MUSE

MUSE
S7 ~ BALAPAN LIAR



MUSE S7


EPISODE 15


S7 \~ BALAPAN LIAR


Mereka termasuk anak-anak gaduh yang bisanya hanya cengengesan. Membuat siapapun tersenyum dengan tingkah konyol mereka. Padahal jauh di dalam hati anak-anak itu mereka memang menaruh harapan besar akan kemenangan Firza.


_____________


Hari ini adalah hari yang mendebarkan bagi Firza, pasalnya kenalan ayahnya yang bekerja pada industri motor balap akan menyaksikan performanya. Orang itu sedang berkeliling mencari bibit-bibit muda yang bisa dibentuk untuk penjadi pembalap profesional. Melatih dan menjadikan mereka seorang juara. Hari ini adalah kesempatan bagi Firza untuk membuktikan diri.


Firza tengah bersiap saat Levin dan Leoni datang ke bengkel mereka. Ayahnya juga sibuk mengecek persiapan motor balap milik Firza. Motor hijau itu lebih tua bila dibandingkan dengan milik orang lain. Untung saja modifikasi dan juga mesinnya telah diubah sedemikian rupa sanpai punya performa yang sama.


“Kenapa? Kenapa kau begitu salah tingkah , bahkan berdandan hanya karena Leoni datang kemari?” Levin setengah tak percaya dengan kelakuan sahabatnya. Dia bahkan membersihkan diri agar telihat tampan di depan Leoni.


“Kenapa? Ya tentu saja agar tidak terlihat jelek di depan anak perempuan,” jawab Farel.


“Hanya itu?” Levin menyelidik. Semula ia heran karena Farel bahkan menjenguk Leoni saat kakinya sakit dan tidak masuk sekolah.


“Hmm, apa harus ada alasan lain?”


Farel melirik ke arah Leoni, wajahnya memerah.


“Kau menyukainya?” tanya Levin.


“Eh ...?!” Pandangan Farel kembali pada Levin.


“Aku tanya apa kau menyukainya?” Levin mendesak Farel.


“Entahlah.” Farel bingung menjawab pertanyaan Levin.


Leoni tiba-tiba sudah menyusul mereka, duduk di dekat ayah Farel.


“Paman, apa kakimu sudah sembuh? Kenapa kau bekerja?” Leoni melihat pria paruh baya itu sibuk dengan motor dan peralatan bengkel. Sebelah kakinya masih terbungkus gips.


“Kakiku yang sakit, Nak. Bukan tangan. Lagi pula aku hanya duduk dan tidak berdiri.”


“Ah, begitu.” Leoni mengangguk.


“Kenapa kau ikut kemari? Ini bukan tempat bermain anak-anak! Aku juga sudah bilang pada Farel untuk berhenti mengajak teman-temannya yang lain. Tapi bocah itu tetap nekat.”


“Dilarang pun mereka akan tetap kemari Ayah, Levin, chico, dan Bryan sangat menyukai motor.” Farel mendengus sebal.


“Itu karena kau meracuni mereka.” tuduhnya lagi.


Suasana semakin malam semakin riuh. Sirine menyala meraung-raung tanda pertandingan akan segera dimulai. Firza berdoa sesaat sebelum menggiring motornya ke tengah-tengah area bertanding. Tepat berada di belakang gatis start. Semua anggota keluarga mengikuti, termasuk Levin, Leoni, dan Bryan. Ayahnya tertatih-tatih dengan bantuan kruk, ingin juga menyaksikan pertandingan anak sulungnya itu.


Gas motor menderu-deru memekakkan telinga. Leoni menutup telinganya tapi matanya berbinar antusias. Belum pernah ia melihat balapan liar sebelumnya. Bahkan tak pernah ia bayangkan akan melihat hal seperti ini di dalam hidupnya.


Mamanya hanya ingin Leoni menjadi anak yang cantik dan anggun. Jangankan melihat pertandingan balap motor, melihat bola saja belum pernah. Sejak kecil Kanna menyuruh Leoni menonton tarian, masak-masakkan, boneka, dan segala hal yang berhubungan dengan wanita. Bukan sepak bola, apalagi balapan liar.


Mereka berjajar pada pagar kayu pembatas antara penonton dengan track balapan. Memberikan sorak sorai dukungan untuk Firza. Seorang pria dengan setelan jas mahal mendekati Ayah Firza, ikut bergabung dengan mereka. Ia membawa teropong hitam, menilik ke berbagai penjuru tanah lapang luas bekas tambang batuan padas untuk campuran semen.


“Wah, tracknya lumayan menantang,” ucapnya.


“Tempat kami yang lama telah tercium polisi. Kini mereka menutupnya,” jawab Ayah Farel.


“Yang mana putramu?” tanyanya.


“Yang memakai baju hijau dengan motor 250 cc.” Tunjuknya.


“Aku akan memperhatikannya.”


“Aku harap kau bisa membuatnya menjadi pembalap profesional. Itu cita-citanya. Aku mohon Kawan, demi persahabatan kita.” Renggek Ayah Farel.


“Aku tak bisa menjanjikan apapun, Kawan. Semua tergantung performanya, kau kan juga tahu aku hanya dibayar, semua tergantung sponsor.”


Levin dan Farel mencuri-curi dengar, ternyata sahabat Ayahnya itu adalah seorang penilik bakat dari club motor yang cukup besar. Mereka ingin mencari bakat baru, sepertinya anak-anak yang terdidik dengan cara ekstream punya nyali dan keahlian lebih baik.


Setelah pembicaraan singkat itu, Semua mata kembali memandang keberadaan para riders andalan masing-masing. Bendera telah berada di tangan seorang wanita seksi. Ia melangkah ke tengah-tengah garis start. Menunjuk ke arah empat penunggang kuda besi.


“READY!”


Brum .... Brum .... Brum ....


“So ... prepare your ride and .... GO!!!” serunya sambil mengayunkan bendera. Tanda balapan liar itu dimulai.


Bruuummm ....


Deruan suara mesin bersahut-sahutan. Keempat riders mutar gas sedalam mungkin. Melesat jauh ke depan dengan kecepatan penuh. Kecepatan awal adalah penentu segalanya. Tak mungkin mereka menyia-yiakan kesempatan awal itu. Begitu pula Firza, ia tampil sempurna dengan motor buntut milik Ayahnya.


“Ayo!! Kak Firza!!” Farel berteriak lantang.


“WUHUU!!!” Levin memutar jaketnya di atas kepala. Leoni berseru-seru mendukung Firza, begitu pula Bryan.


Mereka termasuk anak-anak gaduh yang bisanya hanya cengengesan. Membuat siapapun tersenyum dengan tingkah konyol mereka. Padahal jauh di dalam hati anak-anak itu mereka memang menaruh harapan besar akan kemenangan Firza. Siapa tahu, Firza akan menjadikan keluarganya punya masa depan yang lebih baik. Yang tidak berkekurangan seperti saat ini.


Keempat rider meliuk-liuk pada track yang telah tersusun. Tiap tikungan ditandai dengan ban bekas yang ditumpuk beberapa buah. Mereka harus melalui 20 lap keliling putaran lapangan seluas hampir dua hektar.


Rider dengan baju balap putih memimpin. Dia bergerak aktif menghindari tumpukan pasir yang bisa saja membuatnya terpeleset. Dengan pengalamannya sebagai pembalap yang lebih dahulu dibanding Firza, orang itu merupakan lawan yang alot.


Firza terus memacu motornya, ikut menghindari pasir-pasir. Dengan tak kalah lincah Firza melewati tiap-tiap tikungan berkelok. Ia mulai berhasil menyusul lawan terberatnya. Berada kurang lebih hanya lima meter di belakang. Firza mulai memilikirkan celah kapan harus menyalip. Salah-salah ia akan terjungkal pasir dan bannya selip. Motor dengan kecepatan ekstra akan sangat menakutkan bila tergelincir.


“AYO, KAK!!” teriak Farel.


“YEEE ... AYO!!” teriak Leoni.


Levin tetap diam, mengamati jalannya pertandingan. Ia bergumam pelan, menunggu saat yang tepat bagi Firza menyalip lawannya.


“Belum ... belum ... belum ..., sekarang!!” seru Levin.


Benar saja, Firza menyelip lawannya tepat pada tikungan yang diberikan Levin. Semua teman-temannya bersorak kegirangan. Begitu pula para pendukung Firza.


Pria berjas hitam melirik ke arah Levin, dia heran karena Levin bisa membaca pergerakan lawan dan juga lokasi tikungan untuk menyalip lawannya. Pria itu mengangguk dengan kebolehan Levin. Bocah remaja itu punya kemampuan tersenbunyi apa lagi?


Pertandingan akhirnya selesai. Firza memenangkan pertandingan kali ini. Telak! Dengan rekor baru, mematahkan rekor lamanya. Setelah mengumumkan kemenangan Firza, semua penonton mulai bubar. Tinggal beberapa yang masih asyik mengobrol sambil makan. Menghabiskan malam. Ada juga yang sedang menyelesaikan modif motornya.


Pria berjas masih mengobrol di tepi pagar pembatas. Mengamati ketiga bocah remaja mengadu kecepatan. Levin, Farel, dan Bryan. Mereka menyelisuri Track, melejit hebat di hamparan pasir yang gelap.


“Jadi bagaimana? Apa kau tertarik dengan putraku?” tanya Ayah Farel.


“Berapa usianya?”


“17 tahun.”


“Dia terlalu tua, Kawan. Tak akan ada yang mau melatihnya. Rata-rata mencari remaja berusia 13-15 tahun. Sorry, aku kira aku tak bisa meloloskan anakmu.” Pria itu menggaruk dahinya padahal tidak gatal.


Ayah Farel terlihat cukup terpukul, bahunya lemas. Aneh rasanya mengalami penolakkan seperti ini, padahal ia tahu kalau anaknya berusaha begitu keras untuk menjadi seorang juara.


“A—apa tidak ada hal lain yang bisa kau pertimbangkan? Masa hanya karena umur? Lagi pula siapa Ayah yang akan membiarkan anak berusia 13 tahun balapan?” Ayah Farel meninggikan suaranya.


“Lalu itu?” Pria itu menunjuk pada sekawanan anak remaja yang baru saja menyelesaikan pertandingan mereka. Farel menjadi juara pertama, disusul Levin dan Bryan.


“Farel? Dia ... aku tak pernah melatihnya sebelumnya. Itu hanya permainan iseng mereka saja.”


“Coba kau persiapkan dia untuk demo kesempatan berikutnya. Dua bulan lagi aku akan kemari. Semoga perkembangannya cukup memuaskan.”


“Ba—baiklah.”


“Jangan lupa Kawan, kita ada di industri dengan persaingan ketat. Jangan kecewa, OK!” Pria itu menepuk punggung sahabatnya.


Ayah Farel melihat anaknya, lalu melihat dirinya. Benarkan ia akan mengorbankan anak keduanya juga? Bukankah sudah cukup Firza kehilangan masa depannya karena hal ini. Farel tak perlu mengalaminya. Anak itu bisa sekolah dan menjadi seorang karyawan atau bahkan designer kendaraan karena Farel hobi menggambar.


...— MUSE S7 —...


...Dilike dan comment ya...


...Makasih banyak ...


...😘😘😘😘...