
MUSE S7
EPISODE 6
S7 \~ JERAWAT
Tapi bukannya pergi Levin malah mengkayuh sepedanya pelan-pelan di samping Leoni. Membuat gadis itu bingung, maunya apa? Leoni mencoba untuk tak terpengaruh dengan hal ini, tapi matanya tak mau diajak kompromi. Terus melirik Levin diam-diam.
_______________
“LEVIN BANGUN!!” teriakan Kalila menggema ke seluruh langit-langit kamar si bocil. Sudah pukul tujuh lebih sepuluh dan anak bontotnya ini belum juga bangun. Terpaksa Kalila naik ke kamar, menyibakkan selimut tebal yang membungkus tubuh Levin.
“Aduh, Mom. Levin masih ngantuk nih.” Levin kembali bergelung dengan selimutnya.
“Bangun sekolah!! Mau jadi apa kamu kalau nggak sekolah?!” Kalila menarik paksa tubuh Levin. Mencoba membuatnya tersadar akan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang pelajar.
“Levin sakit, Mom.” Levin beralasan, padahal dia hanya masih mengantuk dan lelah saja karena pulang pukul 4 subuh.
“Benarkah? Apa badanmu panas? Mana yang sakit?” Kalila khawatir, ia langsung menaruh tangannya di dahi Levin.
“Nggak panas kok.” Kalila mengeryit.
“Uhuk ... uhuk ...!” Levin pura-pura batuk.
“Aneh sekali, coba Mommy panggilkan kak Ken.” Kalila hendak bangkit memanggil Keano, pacar Inggrid itu adalah seorang dokter.
“Nggak usah, Mom.” Levin mencekal pergelangan tangan Mommynya erat, takut ketahuan berbohong.
“Kamu bohongin Mommy ya?!” Tapi percuma Kalila langsung tahu gelagat anaknya.
“Nggak kok.” Levin masih ngeles.
“Sudah sana cepetan bangun! Mandi! Sekolah!!!” seru Kalila pada telinga Levin. Membuat nyali Levin menciut. Memang emak-emak ga ada duanya kalau masalah kayak gini.
“Iya, iya.” Sambil menggaruk kepalanya Levin bangun. Ia terus menguap dan beranjak pergi ke kamar mandi. Kalila melihat pakaian Levin dengan heran. Siapa yang tidur dengan celana jeans dan jaket bomber? Seakan-akan Levin tertidur tanpa mengganti pakaiannya.
Kemarin aku cek, dia tidur pakai piyama. Kalila mengingat-ingat, perasaan semalam pas menyelimuti Levin anak itu tidur dengan piyama lengan panjang bergambar garis-garis vertikal.
Kalila memilih acuh, jam sudah hampir menunjuk pukul delapan. Masih ada Gabby, Nick, dan juga Arvin yang harus ia urus. Kalila akan bertanya nanti pada Levin setelah pulang sekolah.
Dimeja makan mereka berlima makan dengan nikmat. Sesekali tertawa saat mengobrol, hanya Levin yang terlihat tak bersemangat. Masih mengantuk.
“Hei berandalan kecil, Jam berapa kamu tidur semalam?” Nick mengusik kepala Levin, membuat Levin tersadar dari rasa kantuk.
“Ck, urus saja urusanmu sendiri, Bang!!” Levin menepis tangan Nick, lalu bangkit berdiri.
“Levin berangkat dulu.” Pamitnya.
“Daddy antar?” tawar Arvin.
“Nggak, naik sepeda aja, Dad.” Tolak Levin.
Levin meninggalkan ruang makan, mengambil sepeda kesayangannya dan melesat menuju ke sekolahan. Di tengah jalan ia melihat Leoni berjalan malas ke sekolahan.
“Hei Singa. Mau nebeng?” tanya Levin.
“Nggak, duluan aja deh.” Leoni merasa heran, kenapa mendadak si lucknut ini jadi baik ke dia? Pasti ada udang di balik bakwan.
“Seriusan nggak mau bareng?”
“Nggak, Levin! Udah sana pergi!” usir Leoni.
Tapi bukannya pergi Levin malah mengkayuh sepedanya pelan-pelan di samping Leoni. Membuat gadis itu bingung, maunya apa? Leoni mencoba untuk tak terpengaruh dengan hal ini, tapi matanya tak mau diajak kompromi. Terus melirik Levin diam-diam.
Ternyata dia ganteng juga. Wah, mikirin apa aku ini?! Bisa-bisa kepala Levin berubah besar saat mendengarnya. Tapi emang ganteng sih, argh, Leoni hapus bayangan itu!! Pergolakan batin terjadi dalam hati Leoni saat melihat Levin.
“Hari ini olah raga berenang bukan?” tanya Levin.
“Iya, aku malas sekali.”
“Kenapa? Pelajaran berenang adalah pelajaran yang paling aku nantikan.” Levin terkikih.
“Agh, benar!! Jesca memang montok.” Levin mengangguk. Hidungnya melebar saat membayangkan Jesca.
“Iuh, jijik,” desis Leoni sebal.
“Kau irikan, karena baik dada maupun pantatmu rata?” Levin mentowel pipi Leoni.
“Si—siapa yang iri?” Leoni berkacak pinggang.
Levin menyentuh dadanya sendiri, lalu menyentuh dada Leoni. Membandingkan keduanya.
“Tak ada perbedaan, mana mungkin kau tidak iri dengan Jesca?” Levin terkikih.
“Cowok Brengsek!” Leoni memukul Levin dengan tasnya, tapi lusut. Levin sudah mengkayuh sepedanya dan melesat pergi.
“Weekk!!” Ejek Levin.
“Sialan!! Nyesel banget sempat puji dia ganteng tadi!” Leoni menggeram marah. Ia lantas memungut kembali tasnya dari jalanan. Jatuh saat memukul Levin tadi.
Kapan ya aku menstruasi? Kata Mama kalau belum bulanan, tubuh belum terbentuk indah. Jadi akan rata begini. Leoni mulai berpikir. Emang benar sih, rata banget.
— MUSE S7 —
Di dalam kelas, Levin hanya tiduran. Tidur jam empat subuh, ditambah harus bersepeda kencang menghindari polisi membuat tubuhnya lelah. Beberapa orang teman Levin satu gang berkerumun di dekat Levin. Ada Bryan, Chiko, dan Farel. Ketiganya juga adalah anak nakal yang biasa keluyuran malam, mereka juga yang mengajak Levin melihat balapan liar. Levin sudah seperti pemimpin mereka.
Bryan terlihat sangat menghormati Levin, pengikut paling setia, selalu berdiri di belakang Levin, di mana ada Levin di situ ada Bryan. Chiko paling pendiam, namun tak pernah ketinggalan saat mereka menjahili anak lain yang lebih lemah, terakhir Farel, dia yang paling brandalan, efek broken home dan kekerasan dalam rumah tangga. Farel yang sering ikut ayah dan kakaknya bertanding balapan liar adalah pencetus ide pertama mereka keluyuran di malam hari.
Beberapa orang cewek juga terlihat berada di dekat Levin. Mereka adalah Jesca dan Anya. Gadis-gadis yang merasa paling cantik satu sekolahan. Anya adalah sepupu Chiko dan punya hubungan dekat dengan Bryan. Sedangkan Jesca menyukai Levin. Jesca yang cerewet membuat suasana di geng mereka cukup ceria. Sedangkan Anya lebih pendiam, tapi suka tersenyum. Jesca selalu berdandan dengan cantik, menyisir rapi rambutnya, pita, assesoris, dan baju yang rapi. Selalu membawa kipas elektrik ke mana-mana.
“Lihat siapa yang datang?” Jesca menyindir Leoni yang baru saja masuk ke dalam kelas.
“Si Singa.”
“Woi Singa, keren sekali rambutmu hari ini!” teriak Jesca.
“Thanks,” jawab Leoni acuh, sudah biasa mereka menyindir Leoni mirip singa, siapa lagi yang ngajarin mereka kalau bukan Levin.
Leoni sudah hapal betul sikap para sahabat-sahabat si Levin. Ia memilih diam, tak ingin membuat rincuh. Leoni bisa saja membalas mereka, tapi itu tak akan membuat keadaan membaik, yang ada malah tambah buruk.
“Hei, Singa, kenapa jerawatan? Kau lagi jatuh cinta ya?” Jesca menunjuk dahi Leoni, Leoni mendadak langsung mengusap dahinya. Ada jerawat memang. Leoni mengeryitkan alis, tak pernah ada jerawat di atas wajahnya sebelumnya.
Argh sial!! Leoni mengumpat dalam hati, ia berkaca pada ponselnya. Ternyata benar ada jerawat menonjol pada jidatnya.
“Wah, wah, Singa lagi puber.” Jesca dan Anya menghampiri Leoni, duduk pada meja.
Leoni tak menggubris ucapan keduanya, masih sebal melihat ke arah benjolan sebesar kacang hijau yang tumbuh meradang pada permukaan dahi. Kenapa tahu-tahu bisa muncul? Padahal perasaan semalem belum ada?
“Woi, Singa, dengerin donk kalau kita lagi ngomong,” cela Jesca, Anya mengangguk.
“Kembali ke bangku kalian, jangan kotori mejaku dengan bokong bau kalian!” Leoni sewot.
“Hei, siapa yang kau bilang bau?!” Jesca mengeplak kepala Leoni. Leoni menahan geram.
“Hei!! Kenapa masih diam?!” Jesca hampir memukul Leoni lagi, tapi sebuah tangan menghentikan aksinya.
“Levin?!”
“Apa yang kau lakukan?!” Levin menatap tajam ke arah Jesca.
“Aku ... aku hanya menggoda Leoni.”
“Hanya aku yang boleh menggodanya.” Levin menghempaskan tangan Jasca.
...— MUSE S7 —...
...Ayo di like sama di comment...
...😝😝...