MUSE

MUSE
S7 ~ LOLOS SELEKSI



Wuah siapa kangen sama MUSE? Halah, sudah lama banget enggak nulis di platform ini ya. Hahaha … maafkan aku yang menggantung kalian tinggi-tinggi di tiang bendera.


Oke deh, ayuk di baca. Meski ga janji update tiap hari, namun saya berjanji akan membawa cerita ini sampai tamat.


Jangan lupa vote dan komennya.


...****...


MUSE


S7 \~ LOLOS SELEKSI


Rasanya sangat menyenangkan melihat rasa percaya diri Leoni kembali begitu bekas lukanya tertutup. Levin jadi ingin mengelus tato itu dan menggigitnya.


___________


“Berjanjilah kau akan kembali padaku, Vin.” Kata-kata Leoni ini sudah hampir terdengar satu tahun yang lalu. Itu berarti sudah hampir satu tahun pula Levin merantau di negeri orang dan mengembangkan karirnya sebagai seorang pembalap profesional.


Ada beberapa deretan kelas pada balapan, 125, 250, dan moto GP. Event yang cukup besar. Tiap tahunnya ada banyak anak berlomba agar nama mereka di sebutkan dan masuk pada jajaran pembalap yang sungguh-sungguh balapan di sirkuit tanding


Tring …🎶


Ponsel Leoni berbunyi, jam menunjukan pukul sepuluh malam. Gadis itu menggerayangi permukaan nakas dan mencoba menemukan benda paling keramat milik tiap manusia, apa lagi kalau bukan ponsel. Tak ada manusia yang tak bisa hidup tanpa benda itu sekarang, hayo, jujur!


Mata sipit Leoni langsung terbuka lebar saat melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.


Levin …


Sudah satu minggu Levin tidak ada kabar karena kesibukannya dan juga beda waktu antar negara. Saat Indonesia malam mereka siang hari, terpaut hampir delapan jam.


“Halo,” sapa Leoni, debaran jantungnya bagaikan deburan ombak saat ini. Keras dan cepat, menderu-deru. Demi Tuhan, ia sangat merindukan kekasihnya. Sudah satu tahun mereka berpisah dan sudah hampir dua minggu mereka tak berhubungan.


“Singa!! Aku lolos!! Aku lolos seleksi, Singa!!” Jeritan Levin memenuhi indra pendengaran Leoni.


“Lolos? Lolos apa?” Leoni ikut senang, namun juga khawatir. Lolos apa maksudnya?


“Aku lolos seleksi. Bulan depan aku akan ikut grand pix untuk kategori 125 cc.” Levin terlihat menceritakan keberhasilannya kali ini dengan penuh semangat, tidak sia-sia latihan keras dan perjuangannya selama dua minggu belakangan. Kerja kerasnya terbayar saat melihat namanya tercatut pada daftar pemain grand pix.


“Jadi …. Bulan depan kau akan bertanding?” Tanya Leoni.


“Benar, kau akan mendukungku kan, Sayang?”


“Tentu saja.”


“Bagus, kau orang yang kuberitahu pertama kalinya. Aku bahkan belum memberitahu Mommy dan Daddy.” Levin mengumbar senyuman di balik panggilan itu.


“Sungguhkah?” Leoni tersenyum bahagia, mendengar celotehan Levin dan ceritanya saat berada di sirkuit membuat Leoni berdebar khawatir sekaligus bahagia.


Keduanya kembali berbincang, menceritakan kehidupan masing-masing. Apa yang telah berhasil mereka lalui. Saat ini Leoni menjadi siswa sebuah SMK kesenian dengan jurusan Kriya. Ia bercita-cita untuk menjadi pengerajin batu, stone crafter. Mamanya juga memasukkan Leoni ke sekolah balet supaya di sibukkan dengan hal-hal berbau wanita.


“Jangan menertawakanku.” Leoni mencibirkan bibirnya saat Levin tertawa ngakak diujung sana.


“Aku tak sabar melihatmu menari balet di depanku, Singa. Kau pasti terlihat sangat …”


“Sangat mirip robot … hahaha…” Levin tertawa lagi, Leoni semakin cemberut.


“Kau itu pacarku bukan sih?” Cibir Leoni.


“Idih marah. Coba sini aku lihat wajah marahnya?” Levin mengganti panggilannya dengan video call.


Leoni langsung merapikan rambutnya sebelum mengganti sambungan video call.


“Mana? Lihat wajah cantik yang marah tadi?” Pinta Levin.


“Si … siapa yang marah?”


“Hahaha …” tawa Levin geli. Saat saling memandang Levin tak sengaja melihat tato bunga matahari di pundak Leoni.


“Kau menutup bekas lukamu?”


“Ah, iya, kau mau melihatnya?”


“Tentu saja, bila perlu yang menggantung indah dibawahnya juga sekalian.”


“Hei!” Leoni melotot galak.


“hahaha, hanya bercanda Leoni.”


Leoni menunjukan tatto bunga matahari yang menyelimuti bekas luka di pundaknya. Rasanya sangat menyenangkan melihat rasa percaya diri Leoni kembali begitu bekas lukanya tertutup. Levin jadi ingin mengelus tato itu dan menggigitnya.


“Milikmu?” Tanya Leoni, ia juga penasaran dengan milik Levin.


“Ini, aku menambahkan tulisan di sini.” Levin menunjukan tatto gambar michael sang malaikat perang di lenganya, tatto itu juga menutupi bekas lukanya. Ada tulisan di bawah kaki michael.


“Apa tulisanya.”


“Born to Win.”


“Hahaha … alay!”


“Itu doa tahu!”


“Kapan kau akan bertanding, Vin?” Tanya Leoni.


“Musim depan. Aku akan menghubungi Daddy dan mempersiapkan tiket! Kau harus ikut karena aku sangat merindukanmu!!” Levin membuat wajah Leoni menghangat.


“Tentu saja.”


“Aku tak akan kalah, singa. Dan bila aku menang, kau harus memberiku hadiah.”


“Oh, hadiah? Apa yang kau minta?”


...— MUSE —...


Apa yang di minta Levin?