MUSE

MUSE
S7 ~PERTOLONGAN PERTAMA



MUSE S7


EPISODE 8


S7 \~ PERTOLONGAN PERTAMA


Levin langsung melepaskan dekapannya, menghenyakkan tubuhnya yang gemetaran pada dinginnya lantai keramik. Leoni terus terbatuk, napasnya yang tercekat kembali. Dengan segera gadis itu mengambil napas sebanyak yang ia bisa.


_________________


Antrian telah sampai pada barisan Leoni dan Jesca. Tak ada waktu bagi Leoni memikirkan keadaan kakinya. Hanya tendangan ringan, tak mungkin sampai melukai kaki itu. Leoni telah berdiri tegap pada papan star. Mengambil ancang-ancang untuk meluncur ke dalam air. Ada tanda 1,5 sampai 2 meter pada kolam, menandakan ketinggian air.


Leoni menelan ludah, air mendadak terlihat begitu dalam dan juga pekat. Seakan ingin menelannya.


“Siap, satu, dua, go!! Priiiit!!!” Peluit di tiup. Keempat gadis remaja itu melompat ke dalam air. Leoni sempat tertinggal karena tak ada daya dorong pada kaki kanannya saat melompat.


Ach, kakiku! Leoni merasakan rasa linu pada pergelangan kakinya. Kemarin saat tercebur di got kakinya memang sedikit memar, dan barusan Jeska menendang pergelangan kakinya dua kali.


Sakit sekali!!


Tercebur pada air dingin membuat rasa linu pada kaki Leoni berubah, mendadak kakinya keram.


Leoni menjadi panik. Semakin ia bergerak untuk mencari permukaan air, semakin tubuhnya tenggelam terlahap oleh benda cair itu. Leoni bingung, udara semakin menipis di dalam paru-parunya.


Leoni ingin berteriak, tapi yang keluar hanyalah gelembung udara. Rasa sesak mulai mencekik leher, sampai ke dada, napasnya berat, terisi oleh air. Leoni panik, semakin panik saat permukaan benar-benar tak tersentuh oleh tangannya. Kakinya mati rasa, tak bisa mengkayuh naik, namun juga tak bisa menapak ke permukaan lantai.


Tak ada yang menyadari bahwa Leoni tertinggal di dalam air. Mereka tak menyadari bahwa gadis itu meronta karena rasa sakit pada pergelangan kakinya. Leoni berusaha cukup keras, tak lama ia mulai menyembulkan kepalanya, gelagapan.


Riak air yang semakin tak beraturan dan gelembung udara keluar dari permukaan. Semua mata terlihat kaget, belum pernah ada murid yang tenggelam saat pelajaran olah raga berenang.


“Leoni!!” seru guru dan teman-temannya.


“Leonii!!” Levin juga terlihat kaget.


“Hei jangan bercanda!!” Beberapa anak lain mengira Leoni sedang bercanda karena biasanya dia pintar berenang.


Tanpa menunggu aba-aba Levin terjun ke kolam, mencari keberadaan tubuh Leoni. Levin menggapai tangan Leoni, gerakan Leoni terlihat melemas. Levin menarik naik tubuh Leoni. Beberapa teman sekelas langsung membantu Levin mengangkat tubuh lunglai Leoni ke pinggir kolam.


“Singa!! Singa!! Bangun! Jangan main-main, ayo bangun.” Levin terus menepuk pipi Leoni, mencoba menyadarkan gadis itu.


Murid-murid yang lain berkerumun melingkar. Guru memecah lingkaran, mencari tahu keadaan Leoni.


“Minggir!! Kita harus memberinya pertolongan pertama.” usirnya, pria itu menaruh kedua telapak tangan di atas dada Leoni dan menekannya beberapa kali. Berusaha mengembalikan air yang tertelan.


Beberapa kali mencoba dan Leoni tak kunjung memuntahkan air. Wajah Leoni semakin pucat pasi. Levin tampak cemas, ia mulai panik. Dengan segera Levin menekan hidung Leoni, mengangkat sedikit dagu lalu meniupkan pernapasan buatan dari bibirnya ke atas bibir Leoni. Levin meniupkan udara beberapa kali, lalu menekan dada Leoni.


“Belum!!” Levin mengulanginya lagi, terlihat wajahnya begitu cemas dan frustasi.


Kepanikan menghantui seluru area kolam renang indoor. Guru dan juga teman sekelas Leoni harap-harap cemas. Ambulan telah dihubungi. Dokter sekolah berlari pada koridor panjang menuju gedung olah raga.


Levin mengulangi pernapasan buatan, meniupkan udara lewat bibir Leoni. Lalu menekan-nekan dadanya.


“Ayolah!! Ayolah Leoni!!” ucap Levin sambil terus menekan dada Leoni.


“Aku berjanji tak akan jahil lagi padamu!! Jangan begini.” Levin meniupkan lagi udara, dan saat tiupan masuk, air keluar dari paru-paru Leoni lewat mulutnya, menyembur keluar.


“Uhuk!! Uhuk!!” Leoni terbatuk-batuk.


Levin langsung melepaskan dekapannya, menghenyakkan tubuhnya yang gemetaran pada dinginnya lantai keramik. Leoni terus terbatuk, napasnya yang tercekat kembali. Dengan segera gadis itu mengambil napas sebanyak yang ia bisa.


Guru dan para murid tercengang sekaligus gembira. Syukurlah Leoni tak sampai harus meregang nyawa berkat bantuan Levin.


“Kau hebat, Levin. Dari mana kau belajar CPR?”


“Dari suami kakakku, dia dokter. Aku pernah menjadi bahan percobaannya beberapa kali, jadi tahu caranya.” Levin bangkit, ia menggendong tubuh lemas Leoni ke atas punggung.


Tanpa menunggu lagi Levin didampingi dokter dan guru mengantarkan Leoni ke dalam klinik sekolahan. Guru BP wanita mengganti pakaian Leoni dengan seragam kering. Levin hanya berbalutkan handuk putih besar tak meninggalkan sisi Leoni barang semenit pun selain waktu bertukar pakaian.


“Kau bisa masuk angin, Vin. Pergi dan basuh dirimu dengan air hangat, pakai kembali seragam dan kembalilah ke kelas.” Dokter jaga menyuruh Levin kembali ke kelasnya.


“Apa dia akan baik-baik saja?” tanya Levin.


“Iya, kondisinya cukup stabil. Tubuhnya hanya lelah karena meronta cukup lama di dalam air, ia minum banyak air dan juga kedinginan. Setelah beristirahat ia akan pulih.” Jelas dokter.


“Baiklah, aku akan menjenguknya saat istirahat.”


“Kau baik sekali padanya, apa kalian berkencan?” Goda dokter jaga, yang merupakan koas dari sebuah universitas sekitar.


“Aku? Dengan si Singa? Ma—mana mungkin?! “ Levin menyelak ucapan dokter itu.


“Hahaha, baguslah kalau kalian tidak pacaran. Kalian masih terlalu kecil untuk mengenal arti kata cinta.” Dokter itu mengusik pucuk kepala Levin dan menyuruhnya bergegas.


“Aku akan kembali nanti.” Wajah Levin merona.


“Baik, Pangeran. Aku akan menjaga Putri Tidur sampai Anda kembali.”


“Jangan menggodaku!” Levin keluar dari ruang klinik.


“Hahahaha, jadi pengen mengulang masa remaja.” Dengusnya panjang.


Dokter muda itu kembali pada Leoni. Ia tersenyum lalu menepuk pelan lengan Leoni. “Dia sudah pergi, kau tak perlu berpura-pura tidur lagi.”


“Ck, ketahuan ya?” Dengan malu-malu Leoni membuka matanya.


“Dia bilang kalian tak berkencan, kenapa mesti malu? Dasar bocah.” Kikih dokter itu sembari memberikan segelas coklat hangat.


“Ha—habis aku ... aku malu. Dia ... dia menciumku bukan?” Leoni menyembunyikan wajahnya yang merona kemerahan pada permukaan cangkir.


“Ya kan pertolongan pertama, kalau aku yang diposisi dia juga aku akan meniupkan udara lewat mulutmu. Tentu saja bibir kita akan menempel, tapi itu bukan ciuman.”


“Benarkah? Bukan ciuman?”


“Ah, sudahlah. Habiskan minumanmu. Lalu beristirahatlah. Kau bisa kembali ke kelas kalau sudah lebih sehat,” kata dokter itu, enggan mengurusi masalah para remaja. Satu hal yang pasti, dia jomblo, jadi sedikit iri.


“Aku nggak mau kembali ke kelas.” Tolak Leoni, hatinya belum sanggup melihat wajah Levin.


“Hm, kalau kau merasa tak enak badan mau aku menghubungi orang tuamu? Kau bisa pulang bersama mereka.” Usul sang dokter sembari meledek Leoni.


“Jangan!!” Leoni lebih tak ingin Papa dan Mamanya khawatir.


“Hahaha!! Kalau begitu istirahat dan kembalilah ke kelas.”


“Baik,” ucap Leoni lesu.


“Setelah istirahat ke dua, aku beri kau waktu sampai istirahat ke dua ya. Tiga jam lebih dari cukup untuk mengistirahatkan badan.” Dokter itu melihat ke arah arlojinya.


“Baik, Dok.” Leoni menurut, setelah menghabiskan coklat ia mencoba untuk beristirahat, sampai akhirnya silir angir membuatnya benar-benar tertidur.


Namun tidur Leoni yang nyenyak terusik dengan jamahan pelan pada kakinya. jamaahan itu terasa Dingin saat menyentuh kulit, Leoni langsung mengerjap, terbangun, rasanya aneh. Tangan itu masih mencekal pergelangan kaki Leoni dan mengelusnya pelan.


“Ka—kamu! Mau apa?” tanya Leoni kaget.


...— MUSE S7 —...


...Hmm, siapa?...


...Please like and comment. 🥳🥳...