
MUSE S4
EPISODE 24
S4 ~ HILANGNYA RA II
~ Kini aku sadar, mungkin saat itu, Ra hanya ingin menyatakan rasa cintanya padaku, namun akulah yang bodoh karena tidak bisa menyadarinya.~
___________________
Hari ini hari Minggu, namun Ra tetap tidak muncul. Membuat rasa kecewa menyelimuti hatiku. Sudah lima hari Ra tidak pernah muncul kembali, hari-hariku berjalan dengan cepat dan terasa ada yang hilang. Untung saja Ken masih dengan setia menemani ku ke mana pun aku pergi. Bahkan kemarin Ken berjanji akan menjagaku, berusaha menjadi sosok yang kuat seperti Ra.
Aku bangun pagi dengan lesu, masih mencoba untuk mencari kepingan nyawaku yang bertebaran di alam mimpi. Mataku tertuju pada jam dinding di atas buffet TV. Aku langsung menyibakkan selimutku begitu mengetahui pukul berapa sekarang? Pukul 8 pagi, terlambat satu jam dari waktu janjianku dengan Ken.
Hari ini Ken berjanji akan menemaniku menggambar seharian, menyelesaikan gambar sayap di jalanan belakang perumahan. Aku telah berjanji pada anak-anak untuk menyelesaikan semuanya hari ini. Dengan kecepatan cahaya aku bergegas menuju ke kamar mandi, mengosok gigi, mandi, memakai outfit yang bisa menyerap keringat. pasti saat matahari bersinar terik keringat pun akan mengucur dengan derasnya.
Aku memakai kaos katun kedodoran bergambar Power Puff Girl, aku sengaja mengikat bagian bawahnya sehingga menampilkan perutku yang ramping. Aku ingin mememerkan pusarku yang aku tindik tak lama setelah kelulusanku diumumkan. Aku memadukannya dengan celana kain gombor model Aladin, tak lupa sepatu boots kulit berwarna hitam dengan heels yang rata. Oh, ya, aku telah mengganti warna rambutku, kini tidak lagi abu-abu dengan semburat pink, namun hitam dan jingga, warna jingganya seperti matahari sore yang tenggelam di kaki cakrawala.
"Ken, sorry, sudah lama nunggunya?" Aku melompati beberapa anak tangga sekaligus saat turun ke lantai dasar.
"Inggrid pelan-pelan!" Mommy menatapku dengan pandangan sebal, masa iya anak gadisnya bersikap begitu tomboi.
"OK!"
"Sudah lama?" Aku mengulangi pertanyaanku pada Ken.
"Baru satu jam," jawabnya, tentu saja satu jam, diakan memang datang jam tujuh tadi.
"Maaf, ya, tidurku kelewat nyenyak," ujarku sambil mengiba.
"Its OK, girl."
"Mom, Inggrid pergi dulu!" seruku.
"Makan dulu Inggrid!"
"Keburu siang, Mom," pungkasku. Menggambar saat terik matahari berada di pucuk kepala sangat menyiksa pastinya.
"Bawa ini, ini, dan ini!" Mommy keluar membawakanku roti, tremos berisi susu hangat, dan juga sebotol besar air mineral. Memang perhatian seorang ibu tak ada duanya.
"OK, Thanks Mom."
"Jaga Inggrid OK. berhentilah saat kalian lelah." Pesan Mommy pada Ken.
"Siap, Mi."
Kami berjalan keluar dari perumahan menuju ke kampung grafiti. Aku akan mencoba menyelesaikan gambar sayap malaikat dan juga iblis yang tengah kugambar. Aku telah menggambar sketnya kemarin, hanya tinggal mewarnainya saja. Gradasi hitam dengan abu-abu aku pakai sebagai warna utama untuk sayap iblis-nya, sedangkan untuk Malaikat -nya aku membuat sedikit gradasi putih dengan pile oranye. Tak lupa juga sedikit warna abu-abu untuk shadow efeknya.
Ken berjalan di sampingku, dia membawakan berbagai macam peralatan. Mulai dari cat semprot sampai kuas, Ken langsung menaruh semua peralatan dan menatanya di samping area gambar. Juga membuka sebuah payung lebar untukku. Matanya jelalatan melihat gambar di sepanjang jalan yang mulai padat dengan kerumunan manusia.
"Tak ku sangka gambar saja bisa menjadikan semuanya begitu hidup." Ken berdecak kagum.
"Ini bukan hanya sekedar gambar, Ken. Banyak pesan moral yang ingin di sampaikan oleh senimannya." Aku mengoplos cat hitam dengan putih dan membuat warna abu-abu.
"Kau benar, Inggrid. Tanpa nilai, cerita hanya akan menjadi sekedar cerita tanpa nyawa. Tanpa nilai, gambar hanya akan menjadi gambar tanpa rasa," tandasnya. Aku tersenyum, Kenku banyak belajar rupanya.
"Aku akan mulai menggambar, Ken,"
"Semangat, girl!"
Seperti biasa aku mulai memainkan jari-jemariku di atas cat semprot. Aku mulai menggambar sayap iblis terlebih dahulu. Aku ingin mewarnai tiap-tiap dasarnya dengan warna hitam terlebih dahulu. Rencananya setelah semuanya berwarna hitam, barulah aku menebalkan tiap goresan garisnya dengan warna putih. Lalu untuk gradasi timbut dan tonjolannya berwarna abu-abu, hal ini supaya tiap kontur sayapnya terlihat hidup.
Aku terus mengocok cat semprot begitu aku menyelesaikan satu bagian, lalu mengkocoknya lagi saat ingin menyemprotkan cat pada bagian-bagian lain. Hal ini di lakukan agar catnya bercampur dengan rata dengan minyak, sehingga tetap menghasilkan warna yang kita inginkan.
Ken melihatku dengan terkesima, padahal dia sudah sering melihatku menggambar. Mungkin karena kali ini aku menggambarnya dengan sepenuh hati demi Ken dan Ra, maka ekspresi dan kesungguhanku terlihat lebih menarik di matanya. Aku menggambar dengan seluruh kemampuanku, tak ingin mengecewakan dirinya.
“Ken gendong aku, aku tak bisa menjangkau letak yang tinggi.”
“Oke, girl.” Ken berjongkok dan membiarkan aku naik ke atas pundaknya.
Sedikit mengatur posisi agar tidak jatuh, lalu dengan perlahan Ken bangkit. Aku mulai menyemprot bagian atasnya, menyelesaikan semuanya dengan cepat agar pundak Ken tidak terkena berat beban tubuhku.
“Sudah, Ken, bisa kau turunkan aku?”
“Tidak, girl!” godanya.
“Dasar cowok mesum!” Aku mengetok kepalanya dengan jariku.
Ken hanya tertawa renyah dan akhirnya menurunkan tubuhnya. Aku meloncat turun dan mengamati gambarku.
Bentangan sayap sang iblis sudah mulai berbentuk, tergambar seperti sayap kelelawar. Aku memang sengaja memilih sayap binatang noktunal itu untuk menggambarkan sosok sayap seorang iblis.
Setelah sayap iblisnya jadi, aku beralih pada sayap Malaikat. Aku mulai memberikan dasaran wara putih dengan sedikit abu-abu.
Aku menggambar tiap ditail bulunya satu persatu dengan kuas, menjadikannya sebuah sayap Malaikat yang sempurna, cantik, dan juga penuh dengan kelembutan. Tak lupa aku membubuhkan sedikit warna oranye pucat agar nampak seperti bulu burung merpati yang cantik. Than, jadilah sayap Malaikat yang mirip dengan sayap burung merpati.
Aku memang sengaja mengambil model sayap dari dua hewan ini, yang pertama adalah merpati dan yang kedua adalah kelelawar. Bagiku kedua hewan ini identik untuk menggambarkan sosok malaikat dan juga iblis.
Aku dan Ken saling berpandangan, kami nampak puas dengan hasilnya. Hasilnya begitu luar biasa, walaupun catnya masih tampak begitu basah.
"Berdirilah di sana, Ken! Aku akan mem-fotomu." Aku berseru pada Ken untuk berdiri di sana.
Pertama aku memposisikannya di tengah-tengah. Ini adalah Keano, dia adalah iblis dan juga malaikat milikku.
Lalu berikutnya, aku meminta Ken berdiri miring sehingga tampak menjadi seorang malaikat, dia adalah malaikat milikku, sang pemilik hatiku.
Lalu ...
Tanpa sadar aku mencari keberadaan Ra saat ini, harusnya Ra mengisi posisinya sebagai seorang iblis, iblis milikku, pemilik jiwaku.
Harusnya dia bisa ber-foto di sini, setidaknya dia pernah mendampingiku pada saat awal proyek ini berlangsung. Dia bahkan tak pernah absen menemaniku saat malam, dia terus mengkhawatirkanku. Dia takut terjadi apa-apa padaku ketika bekerja di malam hari.
Yah, walaupun dia sering mengejekku juga sering marah padaku, namun tak dipungkiri bahwa perhatiannya membuatku merindukan sosoknya.
Aku menurunkan ponselku dengan lemas, Ken melihatku, ia langsung datang dan mendekatiku. Mengusap lembut wajahku dengan bingung, "kenapa, girl?"
"Aku merindukan Ra, Ken." Aku mengambil napas sebelum kembali melanjutkan ucapanku, "sepertinya ucapanku benar-benar telah menyakiti hatinya."
"Dia sendiri yang memutuskannya, Inggrid." Ken memelukku, kami tak mengindahkan tiap lirikan mata yang memandang kami dengan heran.
Apa benar kata Ken kemarin, aku telah mencintai Ra?
Tidak, aku menyukai Keano, aku mencintai Keano, maka aku mencintai Ken dan Ra! Aku mencintai mereka, karena mereka adalah satu, mereka Keano.
Aku akan menerima kalian karena kalian bagian dari Keano.
Walaupun Ken sangat lemah dan Ra sangat menyebalkan.
Walaupun Ken pendiam dan RA pemarah.
Walaupun Ken kikuk dan Ra tak pandai bicara.
Namun keduanya adalah cintaku, keduanyalah yang melengkap gambar diri Keano.
Dan aku salah ... salah karena ingin menghapus keberadaan Ra dalam hidup Keano. Aku terus berkata Ken, Ken, Ken, dan Ken pada Ra tanpa mengindahkan perasaannya. Padahal sebagai bagian dari diri Keano, Ra hanya butuh sedikit pengakuan dariku. Ra dan Ken telah mengisi hidup Keano, mereka adalah sebuah fakta yang tidak terpisahkan.
"Inggrid aku tahu Ra pasti juga menyukai mu. Dia hanya tidak bisa mengungkapkan perasaannya padamu. Ra memang tak bisa merangkai kata dengan baik karena tiap perasaan lembut, rasa cinta, dan kasih sayang dari jiwa Keano semuanya ada padaku." Ken menatapku dari balik kaca matanya.
Aku tahu, Ken adalah jiwa Keano yang lembut dan penyayang, sedangkan Ra dia adalah pecahan dari kepingan jiwa Keano yang kuat dan juga keras. Aku harusnya tak menyalahkannya karena dia tak bisa mengungkapkan perasaannya dengan baik.
Kini aku sadar, mungkin saat itu, Ra hanya ingin menyatakan rasa cintanya padaku, namun akulah yang bodoh karena tidak bisa menyadarinya. Yang aku cari saat itu hanya Ken, Ken, dan Ken saja.
Aku pasti membuat hatinya sakit, sampai akhirnya dia benar benar cemburu buta dan jadi membenciku.
Apa lagi kami pernah ingin menghilangkan sosoknya dalam diri Keano.
Oh, Tuhan dia pasti sangat kecewa dan menderita.
Oh, TUhan hatinya pasti sangat remuk redam saat itu.
Oh, Tuhan, bagaimana cara memberi tahunya, betapa aku menyesal telah mengatakan hal itu padanya.
Harusnya aku tahu bahwa sikap Ra yang keras tidak akan pernah bisa dilawan dengan sikapku yang keras. Benar kata mommy, tak seharusnya melibatkan emosi dalam sebuah hubungan. Kita harus mau berbicara antara satu dengan yang lain dari hati ke hati. Tanpa komunikasi yang baik hubungan tidak akan pernah bisa berjalan dengan baik.
Sekarang aku telah kehilangan Ra karena egoku, karena ketidak pekaanku, karena emosiku.
Lalu aku harus bagaimana?
Ra tidak mau keluar, Ra telah menghilang,
dan sekarang aku begitu merindukannya.
— MUSE S4 —
Ra 😭😭
Jangan pergi ea..
Gaeskuh, maaf kalau banyak typo dan sedikit kacau. Soalnya tangan author rengginan sedikit , jadi ngetiknya via voice record. Semoga tetap berhasil menghibur dan menyuguhkan cerita yang terbaik.
MUSE UP
YUK DUKUNG AUTHOR DENGAN VOTE
VOTE KALIAN 10 pointpun berarti buat saya gaes.
Suport saya dengan dukungan point dan koin.
Jangan lupa juga buat like dan commentnya.
Biar MUSE FEMES!! Author rengginan jadi author femes!! 🤭🤭🤭
Jangan lupa bagi cinta untuk banyak orang
Jangan lupa cintai alam
Jangan lupa bawa kantong belanja sendiri
Jangan lupa kalau saya cinta kalian