
MUSE S2
EPISODE 84
S2 \~ HATI
\~Seandainya kau memberiku kesempatan untuk mengobati luka di hatimu itu. Aku pasti akan membalutnya dengan hati-hati sampai semua lukamu sembuh dan tak berbekas \~
•••
Sudah empat hari berlalu setelah kejadian itu. Lukaku cukup parah ternyata, dan aku harus merawat diriku selama beberapa hari.
Aku juga telah resign dari Maxsoft. Tidak mungkinkan aku mempertahankan diri untuk tetap bekerja di perusahaan milik Arvin? Dia adalah saingan cintaku, lagi pula kami pernah terlibat baku hantam yang cukup keras, jadi dia pasti dendam padaku.
Aku membereskan semua peralatan kerjaku. Agak sayang juga, sih, melihat hasil kerjaku yang belum selesai dan aku sudah harus pergi meninggalkannya. Padahal aku sangat menyukai pekerjaanku ini.
Aku menengok ke arah ruangan CEO, sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan. Apakah dia belum sembuh? Ataukah dia memang sengaja tidak masuk ke kantor?
Ah, sudahlah, itu juga bukan urusanku.
•
•
•
Aku termenung di dalam kamar apartemenku. Beberapa hari belakangan ini aku merasa hampa. Bukan hanya karena tak punya pekerjaan, tapi juga karena Kalila sekarang lebih memilih diam saat sedang bersamaku.
“Secinta itukah Kalila pada Arvin?” Aku bermonolog dengan diriku sendiri.
Saat aku bersamanya, Kalila lebih memilih diam. Kadang ia menjawab pertanyaanku hanya dengan anggukan dan senyuman ringan. Ia juga selalu memainkan makanannya, tak pernah bisa makan banyak. Kini badannya terlihat semakin kurus dan juga pucat. Aku sangat mengkhawatirkan keadaannya.
“Apa lebih baik aku ikut bekerja dengannya?”
Aku menyahut kunci mobil dari atas meja nakas. Dengan segera aku mengarahkan kemudiku menuju ke tempatnya bekerja.
Siapa tahu dengan berkerja di sampingnya dan bertemu dengannya setiap hari akan membuat dinding kokoh yang melapisi hatinya itu runtuh.
Orang bilang tetesan air bisa menghancurkan batu bila itu terjadi terus menerus. Siapa tahu Kalila akan membuka hatinya untukku kalau aku terus berada di dekatnya.
“Hallo,” sapaku pada mereka bertiga.
“Angga?” Melody dan Caca terlihat kaget.
“Butuh karyawan tambahan? Boleh aku bekerja di sini?!” Aku duduk di depan meja bar.
“Aku tak kuat membayar salary -mu.” jawab Kalila.
“Cukup kau bayar dengan senyuman manismu, Kalila.”
Aku berdiri dan menyahut apron berwarna coklat dari tangan Kalila lalu memakainya.
“Ih, ciyeee....” goda Melody.
“Wah, daebak! Bisa cuci mata tiap hari, nih.” Caca memujiku.
“Dasar kalian ini.” Kalila tertawa.
Akhirnya aku bisa melihatnya kembali tertawa, semoga hatinya bisa kembali terbuka untukku.
Hatinya pasti sangat terluka. Bagaimana tidak? Aku meninggalkannya saat dia dalam kondisi yang terpuruk. Lalu Papa dan Mamanya meninggal saat ia berulang tahun. Belum lagi perlakuan kasar pacarnya yang membuatnya begitu menderita.
Oh, Kalila. Seandainya kau memberiku kesempatan untuk mengobati luka di hatimu itu. Aku pasti akan membalutnya dengan hati-hati sampai semua lukamu sembuh dan tak berbekas.
“Bagaimana penampilanku?” Aku berpose. Berkacak pinggang dengan apron coklat khas para barista.
“Keren!!” Mereka bertiga mengacungkan jempolnya.
“Ayo selfie!!” ajakku.
Kami berempat ber- selfie ria bersama. Aku akan membuat akun sosmed untuk cafe ini supaya semakin dikenal orang. Apalagi baristanyakan ganteng dan cantik-cantik.
“Jangan lupa buat like, ya!” Aku mengetik caption sambil bergumam.
“OK, done.”
Kalila mengajarkanku bagaimana cara menyeduh kopi, mulai dari menggiling bijinya sendiri, menakar timbangannya, brewing, sampai mencampurnya dengan susu dan krimer. Kalila juga mengajarkanku latte art yang paling sederhana. Dengan hati-hati dia mengajarkan step by step nya padaku.
“Salah, Ngga. Begini!” Kalila gemas.
“Akukan nggak sehebat kamu, La! Kamukan emang dasarnya udah pinter ngegambar.” Aku beralasan.
“Ck, alasan mulu.”
“Hahaha..., ayo kita ulangi.” Aku belum menyerah.
“Ca, cobain kopi buatan Angga!”
“Hah?? Lagi, Boss?” Caca bertanya sambil mengeluh, pasalnya dia sudah menghabiskan 3 gelas kopi buatanku.
“Iya, enak apa enggak?”
“Duh, bisa diare, nih. Gara-gara kebanyakan kopi.” Caca berjalan dengan malas menuju ke depan meja bar.
“Enak, Boss. Udah sama kayak boss yang bikin.” Caca menautkan jari telunjuk dengan jempolnya membentuk tanda OK.
“Serius? Nggak gara-gara males nyicip lagikan?” goda Kalila.
“Nggak, Boss! Bener ini enak!” puji Caca.
Aku ikut bahagia mendengar kopi racikanku berhasil. Rasanya enak katanya.
“Good job!” Kalila ber- high five denganku.
“Siapa dulu, donk, gurunya? Master Kalila.” Aku menirukan hormat ala-ala murid kungfu.
Kami tertawa bersama, aku menggodanya dengan mengoleskan foam susu pada hidung Kalila. Kalila mencibirkan bibirnya sebal, lalu mengambil foam dan mencoba untuk membalasku. Kalila harus berjinjit untuk mencari hidungku.
“Kenapa kau sekarang tinggi banget, sih?” gerutu Kalila.
“Kau aja yang nggak nambah tinggi,” godaku.
“Jahat!!”
“Hahaha...,” tawaku nyaring.
Sudah lama aku merindukannya, merindukan canda tawanya yang manis. Merindukan kehangatan dalam seulas senyuman. Bagiku Kalila adalah seorang malaikat, dia adalah wanita yang sangat berharga.
— MUSE S2 —
•••
Aku bersyukur karena Kalila sudah jauh lebih baik dibandingkan saat-saat awal ia terluka. Sekarang ia lebih sering tersenyum walaupun kadang masih sering menerawang kosong ke arah pintu masuk.
Apa dia sedang menunggu Arvin? Berharap pria itu datang?
Kriingcling Kling... 🎶
“Welcome to Palette Cafe.” sapa Kalila.
Seorang wanita cantik dengan potongan bob datang. Ia terlihat menenteng sebuah tas bermerk yang terbilang mahal. Sepertinya dia adalah seorang wanita yang cukup mapan.
“Mau pesan apa?” tanya Kalila.
“Brown sugar latte.” jawabnya.
“Oke, take away? Dine in?”
“Take away.”
“35.000, cash, e -money?”
“Cash.”
“Oke, thanks.” Kalila mengucakan terima kasih seraya memberikan kembaliannya.
“Gelangmu itu?” wanita itu keheranan melihat gelang yang dipakai oleh Kalila.
“Ya?” Kalila juga bingung.
“Apa Arvin yang memberikannya padamu?!”
“Kenapa? Apa anda mengenal Arvin?” Kalila terlihat sedih, ia menyembunyikan gelangnya di balik telapak tangan.
“Benar, aku kenal. Dia melamarku dengan gelang itu. Tapi aku bilang gelangnya terlalu kecil. Lalu dia menggantinya dengan yang lebih besar.”
“Apa???!”
“Ah, jadi dia memberikannya untukmu?”
“Apa maksud anda?? Memang siapa anda?!” Kalila terlihat emosi.
“Namaku Diana. Aku tunangan Arvin.”
“Tidak!! Tidak mungkin.” lirih Kalila.
“Berkencan dengan satu dua wanita itu hal wajar bagi pria mapan sepertinya, bukan?” Wanita itu semakin memojokkan Kalila.
Air mata kembali menetes dari matanya yang lentik. Kalila terlihat syok dan tak bisa mempercayainya.
“Kalila?!” Aku bergegas menghampiri Kalila dan memeluknya.
“Apa anda sudah selesai berbicara?!” Aku membentak wanita sialan itu.
“Sudah, ambil saja uangnya. Aku jadi tak ingin minum kopi.” Wanita itu langsung beranjak pergi dengan raut wajah penuh rasa sebal.
“Oh, iya, satu hal lagi! Jauhi Arvin!!” tambahnya.
Kalau memang wanita ity benar adalah tunangan Arvin tentu saja ia akan merasa marah saat tahu Arvin berkencan dengan wanita lain.
“Laki-laki brengsek!! Sudah punya tunangan masih saja mencari wanita lain.” Aku mengumpat.
“Aku kira dia serius mencintaiku. Aku kira dia tak main-main. Ternyata dia sudah punya wanita lain.” kata Kalila, suaranya terdengar sengau.
“Sabar, La. Kaukan sudah berpisah darinya. Kenapa masih bersedih?”
“Tetap saja rasanya sakit, Ngga, sakit!!” Kalila mempererat pelukkannya.
Aku sungguh tak tau harus berkata apa? Kalila terlihat sangat sedih dan terpukul. Melihat hatinya kembali hancur membuatku geram. Kenapa laki-laki itu begitu kejam?!
•
•
•
Krriiinggciing Kliing... 🎶
Suara lonceng membuatku menghentikan proses bersih-bersih. Melody dan Kalilapun menghentikan tangan mereka yang sibuk mengelap cangkir.
“Kami sudah tutup!” teriak Caca.
Namun kami berempat langsung tertegun begitu mengetahui siapa yang datang.
“ARVIN?!”
— MUSE S2 —
Gemesh...!!!
Akhirnya Arvin muncul juga...
MUSE UP
LIKE
COMMENT
VOTE
THANKS SAYANGKUH
Ada giveaway menarik buat para readers setia MUSE.
Caranya gampang;
•Baca dan like tiap episodenya, comment bila berkenang.
•Vote MUSE sebanyak-banyaknya.
•Masuk ke Grup Chat Author.
•Di tutup 15 Mei 2020.
•Pengumuman pemenang di Grup Chat!!
3 orang Readers yang vote MUSE paling banyak akan mendapatkan kenang-kenangan dari saya berupa kaos bertuliskan MUSE, bahan katun combet 30s
❤️❤️❤️
Lap yu gaes