MUSE

MUSE
S4 ~ PUSH UP



MUSE S4


EPISODE 8


S4 \~ PUSH UP


\~ Matanya yang tajam memandang mataku, dahinya berkerut karena sebal. Sepintas wajahku menghangat, jantungku berdetak tak karuan. Apa aku sudah gila? Tidak, mungkin karena dia memandangku dengan wajah Keano\~


_________________


Sudah hampir satu tahun aku berpacaran dengan Ken. Aku semakin khawatir dengan keadaan Ken, Ra sepertinya semakin mendominasi tubuh Keano. Aku sempat greget karena semakin hari Ra semakin menjauhkanku dengan Ken.


Beruntung siang ini Ken bisa datang dan ingin menemuiku. Aku sangat merindukannya, sampai mau mati rasanya. Cepat-cepat aku melajukan papan seluncurku dan bergegas ke rumahnya. Aku mendorong papan skate menabrak pintu garasi. Lalu berlari masuk ke dalam rumah Ken.


“Kau masak apa, Ken?” tanyaku saat masuk ke dalam rumahnya. Tercium bau masakan yang sangat wangi. Ken terlihat serius sedang menggoreng sesuatu, wajahnya begitu tampan saat serius. Sesekali Ken membetulkan letak kaca matanya dan aku gemas.


“Karage, mau?” tanya Ken balik.


“Mau donk!” Aku bergegas mendekatinya, Ken mengambil sebiji karage dengan sumpit dan mencocolkannya pada saus asam manis.


“Akhh..!!” pintanya.


“Aaakhh...!” Aku membuka mulutku lebar-lebar.


“Emm....” namun ternyata Ken memakannya sendiri, jahat banget dia membuatku menunggu, untung saja nggak ada lalat yang masuk ke dalam mulutku.


“Jahat!!” tuduhku, Ken hanya tertawa.


“Oke, kali ini serius.” Ken mengulanginya, mengambil karage dan mencelupkannya pada saus.


“Akh....!” Aku tak membuka terlalu lebar mulutku, takut Ken kembali menipuku.


Saat aku merasakan adanya aroma dan kehangatan daging ayam goreng tepung mendekati mulutku, aku langsung menutup mulutku memakannya. Tapi..., lagi-lagi Ken bohong! Dia menarik ayam itu dan memajukan bibirnya menciumku.


“Ken!!” seruku.


“Hahaha..., bibirmu terlihat begitu menggoda Inggrid.” tawanya lantang. Iya saja, bibirku mirip Mommy, tentu saja begitu menggoda.


“Tunggu aku membalasmu.” Aku meloncat dan memeluk tubuh jangkungnya. Mengalungkan lenganku pada lehernya agar tak melorot jatuh. Ken sendiri memeluk pinggangku agar aku tidak terjatuh. Aku balas menciumnya dengan lembut, menyatukan bibir kami dan saling bertukar rasa manis.


“Cukup, girl! Ayo kita makan.” Ken menghentikan lumattannya dan meremass bokongku dengan gemas.


“Hei!! Cowok mesum!!” Aku mengetok dahinya dengan jariku (seperti saat menetuk pintu).


“Hihihi..., kau yang menggodaku, girl.” Ken terkikih dan menurunkan tubuhku.


Ken menarik kursi untukku, ia juga mengambilkan sepiring nasi dan juga karage yang baru saja matang. Asap masih mengepul saat aku membelahnya. Wangi bumbu semerbak memenuhi indra penciuman. Aku memakan ayamnya, dagingnya begitu lembut dan berair. Padahal di luar penampilannya begitu crispy, tapi di dalamnya begitu juicy. Ah, rasanya sangat nikmat, ingin aku mengunyahnya perlahan dan merasakan bumbu-bumbu rempah meledak di dalam mulutku.


“Enak?” Ken menunggu responku.


“Juara!!!” kataku sambil mengangkat kedua jempol tangan.


“Seneng deh kalau kamu suka. Makan yang banyak, biar yang depan ikutan besar. Pasti tambah cantik, deh.” Ken mengucapkan hal seperti ini dengan wajah culunnya.


“Ehh... ngomong apaan?!” Aku syok.


“Ra yang ajarin. Dia bilang cewek suka dipuji dengan kecantikan wajah dan bentuk tubuh.” Ken tersenyum, kini aku sedikit syok!! Ken ku yang polos dirusak oleh kepribadian Ra yang playboy.


“Tolong jangan ikut berubah seperti Ra!!” geramku, kalau begini lama-lama kepribadian Ken akan terserap oleh Ra.


“Kau tidak suka?” Ken menatapku bingung.


“Suka, tapi itu seperti bukan dirimu, Ken,” dengusku sebal.


“Oke, maafkan aku. Aku tak akan mengulang dirty joke seperti itu lagi.” Ken meminta maaf, dia menggenggam tanganku.


Aku melanjutkan makan sambil sesekali mengobrol ringan dengan Ken. Ken menanyakan apakah Daffin masih sering ikut menggambar denganku? Apakah aku masih serinh bertemu dengannya? Apakah dia melakukan hal tak senonoh padaku? Apakah dia mendekatiku?


“Iiihh...., Ken!!” Aku sebal, posesif banget sih pacarku yang satu ini?!


“Maaf, Inggrid. Aku hanya tak suka kalau dia mendekatimu.”


“Kalau begitu jangan jadi Ra terus. Temani aku saat menggambar. Tiap malam kau selalu berubah menjadi Ra,” gerutuku sebal.


“Itu perjanjianku dengannya Inggrid. Maaf, aku harus mengejar fakultas kedokteran. Jadi aku belajar saat pagi sampai sore. Lalu saat malam aku mengizinkannya mengambil alih tubuh Keano.” Ken tersenyum kecut. Aku kini tau alasannya kenapa belakangan Ra selalu muncul setiap malam.


“Baiklah, Ken. Tapi tenang saja, hanya Keano yang ku cintai. Daffin hanya teman, tak lebih dan tak kurang. Dia mentor yang hebat. Pandai berkelahi juga, aku baru tau selain skateboard dia juga bisa kick boxing.” Aku memuji Daffin panjang lebar di depan Ken, tanpa aku sadari hal itu membut Ken marah.


“Jangan memuji cowok lain di depanku Inggrid. Aku tidak suka!”


“Ken...?”


“Sudahlah, selesaikan makanmu dan pulanglah. Aku mau belajar.” Ken turun dari kursinya dan mengecup dahiku. Ia bergegas masuk ke dalam kamarnya.


“Aku salah ngomong apa?” Aku menaikan bahuku bingung.


— MUSE S4 —


•••


Aku masuk ke dalam rumah, melepaskan jaket dan sepatu sembarangan. Lalu menemui Mommy dan Daddy. Mereka sedang berpelukkan sambil menonton TV di ruang keluarga. Nick pergi les, Gabby juga sedang les biola, hanya Levin yang berada di rumah dan mengerjakan PR nya di atas coffe table.


“Sudah pulang? Kenapa cemberut?” tanya Mommy Kalila.


“Sebel sama, Ken.”


“Kenapa? Apa si monter kecil menyakitimu? Mau Daddy balas?” Daddy tertawa kecil, membuatku semakin sebal.


“Nggak usah.” Aku membanting badan di atas sofa, tepatnya di antara mereka berdua. Membuat mereka berdua terpaksa harus berpisah. Rasain!! Inilah wujud rasa sebalku.


“Ck, Inggrid.” Mommy berdecak.


“Kau nakal sekali sih?!” Daddy menggelitik perutku, membuatku menggeliat geli.


“Ampun!!!”


“Kakak kau hampir 17 tahun tapi seperti anak kecil.” Levin menyambung.


“Hoo... anak kecil tau apa?” ucapanku membuat Levin bergeleng pelan.


“Benar juga Inggrid kau sebentar lagi 17 tahun. Kau mau pesta seperti apa?” Mommy berbinar antusias. Aku yang ulang tahun kenapa dia yang bahagia?


“Ah, Mommy dulu melewatkan umur 17 tahun dengan Daddy.” tawa Daddy bangga.


“Ahahahaha, kau yang memaksaku!” Mommy menyenggol pinggang Daddy dengan tangannya.


“Apa kalian membicarakan tentang membuat bayi?!” Aku melirik mereka dengan sebal, tak bisakan mereka rahasiakan saja hal itu!


“Kau benar, ada Levin di sini.” Mommy menutup mulut Daddy.


“Apa yang tidak boleh ku dengar, Mom?”


“Tentang cara membuat bayi.” bisikku padanya.


“Inggrid!!” Mommy menjewer telingaku.


“Adududuh!! Sakit!!”


“Jadi bagaimana? Kau mau pesta ulang tahun semegah apa? Daddy akan mewujudkannya untukmu princess!” Daddy Arvin mengelus wajahku. Baginya aku memang tuan putri, hahaha...!


“Aku tak ingin pesta yang megah. Ribet, malaslah atur pestanya,” jawabku.


“Kan ada EO, kau tinggal minta saja ingin tema seperti apa Inggrid.” Mommy ikut menjawab. Memang sih, bagi cewek-cewek seusiaku, pesta ulang tahun ke 17 sangat penting. Karena umur 17 tahun menandakan kedewasaan seorang wanita. Maka dari itu, mereka bahkan tak segan-segan bersaing pesta siapa yang lebih megah dan meriah.


“Mommy dulu tak bisa merayakannya Inggrid, Mommy harap kau bisa merayakan sesuai keinginanmu.” Mommy mengecup dahiku.


“Hmm, apa ya?!” Aku berpikir, tema apa yang harus aku ambil untuk ulang tahunku.


“Dengan gaun dan tiara??!! No... not my type!!” Aku langsung menolak. Iuh banget, pake dress mengembang dan juga tiara yang berat.


“Aku tak bisa membayangkan Kak Inggrid menjadi princess.” Levin berpura-pura muntah. Pengen aku colok saja mulutnya biar beneran muntah. Tuh, kan, jiwa syco-ku keluar.


“Bagaimana kalau arabian night, kau tetap menjadi princess Inggrid. Bukankah princess Jasmin tidak memakai gaun? Dia memakai baju ala timur tengah yang tak kalah indah?” usul Mommy.


“Aladin, ya? Sepertinya seru juga!” Aku manggut-manggut.


“Kau bisa jadikan Ken, Pangeranmu. Dia bisa jadi Aladinnya.” Mommy ikut tersenyum.


“OK, deh!! Aku setuju.” membayangkan Ken memakai baju prince Ali membuat jiwa haluku bergejolak.


“Good girl! Sana mandi dan ganti pakaian. Bau asem!” Daddy menepuk pundakku.


“OK.”


Aku berlari riang naik ke dalam kamarku. Rasanya tak sabar memberitahu Ken bahwa dia akan menjadi pasangan dansaku di pesta ulang tahunku nanti.


— MUSE S4 —


•••


Seminggu ini aku sibuk mempersiapkan pesta ulang tahunku. Aku belum memberi tau Ken, aku tak mau mengganggu ujian kelulusannya. Setelah Keano menyelesaikan ujiannya hari ini baru aku bergegas menuju rumahnya.


Malamnya aku berdandan cantik. Memakai tint warna pink. Sport shirt dan celana high weist raped pendek. Aku menutup pundakku dengan outer denim berwarna hitam. Dibagian belakangnya ada bordiran bubble anggota power puff girl yang paling aku cintai. Tak lupa sepatu warrior berwarna hijau neon. Bayangin betapa cetarnya aku?


Andai saja aku sudah lulus sekolah, aku pasti akan membuat tindikan pada hidung dan juga pusar. Lalu tatto, huruf K yang pertama kali akan aku lukis di atas kulitku. Ah, sayang banget masih dua tahun lagi baru lulus.


“Lets go, bae!” Aku bermonolog dengan papan skateku. Bergerak menuju ke rumah Ken-Ken.


“Inggrid?!” tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku.


“Kak Daffin?” panggilku heran.


“Malam-malam mau ke mana?” tanyanya.


“Kakak sendiri malam-malam ngapain di sini?” tanyaku balik, inikan perumahan sekitar rumahku. Bukankah rumahnya jauh di barat taman kota? Bertolak belakang dengan perumahan tempat tinggalku yang berada di timur taman kota.


“Aku rindu padamu, seminggu ini kau tak terlihat.” jawabannya sukses membuatku tersipu malu.


“Aku mempersiapkan ulang tahunku,” kataku.


“Kau akan berulang tahun?”


“Iya, sweet seventeen,” senyumku senang.


Daffin ikut memacu papan seluncurnya dan berjalan santai di sampingku. Kami mengobrol sepanjang jalan menuju ke rumah Keano.


“Kau akan mengundangkukan?” Daffin mengerem skatenya begitu aku berhenti.


“Tentu saja, Kak. Kalian teman terbaikku.” Aku menyelipkan skate di ketiak.


“Ah, sedih juga hanya dianggap teman.” katanya.


“Kak Daffin!! Jangan menggodaku begitu donk!” Aku meninju bahunya pelan.


“Hehehe..., Rumah siapa?” tanya Kak Daffin.


“Ken, pacarku.”


“O...” Kak Daffin tampak kikuk.


“Baiklah, aku masuk dulu ya Kak.” pamitku.


“Oke, see you, Inggrid.” Aku melihat punggung Kak Daffin menjauh pergi dengan seluncurannya sebelum masuk ke rumah Keano.


Aku menurunkan bahuku dan masuk ke dalam rumah Keano. Mencium pipi Mami Melody sebelum bergegas naik ke lantai dua.


“Lama tak terlihat?” tanya Mami Melody saat aku naik setengah jalan.


“Sibuk, Mi. Menggelar pesta termegah abad ini,” jawabku berhiperbola. Lalu melanjutkan langkah kakiku masuk ke dalam kamar Ken.


BRAK!!


Pintu kamar terbuka, aku langsung melongo saat melihat Ken sedang push up sambil bertelanjang dada. Badannya terlihat lebih berotot dari pada biasanya. Sepertinya dia sering berolah raga belakangan ini. Aku jadi menggigit bibirku gemas, pesonanya semakin menggoda imanku.


Ya ampun..., Aku ingin memeluknya dan mengelus otot perutnya. Duh, Inggrid kenapa kini jadi kau yang mesum?!


“Ngapian cewek masuk ke kamar cowok?! Mana nggak ketuk pintu lagi.” celanya padaku.


“Argh, lupa, kalau malamkan jatahnya Ra, bukan Ken,” pikirku dalam hati.


“Ken mana?” Aku pura-pura tak tahu.


“Tidur.” Ra bangkit dan menghapus keringat dari tubuhnya. Membuatku semakin melongo, terpana dengan tubuh indahnya. Tanpa sadar aku menelan ludahku beberapa kali.


“Ow, bisa kau kembali dulu dan biarkan Ken muncul? Aku ingin bicara hal penting dengannya,” tanyaku masih dengan mata yang tak berkedip.


“Ck, bilang aja sama aku, ntar aku sampein.” Ra kembali mengambil ancang-ancang dan melanjutkan push up-nya.


Aku berjongkok di samping Ra, melihatnya melakukan olah raga itu. Lengannya menegang dengan kencang, lalu kendur, lalu kencang lagi. Muncul keisengan dalam benakku, aku mencolok pinggangnya agar dia kegelian.


“Hei!!” protesnya.


“Panggil Ken atau aku akan terus mengganggumu,” ancamku sambil nyengir bahagia.


“Cewek nyebelin.” gerutunya, lalu kembali push up.


Tanpa izinnya aku langsung meloncat ke atas punggungnya yang lebar. Memeluknya dengan erat. Memberikan beban tambahan pada latihannya.


“Hei cewek gila, ngapain? Turun? Nggak liat aku lagi olah raga?” Ra semakin sebal dengan kelakuanku.


“Biarin, sampai Ken keluar aku akan nempel padamu.” Aku menjulurkan lidahku padanya.


Ra memalingkan wajahnya, pandangan kami bertemu. Bisa kulihat wajahnya yang tampan terlihat lebih garang dari biasanya. Matanya yang tajam memandang mataku, dahinya berkerut karena sebal. Sepintas wajahku menghangat, jantungku berdetak tak karuan. Apa aku sudah gila? Tidak, mungkin karena dia memandangku dengan wajah Keano.


“Terserah!!” Ra kembali push up, kini push upnya semakin berat karena bertambah beban tubuhku di atas tubuhnya.


Aku memeluknya, merasakan suhu tubuhnya yang begitu panas menyentuh kulitku. Kenapa rasanya sangat nyaman? Padahal aku sadar betul dia bukan Ken. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang melaju cepat karena olah raga yang di jalaninya. Menyebalkan, aku membencinya namun juga menyukainya.


“Ra!!”


“Apa?”


“Panggil Ken.” Aku mengangkat tubuhku dan duduk di atasnya, membuatnya terjatuh karena terlalu berat.


Ra memutar tubuhnya agar terlentang, otomatis aku menindih tubuhnya. Ehem..., lebih tepatnya menindih burung kebanggannya. Hahahah...!! Sialan aku jadi salah tingkah sekarang.


“TURUN!!” teriaknya.


“Nggak!! Sampai Ken keluar.” bentakku nggak kalah kencang.


— MUSE S4 —


MUSE UP


TOLONG DI VOTE YA GAES..! Poin kalian sangat berarti bagi saya gaes...


Jangan lupa juga di LIKE DAN COMMENT


Akacih..


Love you to the moon and back. ❤️❤️