
MUSE
EPISODE 18
TAK TERTAHANKAN
\~Alex hanya diam, ciumannya terasa hangat di pundakku. Membuatku memejamkan mata karena menikmatinya.\~
Cantik..
Keren..
Posenya stunning banget..
Matanya violet..
Kok sekarang ga motret wild life lagi?
Ekspresinya kurang..
Itu kok bisa putih banget?
Kurang natural..
Isinya cewek ini terus sekarang..
Bla.
Bla..
Bla...
Seperti itulah comment dari para netizen tentang foto-fotoku di akun Julius. Ada pro ada kontra, ada dukungan ada cacian, ada hal positif dan ada juga hal negatif. Julius selalu mengingatkanku agar santai saja menanggapinya. Tiap orang bebas menilai orang lain, dan kita juga berhak menyaring penilaian mereka.
“Kau melamun apa?” Julius mendekatiku dengan secangkir coklat panas.
“Terima kasih.” Aku menerimanya.
“Aku hanya melihat sosmed, membaca comment-comment mereka tentangku.” Aku meletakan ponsel di atas meja.
“Mau aku matiin kolom komentarnya?”
“Nggak perlu, aku suka kok membacanya. Lagian aku sudah cukup dewasa untuk menyaring mana yang baik dan buruk untukku.”
“Kau sudah nggak marah?” Julius duduk di sebelahku.
Aku masih menyandarkan kepalaku dengan malas di sandaran sofa. Julius melihatku dengan tatapan yang hangat. Dia tidak tahu kalau tatapannya mampu membuat banyak wanita meleleh.
Aku menghindari tatapannya dan menyeruput pelan coklat di depanku.
“Masih marah, ya?”
“Nggak kok, tapi lain kali jangan begitu, Kak. Orang bisa salah paham.”
“Kenapa peduli? Kau takut temanmu Alex melihatnya?”
Aku nggak menjawab Julius, memang nggak masuk akal juga sih kalau aku hanya mementingkan perasaanku sepihak, kan belum tentu Alex juga menyukaiku.
“Padahal aku menulisnya dengan serius.” Julius menyandarkan tubuhnya ke sofa, mengikutiku.
Aku melirik ke arahnya 2 kancing atas kemejanya terbuka. Aku menutup wajahku yang memerah. Kenapa aku malah teringat kejadian kemarin?
“Hei wajahmu merah sekali? Kamu demam?” telapak tangan Julius mendarat di dahiku, membuatku tersentak kaget.
“Nggak kok.” Aku beranjak untuk berdiri seketika dan membuat coklat di tanganku tumpah.
“Aduh panas,” rintihku.
“Kamu nggak pa-pa?” Julius menarik tanganku dan membasuhnya dengan air dingin.
“Darren, tolong salep luka bakar.” Julius berteriak.
“Aku nggak apa-apa.. sungguh.” Aku menegaskan dan hendak menarik tanganku tapi tenaganya yang kuat menahanku.
“Tunggu aku oleskan salepnya.”
“Terima kasih,” canggung banget.
Aku merasakan salep gel dingin menyentuh kulitku, diikuti usapan lembut dari telunjuk Julius. Aku terpaku mengamati wajahnya yang tampan.
“Sudah. Kamukan calon model, sayang kalau sampai muncul bekas luka.” senyuman sekali lagi tersungging jelas di wajahnya.
Aku menarik perlahan tanganku dan mendekatkannya di dadaku. Perasaan apa ini Tuhan? Detak jantungku berubah tak beraturan, perutku berdesir dan geli.
“Aku harus pulang.” Aku menyahut tas dan berlari keluar, mencoba menghentikan rasa yang muncul di dalam hatiku.
—MUSE—
“Alex.” Aku memanggil Alex dari kejauhan.
Hari ini kami berjaji untuk melihat festival seni di fakultasnya. Acara tahunan di fakultas kesenian, banyak acara hiburan dan juga stand makanan.
Aku bahkan berencana untuk mengikuti lomba body painting.
Alex berdiri di dekat air mancur, rambutnya melambai tertiup angin. Kenapa dia sangat imut membuatku ingin mencubit pipinya?
“Lenna.” Alex tersenyum melihatku.
Aku bahagia melihat Alex tersenyum padaku. Kadang aku berfikir, kalau cinta itu memang sangat aneh. Kita bisa merasa senang hanya dengan hal-hal kecil seperti ini.
“Kau mau berjalan-jalan dulu atau langsung bersiap?”
“Hmm.. mungkin langsung bersiap saja.” Aku nggak mau berkeringat karena pasti sangat memalukan.
“Kau mau pake tema apa?”
“Biasanya seperti apa?”
“Binatang? Abstrak? Sensual?”
“Fairytail bagaimana? Bisakah aku menjadi seorang peri?” tanyaku girang.
“Boleh juga, cocok dengan imagemu.” jawab Alex.
“Itu impianku saat kecil,” aku terkikih.
“Hahahaha.. ayo kita wujudkan.” Alex menggandeng tanganku.
Sengatan listrik kembali menyalur saat kulit kami bersentuhan. Aku menyukainya, sungguh menyenangkan bisa merasakan genggaman tangannya yang hangat.
Aku nggak peduli dengan pendapat orang yang terus menatap kami saat ini, yang pasti aku terlalu bahagia.
“Ke apartemenku.”
“Hah???” Aku melongo kaget.
Kami sampai di apartemen no 1405, sebuah studio. Aku masuk dan melepas sepatuku, di sebelah kiri ada pantry dan mesin cuci, kanan ada rak sepatu, di depan kiri ada sebuah ranjang queen size dan di depan kanan ada sofa kecil. Ruangan yang sangat rapi, kamarku saja tidak serapi ini padahal aku seorang wanita. Aku duduk di sofa, Alex mengambil 2 cangkir dari pantry dan menyeduhkan teh celup untuk kami berdua.
“Gula?”
“Sedikit saja.” Aku mengangguk pelan.
“Ini.” Alex kembali dengan dua cangkir di tangannya.
“Terima kasih.”
Aku meniup beberapa kali permukaan teh sebelum meminumnya. Mataku masih jelalatan melihat-lihat kondisi kamar Alex. Ada beberapa kanvas yang belum terpakai di ujung ruangan. Di atas nakas ada sebuah foto yang terbingkai cantik. Ada Alex dan seorang wanita. Rambut Alex masih pendek, wajahnya juga nggak banyak perbedaan. Seorang gadis cantik membawa bunga di tangannya. Rambutnya panjang dan bergelombang, wajahnya yang cantik dihiasi senyuman manis karena giginya yang gingsul.
“Curang, bagaimana bisa ada cewek terlahir secantik ini.” Aku bergumam dalam hatiku.
“Len.. Lenna.” panggil Alex.
“Ah.. iya..” Aku tersentak.
“Kamu ngelamunin apa?” Alex tersenyum.
“Aku ngelihat foto itu. Pacarmu?” tanyaku lirih.
“Dulu iya, sekarang hanya teman.”
“Ow gitu.”
“Mana ada teman yang menyimpan foto berdua di dekat kasur,” pikirku.
“Kau masih menyukainya?” Aku kembali bertanya, padahal aku tahu aku nggak ada hak untuk ikut campur masalah pribadi Alex.
“Entahlah, aku rasa perasaan itu sudah lama menghilang.” Alex menundukan kepalanya. Dia berjalan dan mengambil foto itu, melihatnya sebentar dan memasukannya kedalam laci nakas.
“Kau mau berganti pakaian?”
“Iya.” Aku menyudahi pembicaraan kami dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Aku berganti dengan tank top putih dan celana ketat pendek dengan warna senada. Aku sedikit malu, menurutku ini terlalu terbuka.
“Apa kau merasa tidak nyaman?” Alex mengelus punggung tanganku lembut.
“Sedikit.”
“Kalau kau nggak nyaman nggak usah ikutan contes.” Alex mendekatiku.
“Aku ingin ikut.” Aku membalas tatapan Alex.
Aku benar-benar ingin mengikuti kontes itu, merasakan warna-warna yang memenuhi tubuhku. Aku ingin punya warna. Lagian bukankah seorang model profesionalpun harus bisa menghadapi segala macam situasi saat berjalan di catwalk.
Alex mengambil beberapa kuas, cat warna, air, dan beberapa perlengkapan lainnya.
“Aku pakai tinta yang khusus body paint, jadi kemungkinan alerginya berkurang.”
“Terima kasih, Lex.”
“Kemarilah.” Alex menarik tanganku untuk mendekat.
Aku sedikit merasa geli saat ujung-ujung kuas menyentuh kulitku. Alex terlihat serius, kepalanya sedikit menunduk, membuat poni rambut menutupi wajahnya yang imut.
“Kenapa senyum-senyum?” Alex melihatku tersenyum.
“Geli,” bisikku.
Alex menyentuh punggungku membuatku sedikit merinding dan bergetar.
“Maaf aku menyibakkan rambutmu.” kata Alex.
“Oh.. aku bisa menguncirnya.” Aku mencoba menguncir rambutku.
Alex membantuku mengikat naik rambutku dan memamerkan leherku yang jenjang.
Sentuhan tangan Alex yang dingin berpindah. Saat ini dia melingkarkan lengannya memeluk perutku. Kepalanya bersandar, dan bisa kurasakan bibirnya menyentuh pundakku.
“Lenna. Maaf, aku nggak bisa menahannya.” Alex berbisik pelan.
“Apa yang nggak bisa kau tahan?” Aku tersentak kaget.
Alex hanya diam, ciumannya terasa hangat di pundakku. Membuatku memejamkan mata karena menikmatinya.
“Len.. Bolehkah aku menciummu?” Alex memutar badanku.
Aku mengangguk pelan.
Alex menyelipkan kedua tangannya di bawah telingaku, mencium lembut bibirku. Aku nggak tahu harus bersikap bagaimana? Aku sangat kikuk.
“Alex aku nggak bisa bernafas.” Aku mendorong Alex sedikit menjauh.
“Maaf.”
“Kenapa kau terus meminta maaf?”
Alex kembali mendekatkan wajahnya, dahi kami bersentuhan. Nafasnya yang panas terus menular padaku, aku kembali menyambut ciuman lembut Alex.
Alex mendorongku di atas kasur. Cat warna berserakan di bawah karena jatuh tersenggol.
“Kau mau melanjutkannya?” tanya Alex, tubuhnya tepat berada di atasku. Tangannya mengunci kedua pergelangan tanganku. Hanya kakiku yang masih memberikan jarak kepada tubuh kami saat ini.
“Alex.” Aku merintih memanggil namanya saat dia mencium ke belakang telinga dan sampai ke leherku.
“Tolong tolak aku Lenna atau aku akan meneruskannya.” Alex membuang muka, wajahnya sangat merah.
Aku menginginkannya juga, aku ingin merasakan tubuh Alex semakin dekat denganku. Tapi aku juga merasa takut, aku bimbang.
Aku harus bagaimana?
—MUSE—
Like, comment, and +Fav
Follow dee.meliana for more lovely novels.
❤️❤️❤️
Thank you readers ^^