MUSE

MUSE
PRIA BRENGSEK



MUSE


EPISODE 14


PRIA BRENGSEK


\~Lenna begitu putih dan bersinar. Berbeda denganku, walaupun aku punya tubuh dan kondisi yang normal, tapi jauh di dalam diriku aku adalah manusia yang rusak\~


Aku menggandeng tangan Lenna. Embun pagi masih terlihat tebal saat kami berjalan menuju halte bis setempat.


“Kau sudah baikan?” tanyaku pada Lenna.


“Heem.” Lenna tersenyum dan mengangguk.


Aku nggak tahu harus bertanya apa saat ini. Perasaanku terasa sangat canggung sekali, kemarin kami berciuman. Dia juga mendengar pertengkaranku dengan Mama semalam.


Aku sendiri juga bingung dengan apa yang aku lakukan semalam. Kenapa aku menciumnya? Apakah aku mencintainya ataukah hanya terbawa suasana?


“Kau sudah menghubungi Papamu?”


“Sudah.”


...


Suasana kembali hening. Aku nggak tahu pemikiran apa yang ada dibenak Lenna. Apakah dia marah padaku? Kenapa dia terus diam? Apa dia kecewa dengan perkataan Mama kemarin?


“Lenna.. kau marah?” tanyaku.


Lenna diam saja, langkahnya masih sama. Aku menghentikan langkahku menunggu jawaban darinya.


“Aku nggak marah. Apa hakku untuk marah padamu?” Lenna melepaskan tangannya dan berjalan lebih cepat.


....


Aku tak bisa memberikan jawaban apapun ke Lenna. Yang aku tahu, aku dan dia hanya sekedar teman. Menciumnya semalam adalah sebuah kesalahan besar. Belum lagi ucapan Mama yang terkesan melecehkan Lenna, pasti hatinya sangat sakit.


Sebuah bis tiba di depan kami, Lenna tetap mengambil bangku di dekat jendela. Pandangannya terus terarah keluar, membuatku enggan untuk memulai pembicaraan.


“Kenapa kau mau menciumku?” ucap Lenna, pandangannya masih menerawang jauh ke arah luar jendela.


“Maafkan aku.”


“Aku yang memulainya, bukan salahmu.” Lenna terlihat menahan air mata, matanya berkaca-kaca. Aku benar-benar merasa bersalah padanya.


Aku benar-benar brengsek, kenapa aku menerima ciumannya kemarin dan menimbulkan kesalah pahaman seperti ini?


Bis telah sampai di halte dekat kampus kami. Lenna juga telah menghubungi sopirnya untuk datang menjemput.


“Mau aku antar ke rumahmu? Aku akan jelaskan semuanya ke orang tuamu,” ucapku.


“Nggak usah. Kamu pulang saja istirahat.” Lenna tersenyum.


“Oke, hati-hati, ya.” Aku membantu Lenna masuk ke dalam mobilnya.


“Rasanya capek sekali.” Aku mendoak dan bergumam.


Langit siang ini tidak terlalu panas, awan-awan bergerak pelan dan terlihat menahan sinar matahari. Aku kembali menghela nafasku dan berjalan pulang ke apartement.


“Alex!!” suara Amanda menyambut kedatanganku.


“Kamu di sini?”


“Aku menunggumu cukup lama.” Amanda melingkarkan lengannya padaku.


Aku membalas pelukannya, tercium aroma parfum yang wangi dari balik leher Amanda. Sudah lama aku nggak mencium wangi ini, jujur aku sedikit merindukannya.


“Kau dari mana?”


“Dari rumah.”


“Aku kira kamu sudah nggak mau pulang lagi.” senyum Amanda.


“Kau suka aku pulang? Kau yakin tak akan merindukanku?”


“Aku suka saat kau baikan dengan keluargamu. Tapi aku nggak suka kalau kau menghilang.” Amanda terkikih.


Aku melemparkan tasku dan menggendong tubuh mungilnya, Amanda tak menolaknya.


“Di sofa saja yuk.” ajak Amanda.


Aku mencium bibir mungil Amanda, melumatnya lembut, menautkan lidahnya dengan lidahku. Samar-samar aku melihat bayangan Lenna keluar di benakku.


“Kenapa? Kok berhenti?” tanya Amanda.


“Nggak kok. Ayo kita lanjutkan lagi.” Aku melepaskan baju Amanda.


Amanda naik ke pangkuanku, hangatnya suhu tubuh Amanda melekat di kulitku. Rasanya berubah menjadi semakin dan semakin panas.


“Ah.. jangan kau gigit.” Amanda mengerang dan mencakar pundakku.


“Bukankah kau menyukainya?”


Bunyi dencitan kaki sofa dan erangan Amanda berpadu membentuk sebuah irama yang terdengar indah dan menggairahkan.


Tapi..


Kenapa aku nggak merasakan manisnya berciuman dengan Amanda seperti aku mencium Lenna kemarin?


“Kau nggak pulang?” Aku masih memeluk dan mengelus tubuh Amanda yang mulus.


“Kau mengusirku?” Amanda cemberut.


“Biasanya kau selalu terburu-buru.” Aku bangkit dari sofa, menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


“Dia keluar kota.” Amanda mengekor.


“Tetap saja kau harus pulang.”


“Iya bawel. Biarkan aku mandi dulu dengan tenang.”


Aku menyalakan shower dan mulai mandi, Amanda juga ikut menyusul untuk mandi.


—MUSE—


.


.


.


Aku mengaduk kopi instan yang baru saja ku buat. Aromanya tercium memenuhi seluruh ruangan kamar apartemenku. Yah, apartemen studio yang ku sewa emang sempit, tapi cukup nyaman dan uang sewanya relatif murah.


Aku mencolokan kabel data ke kamera digital untuk menyambungkannya ke laptop. Memindahkan beberapa foto hasilhuntingdengan Lenna kemarin.


“Dia memang sangat mencolok,” tak terasa aku bisa senyum-senyum sendiri saat melihat wajah dan gayanya di foto.


Lenna begitu putih dan bersinar. Berbeda denganku, walaupun aku punya tubuh dan kondisi yang normal, tapi jauh di dalam diriku aku adalah manusia yang rusak. Manusia berengsek yang mengingkari dan menentang keluarganya sendiri. Menjual diri, dan tidur dengan istri orang.


“Benar-benar seperti malaikat.” Aku mengambil beberapa foto dan memindahkan file-nya ke ponsel-ku.


“Aku harap Lenna menyukainya.”


Kukirim beberapa lembar foto kepadanya.


Alex:


Sudah tidur?


Apa aku mengganggumu?


Lenna:


Nggak kok.


Aku senang kok, kau menghubungiku.


Kau sendiri bagaimana?


Alex:


Aku baik-baik saja


Kau suka fotonya?


Pilih yang kamu paling suka


Aku akan coba melukisnya.


Lenna:


Aku suka.


Yang ini saja.


Alex:


Kau tampak cantik.


Aku juga suka foto yg ini.


Lenna:


Trims, Lex


Alex:


Oke


Good nite, Len.


Lenna:


Nite, Lex.


Senyuman kembali terkembang di wajahku. Entah bagaimana? Aku merasa ada kebahagian tersendiri yang sulit untuk diungkapkan.


—MUSE—


Like, comment, and +Fav


Follow dee.meliana for more lovely novels.


❤️❤️❤️


Thank you readers ^^