
MUSE S5
EPISODE 18
S5 \~ DIA AYAHKU
\~ Tercabik-cabik??? Tidak!! Bahkan rasanya lebih sakit dari pada sekedar tercabik-cabik. \~
________________________
BELLA POV
Satu bulan yang lalu ...
Seperti biasa, hujan ....
Lucas duduk bersila di depan jendela kaca besar, ia mengamati rintikan air hujan yang menempel pada kaca. Buliran-bulirannya membawa warna pelangi saat terkena sentuhan cahaya lampu dari dalam kamar.
“Ini teh panas.” Aku mendekatinya, memberikan secangkir kehangatan.
“Thanks, Ella.”
Aku membetulkan tatanan rambutku dan menguncirnya dengan model cepol ke atas kepala. Ikut duduk pada pangkuan Lucas dan mengamati air hujan, serta pemandangan kota yang mulai bersinar. Pekatnya awan mendung disore hari memaksa lampu jalanan dan kendaraan menghidupkan cahayanya lebih awal.
Lucas menghirup teh panas, sesekali ia meniup uapnya agar sedikit dingin dan tak melukai lidah. Aku mengamatinya sambil tersenyum, Lucas begitu menarik di mataku. Apa pun yang dia lakukan membuatku semakin dalam mencintainya. Bahkan caranya meminum teh juga membuatku terkesima. Hah, sepertinya aku benar-benar sudah dibuat gila karenanya.
“Kenapa melihatku seperti itu, Ella?” Lucas mempererat pelukkannya.
“Karena aku mencintaimu, Lucas. Aku tak ingin kehilangan barang sedetikpun saat-saat indah bersamamu.” Aku melingkarkan lenganku pada kedua pangkal lengannya sementara kepalaku sedang asyik menikmati irama detak jantungnya yang melaju dengan teratur.
Lucas hanya diam dan mengelus kepalaku. Menikmati kebersamaan yang terjalin di antara kami saat ini. Walaupun sunyi dan diam tanpa kata, nyatanya kami bisa saling mengerti betapa besarnya cinta yang hinggap di dalam hati kami masing-masing.
“Aku akan mencintaimu selamanya, Ella.” Lucas mengecup pucuk kepalaku.
“Iya, aku juga, Lucas.”
Lucas menundukkan kepalanya, dia menciumku. Mengullum hangat bibirku, rasa teh jasmine yang wangi menyeruak masuk ke dalam rongga mulut saat kami saling bertukar saliva. Mengacap keindahan akan segala pesona kasih asmara di antara kami berdua.
“Kalau saja ada kiasan yang bisa mengungkapkan seberapa besarnya cintaku padamu Lucas.” Aku mengangkat tubuhku, duduk untuk memeluk dirinya.
“Tak perlu diungkapkan, Ella. Cukup kau jaga hatimu untukku. Jangan biarkan baranya padam, jangan biarkan percikkannya menghilang.” Lucas mengelus wajahku dengan lembut dan aku menikamatinya seperti kucing manis yang manja. Aku menikmati kehangatan belaiannya ini, aku sungguh tak ingin kehilangan belaian ini.
Sekali lagi kami saling memeluk, menyatukan dahi, bertukar kecupan ringan, juga canda tawa yang begitu hangat.
•
•
•
•
Hujan telah berhenti saat ini, menyisakan butiran kecil pada dedaunan ... aku pun menghentikan lamunanku yang mengenang kebersamaan kami karena mama memanggilku dari bawah.
“BELLA!!!”
“Ya, Ma??!!” Aku bergegas menjawabnya dan turun ke bawah.
“Temani Mama berbelanja, kita beli baju dan makanan enak,” ajaknya.
Aku menaikkan sebelah alisku, tumben sekali mama mengajakku menemaninya pergi. Biasanya dia lebih memilih pergi dengan teman-temannya atau ke bar.
“Cepat ganti bajumu!”
“Baik.” Aku menurut, tak ada salahnya kami pergi berdua. Sudah lama hubungan kami renggang, mungkin dengan begini aku bisa menyenangkan dan membalas budinya dengan uang yang diberikan Lucas padaku.
Lucas memang sering memberiku uang untuk ‘gaji’ padahal aku sudah tak bekerja untuknya karena aku mencintainya dengan tulus. Aku menabung uangnya setiap hari, aku bertekat akan menggunakan uang itu sebaik mungkin. Selain untuk biaya kuliah dan juga hidup sehari-hari, aku terus menabung sisanya.
“Cepat donk! Gadis ini lelet sekali?!” Mama menyusulku masuk ke dalam kamar.
“Iya, Ma. Sebentar,” pintaku padanya agar mau menunggu dengan sabar.
Aku sedang menghubungi Lucas karena aku mengkhawatirkan dirinya. Mana bisa aku jalan-jalan dan makan enak bersama mamaku, sementara orang yang kukasihi sedang merana di samping tubuh mamanya yang kritis?
“Mama tunggu di depan!”
“Iya, Ma.”
BELLA:
Hubungi aku Lucas.
Aku mengkhawatirkanmu.
BELLA:
Lucas semuanya akan
baik-baik saja.
Aku menghela napas panjang, Lucas tak mengangkat panggilanku. Ia juga tak membalas chatku. Akhirnya dengan berat aku melangkahkan kaki masuk ke dalam taksi online yang telah menunggu kami.
“Mal P, Pak,” kata mama memberi instruksi.
“Baik.”
Selama perjalanan pun aku memilih diam dan mama memilih untuk berfokus pada layar ponselnya. Penampilannya seperti sedikit berbeda sekarang, lebih cantik, lebih elegan, dan lebih mewah. Aku melirik tasnya, entah itu asli atau tidak, tapi setahuku tas dengan merk he*mes bisa berharga sampai ratusan juta. Sebenarnya apa yang mama lakukan belakangan ini? Dari mana datangnya semua kemewahan itu?
“Ayo Bella kita jalan-jalan. Apa yang ingin kau makan dan ingin kau beli? Mama akan membelikan semuanya untukmu?” Mama menggandeng tanganku, walaupun sekejap aku merasa begitu bahagia karenanya.
“Apa saja, Ma,” jawabku senang.
“Crapes saja, Ma.”
“Oke, Mama belikan, kamu tunggu sebentar.” Mama bergegas menuju ke stall makanan yang menjual crapes, membeli yang paling mahal dengan topping ice cream dan juga kacang almond. Tak lupa saus coklat dan rasberry menghiasi bagian atasnya.
“Tara!! Kita makan berdua di sana.” Mama mengajakku duduk untuk menikmati crapes itu. Rasa manisnya terkecap jauh sampai ke dalam hatiku, sudah lama aku tak merasakan indahnya rasa cinta dari seorang ibu dan hal ini sungguh membuatku terharu.
Senyuman manis terus terkembang di wajah mama yang cantik. Senyuman yang sama saat ia pertama kali mengajakku ke kebun binatang, waktu itu aku berusia 7 tahun, sesaat sebelum papa meninggal. Senyuman itulah yang ku nantikan lebih dari sepuluh tahun kebersamaan kami belakangan ini.
“Ayo, kita cari baju untukmu.”
Mama bergegas menggandengku masuk ke dalam sebuah butik mewah. Aku menurut saja, aku lebih terbuai dengan kasih sayang dan perhatiannya dibanding bertanya dari mana ia mendapatkan semua uang ini?
“Ini bagus, Bell, ini juga sepertinya cocok! Kau lebih cantik kalau memakai warna merah, sama seperti Mama,” uajarnya sembari mengepaskan baju demi baju di depan tubuhku.
“Coba yang ini, Bell.” Mama menyuruhku mengepas baju di dalam ruang ganti, aku menurut saja.
“Cantik!! Baiklah aku ambil yang ini!” seru mama pada petugas kasir.
Aku mendelik saat melihat price tag yang menggantung pada merknya, satu juta tiga ratus ribu??! Hanya untuk sebuah atasan?! Ini gila, walaupun mama punya uang tapi pasti harga ini terlalu mahal untuknya.
“Ma, harganya mahal sekali, kita cari yang lainnya.”
“Ck, sudah Mama bayar! Kamu jangan bikin malu Mama, ah!” gerutu mama sebal karena aku bertingkah udik di depan para karyawan toko.
Aku kembali hanya menurut saja, menerima paper bag dari tangan pegawai toko. Kembali mengikuti mama masuk dari satu butik ke butik yang lain, mencoba semua pakaian yang dipilihkan mama untukku.
“Ini sepertinya cocok, Bell. Kulitmu putih dan bersih, pakai apapun cocok. Ah, jadi ingin menimang bayi perempuan lagi dan mendadaninya dengan cantik.” Mama berucap sambil memandang baju gemerlapan yang tegelayut pada tangannya.
Belum sempat aku menjawab ucapannya, sebuah tangan mencengkram pundak mama dan terpaksa membuatnya menoleh heran. Membuat mama memandang ke arahnya, pemiliknya menatap mama dengan matanya yang tajam.
Wajah mama berkerut kebingungan, namun bukan mama, kerutan di wajah tampannyalah yang membuatku semakin terkesiap. Kami saling bersitatap, membeku, dan penuh dengan tanda tanya. Padahal dia tak membalas pesanku, padahal dia tak mengangkat panggilanku, padahal dia tak tahu kalau aku sedang berada di sini.
“Lucas?”
“Ella?!!”
Kenapa?
Kenapa pria yang ku cintai bisa berada di sini? Memandang mamaku dengan pandangan dingin dan tajam. Lalu beralih memandangku dengan pandangan penuh kekecewaan yang begitu dalam.
Bahu Lucas melorot lemas, ia menurunkan cengkramannya. Berdiri dengan lunglai, membuatku bingung, mama juga tak kalah bingung.
Lucas hanya terdiam dan akhirnya berbalik untuk meninggalkanku. Ia berlari pergi.
“Maaf, Ma.” Aku memberikan baju-baju mewah itu dan memilih untuk mengejar Lucas.
•
•
•
Aku berlari dan berhasil menyusulnya tepat di depan area basement parkir mobil. Lucas menghentikan langkah kakinya dan memandangku. Biasanya dia akan membuka lengannya dan menyambut pelukkanku.
Namun ...
“Berhenti!!! Jangan mendekatiku!!”
Bagaikan petir yang menyambar disiang bolong, apa yang telah terjadi sampai dia menolakku??! Sampai dia membenciku?! Apa yang telah ku lakukan padanya?
“Apa maksudmu Lucas?” Aku tetap mendekat, perlahan-lahan agar tak membuatnya gusar.
...
Tak ada jawaban terdengar dari mulutnya. Lucas terdiam, bahunya naik turun, mencoba mengatur emosi.
“Lucas.” Aku hendak menggenggam tangannya, namun Lucas menampik tanganku.
“Ini salah!! Ini hal yang salah, Ella!” Air mata menetes dari kedua bola matanya, aku mencelos, sekejap kemudian aku ikut meneteskan air mata. Tak kuasa merasakan penolakan dari bibir kekasihku.
“Apanya yang salah, Lucas? Apa yang aku lakukan sampai menyakiti hatimu?” tanyaku heran.
“Pergilah, Ella!!!” Lucas mengusirku? Benarkah?
“Kenapa??? Katakan dulu alasannya!! Kenapa???!!!!” Aku berteriak, tak terima dengan penolakan sepihak dari Lucas. Aku harus tahu alasannya aku harus tahu kenapa dia ingin meninggalkanku seperti ini?
Lucas hanya diam, dia memberikanku ponselnya. Ada sebuah foto yang terpampang nyata di dalamnya. Seorang wanita cantik dan pria berumur yang mirip dengan Lucas. Aku sangat mengenali wanita itu, dia mamaku. Tapi siapa pria itu?
“Dia Ayahku.”
DEG ...
Hatiku langsung ambles saat mendengar penuturan Lucas. Sangking amblesnya aku bahkan tak bisa menutup mulutku, aku bahkan tak bisa bernapas, aku bahkan tak bisa berkata-kata. Udara di sekitarku seakan ingin mencekikku sampai mati saat ini. Hatiku terasa perih dan begitu sakit, tiap denyutanya terasa begitu menyiksa.
Tercabik-cabik??? Tidak!! Bahkan rasanya lebih sakit dari pada sekedar tercabik-cabik.
Kalau aku saja merasakan sakit yang begitu luar biasa hebat, apa lagi Lucas??
— MUSE S5 —
SEKILAS INPO
AUTHOR BIKIN NOVEL BARU
JUDULNYA IN YOUR EYES
REMAKE DARI CHAT STORY DENGAN JUDUL YANG SAMA
TOLONG BAGI LIKE DAN COMMENTNYA BIAR BISA MASUK RANGKING KARYA BARU. Terima kasih gaes.. kalian hebat.