
MUSE
EPISODE 23
PERTEMUAN
\~Lagi-lagi karena uang, dengan uang bahkan ambisi bisa diraih dengan mudah, dan nurani bisa di beli.\~
5 tahun kemudian
“Aku sangat gugup.” Aku menghela nafas berkali-kali.
Julius berdiri tegap di sebelahku, dia hanya tertawa kecil melihat kelakuanku saat ini.
“Kenapa malah ketawa?”
“Seperti baru sekali dua kali ikutancasting.” Julius mencubit hidungku.
“Kali inikan standartnya internasional.” Aku menggembungkan pipiku sebal.
“Kamu pasti bisa.” Julius mencium lembut bibirku.
“Ah.. nanti liptintnya hilang!” Aku menggerutu tapi menikmatinya juga.
“Kan bisa pakai lagi.” ucap Julius, tangannya melingkar di pinggangku dan mendekapku erat.
Nafasnya panas dan menggairahkan. Orang yang sangat menyebalkan, tapi harus ku akui ciumannya sangat hebat.
“Sudah, sana naik, namamu dipanggil. Semangat ya.” Julius mendorongku masuk ke arena casting.
Saat mencoba melupakan Alex aku memutuskan untuk berpacaran dengan Julius. Aku keluar dari kampus dan menetapkan untuk belajar modeling di ibukota. Berkat koneksi dan uang Julius semuanya menjadi sangat mudah bagiku. Bahkan Papa dan Mamaku pun berubah menjadi mendukungku.
Sangat tidak adil bukan, di dunia saat ini uang dan kekuasaan adalah segalanya. Bahkan dulu aku pernah bersaing dengan seorang model lainnya, aku kalah dan menangis. Di luar dugaanku ternyata model itu main belakang dengan seorang juri. Lagi-lagi karena uang, dengan uang bahkan ambisi bisa diraih dengan mudah, dan nurani bisa di beli.
Julius marah saat itu, dia mengancam menjatuhkan nama juri dan model tersebut kalau ketahuan curang lagi. Lalu dia mencontoh cara mereka beberapa kali untuk membuatku menang, tentu saja diluar sepengetahuanku.
Aku marah dan ngambek beberapa hari kepadanya. Akhirnya dia berhenti membantuku diam-diam. Aku hanya ingin menang dan berjalan dengan kemampuanku sendiri.
“Nama?”
“Cellena, panggilan Lenna.”
“Umur?”
“22 th.”
“Sudah lama di dunia modeling?”
“Sudah 5 th.” Aku menjawab pertanyaan para juri.
“Kau tahu kitacastinguntuk apa?”
“Pakaian musim dingin, brand d***.”
“Kudengar kau masih terikat kontrak dengan JR jewellry.”
“Betul, bulan ini kontraknya habis.”
“Oke Lenna, the stage is yours.”
Aku mengangguk dan mulai berjalan, melenggak lenggok dengan luwes. Aku menyukai modeling, aku merasakan perhatian semua orang tertuju padaku, dan itu menyenangkan.
Setelah kurasa cukup aku masuk ke belakang panggung dan segera menemui julius.
“Bagaimana?”
“Entahlah, yang pasti aku lega.” Aku memeluk Julius.
“Kapan pengumumannya?”
“Akan dihubungi dari kantor pusat. Aku benar-benar ingin menang,” senyumku padanya.
“Aku harap juga begitu.” Julius menggenggam tanganku dan mengelusnya lembut.
—MUSE—
“Lihat semua comment- comment ini, isinya negatif semua!” Aku melihat layar ponsel dan menunjukannya pada Jessi.
Setelah lulus Jessi malah membantuku dengan menjadi managerku. Dia melamar di kantor agensi model sebagai manager. Aku juga masih ingat betapa histerisnya Jessi saat berkenalan dengan Julius dulu.
“Sekarang haters ma banyak, nggak usah diambil pusing.”
“Mereka bilang aku cacatlah, kelainanlah, nggak layak menang.. Banyak deh.” Aku membuang hp ke atas sofa.
“Tapikan nggak sedikit kan yang mendukungmu?” Jessi mencubit kedua pipiku.
“Tapi baca komentarnya bikinbad mood.”
“Ya nggak usah dibaca!” Jessi menghela napas sebal.
“Mereka bilang aku sering lulus casting karena dukungan Julius.”
“Kan emang bener!”
“Katanya aku simpanan dia! Padahalkan bukan.”
“Namanya juga netizen.”
“Tapi sebel!!”
“Ih biarin, mereka punya mulut, punya mata, punya telinga. Terserah mau bilang apa, yang penting kitanya enggak ngelakuin.”
Aku kembali bangkit dan meminum segelas jus jeruk.
“Kau bilang sudah makan siang? Ternyata makan siangmu cuma jus jeruk itu?” tiba- tiba Julius datang dan memelukku dari belakang.
“Iya, ada pemotretan sebentar lagi.” Aku membalas pelukannya.
“Ah kalian... siang-siang bikin hatiku panas!!” Jessi melempar bantal sofa ke arah kami dan tersenyum.
“Makanya segera mencari pacar.” Aku meledek Jessi.
“Keluar ah.. sebel liatin orang pacaran.” Jessi beranjak keluar dari apartemenku.
“Kau nggak ke kantor, Kak?” tanyaku pelan, aku masih menikmati dekapan hangat Julius. Nafasnya yang teratur membuat tengkukku panas.
“Aku merindukan malaikatku.” Julius mencium pundakku, rasanya geli saat bibirnya menyentuh kulitku.
“Gombal banget.”
“Nggak gombal kok.” Julius mengangkatku duduk di atas meja pantry. Menciumi leher dan dadaku.
“Kau gila.. jangan di sini, ini dapur..” Aku terkikih sambil menggeliat geli.
“Ga pa-pakan sekali-kali ngelakuin hal gila?” Julius tersenyum nakal dan membopong tubuhku di pundaknya.
“Lepasin, Kak!” Aku tertawa dan memberontak.
“Aku sungguh merindukanmu, Lenna.” tangannya merebahkanku ke atas kasur.
“Jangan coba-coba merayuku. Aku ada pemotretan.” Aku menolak ajakan sex dari Julius. Dia terlalu gila saat di atas ranjang. Bisa-bisa aku sudah kehabisan tenaga sebelum bekerja.
“Terus saja berontak, aku malah semakin suka.” godaannya membuatku sebal tapi ingin menyerah.
“Jangan.. ahg...!” Akhirnya aku menyerah juga.
—MUSE—
“Dasar cowok brengsek!! Kan tahu Lenna ada pemotretan. Di tahan sebentar kek!” Jessi mengumpat di depanku.
Setelah satu jam yang menggairahkan Julius pamit dan aku berangkat ke studio. Jessi yang menyetir mobil terus uring-uringan sebal dengan kelakuan Julius.
“Kau juga! Jaga diri kek, tuh merah di leher gangguin banget tahu ga?!” Jessi melirik tajam ke arahku.
“Maaf maaf.. godaannya terlalu berat!” Aku memelas, masih berusaha menutup kiss mark yang di berikan Julius dengan fondation.
“Nggak cowok ga ceweknya sama aja!”
“Dulu kamu ngefans ama dia.” ledekku.
“Hahahahaha...bebek tampan.”
“Awas aja kalau ntar kecapekan dan wajahmu kusut. Aku nggak mau nungguin kamu ngulang take foto.” ancam Jessi.
“Iya, iya bawel.”
Kami sampai di sebuah studio foto, kali ini akan ada pemotretan baju-baju musim dingin untuk koleksi brand d***. Aku berhasil lolos casting dengan beberapa model lainnya. Mereka sangat cantik, tinggi, dan ramping. Aku kadang merasa minder saat harus beradu jalan dengan mereka. Tapi untunglah aku masih memiliki kesempatan untuk memenangkan casting kemarin.
“Hai.” Aku menyapa mereka.
Pandangan mereka datar dan tak acuh, mereka lebih mementingkan berdandan dan fitting baju mereka masing-masing.
“Ayo bersiap.” Jessi menarik tanganku.
“Kenapa semuanya menatapku dengan perasaan nggak suka?” Aku membuka kancing bajuku, Jessi membantuku.
“Ya paling karena rumor, kaukan simpanannya Julius. Mereka yakin Julius membantumu dari belakang.” Jessi melepaskan bajuku.
“Betulkah?”
“Gilla!!! Kenapa kiss mark -nya banyak banget!!” Jessi berteriak.
“Ih jangan keras-keras.” Aku menutup mulutnya dengan telapak tanganku.
“Untung aja pemotretan jaket! Kalau bikini mana bisa?!!! Kau itu jaga diri, kek!” Jessi berbisik dengan nada marah kepadaku.
Salahku juga sih menyerah dengan pesona Julius. Habis sayang juga kalau nggak dinikmati. Kami tidak bisa setiap hari bertemu, karena tuntutan pekerjaan dan kesibukkan masing-masing.
“Lihat itu lehernya merah.”
“Iya, amit-amit, mau ke sini aja nge-s*** duluan.”
“Yaiyalah diakan simpanan orang.”
“Padahal abnormal gitu, kok masih ada yang suka, ya?”
“Selera Julius emang nyeleneh, pantas aja dulu nggak ada wanita yang bisa deketin dia.”
“Tapi katanya dia sudah punya tunangan.”
“Mangkanya, dia ini cuman simpanan.”
“Pantes aja bisa menang casting ini.”
“Uang Juliuskan banyak.”
“Bla..”
“Bla..”
“Jangan di dengar Lenna!! Jangan dipikirkan!!” Jessi meremas kedua lenganku.
“Jessi aku...” Aku ingin menangis, mataku mulai berkaca-kaca.
“Mereka hanya iri Lenna!! Jangan Menangis!! Kau lebih baik dari mereka.” Jessi memelukku.
“Iya..” Aku menggigit bibirku agar air mata tidak terjatuh.
“Nanti make up-mu rusak.” Jessi membetulkan rambutku.
“Terima kasih.”
“Semangat!! Nanti aku traktir es serut.”
“Huum..” Aku mengangguk senang.
Aku menyelesaikan pemotretan hari ini dengan baik, mereka bilang aku sangat cantik dan cocok menggunakan koleksi baju musim dingin mereka. Aku berayukur bisa ambil bagian dalam karya mereka juga.
“Jadwal selanjutnya apa, Jes?”
“Belum ada. Kita bisa cari es serut nih.” Jessi membuka mobil dan memasukan koper.
“Asyik.. aku mau rasa coklat.” Aku tersenyum senang.
Tringg...🎶
Telephon masuk di ponsel Jessi.
“Siapa?”
“Kantor Agensi.” Jessi mengangkat telephonnya dan berbicara sebentar sebelum menghela nafas panjang.
“Kenapa ada masalah dengan kantor?” Aku penasaran dengan isi pembicaraan mereka.
“Baru saja ada seorang seniman meminta jasa model agensi untuk jadi model lukisannya.”
“Oh.. terus?”
“Ciri-cirinya mirip denganmu.”
“Aku??”
“Iya.. bagaimana? Ambil pekerjaan ini tidak?”
“Emang bisa aku tolak? Nanti pak Cory marah!” Aku menyipitkan mataku, mengingat wajah pak Cory yang marah sungguh menyebalkan.
Pak Cory adalah pemilik kantor agensi model tempatku dan Jessi bekerja. Perusahaannya telah banyak mencetak model-model kelas dunia.
“Orangnya nungguin jawaban.”
“Aneh banget, masa hari gini sewa model untuk lukisan? Jangan-jangan om mesum lagi,” bulu kudukku merinding.
“Ya enggaklah, kan selalu ada aku di sampingmu. Berani macem-macem aku hajar dia.” Jessi menyalakan mobil.
“Oke deh, kita temui orangnya dulu, baru diputusin mau apa nggak.”
“Yoik, ayo berangkat.”
“Demi es serut!!!” Aku berseru.
Kami sampai di kantor agensi, Jessi menyapa beberapa teman manager sebelum masuk ke dalam lift.
“Nona kami sudah menunggumu.” Sekretaris pak Cory menuntunku masuk ke dalam.
Aku melihat seorang pria berdiri membelakangiku, rambutnya coklat kemerahan, tersisir dengan rapi. Ada sebuah tato bergambar bulu di lehernya. Samar-samar ada aroma yang pernah aku kenal. Jantungku terasa sakit saat mencium aroma itu.
“Ah ini sudah datang, model kami yang sesuai dengan karakter yang anda minta.” Pak Cory melambaikan tangannya kepadaku, mengisyaratkan agar aku mendekat.
“Lenna, ini pak Davin, pelukis terkenal. Kurator seni dari pemerintahan, kritikus seni dengan taraf internasional. Banyak prestasinya padahal masih muda.”
Aku mendekat pelan dan mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan. Pria itu membalikkan badannya menyambut tanganku.
“Lama nggak bertemu, Lenna?”
Aku terbelalak kaget melihat wajahnya, garis rahangnya terlihat jelas. Kulitnya sedikit coklat dan rambutnya tak lagi panjang.
Aku mundur beberapa langkah kebelakang.
Aku merasa aku telah melupakannya.
Aku merasa aku telah menghilangkan rasa cintaku padanya.
Tapi kenapa?
Kenapa hatiku masih berdesir saat aku melihatnya?
“A..Alex?!”
—MUSE—
Like, comment, and +Fav
Follow dee.meliana for more lovely novels.
❤️❤️❤️
Thank you readers ^^