
MUSE S6
EPISODE 16
S6 \~ HANGAT
\~ Walaupun sempat terbesit sedikit rasa simpati pada masa lalu Ivander, namun hati Gabby yang terlanjur dibutakan oleh dendam terus menginginkan kebenaran akan pembunuhan Krystal terungkap. Meski pun itu berarti dia harus membunuh Ivander dengan tangannya sendiri.\~
____________________
Ivander lagi-lagi menghela napasnya panjang, ia hanya bisa terdiam kaku dan penuh penyesalan.
“Kenapa diam saja?” Gabby merasa tak nyaman karena suasananya mendadak suram.
“Ah, maaf. Suasananya jadi tidak enak, ya.” Ivander bangkit, ia lalu menyodorkan tangannya ke arah Gabby. Alis Gabby memincing, seperti sedang bertanya, ingin ke mana?
“Ayo ke kamar!” ajak Ivander, Gabby melongo, kini sorot matanya gantian menyiratkan, mau apa?
“Ngapain?” tanya Gabby, alisnya tertaut.
“Tentu saja menghangatkan badanmu, Honey!” Senyum Ivander. Wajah tampannya berseri bahagia.
Gabby bingung, namun akhirnya menurut juga, bukankah tujuannya memang menggaet pria cassanova ini, kenapa mesti takut saat diajak ke kamar?
“Kita ganti bajumu, Gabby, aku ajak mengitari Vila.” Ivander menggandeng Gabby masuk ke dalam kamarnya.
Ternyata hanya ganti baju! Aku terlalu berpikir yang tidak-tidak, gumam Gabby dalam hatinya.
Gabby melihat ke sekeliling kamar, tak ada yang istimewa selain semua perabotan lawas yang terbuat dari kayu jati. Pliturnya masih terlihat mengkilat dan terrawat. Hanya ada satu kamar utama di vila itu, satu lagi kamar namun untuk kamar pelayan dan suaminya. Dua buah lampu duduk dengan model antik yang terlihat cocok bersanding dengan furniture kayu, ada pun cahayanya masih berpendar dengan indah. Menciptakan suasana yang hangat dan juga nyaman.
“Rumah siapa ini, Van?” tanya Gabby.
“Rumah Mamaku,” jawab Ivander.
“Ah, begitu.” Gabby terdiam.
“Di sini dia memberikan nyawanya sebagai ganti memberikanku kehidupan.” Ivander mengelus kasur dengan tangannya, tersenyum kecut.
Setelah Zean berpisah dengan Kanna, Orela kembali hadir dalam hidupnya, membawa berita tentang kehamilannya. Kabar itu menjadi dua mata pisau bagi Zean, sukacita dan rasa malu, pasalnya baru sebentar ia bercerai dan sekretarisnya hamil. Tentu saja keluarga dan juga semua orang di sekitarnya akan bergunjing, menganggap Orelalah alasannya bercerai dengan Kanna.
Akhirnya Zean mendirikan vila indah ini untuk Orela selama hamil sampai melahirkan, menyembunyikannya dari keluarga dan orang-orang. Namun sayangnya saat melahirkan Ivander, Orela harus meninggal. Selama dua tahun Ivander kecil dirawat oleh Oma —sebutan Ivander untuk ibu dari Orela— dan juga pelayan keluarga itu.
Begitu Oma semakin tua dan sakit-sakitan, Zean mencari istri dan mengambil kembali Ivander untuk ia rawat sendiri. Namun lagi-lagi kesibukan Zean menyita waktunya dan tak bisa merawat Ivander dengan penuh cinta, bukannya membuat Ivander kecil bahagia, ia malah meninggalkan goresan luka pada hatinya, membentuk Ivander menjadi pribadi yang tak mengenal arti cinta sama sekali.
Kini begitu kembali ke negaranya, Ivander memperbaiki vila itu, menyulapnya menjadi lebih indah dan juga terawat. Pelayan yang mengasuhnya dulu masih setia bekerja padanya, ia dan suaminya tinggal pada kamar belakang untuk merawat vila itu. Ivander akan ke vila bila merasa hatinya sedang gundah atau pun sesak. Waktu remaja bahkan Ivander nekat kabur ke vila ini karena Mira menghajarnya sampai babak belur.
Gabby terdiam, masih tercekat dengan cerita pilu tentang kisah kelahiran Ivander. Beruntung Ivander bertemu dengan gadis yang bisa menjinakkan sifat liarnya. Kini ia bisa belajar secara perlahan tentang artinya mencintai seseorang.
“Aku kemari bila merindukannya,” lirih Ivander, matanya berkaca-kaca, “aku bahkan tak sempat merasakan kelembutan tangannya.”
“Bukankah kau masih punya Tante Mira yang mencintaimu?” Gabby mendekat pada Ivander.
“Kau mau lihat hasil cintanya?” Ivander bangkit, melepaskan kemeja putih yang menempel ketat pada tubuhnya yang atletis, lalu berbalik badan. Ada beberapa bekas luka yang terlihat menyeramkan pada punggung Ivander.
Gabby menutup mulutnya setengah tak percaya. Wanita ramah yang dikenalnya saat bertandang ke rumah Adrian saat itu bisa melakukan hal begitu keji pada seorang anak. Memang Ivander bukan anak kandungnya, tapi ia tak sepantasnya diperlakukan semena-mena seperti ini!
“Bekas apa ini, Van?” Gabby mengelus salah satu luka yang paling panjang.
“Saat kami merenovasi rumah, dia pernah memukulku dengan balok kayu sisa bangunan hanya karena aku merebut mainan Adrian. Saat itu aku berumur 7 tahun, tak disangka pada ujung balok kayu ada paku, paku itu merobek dagingku sepanjang ini.” Ivander menceritakan kisahnya, membuat Gabby bergidik miris.
“Kalau yang ini?” Gabby kembali mengelus belas luka Ivander yang lain.
“Wanita itu gila!” umpat Gabby.
“Yah, begitulah, kini kau tahu kenapa keluarga kami tidak harmonis.” Ivander mengangkat bahunya.
“Benar. Aku kira selama ini kau yang suka cari gara-gara, habis sifatmu memang buruk,” cibir Gabby sambil tertawa.
“Kalau itu aku tak bisa mengelak, sifatku memang buruk, aku akui itu, hm ... tapi aku bisa berhenti asal kau mau menerimaku menjadi kekasihmu.” Ivander mendekati Gabby, bergegas menyelipkan kedua tangannya pada pinggang Gabby.
“Benarkah? Kau mau melakukannya demi diriku?” Gabby mengangkat wajahnya, mencari kesungguhan hati Ivander lewat tatapan matanya.
“Benar, Gabby.” Ivander mendekatkan wajahnya, mengecup lembut daun telinga Gabby, membuat Gabby terpejam menikmati hangatnya napas Ivander yang berbisik padanya, “Vertrau mir, Schatz!”
(Percayalah padaku, Sayang!)
Ivander langsung memutar tubuh Gabby agar mengarah ke depan kaca besar yang menempel pada dinding, sementara tangannya membuka semua tali pada belakang ikat pinggang Gabby.
“Ivander!” Protes Gabby.
Ivander tak mengindahkan ucapan Gabby, ia tetap melucuti baju Gabby dengan cepat. Gabby menyilangkan tangannya di depan dada, menutupi keduanya dengan lengan. Gabby terkejut dengan kelakuan spontan Ivander, tapi tak bisa mengelak dengan mudah.
“Tak perlu disembunyikan, bukankah aku sudah pernah melihatnya? Lagi pula, aku tak akan mengajakmu melakukan hal itu sampai kau menerimaku, meine Liebe!” Ivander memeluk tubuh Gabby, menghadap cermin, dengan perlahan ia membuka pertahanan diri Gabby. Gabby menurut, dengan alunan napas yang kian berat ia membuka pertahannya, memperlihatkan tubuhnya yang indah di depan kaca.
“Tubuhmu sangat indah, Gabby. Aku menyukainya.” Puji Ivander sambil menatap kaca di depannya, tangannya bergerak naik dari pinggang ke pundak Gabby.
“A—aku,” gagap Gabby, wajahnya menghangat saat menoleh dan membuat pandangan mereka bertemu, sejenak lidahnya menjadi kelu, pikirannya kosong.
“liebe mich, Liebes! Ich werde dir alles geben.” Ivander mengecup pundak Gabby, tersenyum hangat padanya.
(Cintai aku, Sayang! Akan aku berikan segalanya untukmu.)
“Einschließlich deines Lebens?” Gabby memutar tubuhnya, bergelayut manja pada leher Ivander.
(Termasuk nyawamu?)
“Ja, einschließlich meines Lebens.” Ivander mengecup leher Gabby.
(Ya, termasuk nyawaku.)
Gabby tersenyum penuh kemenangan, sepertinya pengorbanannya tak sia-sia malam ini. Ivander menceritakan semuanya, percaya kepadanya, bahkan bersedia memberikan apa pun untuknya. Gabby merasa telah berhasil merayu Ivander, menjatuhkannya dalam buaian cinta yang fana.
“Tubuhmu sangat hangat, Ivander.”
“Maka nikmatilah!” Ivander mengecup perlahan bibir Gabby sambil merangkulnya dengan erat. Berbagi kehangat.
Walaupun sempat terbesit sedikit rasa simpati pada masa lalu Ivander, namun hati Gabby yang terlanjur dibutakan oleh dendam terus menginginkan kebenaran akan pembunuhan Krystal terungkap. Meski pun itu berarti dia harus membunuh Ivander dengan tangannya sendiri.
— MUSE S6 —
Akhirnya part bucin bucinan keluar... ahay
Jangan lupa love like dan commentnya
Vote bila berkenan, bagi-bagi tips.
Oh ya gaes, jangan lupa beli buku saya GORESAN WARNA PELANGI
DI @LOKA_MEDIA
TERIMA KASIH