MUSE

MUSE
S7 ~ TAPI APA?



MUSE S7


EPISODE 10


S7 \~ TAPI APA?


\~Selesai, begitulah orang dewasa menyelesaikan masalah. Begitu pula cara mereka menenangkan hati anak remaja yang tertekan. Tapi bukan salah orang dewasa juga kalau anak-anak mereka tidak mau terbuka akan masalahnya.\~


__________________


Bagaimana caranya merebut ponsel itu? Pikir Leoni. Hanya keinginan untuk merampas dan menghancurkan bukti saja saat ini yang melayang dalam benaknya. Leoni tak sadar, dia benar-benar memeluk Levin. Membuat jantung Levin berdebar tak karuan dan wajahnya menghangat. Merah merona.


“Kau mau apa, Singa?”


“Hah?”


“Kau memelukku, Singa!!”


“Hah?”


“Ini terlalu dekat.” Levin menelan ludahnya berat saat wajah Leoni mendongak ke atas dan membuat wajah mereka bertemu. Paling jaraknya hanya satu kilan.


Leoni mendengar deruan detak jantung dan suara napas Levin yang berat dan kasar. Ternyata benar apa yang tadi pagi ia gumulkan. Levin, bocah remaja ini, sangat tampan. Matanya terlihat cerah, dilengkapi dengan hidung mancung dan garis rahang tegas. Rambut tebal dengan warna hitam yang indah. Levin benar-benar sukses membuat pandangan Leoni terpaku padanya.


“Ehem!!” Dehem Levin. “Tak perlu terpesona padaku, aku sadar aku ganteng.” Lanjutnya. Sebenarnya Levin juga enggan mengakui kalau Leoni juga terlihat sangat menarik di matanya.


“Enggak, jangan ke ge er an ya!! Siapa yang terpesona padamu?!” Leoni mendesis sebal.


“Kalau begitu berhenti memelukku.”


“Tidak, ini ucapan rasa terima kasihku padamu.” Leoni semakin mempererat pelukkannya. Tangannya sibuk meraba bokong Levin mencari keberadaan ponselnya. Kali aja ada di saku belakang celana.


“Hei, hei.” Levin mendadak kebingungan, rasanya sangat aneh.


Nggak ada, di mana ya? Pikir Leoni sebal, ia berusaha mencari ke tempat lain, jangan bilang saku celana depan?!! 😱😱😱


“Woi!! Jangan grayang-grayang!!” Levin menepis tangan Leoni saat berpindah ke sak bagian depan. Meraba apa yang ada di sana. Hlah Kira-kira apa?!


“Aduh!” pekik Leoni, tangannya sakit. Hempasan Levin terlalu keras baginya.


“Dasar mesum!! Cewek gila!!” Levin ngos ngosan mengatur napas, dunia memang sudah terbalik kali ya. kali ini cewek yang grayang-grayang, bukan cowoknya.


“Siapa yang mesum?? Siapa yang gila?” Leoni mendelik galak ke arah Levin.


“Buktinya kau grayang-grayang anu ku.”


“Anu mu apa?”


“Perlu ya dijelasin detail?” Wajah Levin semakin merah.


“Kalau bicara jangan setengah-setengah.” Leoni bersikeras.


“Kau ... kau beneran ... Ah, Sudah lah, aku mau keluar. Percuma khawatir.” Levin memutar tubuhnya.


“Ya sudah sana pergi!” Dengus Leoni sebal.


Levin meninggalkan Leoni sendiri di dalam bilik klinik. Gadis itu tampak masyegul memikirkan nasib kehidupannya setelah ini. Kalau video tidur lelapnya tersebar, sudah pasti namanya akan bertengger pada trading chart siswa paling enak dibully tahun ini.


“Tak bisakah aku hidup dengan tenang selama tiga tahun masa SMP? Menjadi remaja normal gitu?” Leoni mengeluh, tak pernah menyadari bahwa selamanya hidupnya tak akan pernah menjadi normal saat mengenal seorang Levin.


...— MUSE S7 —...


Hujan gerimis mengguyur kota S, langit terlihat kelabu. Gumpalan awan hitam masih pelit, belum mau mencurahkan air dengan deras. Baru gerimis kecil sambil sesekali diiringi oleh gemuruh petir dan kesiur angin.


Leoni duduk di bangku belakang mobilnya dengan malas-malasan. Menikmati bunyi remang radio dan suara percakapan papa dan mamanya. Mulai dari gombalan yang bikin perut mual sampai ejekan yang mengkocok perut. Kadang Leoni berpikir, kenapa mereka bisa sedekat itu? Benarkah cinta mampu membuat dua insan manusia dengan berbagai macam kepribadian yang berbeda itu bersatu?


“Hei, bayi. Kenapa diam saja? Bagaimana sekolahmu?” Tiba-tiba Leon menyadari bahwa anak gadisnya tak ceria seperti biasanya.


“Biasa aja, Pa. Ga ada yang istimewa. Boleh Leoni berhenti sekolah saja?” Leoni melantur. Bayangan video memalukan berdurasi satu menit itu kembali terbayang dalam benaknya. Membuat Leoni enggan memikirkan masa depannya yang dimulai dari kata ‘BESOK’.


Leon dan Kanna bersitatap sesaat. Seakan mencari jawaban dan juga kode siapa yang akan bertanya.


“Ck, kenapa sih? Kalau ada masalah cerita donk sama papa dan mama.” Kanna memutar tubuhnya, melihat ke arah Leoni.


“Nggak ada masalah kok, Ma. Hati Leoni hanya sesak.” Leoni menghembuskan napas panjang.


“Siapa?? Siapa yang buat kau patah hati?” Leon membanting setir, mengerem dalam pada tepian jalan. Membuat semua penumpang berjengit kaget.


“Ih Apa-apaan sih, Leon/Pa? Kaget tahu!!!” Kanna dan Leoni berseru barengan.


“Siapa? Siapa yang bikin kau sakit hati? Apa cowok yang kemarin? Anak Kalila?” cerca Leon.


“Si—siapa juga yang lagi patah hati?” Leoni mencibirkan bibirnya sebal. Papa dan Mamanya sok tahu.


“So?? Kenapa sesak?” Kanna menatap lamat ke arah Leoni.


Leoni memutar otaknya sekilas, mencari alasan. Baginya video itu sangat memalukan bahkan untuk diceritakan pada Papa dan Mamanya sekalipun.


“Nilai Leoni jelek mulu. Ga ada kemajuan. Percuma kayaknya sekolah.” Jawab Leoni.


“Heh??? Cuma karena itu??” Giliran Kanna dan Leon berseru barengan.


“Ya, itu perkara serius tahu!! Masa iya Leoni nggak naik kelas? Trus parahnya, si Levin yang sering adu mulut sama Leoni. Si tukang jahil, usil, nyebelin, yang sukanya tidur dikelas tiap ada kesempatan. Dia rankking satu. Gimana nggak tambah sebal, nggak tambah malu dan tertekan?” Leoni mencatut nama Levin untuk mengambil belas kasihan Papa dan Mamanya. Tapi memang benar, Levin selalu no satu di pelajaran apapun.


“Andai saja otakmu sedikit mirip papa, Nak. Maafin Mama ya, otakmu mirip Mama.” Kanna tergelak, begitu juga Leon.


“Ya, setidaknya izinkan Leoni pindah sekolahan!!” Leoni bersedekap tangan di depan dada.


“Jangan khawatir, Nak. Mama dan Papa akan usahakan kamu dapat nilai yang baik. Mama akan mencari guru privat untukmu.” Kanna mengelus lengan Leoni.


Selesai, begitulah orang dewasa menyelesaikan masalah. Begitu pula cara mereka menenangkan hati anak remaja yang tertekan. Tapi bukan salah orang dewasa juga kalau anak-anak mereka tidak mau terbuka akan masalahnya.


Leoni kembali menatap malas ke luar jendela mobil. Beberapa motor terlihat merangsek melalui cela-cela antar mobil. Menembus kerumunan agar bisa segera sampai ke tempat tujuan, keburu hujan bertambah deras.


“Apa yang kamu cita-citakan Sayang?” Tiba-tiba Leon memecah lamunan Leoni.


“Hem?? Belum ada.”


“Apa ada hobi yang kau sukai?” tanya Leon lagi.


“Tidak ada.” Leoni baru menyadari, hidupnya sangat datar.


“Apa kamu mau belajar menjadi penjunan seberti Papa?” tanya Leon, “itu cukup mengasyikkan, uangnya juga banyak.”


“Apa? Menyuruh Leoni bermain tanah?! No Way!! Lebih baik dia belajar make up sepertiku. Penghasilan yang didapat tak kalah banyak.” Sergah Kanna.


“Jangan sepelekan kerajinan kriya, Kanna. Sudah tiga generasi keluargaku melakukan hal itu. Setidaknya izinkan Leoni mencobanya, dia harus mengerti tentang pekerjaan Papanya.” Leon tersenyum ke arah Leoni saat lampu merah.


“Tidak!! Aku tak setuju. Seorang anak gadis tak seharusnya berkotor-kotor. Leoni harus terlihat anggun dan cantik. Manis dan mempesona. Kalau mau mengajarkan ilmumu, tunggu anak cowok!” Kanna menentang anjuran Leon, tak setuju.


“Hei hei hei, kenapa papa dan mama malah berdebat? Bukankah Leoni berhak memutuskan hidup Leoni sendiri?” sela Leoni.


“Kau benar sayang!” Leon tersenyum, Kanna juga.


“Maafkan Mama,” tambah Kanna.


“Ya sudah kita bicarakan hal ini lain kali, lagi pula Leoni masih 12 tahun, masih seharusnya dia bermain seperti kebanyakan anak remaja seusianya.” Leon melanjutkan perjalanan mereka, menuju ke restoran cepat saji di dekat rumah.


Leoni kembali menatap hujan. Hujan yang turun semakin deras membuat Leoni tersadar. Kenapa tak mencari kegiatan yang ia suka. Mungkin dengan begitu ia bisa melupakan segala hal bodoh yang berhubungan dengan Levin. Mungkin menjauhi cowok itu adalah pilihan yang terbaik. Tak perlu lagi berurusan dengan Levin. Terserah video itu mau menyebar atau tidak. Leoni cukup mengisi telinganya dengan hal-hal yang ia suka. Mengabaikan suara sumbang dan ledekan semua orang.


Hmm ... tapi apa?


...— MUSE S7 —...


Mau curhat unfaedah.


OThor rengginan mau nanya. Kalian dulu gimana jatuh cinta ama bucin kalian saat pertama kali ketemu?


Kalau othor ma suka sama lengannya!! Wkwkwkwkw


Lengan cowok itu memang sesuatu, 🤤🤤🤤


Ga terlalu gedhe nggak kecil juga. Pas! Buat di peluk enak, buat di lihatin enak, buat gandeng enak, buat dipencet-pencet juga enak.


Heleh, halu!!!


Ayo ceritain gimana awalnya jatuh cinta sama bucin kalian. Siapa tahu jadi bahan refrensi buat otjor rengginan nulis novel. 😘😘😘