan dada, meraup keduanya dengan kasar.
“Argh!!” rancau Krystal.
Peluh menetes deras saat Ivander mulai menggendong tubuh ramping Krystal ke atas pinggulnya. Menerobos dengan kasar ke dalam tubuh Krystal. Krystal meringis kesakitan, namun Ivander membungkamnya dengan ciuman.
Bilik sempit itu menjadi saksi bisu atas rancauan Krystal dan derap kenikmatan yang mereka lalui bersama.
•
•
•
Gabby kebingungan, ia terus mencari Krystal, sudah satu jam lebih batang hidungnya tak terlihat. Berkali-kali Gabby menelepon ponselnya namun tak ada jawaban. Gabby mengusap keringat yang membasahi wajah cantiknya. Belum pernah ia merasa sepanik ini sebelumnya.
Bagaimana kalau terjadi hal buruk padanya? Krystal sangat lugu. Gabby mengutuki dirinya sendiri, kenapa tadi fokusnya bisa teralihkan oleh beberapa pria menyebalkan yang terus menggodanya.
Triing ... 🎶
Akhirnya bunyi ponsel terdengar. Nama Krystal tertera pada layarnya, membuat kelegaan memenuhi hati Gabby.
“Kau di mana, Krys?! Aku mencarimu dari tadi!!” teriak Gabby, suara musik keras membuatnya harus berteriak.
“Gabby, kau pulanglah, aku akan pulang dengannya besok,” ucap Krystal.
“Siapa dia???!!” seru Gabby.
“Orang yang kucintai!” Krystal begitu berbunga-bunga saat ini. Ivander memeluknya dari belakang, mencium cerukkan lehernya yang terbuka. Mereka berdua tengah berada di dalam hotel mewah, meneruskan kegiatan bercinta mereka malam ini. Tak puas satu ronde menikmati tubuh Krystal, Ivander mengajaknya ke hotel milik keluarganya.
“Krystal?? Siapa yang kau maksud?? Krys!!” teriak Gabby panik.
“Tentu saja Ivander, Gab! Besok aku ceritakan!” Krystal menutup panggilannya.
“Hallo!! Hallo!! Krystal!! Hallo!!!”
“Shit!! Dimatikan!” Gabby mengumpat, ia menjambak rambutnya kasar.
Air mata perlahan mulai mendera wajah cantiknya. Baru kali ini ia merasakan hatinya begitu sakit dan sesak.
Sementara itu Krystal kembali menyambut tubuh Ivander yang bergerak maju mundur dari dalam tubuhnya. Melepaskan mahkota berharganya untuk menerima hasrat dari pria yang paling dicintainya saat ini.
“Kau cantik, Sayang!” puji Ivander.
— MUSE S6 —
Yo Muse up
Di like
Di comment
Di vote
Othornya di sayang2 😍😍