
MUSE S5
EPISODE 3
S5 \~ MENGHILANG
\~ Sepertinya aku mesti berterima kasih pada Tuhan kerena telah memberikan kesempatan padaku untuk bisa memandang wajah cantiknya lebih lama.\~
_________________
BELLA POV
Teeett ...!
Bel tanda pulang sekolah berbunyi, aku bergegas memasukkan semua buku kembali ke dalam tas. Tak lupa aku menghidupkan akun aplikasi jasa kurir online. Berharap akan ada Klein yang menghubungiku untuk memberikan pekerjaan.
“Woi, Bel!!” sapaan Tasya membuatku hampir melemparkan ponsel karena kaget.
“Ya ampun, untung aja nggak jatuh, Sya!” tukasku sebal. Sahabatku yang satu ini bikin jantungan saja, mana cicilan ponselnya masih 3 bulan lagi baru lunas.
“Sory, Bel. Aku terlalu bersemangat mau ngasih tahu kamu sesuatu.” Tasya mengambil sebuah selebaran dari dalam tasnya.
“Apaan ini, Sya?” Aku melihat selebaran berdominasi warna biru di tangan Tasya. Ada gambar pertandingan olah raga yang disponsori oleh sebuah minuman pengganti ion tubuh.
“Kerjaan, Minggu depan jadi SPG minuman isotonik di Universitas GR. Mau nggak?”
“Berapa gajinya?” tanyaku balik, aku harus tahu nominal fee-nya sebelum meninggalkan pekerjaan utamaku sebagai kurir pengantar barang. Kalau nggak lebih besar aku nggak mau menerimanya.
“50 ribu per jam, ntar masih dapat insentif kalau berhasil jualan lebih dari 500 botol.” Tasya menerangkan isi blosur lowongan kerja dari sebuah merk minuman isotonik yang terkenal itu.
“Berapa jam kita kerja?”
“4-6 jam, lumayankan 200-300 ribuan.” Tasya memasukkan kembali blosurnya.
Aku manggut-manggut menimbang usul Tasya, lumayan juga sih, lagian aku hanya berhasil mengumpulkan 100-200 ribu saja saat bekerja sebagai kurir antar barang.
“Boleh, Sya. Daftar ke mana?” tanyaku.
“Aku daftarain deh. Aku juga mau ikutan kok.” Tasya menepuk pundakku.
“Oke, Sya. Kabari ya,” pintaku.
“Sip, sip. Kamu udah mau berangkat kerja, Bel?”
“Iya, nih, mau ganti baju dulu,” jawabku.
“Hati-hati, Bel.”
“Sory, aku duluan ya, Sya, aku sudah nahan pipis dari tadi.” Aku bergegas meninggalkan Tasya, hasrat ingin berkemih sudah mulai tak tertahankan, meminta penyaluran atau pasti aku akan mengompol di celana. Iuh, bangetkan?!
“Toilet cewek lagi di bersihin!” teriak Tasya.
“Pake toilet cowok!!” Teriakku.
Jam pulang sekolah sudah berlalu dari tadi, paling juga para murid-murid cowok sudah pada pulang.
Aku berlari pada ujung koridor, tempat di mana toilet sekolahan terletak. Toilet cowok berhadap-hadapan dengan toilet cewek yang terkunci karena sedang dalam tahap pembersihan.
Semoga nggak ada orang! Aku sudah tak tahan kalau harus berlari naik ke toilet di lantai atas. Harapku dalam hati.
Aku bergegas masuk, berjalan cepat hendak meraih salah satu bilik toilet. Belum sampai beberapa langkah, mataku langsung tertuju pada sosok seorang laki laki yang sedang kenciing di urinoir. Spontan aku langsung menutup wajahku.
“WAA!!” teriaknya. Aku melirik dari sela-sela jari, sepintas aku masih bisa melihat wajahnya yang bersemu merah karena malu.
“Ma—maaf ... aku nggak lihat kok!” Aku masih menutup wajahku dengan tangkupan tangan dan berlari masuk ke dalam bilik toilet. Melepaskan hasrat ingin pipis yang tak lagi tertahankan.
Akhirnya lega ....
Hah!!! Di mana tisu??
Yang benar saja?? Masa tisunya habis?!
Mataku langsung terbelalak lebar saat tidak menemukan gulungan kertas lembut itu di tempat tisu.
“Uumm ... hei, apa kau masih di situ?” tanyaku ragu-ragu, tak ada yang bisa kumintai tolong selain cowok tadi.
“Kenapa?” tanyanya dari luar.
“Tisunya habis, bisa kau ambilkan aku tisu dari toilet sebelah? Please ...?” Aku meminta tolong padanya.
“Ini!” Tiba-tiba sebuah gulungan tisu terlempar dari atas pintu toilet.
“Terima kasih.”
“Sama-sama. Lain kali jangan masuk ke toilet cowok!” ucapnya.
“Aku juga terpaksa tahu, toilet cewek sedang di bersihkan,” jawabku sembari berganti pakaian di dalam bilik.
“Ayo pulang, Kak! Daddy sudah nungguin.” Tiba-tiba suara seorang cewek lain terdengar memanggil cowok ini dari luar pintu kamar mandi.
“Oke, Gabby, kakak cuci tangan dulu,” jawab cowok itu sebelum akhirnya keluar dari toilet.
Aku telah selesai menggantin seragamku dengan kaos yang nyaman. Aku bergegas menuju ke parkiran motor setelah memakai jaket, topi, dan juga masker. Aku menghidupkan mesin motor, melesat jauh ke alamat yang ditunjukan oleh aplikasi. Baru saja ada permintaan masuk, mengantarkan kue ulang tahun ke perumahan sekitar.
Motor matic tuaku melenggak lenggok dengan lincah di jalanan yang padat merayap, kadang aku sengaja masuk ke gang-gang kecil untuk menghindari kemacetan atau mempersingkat jarak tempuh. Selama perjalanan aku mendapatkan beberapa notifikasi pemasukkan. Sudah ada dua antrian yang masuk padaku untuk mengantarkan barang mereka.
“Terima kasih Kak!” ucap anak kecil yang terlihat bahagia saat menerima kue ulang tahunnya.
“Sama-sama.”
Senyumku terkembang, aku jadi semakin bersemangat untuk mencari uang hari ini. Ku putar gas motor lebih dalam agar motor melaju semakin cepat. Dalam hembusan angin siang yang panas aku hanya bisa berharap kalau hasil yang ku dapat hari ini cukup untuk memenuhi biaya sekolahku.
Yang pasti hasilnya akan terasa begitu manis saat aku bekerja dengan hati riang dan juga mensyukurinya.
•
•
•
Aku sedang beristirahat di pinggir jalan. Duduk di terotoar sambil menegguk sebotol air mineral, menghabiskannya dalam sekejap. Panasnya udara membuatku kelelahan dan juga hampir mati kehausan. Padahal sudah hampir sore, namun langit masih terlihat biru, dan matahari masih bertahta dengan angkuh di angkasa.
Ting ...!
Bunyi ponsel menarik perhatianku.
LUCAS:
Jadikan, Ella?
Oh, pria itu menghubungiku lagi, mengingatkan janji yang kami buat semalam. Aku tersenyum saat melihat namaku muncul pada chat miliknya. Kenapa, ya, aku jadi aneh? Aku bahkan bisa senyum-senyum sendiri hanya karena dia memanggilku Ella?
BELLA:
Jadi, Tuan.
Satu jam lagi saya selesai bekerja.
LUCAS:
Baiklah, Ella.
aku akan menunggumu.
Aku bangkit dan menghidupkan lagi mesin motor. Menyebrang ke sisi lain jalanan untuk pergi ke tujuan terakhir. Aku sudah mematikan aplikasi, tinggal mengantar paket, lalu merapikan diri sebelum menuju ke Palette cafe.
Aku menyempatkan diri untuk mengambil uang dari dalam tabunganku. Aku harus mengembalikan 9 juta 9 ratus ribu kelebihan tips yang diberikan oleh Lucas.
“Di mana?” Aku menggeledah semua isi dompetku, bahkan sampai ke dalam tas.
Antrian panjang membuatku terpaksa harus keluar dari mesin ATM. Aku menarik napas panjang beberapa kali, mencoba untuk tetap tenang. Aku bisa mentransferkan uangnya lewat mobile bangking, tinggal bertanya pada Lucas nomor rekeningnya bukan?!
Tanpa ragu aku kembali menaiki motorku dan melaju cepat menuju ke Palette Cafe.
— MUSE S5 —
LUCAS POV
Ratting bintang satu tak membuatnya menghubungiku. Saat itu aku berpikir dia akan marah-marah dan mengirimkan pesan umpatan padaku. Yah, bukankah menorehkan kesan buruk lebih mudah membuat orang mengingat tentang kita?
Harapanku begitu, tapi nyatanya gadis kecil itu malah tidak menghubungiku.
Aku tak kehabisan akal, bagaimana kalau uang? Bukankah tak ada wanita yang tak menyukai uang?
Senyuman langsung tersungging manis di atas wajahku saat membaca balasannya. Akhirnya gadis ini terjebak juga, dia menghubungiku. Tapi ternyata responnya berbeda dengan apa yang kupikirkan, dia bertanya apakah aku benar-benar memberikannya tips sebanyak itu? Wah, ternyata gadis ini sangat jujur dan polos. Aku kira dia akan menghubungiku karena tertarik dengan banyaknya uang yang ku miliki.
“Harus jawab apa, ya?” gumamku.
Akhirnya aku memaksanya mengembalikan uang itu secara tunai agar aku bisa bertemu kembali dengannya. Untunglah gadis itu menyetujuinya tanpa banyak bertanya.
Dan sore ini, kami telah berjanji untuk bertemu di cafe tempat pertama kami bertemu kemarin.
“Welcome to Palette cafe!” seru para pelayan saat aku masuk.
Aku bertolah toleh untuk mencari keberadaan gadis cantik itu. Gadis cantik yang bayangan wajahnya tak mau menghilang dari dalam benakku semalaman. Gadis cantik yang membuat tidurku tidak nyenyak karena ingin malam segera berganti siang agar aku bisa segera pergi untuk menemuinya.
Aku tersenyum saat menemukannya sedang duduk, masih memakai kaos pink o-neck yang terlihat sedikit kumal dan juga topi baseball putih. Rambutnya yang panjang terikat ke belakang. Gadis itu hanya duduk sembari mengamati jalanan dari tempatnya menyangga dagu. Hanya segelas air dingin yang menemaninya menunggu kedatanganku.
Kenapa dia tak memesan sesuatu? Apa dia tidak suka kopi? Bukankah masih ada menu lain seperti coklat atau teh?
“Hai, Ella. Sudah lama?” Pertanyaanku membuyarkan lamunannya. Ia tersenyum kikuk dan menundukkan kepala sebagai salam.
“Belum lama, Tuan.”
“Kau hanya memesan air putih?” tanyaku keheranan.
“Free, minuman lainnya sangat mahal.”
“Ah, begitu.” Aku mengangguk, ternyata bukan karena tidak suka kopi, dia hanya tidak punya uang untuk membayarnya. Ah, Poor Ella, padahal wajahnya sangat cantik dan menawan.
Hmm, bagaimana jadinya kalau dia punya uang, ya? Tidak punya uang saja secantik ini, apa lagi kalau bergelimang harta? Sudah pasti kecantikkannya akan sangat menonjol, sudah pasti akan banyak sekali pria yang menginginkan perhatiannya.
Wah, Entah kenapa aku tidak rela?!
Aku memesan dua buah caramel latte, satu untuknya dan satu untukku. Semula Bella menolaknya, namun akhirnya mau menerimanya sebagai wujud permintaan maafku.
“Tuan akan saya transfer uangnya, maaf kartu debit saya tertinggal, jadi tidak bisa mengambil uang cash.” Bella mengeluarkan ponsel dari dalam tas backpack, aku masih bisa melirik sedikit ke dalam tasnya, ada baju seragam.
“Kau masih sekolah? Anak SMA? Kenapa bekerja?” tanyaku heran.
Ternyata gadis ini benar-benar masih kecil. Ya ampun aku berasa aneh karena jatuh hati pada seorang anak kecil. Umur kami sepertinya terpahut 8 tahun, aku jadi berasa tua saat berhadapan dengannya.
“Ah, untuk tambahan biaya sekolah.”
“Orang tuamu tidak memberimu uang?”
“Papa sudah meninggal saat saya masih kecil, Tuan.” Matanya berkaca-kaca, sepertinya aku mengungkit kembali kenangan terpahit dalam kehidupannya.
“Maaf,” lirihku.
“Ini pesanannya.” Pelayan mengantarkan dua buah gelas tinggi berisi latte. Menyelamatkanku keluar dari pembicaraan yang canggung ini.
“Minumlah, rasa manis bisa membuat perasaanmu menjadi lebih baik, Ella.” Aku menyodorkan gelas itu ke depannya.
Bella menundukkan wajahnya, ternyata buliran air mata keluar dari matanya yang bulat. Aku bingung, tak tahu harus bagaimana. Ternyata bukannya selamat, pembicaraan kami terasa semakin canggung. Apa lagi semua pelanggan lain melihat ke arahku dengan pandangan menghujat. Padahal aku tak bermaksud membuatnya menangis.
“Tolong jangan menangis, Ella.”
“Hiks ...!” Isakan tangisnya malah semakin bertambah keras.
“Maaf, Ella!”
“Huwa ...!” Dia menangis lebih keras.
Aku mencelos, kenapa dia malah semakin menangis saat aku memanggil namanya?
Bella menghapus air matanya dan bergegas meminum semua cairan di dalam gelas. Sepertinya menangis membuatnya kehausan. Setelah tenang Bella mengangkat wajahnya.
Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini? Kenapa dia begitu cantik saat wajahnya kacau? Wajah sensualnya semakin menarik saat rona kemerahan muncul memenuhi tulang pipinya? Bibirnya yang sensual bergetar pelan. Membuatku membayangkan dan ingin mengullum dalam bibirnya saat ini.
“Maaf, maafkan saya.” Bella memandangku dengan matanya yang masih sembab.
Aku tidak tahu ada kejadian apa di masa lalunya? Kenapa dia bisa begitu bersedih hanya karena aku memanggilnya Ella?
“Sudah lebih baik?”
“Huum.” Angguknya pelan.
“Baiklah, minum dulu.”
“Tuan, tolong nomor rekeningnya. Saya harus segera pulang untuk menyiapkan makan malam.” Bella langsung bergegas menuju ke pokok tujuan kami bertemu saat ini.
“Baiklah, baiklah.” Aku sadar sudah tak ada alasan lagi untuk menahannya. Aku membuka ponselku dan mengetikkan angka pada layarnya, lalu mengirimkan deretan angka kepada Bella.
“Itu nomornya.”
“Tunggu sebentar, Tuan. Saya akan mengirimkan uangnya.” Bella tampak serius saat mengamati layar ponsel.
Aku menyangga kepalaku dengan telapak tangan, mengamati mimik wajahnya yang tetap cantik walaupun sedang serius. Namun, tiba-tiba wajahnya berubah, pucat, dan menegang. Matanya terbuka sangat lebar, tangannya spontan menutup mulutnya yang terbuka karena syok.
“Tidak, tidak mungkin,” lirihnya.
Aku mengangkat kepalaku, mencoba ikut memahami situasi yang sedang terjadi.
“Ada apa?”
“Sa—saldo rekeningku ....”
“Kenapa?”
“Uangnya menghilang, Tuan.” Bella menunjukan saldo pada akun rekeningnya, hanya bersisa lima ratus ribu saja.
“Maaf, Tuan. Maaf, sungguh saya tidak memakainya. Sa—saya ....” Bella kehabisan kata-kata karena terlalu panik dan bingung.
“Maaf, Tuan. Saya bingung, maaf!” Dengan panik Bella meneguk habis air es di depannya. Mencoba menahan emosi, amarah, kebingungan, rasa malu, dan juga kekecewaan yang membaur menjadi satu.
Tangan Bella kembali bergetar dengan hebat saat menggenggam gelas, getaran itu membuktikan bahwa dia tidak berbohong. Dia ketakutan, dan juga kebingungan.
“Lalu bagaimana?” tanyaku. Mata Bella tertuju padaku, masih dengan pandangan yang sama, takut dan juga bingung.
Sepertinya aku mesti berterima kasih pada Tuhan kerena telah memberikan kesempatan padaku untuk bisa memandang wajah cantiknya lebih lama. Memberikan kesempatan untuk bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama dengannya. Memberikan kesempatan untuk bisa lebih lama merasakan bau matahari yang menyengat dari balik kaos kumalnya.
“Mau kau bayar dengan cara apa?” bisikku di dekat telinganya.
— MUSE S5 —
IG: @dee.Meliana
Love
Like
Comment
Vote