MUSE

MUSE
S3 ~ MELEPAS RINDU



MUSE S3


EPISODE 121


S3 \~ MELEPAS RINDU


\~ Aku memang membencinya karena melakukan semua itu padaku. Tapi tak dipungkiri ada rasa rindu yang begitu mendalam saat ia menyentuh tubuhku.\~


_______________


Hujan turun dengan deras, sederas air mataku saat ini. Leon masih berdiri di depan rumah beberapa saat. Ia membiarkan hujan mengguyur tubuhnya. Ingin rasanya berlari kembali padanya. Memeluk dirinya dan mengucapkan beribu kata maaf karena telah menyembunyikan penyakit psikisku dan juga semua tentang Zean.


Namun, beberapa saat kemudian seorang wanita menghampiri Leon, aku tak pernah tau siapa wanita itu. Ia memeluk Leon dan mengajaknya kembali ke rumah. Aku hanya bisa memandang mereka menghilang dalam gelapnya malam.


Aku terjatuh, merosot ke bawah, melihatnya bersama wanita lain membuat hatiku semakin sakit. Aku berbaring di atas dinginnya lantai, memeluk lututku. Meringkukkan badan agar desiran menjemukan ini bisa segera menghilang.


“Sakit, Leon,” tangaku mencengkram erat baju di depan dada.


“Apa kau merasakan hal yang sama?”


“Maafkan aku, Leon, tapi aku benar-benar tak pernah mengkhianatimu,” lirihku, air mataku kembali menetes.


— MUSE S3 —


•••


Akhirnya perpisahan ini tak terelakkan juga. Leon sama sekali tak menghubungiku semalam. Dia lebih memilih untuk meninggalkanku. Dia pasti sangat kecewa padaku. Akupun juga kecewa padanya.


Pembuluh nadiku terasa nyeri, mungkin karena aku hampir mengirisnya pagi ini. Aku frustasi, aku begitu merindukan Leon. Aku hampir mencoba untuk mengakhiri hidupku sendiri. Tapi ternyata nyaliku tak cukup besar. Aku melemparkan pisau ke atas meja dan kembali menangis. Guratan tipis tetap mengeluarkan begitu banyak darah, membanjiri wajah dan mengubah air mataku menjadi merah.





Sudah satu minggu aku berpisah darinya. Leon sama sekali tak menanyakan kabarku. Ia juga sama sekali tak mencoba untuk menghubungiku. Aku mencoba untuk menghubunginya, namun nomor ponselnya tak lagi aktif. Kini perpisahan kami hanya menyisakan sebuah lubang besar di dalam hatiku. Juga rasa rindu yang begitu berat.


Rasa rinduku semakin menggila. Aku merindukan kehadirannya, merindukan canda tawanya, merindukan dekapan hangatnya.


Aku merindukan caranya memanggil namaku.


Aku merindukan caranya mengeluskan hidungnya pada hidungku.


Aku rindu caranya mencintaiku!


Aku rindu, hatiku remuk, aku butuh dirinya, aku butuh cintanya.


“Aku rindu, Leon,” kataku pada jendela kamarnya. Tapi tak ada jawaban, rumah itu kini kosong. Leon sudah pergi, dia meninggalkan rumah itu dan juga diriku.


Salahkan aku sampai hubungan kami jadi seperti ini?


Bekas guratan cutter membekas pada pergelangan tanganku. Aku menutupnya dengan tatto kecil bergambar kepala singa yang lucu, sama seperti gambar di kotak obatku.


Aku menenangkan jiwaku saat melihat tatto itu. Aku tak boleh kecewa, setidaknya Leon pernah mengisi hidupku dengan rasa cintanya yang besar. Setidaknya kami sudah pernah berbagi denyutan nadi bersama-sama.


— MUSE S3 —


•••


Setelah kelas perkuliahanku berakhir, aku membereskan buku di atas meja. Aku mendengar beberapa teman sedang berkasak kusuk. Mereka sedang membicarakan sebuah pameran keramik dari seluruh Indonesia.


“Kalian ngomongin apa, sih? Asik bener?” Aku mencoba ikutan nimbrung.


“Ini, hlo, Papaku kemarin beli lelang keramik milik pemenang kompetisi seniman kramik se-Indonesia.” jawab Ella, salah satu teman seangkatanku.


“Tau nggak, Na. Yang menang masih muda banget, seumuran sama kita.” sahut Mona, temanku yang lain.


“Oh, ya?”


“Iya, mana dia ganteng banget. Coba lihat, Na. Gantengkan? Gemes banget, nggak, sih?” Ella mengangkat ponselnya di depan wajahku.


“Leon?”


“Iya, namanya Leon. Kau tau dia? Gila bangetkan gantengnya! Tattonya bikin meleleh manja.” Mona cekikikan.


“Dia bikin karya itu untuk pacarnya, dan persembahin kemenangannya juga untuk pacarnya. Udah ganteng so sweet!” Mona dan Ella berteriak kegirangan.


“Apa kau bilang?” tanyaku kaget.


“Udah ganteng so sweet?” Ella mengangkat bahunya.


“Sebelumnya, La?” tanyaku lagi.


“Dia persembahin kemenangannya itu buat pacarnya.” Ella mengulang ucapannya.


Hatiku langsung ambles, rasanya begitu menyakitkan. Sejenak aku terdiam dan membisu, bayangan wajah tampannya terlitas dalam benakku. Aku benar-benar merasa bersalah, Leon melakukan segalanya demi diriku. Dan aku membohonginya demi egoku. Aku tak mau mendengarkan ucapannya. Obsesiku membuatku menutup hati serta akal sehatku.


“Sayang ga ada sosial medianya, pengen follow.” Ella mengigit jarinya gemas. Selama ini Leon memang hanya membuat media sosial hanya untuk memfollow diriku.


“Maaf, aku pergi dulu,” pamitku pada mereka berdua.


“Hati-hati, Na.”





Aku berjalan dengan lesu, melirik ke arah rumah Leon yang kini kosong, tak ada tanda-tanda akan kepulangannya. Butiran bening air mata kembali meleleh, membasahi pipiku.


“Kau benar-benar menyedihkan, Kanna. Kau yang memutuskannya, kini kau yang mencarinya!” gerutuku pada diri sendiri.


Aku menghapus air mataku, aku tak ingin pulang saat ini. Aku kembali memanggil ojol car dan pergi ke sebuah lounge.


Sesampainya di sana, aku memesan sebotol minuman beralkohol, menenggaknya dengan cepat. Aku berharap minuman itu bisa menghilangkan rasa rinduku padanya. Aku hampir menghabiskan setengah botol wiskey seorang diri. Kepalaku kini menjadi berat, suaraku terdengar mulai merancau.


Triiing... 🎶


Ponselku berbunyi, aku harap Leon lah yang menghubungiku.


Zean is calling....


Bukan Leon. Menyebalkan, kenapa harus dia yang harus menghubungiku??? Aku ingin Leon yang menghubungiku, bukan Zean!


Aku kembali meletakkan ponsel ke atas meja bar. Menjambak pelan rambutku dan kembali meminum alkohol. Entah apa yang membuatku sefrustasi ini? Rasa rinduku? Atau rasa bersalahku padanya?


Trrring....🎶


Zean is calling...


Hah, kenapa dia terus meneleponku?!


“Hallo?” akhirnya aku mengangkat panggilannya.


“Kanna? Kau di mana? Papa Mamamu khawatir, mereka mencarimu.”


“Aku bukan anak kecil lagi, Zean, suru mereka tak usah mengkhawatirkaku. Aku bisa jaga diriku sendiri,” jawabku merancau.


“Kau mabuk?! Kenapa suaramu merancau seperti orang mabuk?”


“Aku cuma minum sedikit, kok.”


“Kanna??!! Di mana kau sekarang? Aku ke sana!”


“Aku di Crown Lounge dekat kampus.” jawabku.


“Tunggu aku! Jangan pergi!”


“Iya, iya, bawel!!”


Aku kembali meletakkan ponselku. Aku lalu tertawa cekikikan, kenapa orang tuaku harus peduli padaku? Ck, padahal mereka punya andil besar dalam kesusahan hatiku saat ini. Mereka yang membuatku harus bekerja keras sampai berbohong pada Leon.


“Aku merindukanmu, Leon!! Kenapa kau pergi dariku?! Akukan nggak serius ingin putus denganmu.” Aku tertawa lalu menangis, benar-benar seperti orang gila.


“Kanna!!” panggil Zean, wajah tampannya terlihat khawatir.


“Hallo, Zean! Kau mau minum?” Aku memberikan gelasku padanya.


“Ayo, Pulang! Sudah malam.”


“Nggak mau pulang!! Kalau pulang aku akan merindukannya,” ucapku, aku menolak ajakan Zean.


“Kau sudah mabuk, Kanna! Ayo pulang!”


“Ada apa denganmu, Kanna? Apa yang terjadi?”


“Aku putus, Zean! PUTUS!! Kau pasti senangkan mendengarnya?” Aku menepuk pipi Zean pelan.


“Kau mabuk! Ayo pulang!” Zean membopongku di atas pundaknya, memaksaku pulang!


“Zean lepaskan aku!!!” Aku meronta.


“Diam, Kanna! Semua orang melihatmu.”


“Biarin! Pokoknya aku nggak mau pulang.” Aku memukul-mukul punggung Zean.


“Baiklah, kita ke rumahku. Ada kamar kosong, beristirahatlah sebentar. Begitu mabukmu reda aku akan mengantarmu pulang!” usul Zean. Akhirnya aku menurut karena kesadaranku mulai menghilang seiring dengan laju mobilnya.





Kami sampai pada sebuah penthouse mewah, Zean merebahkanku di atas kasur yang nyaman. Aku mengalungkan lenganku, menarik lehernya, membuat Zean terjungkal di atas tubuhku.


“Kenapa kau bilang aku berkhianat, hah?”


“Kanna?” Zean tampak bingung.


“Kenapa???” teriakku.


“Sadar, Kanna.”


“Baiklah, kalau memang itu maumu!! Aku akan berkhianat sekalian!!”


Aku mendaratkan ciumanku pada bibir Zean. Melumatnya dengan rakus, aku bahkan merobek paksa kemeja yang dikenakannya. Entah apa yang merasukiku saat ini. Terakhir yang aku ingat, Zean juga membalas ajakkanku.


“Kau yang minta, Kanna! Jangan salahkan aku.” bisik Zean sebelum kami bersatu malam itu.


“Arg...,” rancauku.





Aku terbangun, Zean masih tertidur pulas di sampingku. Aku terkejut karena terbangun tanpa sehelai benangpun. Dan pasangan intimku bukan Leon, tapi Zean! Bagaimana ini? Apa yang sudah aku lakukan padanya?


Duh, Kepalaku pusing sekali!! Aku kembali mengingat-ingat kejadian malam ini. Aku mengutuki diriku sendiri, betapa bodohnya aku?! Shit!! Kanna kau benar-benar sial! Arg, bukan, Alkohollah yang sialan!


“Zean...,” ku goyangkan tubuhnya pelan.


“Heeem...?” Zean hanya melengguh, tampaknya ia tertidur sangat pulas.


“Zean!! Bangun.”


“Ah, kau sudah bangun, Kanna.” Zean bangkit dan merenggangkan badannya.


“Maaf, Zean. Apa aku memaksakan diriku padamu?!”


Zean hanya diam, dia memelukku. Mendekapku dengan tangannya yang kokoh. Bibirnya mengecup keningku.


“Lupakan dia, Kanna. Terima saja cintaku.” Zean mengelus wajahku, tangannya terasa hangat.


Kenapa Zean tahu aku baru saja putus? Apa aku menyebut Leon saat aku bercinta dengan Zean? Kalau iya betapa jahatnya aku pada Zean! Memanggil nama lelaki lain saat bercinta dengannya.


“Zean, aku mencintainya.”


“Aku akan memberikan cinta yang jauh lebih besar untukmu, Kanna.” Zean menekan bahuku.


“Zean...,”


“Kumohon, Kanna. Jangan tolak aku.” Zean kembali mendaratkan ciumannya pada bibirku. Mengullumnya dalam, iramanya pelan namun menggairahkan. Sekejap aku merasa aneh, namun lama-lama terrasa cukup manis.


“Lupakan dia, Kanna. Aku akan membantumu melupakannya.” Zean mengelus wajahku, menyisir rambutku ke belakang telinga. Ia kembali menciumku dengan mesra.


— MUSE S3 —


•••


4 tahun kemudian...


Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Sudah 4 tahun aku berpisah dari Leon. Sudah 4 tahun aku berpacaran dengan Zean. Zean kini adalah tunanganku. Walaupun aku belum bisa mengisi semua ruangan di dalam hatiku untuknya, namun aku tetap belajar untuk mencintainya.


Zean adalah tipe pria perfecsionis. Semua yang dia lakukan harus terlihat sempurna. Dia bahkan membuat penampilankupun selalu sempurna. Zean mengirimiku banyak hadiah, mulai dari baju, tas, sepatu, perhiasan, sampai mobil.


Semua kemewahan yang aku terima saat ini membuatku semakin terkenal. Semakin banyak konten dan feed yang bisa aku pamerkan pada para followers -ku. Aku menjadi lebih sering menerima endorse dan juga tawaran sebagai model.


Namun ada harga yang tetap harus aku bayar. Kesibukkanku membuatku tak bisa berolah raga dengan teratur, makan dengan teratur, dan tidur dengan teratur. Akibatnya aku kembali menjadi pengidap bulimia. Aku memuntahkan lagi semua makanan yang aku makan agar tetap terlihat langsing.


Setelah berpisah 4 tahun, siang ini aku bertemu dengan Leon di gallery seni milik Julius. Ia memberikan kiss mark pada tubuhku. Aku memang membencinya karena melakukan semua itu padaku. Tapi tak dipungkiri ada rasa rindu yang begitu mendalam saat ia menyentuh tubuhku.


Malamnya aku duduk termenung pada kusen jendela. Menatap jendela pada rumah sebelah. Dulu aku selalu mengobrol dengan Leon saat sedang ada masalah. Kami saling mengulurkan tangan dan bergandengan. Mengucapkan selamat malam sambil tersenyum manis.


Saat Leon mengulurkan tangannya ada rasa yang begitu hangat dan nyaman. Ia mengusir semua masalah demi masalah yang menghimpit hatiku. Memberikan kekuatan baru.


Aku kembali mengulurkan tanganku saat ini, namun aku hanya menangkap udara kosong. Tak ada lagi tangan yang menyambutku, tak ada lagi rasa hangat dan juga kenyamanan hati. Tak terasa air mataku menetes, hatiku sakit.


“Leon...,” tanpa sadar namanyalah yang aku sebut saat ini, bukan Zean.


“Aku merindukanmu, Leon. Andai saja kau tahu, betapa aku merasa bersalah kepadamu.”


Aku menarik kembali tanganku, merebahkan diri di atas ranjang. Menatap kosong ke arah langit-langit kamar sampai akhirnya tertidur.





“Argh...,” rancauku, kenapa rasanya basah dan aneh? Aku terangsang ditengah tidurku? Bagaimana bisa?


Mataku langsung terbuka lebar saat merasa ada yang menindih tubuhku. Rasa basah dari bibirnya yang mengabsen leher dan juga dadaku membuatku kaget. Aku ingin berteriak namun dia membungkam mulutku dengan tangannya.


“Hallo, Kanna. Kau tak berubah, tetap sensitif seperti biasanya.”


“Leon???” Jantungku berdetak tak karuan. Melihat Leon tepat di atas tubuhku saat ini membuatku takut.


“Kau masih sama teledornya, Kanna. Kau tak pernah menutup jendelamu! Tak taukan kalau itu berbahaya?” Leon menyeringai.


“Kau mau apa?” Aku mencoba meronta dari cengkramannya, namun tangan Leon mengunci tangaku di atas kepala.


“Harusnya kau tahu. Aku hanya ingin melepas rindu denganmu.”


“Tidak, Leon, jangan!”


“Jangan berteriak, Kanna!! Papa Mamamu nanti bisa mendengar percintaan kita?!” Leon kembali membungkam mulutku, menyumpalnya dengan bibir dan juga lidah. Menautkannya begitu dalam dan penuh gairah. Aku meronta untuk melawannya, namun sia-sia, tenaga Leon sangat besar.


“Merancaulah, Kanna! Kau cantik saat merancau!!”


“Tidak!! Jangan!! Leon!! Arg...,”


— MUSE S3 —


Apa yang terjadi berikutnya?


Next episode, ya readers...


MUSE UP!!


YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.


VOTE, LIKE, dan COMMENT


PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!


Terima kasih sudah membaca,


Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama


Love,


Dee ❤️❤️❤️