
MUSE S7
EPISODE 14
S7 \~ MOTOR
Motor milik Leon punya performa yang cukup hebat. Levin terlihat menyukai motor itu. Sudah sejak lama sekali Levin ingin melakukannya. Menembus jalanan raya, menghirup udara malam yang dingin, dan melaju dengan kecepatan ekstra.
_________________
Seperti yang dibilang Levin sebelumnya, cowok itu datang tepat jam 11.30 malam. Entah bagaimana caranya ia telah berhasil mengendap-endap keluar kamar dan berada di depan rumah Leoni. Leoni juga sama, ia mengendap-endap keluar dari rumah begitu Mamanya tidur —Papa Leoni sedang pameran ke Luar Negeri.
Gadis itu berkeringat, baru kali ini ia mencoba menjadi anak yang nakal. Keluyuran di malam hari. Tapi biarlah, karena hidup adalah petualangan. Kalau kita tak menikmati hidup sejak dini, kapan akan mengenal dunia?
“Psst ...!” Levin memanggil Leoni dengan kode.
“Hei, kita naik sepeda?” Leoni melirik sepeda kesayangan Levin itu.
“Iyalah, aku belum punya motor.” Levin mendengus.
“Bukannya jauh?”
“Lumayan, setengah jam.”
“Mau pakai motor Papaku?” usul Leoni.
“Boleh??” Levin membelalak.
“Kalau tak ketahuan juga tak apa lagi, Vin, tunggu aku ambilkan kuncinya.” Leoni kembali mengendap-endap masuk ke dalam rumah.
Levin menaruh sepedanya di dalam garasi, lalu bergegas membantu Leoni mendorong motor cruiser milik Papanya. —cruiser, jenis motor yang memiliki posisi mengemudi unik di mana possisi stang terletak lebih ke atas dari motor biasa, letak kursi yang rendah, dan peletakkan kaki yang sedikit memanjang. Posisi mengemudi ini menciptakan kenyamanan untuk perjalanan jauh.
Motor dua silinder dengan kapasitas dorongan hampir 500 cc ini terlihat begitu menakjubkan di mata Levin. Dengan perlahan mereka berdua menggiring motor besar itu keluar dari pintu gerbang rumah menuju ke tempat yang agak jauh. Setelah merasa tak lagi ada yang mendengar deruannya, Levin memutar kunci dan menghidupkan mesin.
Brum ... Brum ...!
Deruan motor terdengar indah bagi Levin. Dengan seringai takjub ia melepaskan kopling dan memutar gasnya. Mencoba beberapa kali putaran untuk menyesuaikan diri. Setelah dirasa cukup Levin kembali pada Leoni.
“Ayo naik!”
“Beneran tak apa kan?!” Levin memang cukup tinggi, tapi tetap saja dia anak remaja berumur 12 tahun. Leoni agak takut juga berpergian tanpa surat-surat izin mengemudi.
“Kenapa mendadak nyalimu ciut, Singa?” Levin mengusik rambut Leoni. Wajah Leoni langsung terlihat terpanggang, panas. Kenapa perasaan kegantengan Levin terlihat berkali-kali lipat saat berada di atas motor papanya.
“Sudah, ayo!” Leoni membonceng Levin, mencoba menjaga jarak, tapi karena bentuk boncengannya yang sedikit miring, tetap saja seakan-akan tubuh Leoni condong ke arah tubuh Levin. Cukup melelahkan mengingiat tak ada pegangan pada jog belakang. Kadang Leoni sampai menahan dengan sikut tangan saat Levin mengerem.
“Peluk saja aku, Singa! Kau bisa jatuh!” Levin menyuruh Leoni untuk memeluknya. Sepertinya cowok itu sadar betul punggung cewek di belakangnya terasa hampir patah.
“Nggak mau! Kau pasti cari kesempatan seperti biasanya kan?!”
“Serius? Kau masih berpikir aku begitu?”
“Ya siapa tahu!” seru Leoni.
“Terserah, lagi pula dadamu terlalu datar. Tak ada rasa, sama seperti cowok! Keras!” Levin terkekeh.
“Sialan!” Leoni mengeplak kepala Levin.
“Aduhh.” Levin terpekik.
Levin menghentikan laju motornya, menepi pada pinggir jalan raya. Dengan sebal Levin menoleh ke belakang, melirik Leoni dengan matanya yang tajam. Sekejap Levin berhasil mencekal tangan Leoni.
Levin menarik tangan Leoni dan melingkarkannya pada pinggang Levin. Leoni menarik paksa tangannya, tapi Levin mencegah.
“Sudah peluk saja!! Aku mau ngebut! Kita tak bisa melihat pertandingannya kalau terlambat.” Levin tersenyum pada Leoni, gadis itu semakin salah tingkah dibuatnya.
Leoni menurut, berpegangan pada perut Levin. Dengan perlahan Leoni merebahkan kepalanya pada punggung Levin. Leoni masih sempat mendengar detak jantung Levin yang melaju cepat sebelum suara mesin motor menderu dan menutupinya.
Motor kembali melaju, menyelusuri ruang jalan raya yang terlihat legang. Tak banyak kendaraan yang berlalu lalang di tengah malam. Membuat Levin bebas mengebut. Lampu-lampu jalan menyinari perjalanan mereka menembus dinginnya angin malam. Leoni tampak pasrah, menikmati dinginnya malam yang membuat wajahnya kaku.
Motor milik Leon punya performa yang cukup hebat. Levin terlihat menyukai motor itu. Sudah sejak lama sekali Levin ingin melakukannya. Menembus jalanan raya, menghirup udara malam yang dingin, dan melaju dengan kecepatan ekstra.
Kenapa orang tuanya tak pernah mengizinkan Levin memiliki motor sendiri. Bahkan Levin sudah bisa menaiki motor saat berusia 10 tahun. Saat itu Arvin mengajarkan Nick kakaknya —yang baru saja lulus SMP— menaiki motor. Levin ikutan mencoba dan langsung jatuh cinta.
“Leoni! Kau masih hidup? Jangan tertidur!” Levin menggoncangkan bahunya pelan.
“Tidak Levin, aku tidak tertidur. Aku hanya sedang terkesima, aku tak percaya, di malam hari kota ini indah sekali.” Mata Leoni berbinar.
“Oh ya? Aku kira kau ketakutan sampai pingsan karena aku mengebut.” Levin terkikih, padahal dia berkendara menyentuh kecepatan 100 KM/jam.
“Aku tidak takut.” Leoni terkikih.
Motor melanjutkan perjalanan, sampai pada sebuah lapangan kosong yang cukup luas. Lapangan seluas dua kali stadion bola itu bertanah merah. Permukaannya terlihat dipenuhi oleh para manusia dan juga kendaraan. Berjajar-jajar penjual sparepart curian dan juga bengkel-bengkel modifikasi. Semuanya terlihat antusias. Beberapa api unggun terlihat menyala dibarengi dengan para pedagang yang menjajakan kudapan. Beberapa orang penonton memilih menikmati makanan dan minuman keras sebelum pertandingan berlangsung.
Levin memarkirkan motornya tak jauh dari bengkel milik keluarga Farel. Di dalam bengkel beratapkan terpal itu Farel terlihat sibuk membetulkan sebuah motor racing tua bersama dengan ayahnya. Sebenarnya Farel hanya membantu, ia lebih banyak mengamati ayahnya bekerja. Di sisi lain bengkel, Firza Kakak Farel sedang bersiap mengenakan baju racing berwarna hijau, senada dengan motor yang akan dipakainya.
Pada kursi santai terlihat Bryan bersandar sambil membaca majalah otomotif. Di sampingnya ada sebotol jus mangga siap minum. Levin masuk ke dalam area 3x3 itu dengan segera, menyembunyikan diri di belakang Bryan. Duduk pada kursi kecil atau biasa disebut dingklik. Leoni terkesima, ia tak henti-hentinya terkagum. Dengan wajah memerah karena hawa dingin Leoni masuk ke dalam bengkel.
“Minum ini!” Levin menyerahkan jus ke tangan Leoni. Levin memutar tutup botolnya terlebih dahulu.
“Thanks,” jawab Leoni.
Farel langsung terkesiap begitu mendengar suara seorang cewek. Dengan kaget ia menoleh. Wajahnya memerah saat melihat Leoni. Dengan segera Farel kembali menoleh, bertanya pada Levin.
“Kenapa kau bawa dia kemari?” Farel hendak protes.
“Dia minta ikutan,” jawab Levin acuh.
“Di sini bukan area bermain, Levin! Lagi pula berbahaya kalau terciduk polisi.”
“Tenanglah! Kenapa sih kau sepanik itu?” Levin menyela ucapan Farel.
“Huft!! Bagaimana penampilanku? Apa aku terlihat kotor?” Farel mengelap tangannya ke celana dan menata rambut. “Bry, kau punya tisu basah? Aku harus membersihkan wajahku.”
“Ini.” Bryan melemparkan tisu ke tangan Farel. Bryan memang dijuluki Doraemon, karena hampir semua barang yang diminta teman-temannya selalu ada di dalam tasnya.
“Thanks.” Cepat-cepat Farel mengusap wajahnya yang berkeringat dan berminyak lengket.
“Kenapa? Kenapa kau begitu salah tingkah , bahkan berdandan hanya karena Leoni datang kemari?” Levin setengah tak percaya dengan kelakuan sahabatnya. Dia bahkan membersihkan diri agar telihat tampan di depan Leoni.
“Kenapa? Ya tentu saja agar tidak terlihat jelek di depan anak perempuan,” jawab Farel.
“Hanya itu?” Levin menyelidik. Semula ia heran karena Farel bahkan menjenguk Leoni saat kakinya sakit dan tidak masuk sekolah.
“Hmm, apa harus ada alasan lain?”
Farel melirik ke arah Leoni, wajahnya memerah.
“Kau menyukainya?” tanya Levin.
“Eh ...?!” Pandangan Farel kembali pada Levin.
...— MUSE S7 —...