
MUSE
EPISODE 24
GILA
\~Aku mengaguminya sampai rela mati untuknya. Aku terobsesi dengannya, semuanya tentang dia terdengar merdu di telingaku, semua tentang dia terlihat cantik di mataku.\~
Aku berlari dan terus berlari, aku belum menyerah mencari sosoknya. Kenapa aku begitu bodoh membiarkannya melihat semua ini. Nafasku tersengal-sengal, keringat bercucuran membuat t-shirtku basah.
“LENNA!!!”
“Di mana kamu Lenna?!” Aku berteriak.
“LENNA!!!”
Tenggorokanku kering karena terus memanggil namanya.
Sisa tenagaku akhirnya habis, dan aku tetap tak bisa menemukan sosoknya.
“Maafkan aku, Lenna.” Aku bergumam lirih saat menulis chat.
Berpuluh-puluh, beratus-ratus chat dan telfone permintaan maaf tidak pernah di buka.
“Kenapa kau nggak mau memaafkanku..? Kenapa??” Aku menangis di sudut kamarku.
Baru kali ini aku merasa hatiku sangat sakit, padahal waktu berpisah dengan Amanda dulu tidak terasa sesakit ini.
—MUSE—
Aku mencarinya di rumah dan kampus. Tapi tak pernah menemukannya.
Sampai suatu hari dia muncul di kampus. Aku berlari mendekatinya.
“Lenna!” Aku menarik lengan kurus Lenna.
Lenna diam saja, masih menunduk dan membuang mukanya.
“Maafkan aku. Aku mohon jangan menghindariku. Aku bisa jelaskan alasannya.” Aku terus memohon kepada Lenna agar dia mau mendengar penjelasanku.
Tapi Lenna tetap diam, dan aku benci dengan keheningan ini.
“Lebih baik pukul dan kata-katai aku!! Aku nggak mau kau diam saja!”
Lenna menarik tangannya, berusaha melepaskan diri dari cengkramanku.
“Lepasin...!” seru Julius tiba-tiba, entah sejak kapan pria ini selalu mengikuti Lenna.
“Aku ada urusan dengan, Lenna. Kamu jangan ikut campur!” emosiku mendadak tak terkontrol.
Begitu juga Julius, dia terlihat sangat emosi dan marah. Julius melayangkan tinjunya dan tepat mengenai wajahku. Aku terjatuh, kepalaku terasa pening, tapi aku tetap berusaha bangkit.
“Berengsek!!” umpatnya.
“Sialan!!” Aku membalasnya dengan sebuah pukulan. Kami sama-sama berdarah, sama-sama terluka.
Lenna menarik Julius dan berusaha melerai perkelahian kami.
“Hentikan!!” Lenna berteriak.
“Alex, aku memaafkanmu, pergilah!” akhirnya Lenna membuka mulutnya, sambil menahan tubuh Julius yang meronta ingin kembali menghajarku.
“Dengar dulu penjelasanku.” Aku mencoba meyakinkannya.
“Jangan mendekat!” Julius menarik dan merangkul Lenna.
Aku mengepalkan tanganku, menahan emosi dan rasa cemburu yang tersulut.
“Setelah apa yang terjadi, kita nggak akan mungkin bisa bersama. Hatimu bukan milikku.” Lenna menitikkan air mata.
“Milikmu, hatiku milikmu dan hatimu milikku!”
Lenna memandangku dengan sayu, air mata keluar dari matanya menetes pelan. Melihat Lenna menangis membuat hatiku kembali perih. Dosa apa yang kulakukan sampai begitu menyakiti hatinya, hati orang yang aku sayangi.
“Aku mohon Lenna.” Aku mengulurkan tanganku.
“Aku sudah berpacaran dengan Julius. Jangan ganggu hubungan kami. Menjauhlah dariku.” Lenna memeluk Julius dan berjalan menjauh.
“Apa?”
Harusnya hari itu aku nggak diam membatu. Harusnya hari itu aku mengejarnya, seharusnya aku nggak menyerah. Karena hari itu adalah hari terakhir aku bertemu Lenna sebelum dia pindah.
—MUSE—
Sudah 5 tahun berlalu, aku masih belum bisa melupakan Lenna.
Aku hanya bisa memandangnya dari foto-foto sosmed, majalah, iklan dan media lainnya. Wajahnya terlihat sangat cantik dan menawan. Dia berhasil meraih cita-citanya menjadi seorang model profesional.
“Kau sangat cantik, Lenna.” Aku mengigau.
Bahkan aku menyebut namanya dalam tidur malamku. Bertemu dengannya dalam setiap mimpi indahku.
Jantungku ingin meledak, sakit sekali. Aku merindukanmu.
Aku berusaha sekuat tenaga, bekerja, mendalami keahlianku, mengasahnya supaya menghasilkan banyak penghasilan.
Aku harus merebut Lenna dari Julius, untuk itu aku perlu persiapan. Aku perlu berhasil, kalau aku hanya Alex yang dulu, aku pasti tidak akan menang dari Julius.
Kini Aku bisa dibilang sukses dalam pekerjaanku. Aku punya segalanya, keahlian, sertifikat, galery seni, rumah lelang, dan kini aku berkelimpahan dengan materi.
Aku harus mencarinya..
Aku harus menemuinya..
Aku harus merebutnya..
Menjadikannya milikku..
Satu satunya milikku..
Orang bilang aku kelainan jiwa, aku gila, tapi asal kau kembali padaku.. aku rela menjadi gila..
“Pak ini kantor agensinya & dan ini kopi yang anda minta.” Sandra memberikan sebuah kartu nama dan secangkir kopi kepadaku.
“Terima kasih, Sandra.” Aku tersenyum manis kepadanya.
Aku kembali duduk di mejaku, mencium aroma kopi yang semerbak memenuhi ruangan.
“Persiapan pameran dan acara lelangnya bagaimana?” tanyaku, Sandra masih berdiri di depanku, sesekali membetulkan letak kacamatanya.
“Progresnya sudah 90%, undangan sudah disebar. Saya juga sudah mengundang Julius seperti yang bapak mau.” Sandra memberikan laporan.
“Bagus. Terima kasih.” Aku kembali tersenyum dan menyuruh Sandra keluar.
Aku memutar-mutar kartu nama di tanganku sebelum memutuskan untuk menghubungi no itu.
“Benar saya butuh model. Iya.. diam-diam saya fansnya. Hahahaha.”
“Baik. Terima kasih.”
Aku menutup panggilan..
Sedikit lagi..
Sedikit lagi aku akan menemuimu..
Tunggu aku Lenna.
Aku pasti akan mendapatkanmu kembali.
—MUSE—
Kami banyak mengobrol seputar pekerjaan dan pengalaman pribadi masing-masing. Pak Cory terlihat senang dan bahagia dengan hadiah kecil yang ku bawa. Aku masih menunggu kedatangan Lenna di kantor agensinya. Ternyata agensinya cukup besar.
“Anda sudah lama mengagumi Lenna?” tanya Pak Cory.
“Iya.”
Aku mengaguminya sampai rela mati untuknya. Aku terobsesi dengannya, semuanya tentang dia terdengar merdu di telingaku, semua tentang dia terlihat cantik di mataku.
“Ah itu dia datang.” Pak Cory bangkit dari kursinya.
Jantungku mulai berdetak dengan cepat.
“Sudah lama nggak bertemu, Lenna.” Aku menjabat tangannya.
Wajahnya terkejut melihatku, aku tahu mungkin akulah sosok yang paling ingin dilupakannya. Tapi aku tetap tak menyia- yiakan kesempatan untuk menemuinya.
Karena aku sudah nggak sanggup lagi menahan rasa rinduku.
“A..Alex.” suara yang kurindukan. Panggilan yang membuatku merinding.
“Apa kabarmu Lenna?”
“Ba..baik.” Lenna menarik tangan dari genggamanku.
“Kalian saling kenal? Baguslah.. Mari kita bicarakan kontraknya.” Pak Cory terlihat gembira.
Aku tak menggubrisnya, aku lebih memilih memandang wajah Lenna yang berpaling. Dia membuang mukanya, tidak ingin memandangku.
Hatiku terus bergejolak.
Beberapa kali aku menelan ludahku.
Aku ingin memeluk tubuhnya, merasakan setiap lekuk tubuhnya di tanganku. aku merindukan aroma manis yang tercium dari tubuhnya, nafasnya yang hangat dan senyumannya. Semuanya..
“Aku nggak bisa menerima kontrak ini.” Lenna menyela, aku kaget mendengar jawabannya.
“Lenna, kamu kenapa sih? Ini tawaran bagus.” Pak Cory mendelik sedikit marah.
“Pokoknya aku nggak bisa.” Lenna meninggalkan ruangan kantor.
Aku mencoba untuk bersikap tetap tenang dan kembali duduk.
“Maafin Lenna pak Davin. Saya akan membujuknya.”
“Ok. Kalau begitu saya permisi.” Aku mengangguk tanda setuju dan pergi keluar.
Aku mempercepat langkahku, menuruni tangga mengejar sosok Lenna yang terus menjauh. Lenna menuju basement parkir mobil.
“Lepasin!” seru Lenna saat aku berhasil mendekapnya dari belakang.
“Lenna. Tenang dulu.” Aku memutar tubuhnya.
“Aku akan teriak!”
“Oke aku lepasin.” Aku melepaskan pelukanku.
“Kau sengaja memilihku sebagai modelmu??”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Aku merindukanmu Lenna.”
“Jangan bicara omong kosong, Alex.”
“Aku merindukanmu setiap hari.”
Lenna mundur beberapa langkah ke belakang.
“Sedetikpun aku nggak pernah melupakanmu, aku mencintaimu Lenna.”
“Dan aku yakin kau masih ada perasaan denganku, buktinya kau masih menghindariku, kau belum memaafkanku. Berarti kaupun belum bisa melupakanku jugakan?!” lanjutku lagi. Aku maju beberapa langkah mendekatinya.
“Nggak.. ini nggak bener. Aku hanya mencintai Julius.” Lenna kembali berlari, berlari ke arah mobilnya.
“Kenapa kau memungkiri hatimu?!” Aku mengejarnya.
TIIIINNN...
“Lenna awas!” Aku menarik tubuh Lenna, hampir saja dia tertabrak mobil.
“Hei pakai mata!!!” umpat orang itu sebelum melaju pergi.
Aku memeluk Lenna, napasnya masih memburu karena kaget.
“Kau nggak apa-apa?” tanyaku lirih.
“Lepasin.. aku nggak papa!” Lenna mendorongku menjauh.
“Sebentar saja, ijinkan aku begini. Sebentar saja.” Aku malah mengencangkan pelukanku dan mendekapnya lebih erat.
Wangi tubuhnya yang manis ini, kehangatan pelukan ini, suara degupan jantung ini.
Aku merindukannya..
Aku menginginkannya..
Aku tak mau melepasnya..
Walaupun bayarannya mahal, aku tetap akan membayarnya.
—MUSE—
Like, comment, and +Fav
Follow dee.meliana for more lovely novels.
❤️❤️❤️
Thank you readers ^^