MUSE

MUSE
S3 ~ PENERIMAAN



MUSE S3


EPISODE 105


S3 \~ PENERIMAAN


\~ Bagiku cinta tak harus melulu bicara masalah nafsu dan sexs. Kenyamanan hati dan penerimaan juga bagian dari rasa cinta.\~


_______________


Kanna terlihat begitu lesu saat aku pulang. Entah kenapa dia juga terlihat pucat dan tak seceria biasanya. Dan yang paling membuatku cukup terpana adalah, pipinya bertambah tebal. Mungkin setebal 1 cm atau 2 cm.


“Wow...! Kau bertambah gemuk, Kanna?” godaku senang, tapi bukannya sebal, Kanna malah sesunggukan.


“Huuuwaaa....! Leon jahat!!” Kanna langsung menangis saat itu juga. Membuatku kelabakkan dan tak tau harus berbuat apa?


“Kenapa kau malah menangis? Apa aku melakukan kesalahan?” Aku menggaruk dahiku dengan bingung.


“Hiks..., Leon jahat.” Kanna terus terisak.


“Kemarilah, Kanna! Maaf kalau kata-kataku salah,” ku tarik tangannya agar masuk ke dalam pelukanku.


“Leon, hatiku sakit, aku sedih banget.” Kanna mendekapku sangat erat.


“Kenapa kau bersedih, huh?”


“Apa kau akan menyalahkanku kalau aku cerita, Leon?”


“Tentu tidak. Masalahmukan masalahku juga,” jawabku sambil mengelus rambutnya.


“Aku habis masuk RS.”


“APA???” tanyaku syok. Kanna masuk RS dan dia tak memberitahuku? Aku mendorong bahunya menjauh agar bisa mendengar apa alasannya.


“Maaf, Leon. Aku tak memberitahukannya kepadamu. Aku takut kau marah kepadaku.” Kanna memandangku, matanya berkaca-kaca.


“Kenapa??!”


“Aku berdiet, dan melukai diriku.”


“Hah??? Apa? Diet??” Aku tak habis pikir, kenapa Kanna harus berdiet?!


“Aku ingin membuatmu terkesima kalau aku berubah menjadi langsing dan cantik.” Kanna menunduk, kini aku tau alasannya.


Kanna-Kanna, kenapa sebodoh itu, sih? Aku menghela napas panjang sebelum berkata-kata padanya.


“Kanna, kau itu cantik! Bahkan yang tercantik! Tanpa merubah dirimupun aku tak masalah, aku mencintaimu bukan karena bentuk fisikmu.” Aku menekan bahunya, memberikan penjelasan pada dirinya kalau cintaku padanya murni karena perasaan dan kasih sayang. Bukan cinta eros yang hanya mementingkan fisik dan kecantikkan semata. Bagiku cinta tak harus melulu bicara masalah nafsu dan sexs. Kenyamanan hati dan penerimaan juga bagian dari rasa cinta, bukan? Dan satu kata itulah bagian terpenting dari cinta, yaitu ‘penerimaan’.


“Leon, apa ucapanmu serius?”


“Apa pernah aku nggak serius dengan perkataanku?”


“Huwa..., Leon.” Kanna kembali memelukku dan menangis.


“Sudah-sudah!!” Aku menenangkannya, menepuk dan mengelus punggungnya.


“Tapi aku ingin kurus, Leon. Aku ingin bisa bersanding denganmu, aku nggak mau kau dihina karena diriku yang jelek dan gendut.” Kanna terbata-bata karena berbicara sambil terisak.


Aku tersenyum sumbang dan akhirnya menyerah dengan permintaannya, “baiklah, aku akan membantumu. Tapi tunggu kondisimu pulih dulu, ya. Diet yang nggak sehat itu berbahaya, Kanna.”


“Serius? Kau mau membantuku?”


“Iya, aku akan cari-cari artikel tentang diet dan menu makanan sehat,” tanganku mengelus wajahnya, lalu menyibakkan rambutnya ke belakang telinga. Wajah Kanna terlihat kacau karena terlalu banyak menangis.


“Aku sayang kamu, Leon!!” Kanna langsung tersenyum, ia berjinjit untuk mencium pipiku. Duh, kangennya.


“Sudah nggak nangis lagi?” ledekku.


“Iya.” jawabnya malu-malu.


“Sudah bisa kangen-kangenan belum, nih? Tiga minggu, hlo, kita nggak bertemu.”


“Kau membuatku malu, Leon!” Kanna menggoyangkan tubuhnya pelan ke kanan kiri. Kaya anak kecil yang kesusahan untuk menyembunyikan rasa bahagianya.


“Ciuman di sini? Aku bisa digorok sama Papamu, Kanna,” tolakku karena kami berdiri di depan rumahnya. Aku lalu menggandeng Kanna masuk ke dalam rumahku.


Aku melemparkan diri ke atas sofa, “kemari, Cimut!” membuka lengan dan mempersilahkan Kanna berjalan masuk ke dalam pelukkanku.


“Papa Mamamu tak ikut pulang?”


“Tidak, nenek sakit, jadi mereka stay lebih lama di desa.”


“Oh, begitu.” Kanna duduk di sampingku, dengan segera ia mengalungkan lengannya pada leherku.


Kami saling memandang beberapa saat, manik matanya yang hitam terlihat mulai berbinar. Walaupun wajahnya masih sedikit pucat, tapi bibirnya tetap saja tipis dan menggoda.


“Aku cium, ya?”


“Huum.”


Perlahan aku menciumnya, walaupun tipis tapi bibirnya punya rasa yang manis dan memabukkan. Sensasinya selalu berhasil membuatku ketagihan dan ingin lagi dan lagi, terus dan terus. Sihir apa yang Kanna gunakan sampai bisa membuatku terjatuh begitu dalam pada pesonanya?


Aku melepaskan bibirnya, sekedar memberikan jeda untuk kami berdua mengumpulkan napas. Wajah Kanna mengeluarkan peluh karena ciuman kami membuatnya merasa panas. Aku tersenyum dan kembali menciumnya. Perlahan lumattanku berubah menjadi kecupan, lalu turun dan bersarang pada lehernya. Aku mengecup pelan leher Kanna, sedangkan tanganku mengelus tiap-tiap jengkal lekuk perut dan pinggannya yang padat dan berisi.


“Jangan, Leon! Badanku sangat jelek.” Kanna mencengkram tanganku agar aku menghentikan aksiku.


“Ah, Oke.”


Suasananya berubah sedikit canggung, Kanna lebih banyak diam. Akupun telah kembali duduk dengan tegap di sampingnya.


“Maaf, Leon. Aku bukannya nggak mau kau menyentuhku.” Kanna membuka pembicaraan.


“Hah?? Ng..., nggak apa-apa, kok,” kini malah aku yang merasa nggak enak hati. Tanganku memang kurang kerjaan tadi, makanya cari sesuatu yang empuk dan hangat.


“Apa kau tidak jijik dengan lemak di perutku, Leon? Atau tiap bagian yang menonjol ini, ini, ini.” Kanna menunjuk lipatan perut, lengan, juga pahanya yang besar.


“Nggak, tiap bagian dirimu, semuanya aku suka,” kembali ku gelengkan kepalaku.


Kanna kembali terdiam. Aku menjadi heran, apa bagi seorang wanita bentuk tubuh itu begitu penting? Bukankah aku sudah bilang kalau aku suka semuanya, lantas kenapa ia masih bersedih?


“Kanna.” Aku bangkit dan berjongkok di depannya, aku memanggil namanya agar Kanna mau mengangkat wajahnya untukku.


“Ucapanku serius, Kanna. Aku suka kamu apa adanya...,” kalimatku terhenti, aku mengambil jeda napas.


“Tapi kalau memang hal itu bisa membuatmu bahagia. Aku pasti akan mendukungmu untuk mewujudkannya, Kanna.”


Aku berlutut untuk memeluk dirinya, “bukankah kebahagianmu adalah kebahagiaanku juga?”


“Leon....”


— MUSE S3 —


Leon kuh....❤️


Semangat Kanna!! ❤️


MUSE UP!!


YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.


VOTE, LIKE, dan COMMENT


Komentar kalian bikin saya semangat gaes.


PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!


Vote kalian sangat berarti buat saya!!


Terima kasih sudah membaca,


Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama


Love,


Dee ❤️❤️❤️