
MUSE S3
EPISODE 122
S3 \~ PEMBALASANKU
\~ Perasaan manusia itu begitu aneh! Beda antara cinta dan benci itu setipis kertas, serapuh kelopak bunga, dan selembek tanah liat basah. Rasa cinta bisa dengan mudah berubah menjadi kebencian yang mendalam.\~
_______________
Lova mengajakku masuk ke dalam rumah. Ia memberikanku secangkir teh panas sebagai pereda rasa dingin. Tubuhku menggigil kedinginan, bukan hanya karena hujan, tapi juga karena hatiku mulai merintih kesakitan.
Kanna memutuskanku begitu saja?
“Jadi bagaimana ceritanya?” tanya Lova.
“Jangan bertanya!” Aku malas menceritakan kesedihanku saat ini.
“Ya, sudahlah kalau nggak mau cerita, bukan urusanku juga.” Lova meletakkan cangkirnya di bak cuci piring.
“Aku melihat seorang pria mencium pergelangan tangannya.”
“Oh, jadi dia mengkhianatimu? Bertemu dengan pria lain di belakangmu?”
“Entahlah, mungkin saja.”
“Jangan bodoh, Leon! Sudah pastilah dia mengkhianatimu, kalau nggak kenapa dia tak bercerita padamu tentang pria itu? Setidaknya dia bisa berpamitan padamu, bukan? Jadi kau tak akan salah paham seperti ini.”
“Kau benar, Lova. Aku bodoh.”
“Lalu? Apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
“Entahlah, hatiku masih terlalu sakit.”
“Balas saja, Leon! Buktikan pada Kanna dan keluarganya kau bisa berhasil! Kau pria yang hebat! Buat Kanna menyesal telah meninggalkanmu dengan lelaki lain.” Lova mendekatiku, ia berjongkok di depanku saat ini.
“Benar! Aku akan membalasnya, aku akan membuat Kanna kehilangan segalanya! Aku akan membuatnya mengerti rasa sakitku saat ini.” Aku menerawang kosong, tanganku terus mengepal karena amarah.
“Baguslah!” Lova bangkit.
“Kau mau ke mana?” tanyaku.
“Pulang. Istirahatlah, Leon.” Lova menepuk punggung tanganku.
“Thanks, Lova.”
“Bukan hal besar. Lebih baik kau persiapkan dirimu. Mulai besok kita akan sibuk bukan?”
“Benar, besok kita akan sibuk.”
Lova tersenyum dan meninggalkan rumahku. Besok kami akan mulai membersihkan toko milik orang tuanya dan memulai bisnis kecil-kecilan.
— MUSE S3 —
•••
Mataku menangis karena mengingatmu...
Suaraku serak karena terus memanggil namamu...
Batinku tersiksa setiap hari...
Hatiku merana setiap malam...
Aku terus terbangun karena merindukanmu, Kanna...
Aku masih bisa mendengar suara-suara bergema di telingaku. Suara canda dan tawamu, juga caramu memanggil namaku...
Aku gila, Kanna...
Aku merindukanmu sampai hampir gila rasanya...
Aku berusaha menguatkan diri dan hatiku dengan dendam...
Aku pasti membalasmu, Kanna!
Kau akan merasakan rasa sakitku berkali-kali lipat! Lebih sakit dan lebih dalam!
Aku tak akan berhenti sampai kau merangkak kembali ke sisiku.
Lalu saat itu, akulah yang akan mecampakkanmu...
— MUSE S3 —
•••
Akhirnya aku mulai membangun bisnis bersama dengan Lova. Kami membuka toko keramik. Hasilnya cukup memuaskan, toko kami boleh dibilang laris. Kami sering pameran keliling, juga menjualnya secara online di beberapa daerah. Bahkan kini kami sudah berhasil menjualnya sampai ke luar negeri. Kebanyakkan memang sebagai souvenir dan juga hiasan rumah.
Lova ternyata cukup cekatan, dia tipe seorang yang cenderung bekerja dengan otak dan tangannya dibanding dengan mulutnya. Ia mengurus semuanya, pembukuan, penyediaan barang, sampai ke hal-hal kecil.
Aku bahkan punya beberapa murid sekarang. Aku membuka sanggar dan kelas-kelas kursus, mendidik seniman-seniman berbakat lainnya. Membantu mereka menggembangkan bakat.
Kesibukkanku membuat aku melupakan Kanna. Aku tak lagi terbangun ditengah malam karena memimpikannya. Hatiku juga sudah lebih baik walaupun nyatanya masih sangat sakit. Semenjak mendirikan bisnis, aku tak pernah lagi pulang ke rumah itu. Aku memilih tidur di toko atau sanggar.
“Istirahatlah, Leon.” Lova memberikanku secangkir teh, dia mengikutiku duduk di sofa. Hari ini cukup melelahkan, kami banyak menerima pesanan untuk souvenir pernikahan.
TING TING TING...!
Bunyi bel di depan meja kasih mengaggetkan kami.
“Siapa? Aku sudah memutar tanda ‘CLOSED’ -nya.” Lova keheranan. Lova bangkit dan keluar menuju ke bagian toko.
“Leon!! Papa dan Mamamu datang.” teriak Lova dari arah luar.
Aku langsung meloncat senang, sudah lama aku tak bertemu dengan Papa dan Mama. Sudah sewajahnya bukan aku merindukan mereka? Tanpa ragu aku langsung memeluk Mama dan Papa, sedikit menitikkan air mata haru. Membuat Papa dan Mama keheranan.
“Sejak kapan kau jadi secengeng ini, Nak?” Papa mengusap pucuk kepalaku.
“Sejak putus dari Kanna.” jawab Lova.
“Hei...!” protesku, Lova hanya menjulurkan lidahnya sebagai jawaban.
“Itukan sudah lama, Leon. Kau bisa melupakannya, banyak wanita yang lebih baik dari Kanna.” Mama menepuk punggungku.
Memang, sih. Tapi rasanya aku masih belum bisa melepaskan, Kanna. Aku belum membalaskan dendamku padanya. Aku belum membalaskan rasa sakitku, jadi aku belum bisa melupakannya.
TING TING TING...
Suara bel kembali berbunyi.
“Siapa lagi?” Lova menghela napas sebal.
“Coba aku lihat.” Aku mengajukan diri.
“Hallo, Leon. Aku mampir, Lova masih di sini? Aku bawa pisang goreng kesukaannya.” ternyata Kak Iksan, dia mampir sepulang dari kantornya.
“Ada, Kak. Masuklah!” Aku mempersilahkan Kak Iksan masuk ke dalam.
“Bisnismu lancar?”
“Iya, berkat Kakak yang mengenalkanku pada Tuan Julius.”
“Kau sendirilah yang hebat, Leon. Kalau tidak, dia juga tak akan mengakuimu.” Kak Iksan menepuk punggungku.
“Bulan depan aku akan mulai mengisi gallery miliknya.”
“Benarkah?”
“Iya, pameran tunggal, Kak.”
“Syukurlah, Leon! Kau berhasil!” Kak Iksan merangkul pundakku.
“Siapa bilang seniman nggak bisa kaya?” kikihku.
Kami masuk ke dalam, Papa dan Mama sedang asyik mengobrol dengan Lova. Kak Iksan memberi salam pada mereka berdua dan menyuruh Lova menghidangkan pisang goreng yang dibawanya.
“Ngomong-ngomong, Lova sudah punya pacara belum?” tanya Mama.
“Belum, Tante.” jawab Lova sembari menyuguhkan pisang goreng.
“Apa kau mau jadi istri, Leon?” tanya Mama lagi.
“Uhuk..., uhuk...!” Aku langsung tersedak pisang goreng.
“Ini minum!! Dasar!!” Papa memberikanku secangkir air teh.
“Ma...!” Aku memprotes pertanyaan Mama setelah berhasil mengatur napasku.
“Bagaimana Iksan? Apa boleh kami melamar adikmu untuk Leon?” tanya Papa pada Kak Iksan.
“Yah, kalau keduanya mau, sih, aku tak keberatan.” jawab Kak Iksan.
“Kalau Lova sendiri bagaimana?” kini pandangan Mama beralih pada Lova.
“Kalau Leon setuju, Lova juga setuju.”
“Ok, Kalau begitu, kami akan melamarmu untuk Leon.” Papa dan Mama tersenyum.
“Kalian tak bertanya apa pendapatku?”
“Tidak.” jawab Papa dan Mama serempak lalu tertawa. Duh, aku jadi merasa dianak tirikan, ternyata Papa dan Mamaku lebih sayang pada Lova.
“Kaliankan sudah saling mengenal lama, Lova juga anak yang baik. Kalian cocok. Sudahlah, Leon. Kalian tunangan saja!” Mama mengelus punggungku.
“Benar, kalau memang saling suka, ya, lanjut, kalau tidak, ya, berhenti.” Kak Iksan ikut memberikan dukungannya.
“Katakan sesuatu, Lova!” Aku memberikan kode pada Lova, bermain mata, agar ia juga menolak pertunangan sepihak ini.
“Katakan apa?” Lova balas melotot padaku sambil menyenggol lenganku dengan sikunya.
“Katakan kau juga menolaknya,” lirihku.
“Kenapa aku harus menolaknya? Aku juga suka padamu.” jawaban Lova membuatku kaget.
“Sejak kapan?”
“Rahasia.” bisik Lova.
— MUSE S3 —
•••
Perasaan manusia itu begitu aneh! Beda antara cinta dan benci itu setipis kertas, serapuh kelopak bunga, dan selembek tanah liat basah. Rasa cinta bisa dengan mudah berubah menjadi kebencian yang mendalam.
Sudah empat tahun berlalu. Sudah 4 tahun aku berpisah dari Kanna. Kanna semakin terkenal, dia semakin cantik dan menawan. Penampilannya berkelas, fashion branded, mobil mewah, juga cincin pertunangan. Dia bahkan memamerkan kemesraannya dengan pacar barunya. Dulu bahkan dia tak pernah mengupload foto kami berdua, takut followernya akan menghilang saat tau Kanna sudah punya pacar.
Sebenarnya rasa ini benci atau cinta?! Kenapa hatiku masih sesakit ini melihatnya bersama dengan orang lain.
“Br*ngsek!!” Aku mengumpat.
Aku duduk di pinggir tempat tidur, menenggak sebotol bir langsung dari botolnya. Menyesali kebodohanku dulu. Aku melakukan segalanya demi dirinya, bahkan rela bekerja sebagai kuli bangunan dan juga pekerja POM. Aku rela orang lain menghinaku agar Kanna bisa tersenyum.
“Bodohnya aku!”
•
•
•
Sepertinya Tuhan tak tutup mata, dia kembali mempertemukanku dengan Kanna. Kanna di dampingi oleh pacarnya pergi ke gallery seni milik Julius. Aku mengamati mereka dari kejauhan, Kanna meninggalkan rombongannya, berarti itu kesempatanku untuk menemuinya.
Aku menyeret paksa Kanna ke ruang penyimpanan, menciumnya, memberikan sesapan panas pada tubuh indahnya. Aku ingin melihatnya sedih, aku ingin melihatnya marah, aku ingin membuat hatinya sakit!
“Leon...,” namun justru pandangan mata yang menyiratkan rasa penyesalan yang ku dapatkan.
Aku tak boleh goyah!! Aku tak boleh kembali mencintainya, aku harus membalaskan rasa sakitku, aku harus merusak kehidupannya yang palsu itu. Dia harus merangkak kembali kepadaku, sebelum akhirnya akulah yang akan mencampakkannya.
Kanna bergegas pulang dan aku mengikutinya dari gallery sampai ke depan rumah. Bisa-bisanya mereka berdua bercumbu di dalam mobil? Apa Kanna sudah tak punya harga diri lagi? Apa Kanna memang sudah membuang semuanya demi uang pria itu? Hatiku semakin panas dan geram.
“Sialah!! Kau bodoh Leon!! Kenapa harus mengikutinya kalau semua ini hanya akan membuat hatimu semakin sakit?!” Aku memukul-mukul setir mobil, menyesali kebodohanku. Kanna telah berhasil membuatku menjadi manusia terbodoh di dunia.
Tak berselang lama Kanna masuk ke dalam rumah, ia menerawang kosong ke arah jendela kamarku. Tangannya terangkat, pertanyaannya adalah, kenapa?
Apa dia sedang mengenang kenangan indah kami berdua?
Apa dia merindukanku?
Apa dia masih mencintaiku?
Dasar wanita br*ngsek!! Apa gunanya semua itu kalau kau dulu mencampakkanku begitu saja?
Aku membuka pintu mobilku, masuk ke dalam rumah lamaku. Aku menghidupkan lampu, bau rumah itu sangat menyengat. Padahal aku sudah menyuruh orang untuk membersihkannya seminggu sekali, tapi tetap saja rumah tak berpenghuni pasti lembab dan berbau apek.
Aku menaiki kamarku, membuka jendela dan melompat ke dalam jendela kamar Kanna. Aku bisa melihatnya tertidur dengan pulas, sepertinya dia habis menangis.
Apa yang dia tangisi? Apa manusia sepertinya masih punya hati?
Aku memandang wajah cantiknya sesaat, ternyata aku memang sangat merindukannya. Tanpa ragu aku pembuka pakaianku dan mulai menindih tubuhnya. Tanganku mengelus naik permukaan kulitnya mulai dari perut ke arah dada. Aku membuka satu persatu kancing piyama yang dikenakannya. Saat dua buah keindahan tersuguh di depanku aku mulai mempercepat tempo permainanku dan hal itu membuat Kanna terbangun.
“Argh...,” Kanna melengguh, dia masih sangat sensitif seperti dulu ternyata.
Mata Kanna terbelalak begitu melihatku, aku langsung membungkam mulutnya agar dia tak bisa berteriak.
“Hallo, Kanna. Kau tak berubah, tetap sensitif seperti biasanya.”
“Leon???” Jantung Kanna berdetak cepat, aku bisa mendengarnya dari jarak sedekat ini. Dia ketakutan, lucu sekali, sekarang dia takut padaku.
“Kau masih sama teledornya, Kanna. Kau tak pernah menutup jendelamu! Tak taukan kalau itu berbahaya?” Aku menyeringai.
“Kau mau apa?” Kanna meronta dengan keras, kakinya terus tertekuk dan mendorong tubuhku. Memberinya jarak aman agar kulit kami tak saling bersentuhan.
“Harusnya kau tahu. Aku hanya ingin melepas rindu denganmu.”
“Tidak, Leon, jangan!”
“Jangan berteriak, Kanna!! Papa Mamamu nanti bisa mendengar percintaan kita!” Aku kembali membungkam mulutnya, menyumpalnya dengan bibir dan juga lidah. Menautkannya begitu dalam dan penuh gairah. Kanna terus meronta untuk melawannya, dan aku terus mendekapnya dengan erat. Aku akan menikmatinya malam ini, membuatnya luluh lantah, sampai dia memohon ampun padaku.
“Merancaulah, Kanna! Kau cantik saat merancau!!”
“Tidak!! Jangan!! Leon!! Arg...,”
Aku memaksa Kanna membuka kakinya, melepas paksa semua baju yang melekat pada tubuh indahnya. Kanna terus mencakar tubuhku, aku tak peduli dengan rasa perihnya, perlawanannya justru membuat nafsuku semakin memuncak. Aku membungkam mulut Kanna dengan bajunya sendiri agar dia tak berteriak.
Air mata Kanna terus mengalir seiring dengan persatuan kami malam itu. Kanna meronta sampai lemas dan akhirnya memilih untuk menyerah. Ia membiarkanku bermain cukup lama dengan tubunya. Aku menyemburkan benih cintaku padanya. Cairan hangat itu keluar dan membuatku puas.
Aku mengangkat tubuhku darinya, gairah dan keringat membuatku merasa jauh lebih baik. Kanna masih menangis, ia meringkuk, mungkin merasa sakit karena permainanku cukup kasar.
“Kau harus membayarnya, Kanna. Rasa sakitku. Kau harus membayarnya berkali-kali lipat lebih sakit daripada apa yang pernah aku rasakan!” bisikku di telinga Kanna sebelum bergegas merapikan diri dan pergi meninggalkannya.
Saat itu tanpa aku sadari aku telah melakukan sebuah kesalahan yang sangat besar. Kesalahan yang akan membuatku menyesalinya seumur hidupku.
— MUSE S3 —
Leon...!! Kenapa sekarang kau begitu kejam?! 😭😭
Muse up
Jangan lupa di like dan comment!!
Ngomong-ngomong pada tau nggak Papa Leon pernah keluar pada novel saya yang mana?
Yang bisa tahu jawabannya saya cium 😘😘