
MUSE S3
EPISODE 100
S3 \~ MY GIRL
\~ Aku ingin dunia tahu, bahwa kaulah cintaku!! Bahwa kaulah gadisku, kaulah wanita singaku! Roar, honey! Kau spesial.\~
_____________
“Selamat malam, Kanna,” kataku sembari melambaikan tangan pada Kanna.
“Selamat malam, Leon.” balasnya, namun Kanna nampaknya masih enggan untuk menutup jendela kamarnya.
“Kenapa tidak di tutup?”
“Menunggumu.”
“Kau duluan, Cimut!” pintaku.
“Kau dulu saja, Leon.” jawabnya.
“Baiklah, bersama-sama, ya,” akhirnya aku mengambil keputusan agar kami bersama-sama saat menutup jendela kamar.
Seperti yang kalian tahu, kami bertetangga. Dan dengan jarak perumahan yang sempit, kami bahkan bisa berpegangan tangan sebelum tidur. Karena inilah kami selalu saja merasa berat saat ingin berpisah, selalu berebut siapa yang menutup jendelanya terlebih dahulu. Baik aku maupun Kanna selalu ingin melihat punggung pasangan kami sebelum tidur.
“Leon!!”
“Heum?”
“Boleh ku pegang tanganmu sebelum tidur?” Kanna malu-malu saat memintanya.
“Sure, Cimut,” senyumku mengembang, aku duduk pada kusen dan menjulurkan tanganku agar Kanna bisa menggapainya. Kanna melakukan hal yang sama, kami saling bersentuhan, rasanya aneh, seakan ada listrik yang menggelitik pada ujung jemarimu.
“Thanks, Leon. Kini aku bisa tidur dengan nyenyak.” Kanna menopang kepalanya pada siku dan tersenyum.
Ah, lagi-lagi dia membuatku gemas dan ingin memakan pipinya. Kenapa dia begitu imut? Huh, andai saja aku bisa melompat ke seberang sana untuk menciumnya lagi?!
“I love you, Kanna,” lirihku.
“A..., aku juga, Leon.”
“Say it, donk!!”
“Apa?”
“Say that you love me too!”
“I-I, I— ach..., aku nggak bisa, Leon. Ini terlalu memalukan.” Kanna bersembunyi di balik telapak tangannya.
“Aku menunggumu!” godaku.
“Oke..., oke....” Kanna mencoba, ia menarik napasnya, mengatur perasaannya dan berkata, “I love you too, Leon.”
Kanna menutup mulutnya dengan telapak tangan. Seakan tak percaya dia telah berhasil mengatakan kalimat itu. Wajahnya kembali merona merah, membuatku begitu bahagia. Seakan perasaan kami tercipta begitu singkron.
“Yeah, seperti itu, Kanna. Tunjukan wajah itu setiap hari, tunjukanlah hanya untukku,” pikirku senang. Kadang aku merasa tak ingin orang lain melihat wajahnya saat ia begitu menggemaskan seperti ini.
“Selamat tidur, Leon.”
“Selamat tidur, Kanna.”
Kami menutup jendela bersama-sama dan bergegas tidur. Aku tersenyum sebelum memejamkan mataku. Tak ada yang bisa menghalangi kami untuk saling bertemu kembali di alam mimpi.
Oh, Kanna, kau gadis yang manis....
— MUSE S3 —
•••
Pagi ini aku agak sedikit terlambat bangun. Kanna sudah meneleponku beberapa kali, namun karena semalam aku menyalakan mode senyap pada nada deringnya tak ada suara yang terdengar. Hanya menyisakan beberapa pemberitahuan miss call dan juga chat dari Kanna pada layar ponselku.
Kanna:
Leon, aku berangkat dulu, ya.
Aku akan berjalan pelan
Lewat jalan tikus
Agar kau bisa menyusulku
Ach..., bodohnya aku!! Kenapa nggak pasang waker saja sih?! Ugh, Kanna pasti berjalan sendirian ke sekolahan. Bagaimana kalau dia marah padaku? Aku berjanji menemaninya berangkat pagi ini.
Tanpa merapikan bajuku aku berlari menuruni tangga dan bergegas menuju dapur. Meminum susu tawar langsung dari kotaknya dan mencomot selembar roti. Dengan cekatan aku memakai sepatu sambil menggigit roti.
“Shit!!” Aku mengumpat, semoga saja Kanna baik-baik saja. Kenapa harus memilih lewat pada jalanan di belakang pertokoan? Walaupun cepat namun jalan itu terlalu sepi dipagi hari.
Setelah menyahut tas aku mengunci pintu rumah dan berlari mengejar Kanna. Semoga dia belum begitu jauh.
Syukurlah, aku bisa melihat punggungnya. Kanna masih berjalan, namun belum sempat aku mendekat padanya. Beberapa anak badung dari sekolah lain menghampiri Kanna. Apa yang ingin mereka lakukan? Awas kalau mereka berani menyentuh Kannaku!!
“Hei gendut!! Bagi duit, donk!”
“Maaf, aku nggak punya uang.”
“Hei, jangan bohong!! Sini minta uangnya!!” salah satu dari mereka merebut tas Kanna.
“Saya nggak punya uang, Bang!” Kanna melindungi tasnya.
“Ini tanggal mudakan! Pasti jatah bayar SPP-kan?! Setidaknya pasti ada uang sakukan?!” bentakkannya terdengar samar, aku harus mempercepat langkahku.
“Nggak ada, Bang!!” Kanna mundur dan mentok pada dinding di belakangnya. Ia hampir menangis karena ketakutan.
“Dasar bab1 gendut!! Kemarikan tasnya!” teriak yang lain itu sembari menarik tas Kanna.
Beberapa dari anak-anak nakal itu bangkit dan mendekati Kanna. Mereka menampar pipi dan menjambak rambut Kanna. Br*ngsek!!
BRUK!!
Tanpa ia sadari aku langsung memukul wajahnya, membuatnya terpelanting ke bawah. Br*ngsek ni orang, berani cari gara-gara sama Leon!! Enak aja main sentuh, Kanna.
“Hei, siapa yang mukul? Sialan!!” teriaknya sembari berdiri. Ia masih memegang pipinya yang baru saja terkena tinjuku. Ia memberi kode pada kedua temannya yang lain agar menghajarku.
“Kanna? Kamu nggak papa-kan?” tanyaku dengan kawatir.
“Ayo kita kabur saja, Leon! Aku takut.” suara Kanna terdengar bergetar hebat.
“Aku beresin dulu, baj*ngan- baj*ngan ini.”
“Cih, br*ngsek!!” keduanya berdecis mendengar ucapanku, mereka kira aku sombong mungkin. Menantang 3 preman sekolahan yang punya badan dan umur yang jauh lebih tua dariku.
Mungkin dia belum tahu siapa Leon!! Bagaimana kalau aku kasih tahu?!
Bruk, Bruk, Duak!!
Aku menginjak kakinya, lalu ia terjatuh dan aku memukul wajahnya. Saat ia memegang wajahnya aku kembali menghantamkan wajahnya pada lututku. Dan darahpun bercucuran dari mulut dan juga hidunganya. Kasihan, hidungnya pasti patah.
“Kurang ajar!!” Yang ke dua berseru dan langsung menyerangku.
Tanpa ragu aku menghindari pukulannya dan menonjok perut lalu wajah buruk rupanya. Saat ia tersungkur aku menendang perutnya, aku harus memastikan mereka tumbang sehingga tak mengejar kami. Baru dua tiga kali serangan mereka tumbang.
Halah, ternyata cuma sok jago, nggak ada kemampuan yang bisa dibanggakan. Aku mengibaskan tanganku karena menonjok wajahnya tanpa lapisan apapun.
Ketuanya masih bisa bangkit, dengan terseok-seok pria bercat rambut pirang itu mengambil cutter nya dari saku celana seragam. C*cunguk itu melihat kedua temannya yang mengglepar kesakitan. Dengan gemetaran ia menodongkan benda tajam itu ke arah kami.
“BR*NGSEK!!” umpatnya. Hih, kenapa, sih, dia membuat Kanna harus mendengar semua kata-kata kotor itu?!
“Leon dia bawa senjata!!” Kanna mencengkram lenganku, ia ketakutan saat melihat cutter yang diacungkan ke arah kami.
“Hubungi polisi, Kanna,” bisikku padanya, Kanna mengangguk.
Kami mundur perlahan-lahan. Aku melindungi Kanna di balik tubuhku. Aku takut sampah itu gegabah dan melukai Kanna. Akupun tak boleh bergerak sembarangan, ataupun menyulut emosinya. Salah-salah ia akan memberontak dan menyakiti salah satu dari kami.
“Hhiiiya!!!” teriaknya sembari menghujamkan benda pipih tajam tadi ke arah kami berdua.
Aku menaruh tas di depan dadaku sebagai tameng, dan saat ia mulai mendekat aku memberikan tendangan tinggi pada pergelangan lengannya. Untung saja tepat, dan pisaunya terlempar. Si brengs*k itu kembali meringis kesakitan, dengan sigap aku menarik kemejanya dan mengangkatnya ke atas.
“ARGH!!! Bocah br*ngsek!!”
“Salah sendiri kau sentuh gadisku, Bro!!” Aku membuatnya berkeringat dingin.
“AARRG...!!” teriaknya kesakitan.
“Ampun!!”
“Minta maaf padanya!!” Aku menjambak rambutnya.
“Mmaaa... maaf...” rintihnya.
“Good!!! Jangan ulangi lagi perbuatan kalian itu! Orang tua kalian pasti kecewa, cari uang itu susah dan anaknya jadi preman badung abal-abal.” Aku bangkit dan meninggalkan mereka bertiga.
“Leon!! Kau tidak apa-apa?” Kanna mendekatiku.
“Aku tak terluka sedikitpun, Kanna! Kau tak perlu khawatir.”
“Syukurlah, aku lega.” Kanna memeluk diriku dan menangis haru. Aku mengelus rambut dan juga punggungnya.
“Kau tak apa-apakan?” Aku mengangkat wajahnya, ada bekas merah pada pipinya yang chubby. Argh!!! Aku terlambat, harusnya aku tak bangun kesiangan, kecerobohanku membuat Kanna terluka.
•
•
•
Setelah berlari sekuat tenagapun kami tetap terlambat dan di hukum oleh Pak Kumis. Ah, dasar, tak adakah keringanan untuk murid berprestasi sepertiku?? Aku selalu rankking satu, hlo, Pak.
“Maaf, Leon, kau dihukum karena menolongku.” Kanna kembali meminta maaf, ia menyapu halaman belakang dengan tangan gemetaran dan air mata yang tumpah keluar.
“Ssst..., jangan nangis, donk!” Aku menaruh sapuku dan merangkul pundaknya yang lebar.
“Hiks, aku bodoh, Leon. Kenapa aku lewat jalanan itu?” Kanna mengusap air mata dengan jemarinya yang gemuk.
“Aku tahu kau menungguku, dan jalan itu memang lebih cepat. Pertimbanganmu benar, Cimut!! Jangan menyesal, yang pentingkan kita tidak terluka.”
“Sekali lagi maaf, ya, Leon.” Kanna mengangkat wajahnya dan memandang wajahku. Ugh.. gemasnya, andai saja kami tak ada di lingkungan sekolahan, pasti sudah aku cium bibir mungilnya itu.
“Dasar aku mesum!” kikihku dalam hati.
“Hei, pasangan mesra!! Kalian kaya angka 10, deh!!” beberapa siswa satu angkatanku menggoda kami.
“Anying!!” umpatku sambil cengar-cengir. Aku tahu mereka hanya menggodaku tapi berbeda dengan Kanna.
Saat itu Kanna menggepalkan tangannya, hatinya ternyata tak bisa menerima godaan itu. Ia menganggapnya sebagai ejekan untukku.
“Hei, Cimut, mereka hanya menggoda kita,” ku yakinkan padanya bahwa ucapan mereka tak bermaksud untuk menghinanya ataupun menghinaku.
“Aku tidak masalah, Leon. Tapi bagaimana kalau ternyata mereka beneran menghinamu? Mereka menganggapmu bodoh karena berjalan dengan gadis jelek sepertiku.” Kanna menundukkan kepalanya.
“Huft...!” Aku kembali menghela napasku panjang.
“Sudahlah, lupakan saja ucapan mereka! Ayo, aku antar kembali ke kelasmu.”
“Maaf, Leon. Maaf.”
“Kanna! Berhenti minta maaf!” paksaku.
“....” Kanna terdiam.
“Pulang sekolah, datanglah ke lapangan Kanna. Aku ada eskul basket hari ini.”
“Aku akan menunggumu di taman.”
“Tidak!!! Lihat aku di pinggir lapangan!! Di bangku penonton!” suaraku agak sedikit tinggi dan memaksa.
“Aku tak ingin membuatmu malu.”
“Aku tidak malu, Kanna!!!” Aku mencibit pipinya gemas.
“Tapi...,”
“Ssstt..., pokoknya kau harus datang!! Kalau nggak datang aku marah. Nggak usah bertemu selama satu minggu!” ancamku, padahal aku mungkin yang tak bisa bertahan tanpanya selama satu minggu. Hehehe..., dasar aku bodoh.
“Baiklah, aku akan datang.”
“Good, girl.” Aku mengelus pucuk kepalanya sebelum berlari pergi.
— MUSE S3 —
•••
Dum Dum Dum...
Suara bola yang menghentak lantai beton terdengar. Aku mendriblenya ke arah gawang lawan. Beberapa lawan menghadang, dengan sigap aku berputar dan melemparkan bolaku pada Angga, Angga menerimanya, ia langsung melempar bolanya masuk ke dalam ring.
“Yes!!” teriakku, aku ber- high five dengan Angga.
“YEEEE...!!!” semua penonton bersorak, aku tahu kebanyakan dari mereka adalah anak cewek yang mengidolakan aku dan Angga. Kamikan duo MPV di sekolahan. Tapi maaf, ya, ladies, hatiku sudah ada yang punya!
Aku celingukan mencari sosok Kanna. Aku memintanya melihatku di pinggir lapangan siang ini. Tak butuh waktu lama dan sebuah senyuman terulas manis pada wajahku. Kanna melihatku pada sisi kanan lapangan, ia duduk di samping Kalila. Kalila adalah anak kelas satu yang ditaksir Angga selama setahun belakangan.
“Semangat, Leon!!” Aku membaca gerakan bibir Kanna juga tangannya yang mengepal di depan dada. Aduduh, kenapa kau begitu imut, sih? Bikin semangat kembali menggelora, akan aku persembahkan kemenanganku untukmu Kanna.
Aku kembali fokus menggiring bola ke kandang lawan, dengan sigap aku memantulkan bola itu tinggi karena ada lawan yang menghadang. Dengan gerak cepat aku berlingsut ke dapan dan kembali mengambil bola itu. Kesempatan tiba, bagian depan tak terjaga. Aku mendribel kembali bola oranye itu dan melakukan slam dunk! Melompat tinggi dan...,
BANG!!!
Bola masuk ke dalam ring. Poin kemenangan untuk grup kami siang ini.
“YEEEEE!!!!!” teriakan kembali bergema di bangku penonton.
Aku tertawa dengan kemenangan ini. Aku menghapus keringatku dan mulai mengatur napas. Bahuku bergerak naik turun karena napasku memang menderu tak beraturan.
Aku menoleh ke arah Kanna, dia sedang bertepuk tangan untukku. Aku bangga padanya, akhirnya Kanna mau membuka dirinya dan duduk untuk melihatku bertanding.
Yah, seperti itulah harusnya gadis tercintaku, dia harus berani dan tangguh seperti singa juga, karena pacarnya juga adalah seekor singa.
“KANNA!!!” Aku berteriak dari tengah lapangan, membuat semua orang berfokus pada teriakkanku, juga pada sosok Kanna yang kebingungan.
“Kenapa kau berteriak Leon?!” Kanna keheranan.
“JUST WANNA SAY!!”
Huuuuu..... sorakkan dan hentakan kaki kembali terdengar riuh, menggemparkan arena basket. Seakan mereka memberikanku semangat untuk mengatakannya..
“YOU’RE MY GIRL!!!!” Aku menunjuk dirinya dari dalam lapangan sambil berteriak sekencang mungkin.
Aku ingin dunia tahu, bahwa kaulah cintaku!! Bahwa kaulah gadisku, kaulah wanita singaku!
Roar, honey!! You’re special!!
“Leon...”
— MUSE S3 —
Jadi gimana gaes? Mulai pada suka sama Leon belom? Atau masih belom bisa move on dari Arvin?
Hihihihi, Masa remaja memang mengulak alik perasaan bukan. Duh, Leon, i love you pull...
Terus baca hlo, ya, sayangkuh!! ❤️❤️
Met menjalankan ibadah puasa!!
MUSE UP!!
YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.
VOTE, LIKE, dan COMMENT
PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!
Terima kasih sudah membaca,
Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama
Love,
Dee ❤️❤️❤️