
MUSE S 7
Episode I6
S7 \~ CEMBURU
Levin tersenyum manis, Leoni mengucek matanya perlahan. Melihat Levin tersenyum padanya adalah pemandangan langka, yang hampir tak mungkin terjadi. Biasanya Levin menyeringai licik karena berhasil menjahili Leoni. Bukannya tersenyum hangat dan manis seperti ini.
_____________
Fiza masuk ke dalam bengkel ia membanting helm racing milik nya dan duduk, rambutnya terlihat kacau dan acak-acakan. Firza terus menjambak rambutnya gusar, impiannya pupus hanya karena masalah usia. Cita-cita dan harapan bagi kehidupan keluarga yang lebih baik juga pupus begitu saja.
"Sabar, Nak. Kau telah berjuang, Ayah bangga padamu." Ayah Farel masuk ke dalam, menepuk punggung Firza.
"Aku menantikan kesempatan ini seumur hidupku, Ayah. Dan lihat lah!! setelah semuanya terjadi, bahkan setelah kemenangan yang aku raih. Dia bilang bahwa aku terIalu tua untuk dilatih? Rasanya ini tidak adil." Firza menghela napas panjang.
"Ayah tahu, Nak." Lengannya merangkul pundak Firza. Firza mendekap beberapa saat pada lengan kokoh itu. Lengan yang memberikan kehangatan dan membuat beban di hatinya menjadi jauh lebih ringan.
"Dia menyuruh ayah mempersiapkan Farel, apa menurut mu itu hal yang benar?"
"Yah , kalau Farel mau. Bukankah anak Itu yang paling berhak menentukan masa depannya sendiri."
"Kau benar. Farel yang berhak menentukan jawabannya." Angguk pria Itu mengerti.
"Ganti baju dan berIstirahatIah. Ayah akan membereskan perlengkapan dan tenda kita pulang."
"Baik, Ayah. Aku akan membantumu setelah berganti pakaian." Firza melangkah pergi. Ayahnya menatap punggung Firza dengan iba. Anak itu pasti menelan pil kekecewaan yang sangat pahit.
...—MUSE S 7–...
Esoknya.
Kanna terlihat heran dengan motor milik suaminya yang mendadak kotor, penuh dengan pasir merah dan juga debu. aneh sekali, perasaan Leon tidak memakainya sebelum pergi ke Jepang. pikir Kanna.
Kanna meluputkan hal itu sejenak dari benak dan bergegas menghampiri kamar anak gadisnya. Sudah hampir pukul 8 pagi dan leoni belum juga keluar dari kamarnya. Apa gadis itu terlalu lama membolos sampai lupa kapan waktunya berangkat sekolah?
"Leoni cepat bangun!! Jam berapa ini? Kau harus sekolah!" Kanna menjerit semakin keras sembari menggedor pintu kamar berwarna pink. Pada permukaannya terdapat tempelan-tempelan kertas dan papan tulis kecil dengan tulisan warna warni 'Kamar Milik Leoni, sebutkan password masuknya.'
.
.
.
Di rumah Levin, Kalila juga tengah uring-uringan karena anak bontotnya tak kunjung bangun padahal jam di dinding sudah semakin menunjuk ke angka delapan.
"Levin!!!! Bangun !! Kenapa akhir-akhir ini kau selalu bangun kesiangan? Sebenarnya apa yang kau lakukan tiap malam? Tidur jam berapa?" Kalila merasa semakin sebal saat melihat Levin tidur masih dengan sepatu sneakers penuh dengan pasir.
"hmp... Levin masih ngantuk, Mom. Mau bolos Sekolah saja." Levin melenguh. Menutup telinganya dengan bantal.
"Anak ini!!! Ayo bangun, atau Mommy seret ke kamar mandi!" Kalila naik darah menghadapi anak terkecilnya yang mulai beranjak remaja. Tiap kali menjadi remaja maka anak akan semakin nakal, begitulah yang Kalila tahu, karena tiga orang anaknya yang lain sudah mengalami masa-masa itu.
Dengan masih setengah sadar Levin bangkit, melepas satu per satu pakaian yang membungkus tubuh kurusnya. Levin masuk ke kamar mandi, lalu tidur lagi di dalam bath tube. membuat Kalila semakin Marah.
"LEVIN!!!"
"WA ...! I-iya, Mom!" jerit Levine ketakutan dengan amarah Mommy nya.
...— MUSE S7 —...
Levin berjalan malas menuju ke kelas. Di dalam Chiko terlihat segar bugar sementara Bryan masih menyalin pekerjaan rumah milik Anya. Jesca Sibuk dengan kuku-kuku nya bersama Anya. Levin mencari keberadaan Farel dan Leoni, keduanya belum tiba di sekolah.
"Di mana FareI ?" tanya Levin.
"Dia membolos." Chiko menjawab rasa penasaran Levin. Chiko yang searah memang selalu menghampiri Farel sebelum ke sekolah.
"Leoni juga?"
"Kalau itu aku tidak tahu. Bukankah kalian bertetangga? Lagi pula Singa memang sudah beberapa hari tidak masuk sekolah bukan." Chiko angkat bahu tanda tak tahu.
"Hah? Singa ikuttan kalian semalam?" Chiko membelalah tak percaya.
"Sudahlah, aku mau tidur." Levin mengambil tempat di antara teman - temannya. Levin merebahkan kepalanya di atas meja. Miring ke samping sembari menatap bangku Leoni yang kosong. Kenapa Levin merasa gusar hanya karena Leoni dan Farel membolos pada hari yang sama? Bukankah hal Itu bisa saja terjadi, belum tentu keduanya janjian untuk bertemu bersama. Tapi mengingat kelakuan malu - malu Farel dan juga ucapan Leoni tempo hari membuat hati Levin tidak tenang.
Levin meras sebel rasa kantuknya mendadak menghilang. Levin akhirnya memutuskan untuk keluar mencari udara segar. Levin jalan jalan ke taman belakang sekolah duduk pada bangku taman, mengusir galau dengan bermain game pada ponsel pintarnya. Game balapan motor, walaupun tak seasyik mengendarinya secara langsung tapi game macam ni cukup menyenangkan untuk membunuh waktu.
“Harusnya aku bawa VR tadi.” Levin menyeringai puas dengan kemenangan gamenya. *virtual reality
“Ack bosan.” Levin menengadah, bersandar pada bangku taman. Angin segar pertiup dari sela-sela dedaunan. Membuat Levin kembali mengantuk.
“Aku juga bolos saja deh, tidur di taman.” Levin menyerah, memilih pasrah pada rasa kantuknya.
•
•
•
“Levin!! Levin!!” Suara yang indah membuat Levin mengerjapkan matanya. Entah sudah berapa lama ia tertidur di bangku taman.
“Singa?” Levin mengucek matanya.
“Hei!! Kenapa tidur di bangku taman! Kan sudah aku bilang kau tidak boleh melukai wajahmu.” Leoni menyeletuk sebal. “Bagaimana kalau wajahmu gosong karena terbakar sinar matahari.” Lanjutnya sebal.
“Kau masuk? Tak membolos bersama Farel?”
“???? Membolos bareng Farel? Apa maksudmu?” Leoni tampak bingung.
“Ah lupakan, anggap kau tak pernah mendengarnya.” Levin bangkit, tersenyum senang. Pikirannya lusut dan itu adalah hal yang baik.
“Hei, ayo masuk ke kelas! Dan jangan cuci muka, nanti tambah gosong!” Leoni mendadak sebal dengan kelakuan Levin yang ababil.
“Iya, iya, Singa!”
Keduanya kembali ke kelas. Levin telah melewatkan tiga jam mata pelajaran dengan tidur di bangku taman. Jam istirahat juga telah berakhir. Saatnya masuk kembali ke dalam kelas.
Levin duduk, mengamati penjelasan guru dengan malas-malasan. Sedangkan Leoni hanya melengguh panjang karena rasa kantuk. Pelajaran biologi memang selalu membuat rasa kantuk bangkit. Bahkan Bryan sudah tertidur dari tadi di belakang Levin.
Leoni merebahkan kepalanya ke atas meja. Rasa kantuknya cukup hebat. Levin melakukan hal yang sama, bukan karena kantuk, tapi benar-benar bosan. Remaja itu bahkan sudah hapal benar isi satu buku diktat biologi kelas 7. Baginya penjelasan guru hanyalah dongeng yang membosankan.
Mata Leoni dan Levin bertemu dalam satu garis. Bangku mereka memang sederet. Biasanya ada Farel yang duduk ditengah-tengah keduanya. Tapi berhubung Farel tak masuk sekolah, jarak pandang mereka kini tak ada yang menghalangi.
Levin tersenyum manis, Leoni mengucek matanya perlahan. Melihat Levin tersenyum padanya adalah pemandangan langka, yang hampir tak mungkin terjadi. Biasanya Levin menyeringai licik karena berhasil menjahili Leoni. Bukannya tersenyum hangat dan manis seperti ini.
Levin sendiri juga heran, kenapa dia begitu senang melihat Leoni ada di dalam kelas. Tidak bertemu dengan Farel.
“Kau gila ya?” Leoni menggerakkan bibirnya, sembari membentuk tanda strip pada dahinya dengan jari telunjuk. Levin membaca gerakan bibir Leoni.
“Mungkin.” Balas Levin dengan gerakan bibir, tanpa suara.
“Dasar aneh.” Leoni lalu memutar kepalanya, menghadap ke sisi satunya agar pandangan mereka tak lagi bertemu.
Ya Tuhan, apa itu tadi? Senyuman Levin damage banget. Leoni memejamkan mata, wajahnya merona kemerahan.
Lupakan!! Lebih baik kembali belajar. Tepis Leoni.
Namun, sekuat apapun Leoni mempertahankan posisi belajarnya, tubuh gadis itu merasa lelah dan tak bersemangat. Mungkin akibat dari rasa kantuk karena tidur pada pukul empat dini hari. Tapi yang aneh, perutnya juga melilit sakit. Tidak terlalu nyaman, seperti kembung, tapi sangat menyiksa.
Kenapa tiba-tiba perutku sakit? Leoni mengusap perutnya.
...— MUSE S7 —...
...Kenapa kamu Leoni? Masakah kamu mencret pas pelajaran? Duh duh duh 🤣🤣🤣...
...Like comment vote...