
MUSE S6
EPISODE 29
S6 \~ ENDING
\~Dendam menimbulkan banyak permasalahan, dendam menimbulkan kesalahpahaman, rusaknya sebuah hubungan, dan munculnya benci pada hati tiap manusia. \~
__________________
(Alurnya mundur ke dua bulan pasca sembuhnya Ivander dari koma.)
Gabby tengah berjuang untuk menggerakkan jari jemarinya. Ia berlatih dengan bola besi sebesar bola baseball. Dengan pengarahan dari terapis, Gabby mulai menguji kekuatan ototnya pelan-pelan. Arvin khusus mendatangkan terapis untuk Gabby dari negeri tetangga, berharap anaknya bisa menemukan kembali kebahagiaannya lewat gesekan dawai biola.
“Bagus, pelan-pelan saja. Apa kau bisa merasakan denyutan syaraf-syarafnya yang mulai membaik?”
“Iya, rasanya ada getaran pelan.” Gabby tersenyum bahagia, hari ini untuk kali pertamanya Gabby bisa menggerakkan jemarinya untuk menggenggam bola, biasanya bola itu akan langsung terjatuh ke bawah.”
“Bagus. Lanjutkan lagi, Gabby.” Senyum terapis wanita itu, ia mencoba kembali memberikan Gabby bola dengan ukuran yang lebih kecil, Gabby mulai belajar mencengkram lebih dalam.
“Iya, Dok.”
Gabby semakin bersemangat, setiap hari ia menatap biolanya sebagai pemicu. Tak jarang Gabby frustasi dan ingin menyerah, namun berkat dukungan dan cinta dari orang-orang terdekatnya Gabby bisa bertahan. Terutama Ivander, karena merasa bersalah, Ivander terus menemani Gabby menjalankan terapinya. Menghibur Gabby yang sedih, membantunya berjuang mengatasi kelemahannya itu.
“Geb nicht auf, Schatz!” seru Ivander saat mengantarkan Gabby menjalankan terapinya sore ini.
(Jangan menyerah, Sayang!)
“Huum.” Gabby mengangguk mantab sebelum masuk ke dalam ruang terapi.
— MUSE S6 —
Levin dengan jaket kulit dan celana jeans biru telah menunggu kepulangan Ivander dan Gabby di depan apartemen. Ia juga mengundang Nick, kakaknya.
“Ada apa ini?” tanya Gabby keheranan.
“Ayo tanding denganku!” ucap Levin. Ia langsung memakai helmnya, mengambil motor sport dari tangan Nick. Gabby mendelik keheranan.
“Kalau kau nggak menang, jangan harap bisa pacaran dengan kakakku!” Levin memyeringai pada Ivander.
Ivander kebingungan, namun berusaha mengerti. Sister complex macam Levin pasti tak terima karena Gabby kehilangan kemampuan bermain biola karena dirinya. Apa lagi sampai Ivander berpacaran dan mengajak Gabby menikah.
“Aku harus mengalahkanmu?” tanya Ivander dengan ragu, Levin seorang pembalap, tentu saja dia begitu hebat melakukan aksinya.
“Benar.”
“Baiklah, tak ada jalan lain bukan?” Ivander akhirnya menurut, ia hendak meminjam motor Gabby namun Nick menghentikannya.
“Kau pakai ini!” Nick mengeluarkan sesuatu dari mobilnya, ia membawakan Ivander sebuah sepeda ontel lipat.
“Ini?!” Ivander mencelos, Gabby terkikih, kelakuan saudara-saudaranya semakin aneh saja.
“Iya, pakai ini!” Nick tersenyum, ia memberikan sepedanya pada Ivander.
“Bagaimana bisa aku menang melawan motor sport dengan sepeda?” Ivander hendak melayangkan protes namun Levin menyelanya.
“Kalau begitu kau tak layak bersama Kakakku! Apa kau takut?”
“Hish ... mana mungkin aku takut, baiklah aku terima tantanganmu, apa peraturannya?” tanya Ivander.
“No rules! Pokoknya yang sampai finish duluan yang jadi juaranya. Terserah bagimana caranya.” Levin mengencangkan helmnya, mengambil ancang-ancang.
“Di mana finishnya?” tanya Gabby.
“Itu, di belokkan ujung kompleks,” jawab Levin.
“Okeh!” Ivander tertantang.
Gabby tersenyum, ia melepaskan scraftnya lalu berjalan ke tengah-tengah mereka berdua. Levin dan Ivander saling pandang, mereka mengambil acang-ancang dengan kendaraan masing-masing. Levin dengan ducatinya, dan Ivander dengan bronton adventurenya.
“No rules?”
“No rules!”
“Ready, three, two, and GO!!!” Gabby melemparkan Scraft tanpa pertandingan di mulai.
Keduanya melaju cepat, tentu saja motor Levin yang paling cepat. Ivander kebingungan, mana mungkin menang dengan sepeda ontel. Namun Ivander tak kalah akal, ia menuruni lereng curam dan bergegas membelokkan sepedanya pada jalanan. Memotong jalan secara nekat, membuat wajah Gabby menegang ketakutan.
Untung saja apa yang dikhawatirkan Gabby tak terjadi. Ivander telah berhasil menuruni dua buah turunan tajam, ia berbelok, mundur, dan mengenai finish hanya terpaut beberapa detik sebelum Levin sampai.
“Argh. Sial!! Bagaimana bisa?” Levin melepaskan helmnya sambil marah-marah.
“Kau bilang no rules!! Aku hanya memotong jalan secara diagonal.” Ivander terkikih, bahunya masih bergerak naik turun untuk mengatur napas yang tersengal.
“Ah, Baiklah! Aku mengaku kalah, kau menang.” Levin meninggalkan Ivander dengan sebal, Gabby berlari perlahan menghampiri Ivander yang menderu kelelahan.
“Kau hebat.”
“Aku berjuang demi dirimu.” Senggal Ivander karena lelah mengayuh, ia langsung memeluk Gabby.
“Minum?” tawar Gabby, ada sebotol air di tangannya.
“Thanks.”
“Maafin adikku ya, dia memang kaya gitu orangnya.” Gabby tersenyum sangat manis pada Ivander.
“Tak apa, Gabby.” Kata Ivander.
Ivander memandang wajah cantik Gabby sejenak. Tangannya lantas menarik dagu Gabby mendekat, ia kembali melumatt bibir kekasihnya itu dengan hasrat yang tak lagi terbendung. Begitu lembut namun dalam.
“Kini adikmu telah merestui hubungan kita bukan?” Ivander melepaskan panggutannya.
“Sepertinya begitu.” Gabby mengecup lagi bibir Ivander.
“Kini aku bebas berpacaran denganmu?”
“Iya.” Gabby mengecup lagi.
“Bebas membawamu keluar?”
“Huum,” dera Gabby mulai tak sabar karena Ivender terus saja melepaskan panggutan mereka.
“Kini berarti aku juga bisa menikahimu?”
“Iya ... what??? Menikah?!” Gabby yang tersadar langsung terpekik.
“Menikahlah denganku, Gabby!” Ivander mencari bunga yang tumbuh pada terotoar jalan, ia memcabut batang rumputnya yang masih hijau sebagai ganti cincin, dan bunganya sebagai ganti batu berlian.
“Menikahlah, menua, dan jalani banyak cinta bersamaku, Gabby!” Ivander menyematakan cincin rapuh itu pada jari manis Gabby.
“Yes, yes, aku mau!!” Gabby tertawa, ia berjanji akan menyimpan baik-baik cincinnya.
“Kau tak akan menyesal bukan?”
“Tidak, selamanya aku akan mencintaimu dengan segenap hatiku,” jawab Ivander mantab.
“Terima kasih, Van,” ucap Gabby. Ia langsung memeluk Ivander dan mendekapnya sangat erat. Berjuta-juta bungapun tak akan mampu melukiskan betapa besar dan kuatnya cinta yang tumbuh di antara keduanya.
Begitu siuman dari tidur panjangnya, Gabby dan Ivander menyadari, bahwa kehidupan mereka adalah anugrrah. Mereka tak akan mengotorinya lagi dengan dendam dan air mata kesedihan.
Dendam menimbulkan banyak permasalahan, dendam menimbulkan kesalahpahaman, rusaknya sebuah hubungan, dan munculnya benci pada hati tiap manusia.
Dendam Ivander dan kelakuannya telah membawa Adrian menghadapi dendam yang lainnya. Menghancurkan persahabatan dan hubungan keluarga. Beruntung Gabby menghentikan Ivander, tak muncul dendam lagi, tak ada penyesalan yang akan muncul kembali setelahnya.
Jangan pernah menaruh dendam pada sesamamu manusia, karena pada hakekatnya hanya Tuhan yang layak untuk menghukum manusia itu sendiri.
Terima kasih sudah membaca MUSE S6.
Nantikan Epiloge, kebucinan Ivander dan juga Gabby.
— MUSE S6 END —
Jangan lupa gaes!!
Love
Like
Vote
Comment
Thanks