MUSE

MUSE
S7 ~ SUKA



MUSE S7


EPISODE


S7 \~ SUKA


Wajah Levin merona kemerahan. Tak pernah menyangka bahwa Leoni punya rasa yang sama dengannya. Levin kira selama ini Leoni tak pernah menyukainya karena mereka selalu bertengkar, beradu mulut, dan juga berkata-kata sarkastik.


____________________


Angin bertiup spoi-spoi, pagi yang hangat untuk memulai hari. Levin kembali masuk ke dalam kamarnya. Merebahkan diri di atas ranjang. Salah satu tangannya diperban rapat, dokter juga tak mengizinkan luka itu terkena air terlebih dahulu selama satu minggu.


Liburan hari tenang tinggal 3 hari lagi. Levin malas belajar. Bukan karena dia bodoh, tapi karena dia sudah hapal betul dengan semua pelajaran dari kelas 1-3 SMP. Levin adalah anak yang cerdas, IQ nya di atas rata-rata.


Aku malas belajar, apa yang harus aku lakukan untuk membunuh waktu, pikir Levin gusar. Ia memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri, mencoba untuk terlelap lagi. Tapi tetap saja usahanya sia-sia, matanya tak mau terpejam di pukul 9 pagi.


Levin bangkit mengumpulkan upil dengan jari kelingkingnya. Duduk di tepian ranjang hendak membaca majalah peninggalan abangnya, Nick (kalian tentu tahu majalan macam mana ini!! Dasar anak-anaknya Arvin!).


BRAK!!


Tiba-tiba pintu kamar Levin terbuka lebar. Levin yang sedang mengupil sembari membuka lembar pertama majalahnya langsung tersentak kaget. Cepat-cepat ia menyembunyikan majalah itu ke bawah bantal.


“Singa?!” Levin terperanjat, mau apa Leoni datang ke rumahnya. Mana tak mengetuk pintu terlebih dahulu, lagi! Mana bikin sebal karena mengganggunya menikmati masa muda sebagai pria sejati.


“Sudah dapet berapa kilo?” Leoni mencibir kelakuan jorok Levin yang sedang mengupil.


“Mau?” Levin menunjukkan upilnya.


“Iuuhhhh!!! Jijik!!” Leoni bergidik. Ia lantas menyerahkan tisu pada cowok tengil itu.


“Ngapai kemari? Kok masuk nggak ketuk pintu dulu? Bikin kaget aja!” Levin melemparkan tisu ke dalam kotak sampah di sudut ruangan.


“Pintunya nggak ketutup rapat kok. Jadi aku langsung aja masuk.”


“Dasar, kaukan cewek!! Kalau aku lagi ganti baju gimana? Kalau aku lagi ....”


“Lagi baca buku porn0 gimana?” sahut Leoni, wajah Levin merona. Malu ketahuan membaca majalah esek-esek di siang bolong.


Leoni tertawa, ia sudah berdiri di depan pintu kamar Levin beberapa menit yang lalu. Matanya membulat saat melihat majalah dewasa di tangan Levin, ia cepat-cepat membuka pintu saat Levin membuka bukunya.


“Hish ... ngapain sih kemari? Kalau udah tahu ngapain masih masuk dan gangguin kesenangan orang?!” Levin mendadak sewot, marah untuk menutupi rasa malunya.


“Aku kemari buat bantuin kau, Vin. Kan tanganmu terluka gara-gara aku. Jadi aku mau berterima kasih, biar aku gantiin tanganmu, ya.” Leoni duduk di samping Levin, pria itu memandang Leoni tajam.


“Aku itu cuma luka sayat, bukannya cacat. Mau bantuin apa?”


“Ya apa gitu, bawakin makanan, suapin, pakaiin baju, mandiin juga bisa.” Leoni nyengir.


“Serius, mau mandiin aku?” Levin memendarkan matanya, bahagia.


“Iya, ntar aku mandiin, tapi sama Papaku juga.” Leoni terkikih, dia ternyata hanya menggoda Levin.


“Sialan!! Itu namanya bukan nolongin, tapi nyelungsepin.” Levin bangkit berdiri.


“Pulang sana!! Aku nggak perlu dibantuin kok.” Levin memilih kaset game pada bufet TV.


“Nggak mau!! Pokoknya aku mau bantuin!! Jadi ganti tanganmu. Mama sudah izinin, Tante Kalila juga bilang OK!” Renggek Leoni.


“Memangnya kamu nggak belajar untuk ujian kelulusan?” tanya Levin.


“Belajar kok, kan ada kamu! Aku bisa belajar di sini! Nanya juga kalau ada yang nggak ngerti!” Leoni keukeh dengan pendiriannya.


“Yah, itu namanya ngerepotin, Singa!! Bukan bantuin!” Levin semakin sewot, ada-ada aja kelakuan anak satu ini.


“Huft!!! Pokoknya aku mau bantuin! Titik!” Leoni merebahkan diri di atas kasur empuk Levin. Ekor matanya menyapu ke seluruh ruangan. Banyak poster-poster motor GP, juga kendaraan-kendaraan sport. Ada juga beberapa tempelan foto-foto dengan Farel, Bryan, dan Chico. Ranjang king size itu terletak di sudut ruangan, lalu ada lemari sebelum menuju ke kamar mandi. Di depan ranjang ada bufet TV lengkap dengan konsol game dan juga speaker besar. Di samping ranjang ada meja belajar. Semua di dominasi warna biru tua dan putih.


Leoni menyahut majalah yang mengganjal di kepalanya. Majalah dewasa, Leoni membuka-buka majalah itu sementara Levin memunggunginya sembari bermain game.


“Apanya yang besar? Selera apa?” Levin menoleh, “HEI!!” Pria itu langsung berseru dan menyahut majalahnya dari tangan Leoni.


“Hehehe, dasar pria mesum.” Leoni terkikih.


“Tak ada pria di dunia yang tidak menyukai hal seperti ini, kecuali dia tidak normal alias bencong!!” Levin mengeryitkan alisnya sebal.


“Apa susah membuat dada sebesar itu?” Leoni melirik punyanya sendiri. Menonjol sih, tapi tidak besar.


“Padahal punya Mama sangat menonjol, kenapa aku tidak ya?” Leoni kembali mendesar resah, masa iya dia kepikiran dengan ukuran dada karena selera Levin ternyata ber cup-D?


Wajah Levin menghangat. Apa gadis ini tak tahu malu? Meresahkan tentang dadanya di depan seorang pria?!


“Dasar cewek!” Levin berusaha mengalihkan fokusnya pada game. Ia mulai memainkan game petualangan.


“Kayaknya seru.” Leoni duduk di samping Levin.


“Cuma bisa satu orang.” Levin menghalau keinginan Leoni ikut bermain game.


“Ceritanya tentang apa?” tanya Leoni.


“Liat aja sendiri.”


“Bahasanya inggris!”


“Ya belajar bahasa inggris donk.”


Bosan mendengar jawaban ketus dari Levin, Leoni memilih untuk terdiam dan menatap game. Ia tengkurap di samping Levin. Levin juga tengkurap sambil bermain game. Leoni beralih pandang, ia menatap lamat-lamat ke arah wajah Levin. Wajah itu tetap terlihat sempurna dari samping. Beruntung wajah Levin tidak terluka. Kalau sampai terluka mungkin Leoni akan mencari Farel dan mencabiknya sendiri.


“Vin ...” Leoni mulai mengantuk. Silir angin dari AC membuatnya terkantuk.


“Heung?” tanya Levin malas-malasan.


“Makasih ya, makasih sudah nolongin aku.” Leoni menutup matanya. Levin menengok Leoni.


“Maaf juga ya, Vin. Gara-gara aku kau terluka, gara-gara aku juga kau kehilangan impianmu.” Leoni semakin kehilangan kesadarannya.


“Vin, maaf ya, maaf karena aku egois. Jujur, aku bahagia saat kau tak harus pergi ke luar negeri.” Leoni mulai merancau, matanya sayup-sayup lantas terpejam.


“Kenapa?”


“Karena aku nggak mau kehilanganmu, Vin. Aku suka sama kamu.” Leoni tersenyum, lalu tertidur.


“Suka sekali, suka ... sekali ..., ngrokk!!” gigau Leoni sebelum tertidur.


Wajah Levin merona kemerahan. Tak pernah menyangka bahwa Leoni punya rasa yang sama dengannya. Levin kira selama ini Leoni tak pernah menyukainya karena mereka selalu bertengkar, beradu mulut, dan juga berkata-kata sarkastik.


“Benarkah kau menyukaiku?” Levin tersenyum. Pria itu menatap lamat ke arah Leoni yang mengangguk pelan, alam bawah sadarnya masih merespon pertanyaan Levin dengan jawaban jujur.


“Aku juga mencintaimu, Singa.” Levin mengecup pelan bibir Leoni. Mengecupnya sampai tiga kali. Kesempatan yang jarang terjadi karena Leoni berbeda saat ia bangun.


Levin mengelus pucuk kepala Leoni. Lalu memberikan bantal pada kepalanya, membuat gadis itu merasa nyaman.


Tidurlah, Leoni.


...— MUSE S7 —...



...Baca donk!! Di w e b n o v e l...


...💋💋💋💋💋...


...Minta vote dan kommentnya...


...Makasih bellecious...