
MUSE S2
EPISODE 75
S2 \~ SEMPURNA
\~Aku akan membuang semuanya, baik kenangan buruk, maupun gambar yang tak sempurna itu. Aku akan menggambar kehidupanku kembali, dimulai dengan menggambar dirinya dengan goresan yang telah sempurna.\~
•••
Aku terbangun dalam dekapan Arvin. Rasanya hangat dan nyaman. Bisa ku lihat otot dadanya yang menyembul dibalik piyama tidurnya karena tiga buah kancing teratasnya tak terkait.
Teringat perlakuan manisnya padaku semalam. Membuatku tak bisa berhenti tersenyum saat mengingatnya. Aku suka caranya menyenangkan hatiku, mulai dari mengiris daging sampai memakaikan gelang ini. Rasanya begitu manis dan sangat dicintai.
Aku memandang lagi gelang pemberian Arvin. Aku suka bentuk dan designnya. Kira-kira berapa, ya, harganya? Gelang ini terlihat mahal. Kotaknya saja sudah berkesan begitu mewah.
“Morning, Baby.” Arvin langsung mengecup keningku begitu ia terbangun.
“Morning.” Aku membenamkan wajahku pada dadanya, menghindari tatapannya yang mampu membuatku meleleh perlahan.
“Kenapa bersembunyi?” Arvin mengelus pundakku.
“Nggak, kok. Aku bangun tidur, pasti jelek,” alasan bohongku terdengar meyakinkan bukan? Padahal aku tak bisa tak terpesona dengan wajah tampannya. Dan aku malu.
“Hatching!! Hatching!!” tiba-tiba Arvin bersin beberapa kali.
“Kau sakit?” Aku langsung bangkit.
“Sepertinya aku flu. Padahal kemarin sudah lebih baik. Kenapa pagi ini muncul lagi?”
Arvin memang sempat bercerita kalau dia merasa lebih baik setelah meminum teh jahe pemberian Aleina kemarin. Apa mungkin efek berlama-lama di bawah guyuran shower membuat flunya kembali hadir?
“Ya, sudah beristirahatlah, Kak. Aku akan memasak bubur untukmu.” Aku beranjak dari tubuhnya.
“Hei!!” Arvin menarik tanganku agar aku kembali rebah.
“Kenapa, Kak?”
“Kau belum memberiku kecupan selamat pagi.”
“Dasar!!!”
“Ayolah!!”
“Oke!! Morning, Kak!” ucapku seraya mengecup keningnya, hanya hal kecil dan Arvin tersenyum puas karenanya.
•
•
•
Aku kembali ke dalam kamarku. Membuatkannya semangkok bubur juga teh jahe. Sembari menunggu buburnya matang aku mencium ujung lengan kemeja Arvin. Kemeja itu sangat kebesaran, dan tanganku sampai tenggelam tidak terlihat.
“Aku suka baunya.”
Aku bersenandung ringan sambil menata makanan di atas meja. Bubur polos, ikan dan sayuran kukus, juga teh jahe menjadi menu sarapn kami pagi ini.
“Kak, sudah matang!!” Aku berseru dari balkon untuk memanggilnya.
Arvin keluar dan tersenyum padaku, “tunggu, ya, aku pakai baju dulu.”
“Oke.”
Aku kembali masuk dan duduk pada kursi di depan meja pantry, menanti kedatangan Arvin. Tak lama Arvin muncul, padahal hanya rambutnya yang berbeda karena masih sedikit acak-acakan, tapi kenapa bisa membuat jantungku berdegup tak karuan seperti ini?
Kami menikmati sarapan kami pagi ini, Arvin membantuku membereskan piring kotor dan juga peralatan memasak. Kami mencuci piringnya bersama, sesekali Arvin mencipratkan air ke arah wajahku dan aku membalasnya. Kami lebih banyak tertawa dari pada bekerja. Membuat kegiatan mencuci piring yang harusnya selesai dalam waktu lima menit menjadi tiga kali lebih panjang.
“Kita kayak pengantik baru, ya?” celotehan Arvin membuat wajahku tersipu.
“Ngomong apa, sih?”
“Ayo kita menikah, Kalila!!” Arvin tiba-tiba menggendongku.
“Eeekkh...!!” seruku kaget. Wajahnya menggelitik perutku. Membuatku meronta karena geli, aku berusaha melepaskan diri.
“Bagimana?”
“Hmm..., bagaimana, ya?” tanyaku balik untuk menggodanya.
“Jangan tolak aku, aku nggak siap!!” Arvin tertawa.
“Kita temui saja orang tuamu dulu, Kak.” Aku menangkupkan kedua telapak tanganku pada wajahnya, membuatnya fokus untuk memandangku.
“Oke, aku akan membuat janji makan malam dengan mereka.” Arvin duduk pada sofa, membuatku ikut terduduk pada pahanya.
Aku beranjak dari pangkuannya mengambil buah dari dalam kulkas. Mengambil beberapa tomat ceri dan memakannya. Aku selalu memakan buah sebagai makanan pencuci mulut.
Aku berjalan kembali dan duduk di sampingnya. Memandang wajahnya yang begitu mempesona. Bagaimana bisa dulu aku melupakannya? Menghilangkan bagian paling indah pada gambaran dirinya?
“Kenapa? Aku ganteng, ya?”
“Hahaha, ge-er,” tebakkannya benar dan aku mencoba menyembunyikan rasa maluku yang diam-diam mengaguminya.
Aku memakan lagi tomat, namun saat aku menggigit tomatnya, Arvin merebut tomat itu dengan mulutnya. Membuat bibir kami kembali menempel.
“Minta sedikit.”
“Ih, nyebelin!”
“Mau aku kembaliin?!”
“Nggak!!” Arvin memang berbahaya, kelakuannya tidak baik untuk kesehatan jantungku.
“Nggak usah kerja, yuk.” ajaknya sembari merebahkan kepala di atas pundakku.
“Kau istirahat saja, Kak. Kaukan baru sakit.”
“Temani aku, Baby.”
“Pekerjaanku bagaimana?”
“Sekali ini saja, please?!” Arvin mengiba, matanya berbinar seperti anak an*jing, membuatku gemas sekaligus tak bisa menolaknya.
“Oke aku telepon Melody.”
“Yes!!!” teriaknya girang.
“Kak, ingat umurmu!!” Aku menyindirnya sambil tertawa.
“Cinta itu nggak memandang usia!!” Arvin melingkarkan tangannya pada pinggang dan menggelayutkan kepalanya pada pundakku.
“Baiklah, Om Ganteng!!”
“Siapa yang kau panggil, Om?!”
“Namanya Arvin, Marvinous.”
“Hei!!” gelitiknya.
“Hahahaha, ampun Om Ganteng, I love you!!” teriakku.
“Tetap harus di hukum!!” ciuman Arvin mendarat pada leherku.
“Arg..., Jangan!”
— MUSE S2 —
•••
Aku duduk di sofa, memutar-putar rambutku sambil menggores pelan sketchbook dengan pensil conte. Menyelesaikan asiran sket gambarku kemarin.
“Kau sedang menggambar?” Arvin menyibakkan selimutnya.
“Iya, Kak. Menunggumu bangun aku menyelesaikan gambarku.”
“Boleh aku lihat?”
“Sure.” Aku membalik buku gambar sehingga Arvin bisa melihatnya.
“Wow, keren!” pujinya.
Aku menggambar seorang kakek yang sedang berjualan buah di depan pasar. Aku menyukai setiap detail keriput pada wajahnya. Tiap garis yang menghiasi wajahnya menandakan telah banyaknya waktu yang ia lalui. Pengalaman hidupnya pasti sudah begitu banyak. Aku kadang berpikir di mana anak-anaknya? Kenapa mengizinkan pria tua seperti dirinya bekerja sendiri?
“Kau pernah bilang ingin menggambarku, Kalila?” Arvin melipat tangannya di depan dada.
“Aku sudah banyak menggambarmu dulu.”
Aku bangkit dan membongkar meja belajarku, mengeluarkan lembaran demi lembaran kertas gambar. Semuanya adalah potret Arvin yang pernah ku gambar. Semuanya tanpa wajah, karena memang hanya posturnya saja yang aku ingat.
“Semuanya tidak punya wajah.” senyumku getir. Entah kenapa rasanya begitu sakit.
“Baby! Lupakan semua itu, lupakan malam itu, lupakan malam di mana aku pernah menyakitimu!” Arvin memelukku.
“Iya, Kak.” Aku menikmati dekapannya.
“Sekarang aku mencintaimu, kau milikku, Kalila. Dan aku milikmu.” bisik Arvin lembut, bisikkannya membuat hatiku berdesir.
“Buang semua gambaran masa lalu itu. Gambarlah aku yang sekarang, Kalila! Gambarlah aku yang begitu mencintaimu!” Arvin mengecup pundakku.
“Iya, Kak,” Kuputar tubuhku, sedikit berjinjit untuk mencium bibirnya. Arvin menunduk untuk mengimbangiku. Kami berciuman lekat siang itu. Membagi rasa juga derita.
Aku akan membuang semuanya, baik itu kenangan buruk, maupun gambar yang tak sempurna itu. Aku akan menggambar kehidupanku kembali, dimulai dengan menggambar dirinya dengan goresan yang telah sempurna.
— MUSE S2 —
MUSE UP
KASIH LIKE DAN COMMENT SAYANGKUH
JANGAN LUPA VOTE!!
Vote kalian sangat berharga bagiku...❤️❤️
Rencananya author juga mau ikutan vote point. Tapi tenang aja, nama saya nggak dihitung sebagai voter terbanyak. Jadi seandainya sy menempati nomor satu, yang akan mendaptkan kenang-kenangan tetap no 2,3, dan 4.
Gitu ya readers. Bantu saya naikkin rangking Muse ya!! 😘😘😘
Makasih sekali lagi... lap yu readers