MUSE

MUSE
S2 ~ BUNGA



MUSE S2


EPISODE 71


S2 \~ BUNGA


\~ Kalau cinta pasti aku nggak akan membiarkan wanitaku kelaparan, kekurangan, bahkan sampai tak punya tempat tinggal.\~


•••


As long as you love me


We could be starving, we could be homeless, we could be broke


As long as you love me


I'll be your platinum, I'll be your silver, I'll be your gold


As long as you love, love me, love me


As long as you love, love me, love me


—AS LONG AS YOU LOVE ME, JUSTIN BIEBER—


“As long as you love me, love me, love me....” Aku bersenandung ringan, mengikuti lagu yang terdengar dari speaker.


Arvin masih tertidur dengan tangan memeluk pinggangku. Aku tak ingin membangunkannya jadi aku hanya bisa jelalatan sambil mengisi waktu dengan bernyanyi lirih.


Tiba-tiba sebuah ciuman basah mendarat dan mengecup telingaku. Aku spontan menggeliat geli. Hish..., bangun aja masih ngerjain orang.


“Seriously, Kalila?” Arvin menahan miring tubuhnya dengan siku tangan.


“What?” tanyaku sembari menarik selimut lebih tinggi.


“Nyanyianmu, aku geli mendengarnya.”


“Kenapa?” tanyaku kembali.


“We could be starving, we could be homeless, we could be broke? Kalau cinta aku pasti nggak akan membiarkan wanitaku kelaparan, kekurangan, bahkan sampai tak punya tempat tinggal.” Arvin mengerutkan alisnya, tak setuju dengan lirik lagu.


“Just a song, Kak!! Dibikin dramatis biar romantis!” belaku pada lagu milik Justin ini.


“Tetap saja, kalau cinta harusnya berjuang agar pasangannya tak sampai harus berkekurangan.” Arvin kembali memelukku.


“Dasar nggak romantis,” tuduhku sambil mentowel pipinya.


“Jadi romantis menurutmu itu asal ada cinta nggak makan nggak apa-apa?” ledek Arvin.


“Ya, nggak gitu juga, sih! Ah, pokoknya lagunya romantis, titik,” pokoknya aku juga nggak mau kalah sama ledekan Arvin.


“Ck..., bikin gemes.” Arvin mengecup kepala bagian belakangku.


“Lagian, lagu itukan kakak cuma denger sebagian. Jadikan nggak tahu lengkapnya.” Aku memutar tubuhku dan berhadapan dengan dirinya.


“Harus denger lengkap, ya?”


“Iya, donk.”


Kita tak akan mengerti alasan seseorang kalau hanya mendengarkan sebagian saja dari cerita mereka. Bukankah lebih baik kita cepat mendengar dan lambat dalam berkata-kata?


“Masih sakit nggak?” pertanyaan Arvin membuat wajahku memerah.


“U... udah, nggak,” jawabku kikuk.


“Lagi mau, nggak?” tawarnya sambil mengangkat daguku.


“Nggak mau!” seruku setelah membenamkan diri masuk ke dalam selimut.


“Apa yang kau lihat di dalam sana, baby?” Arvin menggodaku, aku baru sadar, kamikan memakai sebuah selimut yang sama.


Aku menyembul pelan-pelan keluar dari balik selimut. Arvin sedang tersenyum sambil menaik turunkan alisnya. Membuatku sebal saja.


“Baby, baby, malu-malu tapi mau.” Arvin menggelengkan kepalanya.


Aku menggigit bibirku menyembunyikan rasa malu. Oke, semua salahku, kenapa mesti masuk ke dalam selimut?! Membuatnya punya bahan tertawaan untuk menggodaku.


“Aku punya suatu rahasia yang ingin ku ceritakan padamu, Kalila.” Arvin membuat badannya tengkurap.


“Apa, Kak?”


“Sebenarnya aku punya masalah, e..., lebih tepatnya, sebuah sakit yang tak terlihat.” Arvin memandangku lekat. Akupun memandangnya dengan lekat, berusaha menaruh fokus pada ucapannya yang terdengar begitu serius.


“Sakit? Apa maksudmu, Kak?” Aku sedikit syok mendengarnya. Jangan bilang sakit yang parah, aku nggak bisa kehilangan dirinya. Aku nggak mau merasakan sakitnya kehilangan lagi.


Arvin menarik napas panjang, seperti menahan perasaannya, menahan sebuah kecemasan dan rasa takut.


“Kalau kau mengetahuinya, apa kau akan meninggalkanku, Kalila?” Arvin bangkit, ia melilitkan handuk pada bagian pinggangnya ke bawah.


“Katakan, Kak. Sebenarnya ada apa? Jangan membuatku penasaran.”


Arvin mengambil sebatang rokok dan keluar ke arah balkon untuk menyalakannya. Ia memandang ke bawah sambil menghisap rokoknya. Sepertinya ia tak ingin melanjutkan pembicaraannya. Kelakuannya malah membuatku semakin penasaran.


“Katakanlah, Kak! Kau membuatku penasaran.” Aku memeluknya dari belakang.


Arvin meniupkan asap rokoknya menjauh dari wajahku. Lalu mencium kepalaku. Rasanya sangat aneh, padahal baru saja kami berbagi tawa, canda, dan juga cinta. Mendadak suasananya menjadi aneh karena ucapan Arvin yang terkesan menggantung.


“Maaf, Kalila. Sepertinya aku belum siap untuk mengakuinya.” Arvin mematikan rokoknya. Ia menggandeng tanganku masuk kembali ke dalam kamar.


“Aku akan mengatakannya kepadamu saat aku sudah siap.” Arvin mengecup keningku dalam-dalam.


“Janji?”


“Iya, janji. Tapi kau jangan meninggalkanku, ya.” senyumnya manis.


“Iya, Kak.”


Aku tak tahu apa yang Arvin sembunyikan dariku. Aku mencoba untuk sabar dan mempercayainya. Semoga bukan sesuatu yang membahayakan nyawanya.


— MUSE S2 —


•••


Kriinncingg kling... 🎶


Suara lonceng kembali terdengar saat aku masuk ke dalam cafe. Hanya Melody yang sudah terlihat, mungkin Caca masih ada kuliah pagi.


“Udah sehat, La?” tanya Melody.


“Ah, bener juga aku ngakunya nggak enak badan. Padahal berduaan sampai malam,” pikirku nggak enak hati.


Susah sekali mengusir Arvin untuk kembali ke kamarnya sendiri. Ia terus memeluk dan menciumku seakan-akan tak ada lagi hari esok. Membuatku tak bisa menggerakkan kakiku karena permainannya terlalu buas.


“Kan kamu sakit, emang bisa sakit di atur? Kecuali kalau sakitnya pura-pura.” Melody mengerling nakal padaku.


“Ih..., apaan, sih?” wajahku memanas. Melody dengan gampang menangkap sinyal jawaban yang tertera jelas di atas wajahku.


“Kakimu sakit, La? Kok jalannya kaya nenek-nenek gitu?”


“Ng..., nggak, kok,” ku gigit bibirku menahan rasa malunya.


Melody terus mengamatiku, harusnya aku nggak kerja lagi saja hari ini. Mana cara jalanku emang kelihatan banget kaya nenek-nenek, gemetaran. Bodoh banget, sih, harusnya aku tolak aja ajakannya semalam.


“Berapa ronde emangnya?”


“Apanya?!!!” seruku kaget.


“Alah, nggak usah ditutupin. Aku juga udah pernah ngerasain jadi pengantin baru.” bisikan Melody membuatku merinding.


“Mel!!” seruku.


“Jadi siapa, nih, yang menang? Aku apa Caca?!”


“Caca...,” jawabku.


“Yah, sial, mesti keluar duit, nih! Buat ngasih makan Caca.” Melody kembali ke depan oven dan melanjutkan pekerjaannya. Aku juga kembali pada alat brewing.


“Permisi, nona Kalila?” seorang kurir pengantar barang menanyakan diriku.


“Iya, saya sendiri,” jawabku.


“Dari toko bunga, ada kiriman bunga. Ini silahkan tanda tangan.” pria paruh baya itu memberikan padaku secarik kertas tanda terima. Aku menanda tanganinya sambil tersenyum.


“Terima kasih.”


“Terima kasih juga, Pak,” kataku senang.


Aku melihat dengan bahagia buket bunga itu. Bunga segar yang baru saja di rangkai, perpaduan warnanya sangat cantik, dominan warna putih, dengan sedikit pink, dan ungu. Membuat warnanya terlihat lembut.


“Wih, siapa yang kirim?” tanya Melody penasaran.


“Nggak ada namanya, mungkin Arvin,” senyumku lebar. Aku sangat bahagia menerima bunga pemberian Arvin.


“Ck, dia ngerti banget seleramu.”


“Iya, juga, ya,” jawabku tak acuh.


Aku memajang buket bunga pada siku meja bar, tepat di samping meja kasir. Meletakkannya pada tempat yang selalu terlihat olehku. Aku terus tersenyum memandang keindahannya.


“Kesurupan, ya, boss?” Caca menggedor meja di sampingku, membuatku meloncat kaget.


“CACA!!” geramku gemas.


“Wah, bunga dari sapa, nih?” Caca memegang bunga-bunga itu pelan agar tak merusak kelopaknya.


“Om Ganteng, Ca.” Melody yang menjawab.


“Jadi aku menang, nih?!” Caca berteriak kegirangan.


“Iya, ntar kita makan pizza.” Melody membuka ovennya, bau mentega langsung tercium jelas.


“Asyyiikkk!!!” Caca mengepalkan kedua tangannya di atas kepala.


Aku hanya bisa bergeleng melihat keceriaan mereka. Menerima ledekan dan kicauan mereka dengan lapang dada. Yah, mau bagaimana lagi? Tak bisa dipungkiri bahwa aku memang sedang membagi perasaan dengan Arvin saat ini.


Om Ganteng is calling...


Aku tertawa saat melihat namanya tertera di layar ponselku, ck, panjang umur banget, sih? Lagi dibicarain nongol.


“Hallo,” sapaku.


“Hallo, baby, makan siang, yuk!” ajaknya.


“Nggak bisa, aku masih harus jaga cafe. Nggak enak sama anak-anak kalau nggak kerja,” tolakku.


“Yah, oke, deh. Ntar sore aku mampir ke cafe.”


“Oke.”


“See you, baby.” pamit Arvin.


“Eh tunggu, Kak! Makasih, ya, bunganya. Bagus banget,” selaku sebelum ia menutup panggilannya.


“Bunga apa?” tanya Arvin bingung.


“Kau mengirimiku bungakan, Kak?” Aku ikutan bingung.


“Tidak, aku tak mengirimimu bunga.”


“Lalu siapa?” Aku terpaku sambil melihat ke arah bunga itu.


— MUSE S2 —


Muse up..


Mohon di like dan comment yang banyak.


😘😘😘


Ada giveaway menarik buat para readers setia MUSE.


Caranya gampang;


•Baca dan like tiap episodenya, comment bila berkenang.


•Vote MUSE sebanyak-banyaknya.


•Masuk ke Grup Chat Author.


•Di tutup 15 Mei 2020.


•Pengumuman pemenang di Grup Chat!!


3 voter terbanyak bakalan dapet kenang-kenangan dari author.


Terima kasih yang sudah Vote dan dukung saya selama ini.


❤️❤️❤️❤️


Lap yu gaes