
MUSE S7
S7\~ CEMBURU
\~Kalau bisa Levin mau ngebut lagi aja biar Farel tersiksa. Siapa tahu pas ketakutan ia akan meninggalkan Leoni sebagai jaminan Levin mau menghentikan motornya.\~
__________
Farel menyeringai, “Sayang sekali, Singa. Padahal kita kan mau menginap.” imbuh Farel. Mata Leoni mendelik galak ke arah Farel yang punya mulut tapi ngomongnya seenak udeelnya sendiri. Bo dong emang ini si Farel!!
“Menginap??” Levin tergagap, alisnya naik satu. Mana rela ia membiarkan Leoni menginap dengan serigala bernama FAREL!! Nah loo Vin!! Mau apa lo sekarang??
“Kita engg—hmp!” Farel membekap mulut Leoni rapat-rapat. Sedang Leoni memberontak, takutlah kalau Levin ntar malah tambah menjauh dan bukannya baikkan. Ih … gemesh deh sama kelakuan si Farel.
“Kamu masuk dulu saja sana, Sayang!! Biar cowok bicara sama cowok!” Farel mendorong bahu Leoni agar lekas menaiki tangga menuju ke kelasnya. Farel sempat mengedipkan mata sebagai isyarat, ‘serahkan Levin padaku! Aku akan memanas-manasinya sampai mendidih.’
“Rel …”
“Udah sana cepetan!!” Farel mengusir Leoni.
Leoni pasrah, ia pun menaiki tangga menuju ke lantai dua dan kembali ke kelasnya untuk menuntut ilmu. Sementara itu Farel dan Levin masih bersitatap seakan masih adalah hal yang belum terselesaikan.
“Ambil!!” Farel melemparkan kunci motornya pada Levin.
“Heung??” Levin bingung.
“Pengen tahu rasanya di boncengin sama pembalalap.” Farel nyengir.
“Jangan minta ampun ya!! Awas aja kalau takut dan minta berhenti.” Levin menyeringai.
“Mana mungkin!” Farel berdecak.
Levin pun bergegas mengambil motor Farel. Ia menyalakan motor dan memutar gasnya, suara deruan mesin yang galak langsung menyambut Levin. Levin manggut-manggut, boleh juga selera Farel.
“Naik kalau berani!” Levin menantang Farel.
“Ck, kan emang aku yang minta dodol!!” Farel melemparkan helmnya pada Levin sementara ia pakai helm Leoni. Unyu banget nggak sih??
Levin langsung tancap gas begitu Farel naik di belakangnya. Levin memacu kecepatan motor stabil di jalan raya enam puluh sampai delapan puluh kilo meter per jam.
“Yeh, cemen amat!” Farel mengejek Levin. Levin hanya tersenyum, dia tak mungkin mengebut di jalanan padat merayapkan? Namanya bunuh dirilah!
Levin membelokkan stang motor ke arah jalur kiri dan berbelok di jalan besar menuju ke pintu masuk tol. Mata Farel membulat saat Levin dengan nekatnya menerobos gerbang tol.
Kopling dilepas bersamaan dengan tancap gas sekuat mungkin. Motor melesat cepat, memasukki wilayah tol yang seharusnya hanya boleh di lewato oleh mobil. Kedua anak manusia itu memacu adrenalin dan menantang dewa kematian dengan perbuatan nekat mereka.
“Gila!! Bocah sin ting!!” seru Farel.
“Kenapa?? Elo takut?? Baru juga seratus dua puluh!!” seru Levin.
“Lihat depan dodol!!” Farel mengeplak kepala Levin.
Levin semakin galak memutar gas, wajahnya mulai serius seakan ia sedang melakukan balapan dengan para rider lain. Farel mulai merasakan wajahnya kebas karena angin.
Motor itu semakin melesat cepat tak kala satuan pengaman lalu lintas mulai mengejar mereka. Farel menjadi pucat, Levin benar-benar gila, bukannya berhenti malah nambah kecepatan, spedo mulai menyentuh angka seratus empat puluh kilo per jam.
“An ying, mau bunuh diri jangan ngajak-ngajak anak orang!” ketus Farel.
“Gila!!”
“Heh … takutkan?!” Levin terkekeh.
“Enggak!!” Seru Farel karena angin kencang menelan suaranya.
“Oke!” Levin menambah lagi kecepatannya. Motor menyelip nyeli di antara mobil dan langsung membuat jantung Farel berdebar-debar tak karuan. Sensasi pacuan adrenalin yang membuatnya merasa takut sekaligus bahagia. Otaknya sungguh menikmati semua ketakutan itu.
.
.
.
“Hoek!! Hoek!!” Farel muntah.
“Ini!” Levin memberikan ice cream cup ke Farel agar mabuknya reda. Levin sedikit berdecih karena Farel yang sok kuat dan sok berani menantang Levin justru pucat dan mengenaskan setelah melewati spedo seratus lima puluh.
“Beengsek! Aku kira nyawaku terbang tadi.” Farel menyahut ice cream dari tangan Levin dan langsung memakannya dalam satu suapan besar. Dinginnya ice cream langsung membuat kepala Farel plong dan gejolak rasa mualnya tenang.
“B loon! Ngapain sok keren dan sok gaya pengen ngetes segala?” Levin menenggak air mineral.
Farel kehabisan kata, ia memilih memakan ice creamnya. Keduanya tersesat di sebuah rest area. Hampir semua mata menatap mereka karena merekalah satu-satunya pengendara yang menggunakan motor.
“Itu mereka! TANGKAP!!” Polisi akhirnya berhasil menyusul.
“Ah!! Sialan!!” Levin melemparkan helmnya lagi ke Farel.
“Ah!! An ying!!” Farel membuang cup ice cream dan langsung meloncat naik ke atas goncengan Levin. Keduanya kembali mengebut di jalanana. Kali inj tangan Farel menyabuk di pinggang Levin karena takut.
“Astoge!! Senjata makan tuan ini ma namanya!!” Umpat Farel gemas dengan dirinya sendiri. 🤣
Keduanya akhirnya bisa lolos keluar dari kejaran polisi dan keluar di gerbang tol! Masuk kembali ke kota. Levin mulai memperlambat laju kendaraannya untuk pulang.
“Lepasin!” Di tengah jalan Levin menceples tangan Farel yang masih bersarang di pinggangnya. Geli banget, masa dipeluk sama cowok! Enggak bangetlah!! Mana cowok ini pacaran sama mantannya lagi. Eh, iya, Levin jadi teringat tentang nginap menginap.
“Hei!”
“Heung?? Apa?” Sahut Farel malas.
“Kamu beneran pacaran sama Leoni?” tanya Levin.
“Hoo!” jawab Farel. Levin mengeratkan rahangnya. Ah ... cemburu!! Kalau bisa Levin mau ngebut lagi aja biar Farel tersiksa. Siapa tahu pas ketakutan ia akan meninggalkan Leoni sebagai jaminan Levin mau menghentikan motornya.
“Terus?? Kalian beneran mau menginap?!”
“Hoo!”
Levin memutar gas kencang-kencang! Menginap?? Bahkan Levin tak bisa menyentuh Leoni apalagi sampai unboxing! Ugh!! Membayangkannya saja membuat hati Levin panas.
“Berhenti!!! Levin!!!” Seru Farel dengan wajah pucat.
...— MUSE S7 —...
Bayangin muka pucet Farel 🤣