
MUSE S2
EPISODE 89
S2 \~ TRUE COLOR
\~ Aku mencintainya, dialah inspirasiku, warna sejati dalam hidupku. Seniku hanya akan menjadi lembaran kosong tanpa kehadirannya dalam dekapanku. \~
•••
BRAK!!! BRAK!!! DOK!! DOK!!!
“Buka Arvin!!! Buka!!!”
Aku terus menggedor pintu di samping kamarku. Berteriak memanggil namanya berulang kali. Aku tahu dia bisa mendengarku.
“Bukalah, Kak!! Aku ingin bertemu denganmu!!” tangisku pecah.
Aku terperosot jatuh di depan pintu kamarnya. Para tetangga keluar dari kamar mereka untuk melihat apa yang sedang terjadi, kenapa aku berteriak begitu kencang?
“Sudah lama kamar itu kosong.” jawab seorang tetangga.
“Benar, lebih baik kau kembali ke kamarmu. Kau mengganggu kami.” sahut yang lain. Mereka meninggalkanku kembali ke kamar mereka masing-masing.
Aku hanya bisa menangis dan terperosot pada lantai koridor. Menyalahkan diri sendiri. Kenapa aku bisa melupakan begitu saja pria yang aku cintai?
“Arvin...,” jeritku pilu.
Aku menghapus air mataku dan bergegas untuk bangkit. Aku harus mencarinya. Aku harus menghubunginya. Setidaknya aku harus tahu bagaimana keadaannya saat ini.
— MUSE S2 —
•••
Aku mendatangi kantor cabang Maxsoft, berharap bisa menemukan Arvin di sana. Namun kantor cabang itu telah tutup. Bahkan lampu pada papan nama akriliknya tidak menyala. Aku tertegun, jadi di mana lagi aku bisa mencarinya? Bagaimana lagi cara aku bisa menemukannya? Bahkan nomer ponselnyapun tidak aktif.
“Arvin...,” lirihku, hatiku sakit saat mengetahui tak ada petunjuk apapun tentang keberadaannya.
•
•
•
Krinncling Kliiing... 🎶
Aku masuk dengan tergesa-gesa menuju ke dalam cafe. Angga dan Melody memandangku dengan keheranan.
“La? Kenapa kemari? Bukannya kau butuh istirarat?” Angga menaruh lap dan bergegas menghampiriku.
“Katakan semuanya, Ngga!! Apa yang kau sembunyikan dariku?” Aku mencengkram ke dua lengannya. Mencari jawaban akan keadaan Arvin pasca kecelakaan yang menimpa kami malam itu.
“Kau sudah ingat?” Angga terbelalak.
“Semuanya!!” seruku.
“La, kemari sayang!” Melody memelukku, mencoba menahan rasa sakit di hatiku.
“Kalian bersekongkol membohongiku?” Aku menangis, bagaimana bisa mereka begitu tega padaku.
“Kalila, kami hanya tak ingin kau kembali tersakiti dengan semua kebenaran ini.” jawab Melody.
“Katakan apa yang terjadi pada Arvin? Bagaimana keadaannya?” Aku kembali bertanya pada Angga.
Angga terus tertunduk, aku memandangnya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Kumohon, Angga. Di mana Arvin?”
“Kalila, tak bisakah kau melupakannya? Dia terus membawamu dalam bahaya! Dia pria yang menakutkan! Dia gila, syco!!” Angga gantian mencengkram lenganku. Mencoba meyakinkan diriku bahwa Arvin tidak layak mendapatkan cintaku kembali.
Aku akui malam itu aku begitu emosi, aku termakan ucapan Diana yang mengatakan padaku bahwa dia adalah tunangan Arvin. Aku akui saat itu aku cemburu, aku terlalu buta karena cemburu. Aku menolak cintanya, menolak mengakui perasaanku padanya. Aku bodoh dan aku menyesal.
Kini aku benar-benar merindukannya.
“Angga!!! Kumohon!! Katakan padaku bagaimana keadaannya?!”
“Arvin masih hidup. Dia baik-baik saja, La.” Melody menjawab pertanyaanku.
“MEL!!” bentak Angga.
“Maaf, Angga. Aku tak tega melihat Kalila harus tersiksa seperti ini.” Melody mengelus lenganku.
“Benarkah?! Syukurlah!!” Aku menangis menahan rasa haruku. Setidaknya aku tahu bahwa dia baik-baik saja. Dia masih hidup.
“Tapi Kalila....” suara Melody kembali tercekat.
“Tapi apa?” detak jantungku semakin cepat.
“Ini berita yang muncul pada headline news.” Melody mengeluarkan ponselnya dan memberikannya padaku.
CEO MAXSOFT BERTUNANGAN MINGGU INI.
“Ini...?” Aku menutup mulutku tak percaya.
“Benar, Kalila. Sepertinya dia akan bertunangan minggu ini.” tambah Melody.
“Tidak!! Arvin bilang dia hanya mencintaiku.” Aku mundur beberapa langkah ke belakang.
“Sekarang kau taukan kalau dia tak lagi mencintaimu!” Angga menggandeng tanganku.
“Tidak! Aku yakin Arvin hanya mencintaiku.” Aku menepis tangan Angga dan berlari keluar.
“Kalila!!!” panggil Angga. Ia menyusul dan menarik siku lenganku.
“Lepasin, Ngga!! Aku akan mencarinya. Aku akan bertanya sendiri padanya!” teriakku.
“Kalila!!!” bentak Angga.
“Aku mencintainya, Ngga. Kalaupun dia tak lagi mencintaiku, setidaknya aku hanya ingin berterima kasih padanya,” air mata kembali mengalir dari sudut mataku.
“Baik. Aku akan mengantarmu, Kalila.”
“Angga?” Aku kaget mendengar ucapan Angga.
“Aku memang mencintaimu, La. Aku memang ingin kau tetap bersamaku, tapi aku lebih tak bisa saat harus melihatmu bersedih.” Angga memelukku.
“Maaf, Ngga.” Aku terenyuh, cinta Angga padakupun begitu tulus.
“Aku bahagia asal kau bahagia.”
“Angga...” Aku menangis.
“Ternyata cinta memang tak harus memiliki.” Angga ikut menangis, baru kali ini aku melihatnya menangis.
“Terima kasih.” Aku menghapus air mata dari wajah tampannya.
“Berjanjilah kau akan bahagia!! Berjanjilah bahwa ini bukanlah pilihan yang salah!!” Angga mengusap wajahku juga.
“Iya,” ku anggukkan kepalaku tanda yakin akan keputusanku.
Angga tersenyum. Maafkan aku cinta pertamaku, aku tak bisa memberikan cinta yang utuh kepadamu.
— MUSE S2 —
•••
“Bisakah aku bertemu dengan, Arvin?”
“Tuan Arvin sedang tidak di kantor, Nona.”
“Bisa aku tau nomor ponselnya?”
“Tidak, Nona. Itu privasi, kami tidak bisa memberikannya pada sembarang orang.”
“Bisa kau hubungi dia? Katakan Kalila ingin bertemu dengannya.”
“Sudah bikin janji temu?”
“Belum.”
“Maaf, Nona, kami tidak bisa sembarangan menghubungi Tuan Arvin.”
“Kumohon!! Kumohon!!” Aku hampir menangis saat memohon pada kedua wanita penjaga front desk.
“Nona Kalila?” sebuah suara yang ku kenal memanggilku dengan keheranan.
“Aleina...,” panggilku dengan nada bahagia. Akhirnya ada seseorang yang ku kenal.
“Apa yang anda lakukan di sini?” tanyanya heran.
“Aku ingin menemui Arvin. Ku mohon izinkan aku menemuinya.” Aku menggenggam tangan Aleina.
“Tuan Arvin bersiap pergi ke acara pertunangan.”
“APA?!” jantungku berdebar tak karuan.
“Di hotel milik keluarganya, hotel J.”
“Thanks, Aleina. Aku akan ke sana.”
“Tapi, Nona!!!” panggil Aleina.
Aku tak menggubris panggilan Aleina dan terus berlari ke luar. Aku kembali masuk pada mobil Angga dan menyuruhnya untuk bergegas menuju ke hotel J.
Dalam hati aku berharap agar pertunanagan itu belum terlaksana. Aku harus mengatakan kepadanya bahwa aku mencintainya. Aku ingin kembali bersamanya. Aku ingin meminta maaf telah melupakannya selama dua bulan terakhir ini.
Walaupun pada akhirnya dia akan menolakku dan lebih memilih melanjutkan pertunangannyapun aku tidak akan kecewa. Karena aku telah mengatakan semuanya. Karena aku telah mengungkapkan seluruh isi hatiku yang begitu mencintainya.
•
•
•
Banyak manusia memadati area ballroom hotel. Mereka pasti para tamu undangan yang datang untuk menghadiri pesta pertunangan Arvin. Bagaimanapun dia adalah seorang CEO, pasti tamunya adalah orang-orang penting.
Aku masuk ke dalam kerumunan, mencari sosoknya. Angga membantuku menerobos kerumunan yang mengantri masuk pada ruang ballroom.
Aku terus berlari, mencari Arvin.
Aku terus bergumam memanggil namanya.
Akhirnya aku sampai pada bagian tengah ballroom. Dekorasi mewah, aneka macam makanan terjajar rapi memenuhi meja buffe. Lampu sorot dan juga layar LED super besar menjadi pusat hiburan, menampilkan band dan juga orkestra yang sengaja di suguhkan oleh pihak pemilik acara.
Jantungku berdegup tak karuan, peluh mulai menetes dengan begitu deras. Mengalir dari pelipis sampai ke dagu. Aku terus bertotal-toleh untuk mencari keberadaannya.
Nihil...
Arvin tak terlihat.
Aku menghentikan langkahku yang mulai terasa berat. Aku tak menemukan dirinya. Dadaku bergerak naik turun tak beraturan, mencoba mengatur napasku yang mulai terdengar menderu.
“Kalila!! Di sana!” panggil Angga, ia menunjuk seorang pria yang baru saja keluar dari ballroom.
“Arvin...,” panggilku lirih.
Walaupun hanya terlihat dari belakang, aku tetap masih bisa mengenalinya. Dia tampak gagah dengan setelan jas lengkap berwarna hitam. Postur tubuhnya yang tegap dan kokoh terus berjalan menjauh pergi.
Tanpa menunggu lagi. aku langsung mengejarnya. Kembali melintasi lautan manusia untuk keluar dari area ballroom.
BRUK!!!
Aku mendekap tubuhnya dari belakang. Tubuh kekarnya berjengit karena kaget. Aku kembali bisa merasakan aroma tubuhnya yang begitu manis. Aroma laut yang bercampur dengan kesegaran citru. Aroma yang berhasil membawa ingatanku kembali padanya.
“ARVIN!!” panggilku.
“KA— KALILA?” Arvin terbata.
Arvin membalikkan badannya dan memandangku dengan rasa heran. Wajahnya terlihat begitu tampan.
“Kalila, Kalila, kau benar Kalila?” Arvin kembali memelukku.
“Beraninya kau pergi meninggalkanku?!” Isakku dalam pelukkannya.
“Maaf.”
“You are my Muse, Arvin!” teriakku, air mata mengalir deras memenuhi wajahku.
“Yes, Im your Muse, Baby.”
Kaulah ispirasiku, tanpamu hidupku terasa begitu hampa. Aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku.
“Be my MUSE, and the true color of mine. My art just like a blank space without you in my arm,” kataku sambil memeluknya erat-erat.
“I will, baby.”
Aku mencium bibirnya begitu lekat dan dalam. Menguluumnya dengan begitu kasar dan tak beraturan. Tak terbendung lagi rasa rindu yang memuncak di dalam hatiku.
Aku mencintainya, dialah inspirasiku, warna sejati dalam hidupku. Seniku hanya akan menjadi lembaran kosong tanpa kehadirannya dalam dekapanku.
— MUSE S2 —
Jadi apakah Arvin jadi bertunangan?
Love you Arvin.
Nice Kalila..
Thanks Angga.
Kisah cinta kalian luar biasa.❤️❤️
Semoga cinta Kalila bisa mengobati Arvin ya. Dan Arvin bisa sembuh.
Jangan lupa selalu bagi Like dan Commentnya ya readers.
Trus Vote Muse. Bantu saya naikkin Ratting muse ya. Vote kalian sangat berarti bagi saya.
Terima kasih banyak. Semoga terhibur dengan cerita Muse
Salam manis
dee.Meliana
❤️❤️❤️
Lap yu