MUSE

MUSE
S2 ~ PROLOG




MUSE S2


EPISODE 32


S2 \~ PROLOG


\~ Let him kiss me with the kisses of his mouth: for thy love is better than wine. Song of Solomon‬ ‭1:2‬ \~


•••


Halo namaku Arvin, apa kalian masih mengingatku? Aku muncul sebagai bintang cameo di MUSE Season pertama. Yup betul, aku adalah adik dari si cantik Lenna. Kali ini aku bakal hadir sebagai tokoh utama dalam cerita MUSE Season ke dua. Siapin tisu karena kisahku juga pasti menguras air matamu...


Stay read ya readers..


—MUSE S2—


Kenalan dulu, ya. Kata orang tak kenal maka tak sayang. Namaku Marvinous, orang-orang memanggilku Arvin. Dalam bahasa Jerman Arvin berarti sahabat, mungkin Papa dan Mama berharap aku punya banyak teman dan sahabat dalam kehidupanku.


Aku adalah orang yang penuh percaya diri.


Aku seorang pemimpin, berwibawa, dan selalu mencari petualangan. Kok sama seperti Julius? Yup, karena memang pria itulah panutanku. Aku sangat tertarik dengan kehidupan bebas dan memiliki sifat mandiri. Aku juga tipe orang yang selalu bicara apa adanya. Tak lebih dan tak kurang.


Dalam usiaku yang menginjak 30 tahun aku terbilang cukup sukses dengan usaha yang aku rintis sendiri. Emang sih modalnya dari orang tua, tapi ngembangin usahanya tetap pake keringatku sendiri. Semua aku bangun dengan keringat dan air mata. Wkwkwkwk.. lebay.


Berbeda dengan kakakku Lenna yang cenderung pendiam karena kondisinya yang bisa dibilang istimewa. Aku lebih supel dan mudah bergaul. Punya banyak teman, prestasi, dan juga impian.


Dari segi fisik aku merupakan orang yang normal, tapi jauh di dalam jiwaku aku sedikit berbeda. Yes, as you thought, aku punya kelainan jiwa. Mungkin hal ini terjadi karena Papa dan Mama lebih memperhatikan kakak sejak aku kecil. Kasih sayang mereka berkurang karena lebih fokus memperhatikan kakak yang dianggap lebih tidak normal di banding diriku. Padahal bukankah seorang anak kecil juga butuh perhatian? Butuh kasih sayang?


So, aku menderita mental disorder, ga parah sih, aku hanya sedikit syco. Ah.. kok kesannya kejam gitu, ya? Tapi tenang, aku nggak suka memotong-motong daging manusia atau memakannya kok. Aku hanya sedikit kejam saja, mudah emosi dan meledak-ledak, aku juga sering menyiksa wanita yang aku tiduri sebagai bentuk kelainan emosionalku. Apa sih namanya? Mesokis? ah yang bener.. Masokis..


Pernah liat film fifty shade of grey? Semacam itulah aku.. menyiksa pasanganku sebelum aku melakukan hubungan sexx. Aku mendapat kepuasan dari erangan rasa sakit dan penundukan diri. How f**king I’m, right?


Tak ada yang pernah tahu kalau sifatku ternyata se-laknat ini karena memang aku selalu menyembunyikannya dari semua orang yang ku kenal. Apa lagi dari kedua orang tuaku dan juga kerabat. Hanya segelintir orang yang tahu (para wanita murahan itu), dokter, dan juga sekretarisku Aleina.


Aku tak lagi tinggal dengan orang tuaku semenjak berkuliah. Maka dari itu aku semakin terjerumus dalam kenikmatan yang menjijikan ini. Tak ada yang mengawasiku, tak ada yang mengingatkanku. Hidupku bebas.


Tak ada manusia yang sempurna, tak ada manusia yang tak berdosa, betulkan? Aku selalu menanamkan hal itu dalam hatiku sebagai wujud pembelaan diri. Biarlah semua dosa ini aku tebus dengan berbuat baik pada yang berkekurangan.


Apa aku pernah berharap untuk sembuh?


Tentu saja.. Siapa yang nggak ingin sembuh dari penyakit seperti ini? Apalagi usiaku sudah bukan anak remaja lagi, orang tuaku menginginkan aku untuk segera menikah. Tapi mana ada gadis baik-baik yang mau menyerahkan dirinya untuk dicambuk dan disiksa sebelum berhubungan badan?


Aku sudah sering berkonsultasi dengan dokter maupun psikolog. Hasilnya.. nihil.. kenikmatan itu lebih menguasai tubuh, hati, dan jiwaku.


Sampai suatu saat secerca harapan muncul untukku sembuh..


Sembuh dari kelainan ini..


Sembuh dari kepuasan semu.


Tapi sayangnya satu...


Saat itu aku melepaskannya karena aku hanya menganggapnya seorang wanita tanpa nama. Yang hanya lewat begitu saja seperti wanita-wanita j**ang lainnya.


Kejadian itu sudah terjadi cukup lama, namun masih begitu membekas dalam benakku. Aku hanya dua kali bertemu dengannya.. Dan, bodohnya aku juga tak pernah menanyakan namanya..


Apakah aku bisa bertemu dengannya lagi?


Pertanyaan yang begitu klasik, mengingat betapa luasnya kota tempat tinggalku saat ini.


Hanya rambutnya yang hitam dan panjang, bulu matanya yang lentik seperti boneka, juga bibirnya yang penuh dan begitu ranum menggoda yang aku ingat.


Oh iya.. aku juga masih mengingat aroma collone murah yang digunakannya..


Begitu manis..


Begitu lembut..


Begitu memabukkan..


Hari itu hujan turun dengan deras, dan dia sedikit basah karena kehujanan. Melihat tubuhnya yang menggigil membuatku begitu ingin melindunginya.. tapi nyatanya ego-ku sekali lagi lebih besar. Aku tetap tak pernah menanyakan namanya.


Saat ini sudah berbagai macam cara aku lakukan.. Tapi aku tetap tak pernah menemukannya.. Bahkan situs penjual jasa sexx online tempatku memesannyapun tidak tahu apa pun tentang kehidupan gadis ini. Dan siapa dia? Bagaikan menghilang di telan bumi. Kabarnyapun tak ada.


Ah.. bodohnya aku..


— MUSE —


Hallo Readers..


MUSE lanjut ya..


Baca..


jangan lupa like dan comment..


Tinggalin banyak jejak..


Juga vote..


Hehehehe...


❤️❤️❤️❤️


I lap yu..