MUSE

MUSE
S7 ~JADI ITU KEPUTUSANMU?



MUSE S7


EPISODE


S7 \~Leoni sungguh menyesal, namun lebih baik berhenti mengenal dari pada harus terluka karena kehilangan. Berhenti mencintai dari pada kelak gila karena kehilangan.


__________


Jadi bagaimana? Muat tidak??


Keringat dingin menetes dari pelipis Leoni tak kala rasa sakit melanda area di sekitar mahkotanya saat Levin mulai menerobos masuk.


Apa memang sesakit ini??


Lantas kenapa semua pasangan begitu mendambakan rasanya? Bahkan di film-film sering pasangan beradegan panas untuk menyalurkan rasa cinta yang begitu besar.


“Sakit?” tanya Levin, sepertinya Levin pun bisa melihat bibir Leoni yang membiru menahan perih.


“Iya, sakit!”


“Oke, aku akan berhenti.” Levin mencabut miliknya.


Keduanya terdiam sesaat. Leoni mengusap titik air mata di sudut matanya yang hampir menetes dan menggantinya dengan senyuman.


“Sudah lebih baik?” tanya Levin.


“Huum.” Leoni mengangguk.


Levin menggaruk kepalanya sedikit kasar, bingung juga bagaimana caranya menyalurkan hasrat yang sudah terlanjur memuncak. Leoni terlihat ketakutan dengan ukuran senjatanya.


“Maaf, ya. Aku belum siap.” Leoni bergegas untuk berbenah diri. Kekecewaan memenuhi wajah Levin, namun mau bagaimana lagi. Kalau memang saling cinta tentunya tak akan saling memaksakan kehendak. Levin pun tak ingin bila hanya dia yang merengguh kenik matan sementara Leoni merasakan rasa sakit sendirian.


“Hm … apa kau lapar? Mau makan sesuatu?” Levin akhirnya mengalihkan pembicaraan. Tak ingin membahas hal sensitif ini lagi.


“Iya, aku lapar.” Leoni memegang perutnya yang ramping.


Keduanya ke kedai kopi yang berada tak jauh dari perumahan. Memesan dua buah coffe latte dan juga indomie rebus. Sudah lama Levin tidak makan mi instan kebanggaan anak bangsa ini. Dan sungguh … rasanya memang sangat nikmat. Kapan terakhir kalinya ia makan mi instan ya??


“Enak?” tanya Leoni saat melihat Levin makan dengan lahap.


“Enak.”


“Senang melihatmu makan dengan lahap.” Leoni tersenyum.


“Senang juga melihatmu tersenyum dan tak lagi ngambek padaku. Dasar tukang ngambek.” Levin mencubit hidung Leoni.


“Auw … sakit!!”


“Biar hidungmu sedikit mancung.”


“Ck, emang kurang mancung apa?” Leoni mendelik galak.


Leoni melihat Levin menikmati mi instan dengan wajah sumringah. Begitu tampan, begitu menyenangkan. Desiran halus muncul di sekujur tubuh Leoni saat bayangan kecelakaan kembali menghantuinya. Apa yang akan Leoni rasakan nanti bila wajah itu menghilang selamanya.


“Apa kau sungguh tak ingin berhenti Vin??” tanya Leoni.


Levin menaruh kembali sendok ke dalam mangkuk. Rasa kesal kembali menyeruak bilamana Leoni mengungkit masalah ini lagi.


“Kan sudah aku bilang ….”


“Oke … oke … aku tahu!! Iya, kau tak akan berhenti meski aku berlutut dan memohon padamu.” Leoni memberangut.


“Tak akan ada masa depan yang indah bila salah satu dari kita tidak ada, Vin.” Lirih Leoni.


“Tadi kau bilang mau mendukungku!! Tadi kau bilang mau percaya padaku!” Levin menjadi marah besar dengan ucapan Leoni.


Leoni menghela napas panjang, dia sendiri tak tahu kenapa mengungkit lagi hal paling menyebalkan di dunia itu saat tadi ia mencoba untuk memperbaiki semuanya.


Dasar ababil, benar, peralihan hormon dari masa remaja ke dewasa membuat keduanya begitu keras kepala, begitu egois, begitu mementingkan perasaan mereka masing-masing.


“Aku sudah berusaha memahamimu, Vin!”


“Kau pikir aku tidak??” Sahut Levin, demi siapa juga dia membeli rumah dan juga mobil?? Bila bukan demi menyenangkan Leoni, demi membentuk masa depan bersama.


“Aku tidak butuh, Levin!! Aku tidak butuh kemewahan. Aku tidak butuh semua gajimu. Aku butuh kau berdiri utuh di sampingku dan menua bersamaku!!” Leoni menitikkan air matanya. Semua mata memandang ke arah mereka berdua. Levin menutup kepalanya dengan tudung jaket, takut bila ada yang mengenalinya.


“Aku cemas tiap kali kau bertanding. Aku mengalami kecemasan hebat, Levin. Aku harus menemui psikiater. Aku harus minum obat, bahkan tak jarang aku menangis seorang diri di dalam kamar tanpa tahu penyebabnya. Aku bisa gila karena memikirkanmu, Levin. Dan kau … justru dengan enteng menganggap semua ini kau jalani demi diriku!!” Leoni bangkit berdiri. “Tidak, semua ini kau jalani demi dirimu, demi memuaskan keinginanmu.”


“Lantas apa maumu??” Levin ikut bangkit.


“Aku tak bisa melihat pria yang kucintai terluka atau bahkan sampai meninggal di sirkuit balap, Vin. Dari pada itu melihat hal itu terjadi, lebih baik kita putus saja. Terima kasih, aku tak butuh semua ini.” Leoni mengambil tasnya dan mengembalikan kunci mobil pada Levin.


“Jadi ini keputusanmu?!” Levin mendengus.


“Iya, ini keputusanku.” Leoni pergi dari hadapan Levin.


Leoni sungguh menyesal, namun lebih baik berhenti mengenal dari pada harus terluka karena kehilangan. Berhenti mencintai dari pada kelak gila karena kehilangan.


Air mata Leoni menetes. Kenapa cinta membuatnya menjadi seegois ini?! Padahal baru sekejap lalu mereka mencoba merengguh keindahan cinta lewat sentuhan dan juga tarikan napas bersama. Dan sekejap kemudian mereka telah bertengkar lagi akan sesuatu yang sudah mereka sepakati sebelumnya.


Benarkah hati seorang wanita itu begitu bebal?? Benarkan hati seorang wanita itu begitu rumit?


“Aku beri kau waktu berpikir sampai besok, Singa!! Sungguhkah ini yang kau mau??” Levin berseru.


Namun sungguh, Leoni tak mengindahkan ucapan Levin dan memilih pergi sembari menangis.


Levin terduduk cukup lama, ia bahkan tak pergi untuk mengejar Leoni. Mungkin ia pun lelah menghadapi renggekan Leoni. Padahal sekejap waktu tadi Leoni sudah setuju untuk menerima semua konsekuensinya selama menjadi pembalap.


...— MUSE S7 —...


Hari Senin di sekolahan, Leoni berjalan lesu menuju ke kelas. Menangis ternyata tak menyelesaikan masalahnya perasaannya yang ada justru membuatnya semakin tersiksa.


Beberapa anak-anak lain berlarian menuju ke beranda untuk melihat siapa yang menerobos sekolahan dengan menggunakan mobil mewah.


“Hei, bukankah itu, Levin??” Mereka berseru sembari menunjuk-nunjuk area lapangan.


“Levin??” Wajah Leoni menjadi cerah, mungkinkah Levin sengaja mencarinya sampai ke sekolahan??


Saat Leoni memecah kerumunan dan melihat ke tengab lapangan. Levin keluar dari dalam mobil, ia menggendong seorang gadis naik ke atas kursi roda. Levin terlihat begitu berhati-hati dan begitu perhatian. Rasanya seperti ... pangeran yang sedang menolong Tuan Putrinya.


Semua anak-anak bersorak sorai menyoraki kemesraan itu. Membuat Leoni semakin bingung. Apa yang terjadi??


“Hai, Leoni.” Sapa gadis itu pada Leoni.


Degh!


Hati Leoni terasa nyeri saat melihatnya. Gadis itu tak lain adalah.


“Johana??”


...— MUSE S7 —...