
MUSE S5
EPISODE 30
S5 ~ TANPA SYARAT
~ Aku bisa mencintaimu tanpa syarat, penerimaan adalah kunci dari kebahagian, bukan? Aku pasti menerimamu apa adanya, My Queen.~
_____________________
“Mami!!” Suara Aiden mengagetkan keduanya.
“Aiden!! Jangan berlari, Boy!!” Bella mencegah Aiden berlari dengan kaki mungilnya.
“Jeyuk!! Aiden mau jeyuk, Mami!!”
“Mami??? Kau sudah punya anak??!!” tanya Nick, wajahnya terlihat syok.
“Iya, perkenalkan ini putraku, Aiden.” Bella tersenyum, ia mendekap tubuh mungil Aiden dalam pelukkannya.
“Halo, Uncle, namaku Aiden! Salam kenal,” ucap balita itu dengan lancar.
“Wah, kau pintar sekali. Berapa usiamu?” tanya Nick.
“3 tahun lebih sedikit,” jawab Bella.
“Mau jeyuk, Mami.” Aiden kembali pada tujuan utamanya.
“Ini sayang. Makan yang banyak. Bagi untuk Nini dan Aunty Sekar juga.” Bella memberikan beberapa jeruk.
“Makacih, Mami!!” Aiden mendekapnya di depan dada dan bergegas menuju ke tempat Sekar dan Elise menggelar tikar. Bella mengamati Aiden sampai bayi itu benar-benar tiba di pangkuan Elise.
Angin berhembus hangat. Bella sesekali membetulkan rambutnya yang kacau. Nick masih memandang Bella dengan keheranan. Kalau benar Aiden berusia tiga tahun lebih, berarti Bella hamil saat masih SMA.
“Suamimu tidak ikut?” tanya Nick.
Ekspresi wajah Bella langsung berubah, terlintas kembali bayangan wajah Lucas, pria yang dicintainya. Bahkah sampai saat ini pun jantung Bella masih terus berdegup tak karuan saat mendengar namanya atau mengingat tentang dirinya. Bella masih merasa cinta namun juga sekaligus kecewa, masih merasa senang namun juga sedih, masih merasa rindu tapi juga takut.
Ah, sangat aneh, perasaan manusia memang sangat rumit dan tak bisa ditebak. Sekejap kau bisa jatuh cinta, sekejap juga kau bisa membenci dirinya.
“Aku tidak punya suami, Nick.”
“Jangan bohong, lantas cincin itu apa?” Nick menunjuk ke arah cincin pemberian Lucas yang sampai saat ini pun masih melingkar di jari manis Bella.
“Ah, ini ....” Lidah Bella langsung kelu, ia tak mampu menjelaskan tentang cincin ini kepada Nick.
“Sudah hampir sore, aku harus membereskan toko.” Nick pamit kepada Bella. Entah kenapa hatinya tak sanggup untuk mendengarkan cerita seputar cincin itu terlontar dari mulut Bella.
Kenapa? Masa iya sudah muncul rasa cemburu di dalam hatiku? Nick mencela dalam hatinya.
Bagi Nick yang terpesona dengan sosok Bella, mengetahui mereka adalah teman satu sekolah dan bahkan pernah menyelamatkan nyawanya membuat Nick sedikit berharap akan perasaannya. Yah, tapi dari pada mengetahui kebenaran bahwa hati Bella bukan untuknya, Nick merasa lebih baik mundur secara teratur terlebih dahulu sebelum kecewa lebih dalam.
“Tunggu!” Bella menarik pergelangan tangan Nick.
“Ya?!”
“Apa kau jijik padaku, Nick?! Kenapa langsung pergi begitu tahu aku punya anak tanpa suami?” Bella bangkit.
“Tidak, Bella, aku hanya takut pada perasaanku sendiri.” Wajah Nick bersemu kemerahan.
“Apa maksudmu?”
“Lupakan yang ku katakan. Aku melantur.” Nick menggaruk kepalanya.
“Boss!! Sudah sore, aku ada kuliah malam. Boleh kita tutup?!” sela pegawai Nick di tengah obrolan mereka.
“Oke kita tutup.” Nick berteriak.
Bella mengambil ponselnya dan menuliskan nomor ponsel yang tertera pada papan nama toko. Ia lalu meneleponnya dan membuat ponsel Nick berbunyi. Nick bergegas mengambil ponselnya.
“Terima kasih, Nick. Itu nomorku. Hubungi aku jika kau butuh bantuan. Setidaknya kau pernah menyelamatkanku, jadi aku pasti akan membalas budimu.” Bella tersenyum dan melambaikan tangannya pada Nick.
“Baiklah.” Nick merasa seluruh dunianya berhenti berputar saat pandangan mereka bertemu.
Kenapa saat memandang matamu duniaku seakan berhenti berputar, My Queen? Salahkah aku jika terpesona padamu?! Nick menatap kepergian Bella dengan semburat kemerahan memenuhi garis tulang pipinya.
— MUSE S5 —
Sudah satu minggu berlalu sejak pertemuannya dengan Nick. Pertama agak canggung juga mengobrol lewat chat dan telepon. Tapi nyatanya pembicaraan mereka cukup nyambung, Nick sangat mengasyikan, dan Bella juga sudah lama tak punya teman untuk bercakap-cakap.
“Senyum-senyum sendiri?!” goda Elise.
“Ah, Aunty.” Bella menaruh ponselnya, agak malu karena ketahuan Elise sedang tersenyum seperti orang gila.
“Pria yang kemarin?” tanya Elise sembari duduk di samping Bella.
“Iya.” Bella mengangguk pelan.
“Dia sangat tampan, apa mungkin dia sedang mendekatimu? Apa dia jatuh hati padamu?” cerca Elise penuh harapan.
“Ah, Aunty jangan ngaco donk. Kita cuma berteman saja kok. Merasa cocok karena pernah satu SMA,” pungkas Bella.
“Tapi caranya memandangmu sepertinya punya arti yang lebih dalam.” Elise mengelus punggung tangan Bella, “kalau benar, bukalah hatimu untuk cinta yang baru, Bella.”
“Bella tak mau memulai sebuah hubungan lagi, Aunty. Sudah cukup merasakan rasa sakitnya. Bella sudah punya Aiden dan juga kalian.” Bella tersenyum, ia menolak menerima pernyataan Elise.
“Aiden juga butuh sosok seorang Ayah. Lambat laun dia pasti menyadari dan ingin tahu di mana Ayahnya, Bella.” Elise bangkit untuk menuang teh dari poci ke cangkir.
Bella terdiam beberapa saat, semenjak masuk ke sekolahan memang Aiden sempat bertanya kenapa semua temannya punya ayah sedangkan dia tidak.
“Cari yang mau menerimamu apa adanya Bella, yang mencintaimu tanpa syarat. Yang bisa menjagamu dan Aiden.” Elise kembali, ia menaruh secangkir teh di depan Bella.
“Thanks, Aunty.” Bella tersenyum kecut, mana ada pria yang mau mencintai dan menerimanya tanpa syarat. Semuanya pasti akan mundur teratur saat tahu Bella adalah seorang single mother and pole dancer. Wanita pekerja malam yang punya anak di luar ikatan pernikahan.
“Oh, iya. Besok lusa kami kembali dengan bis saja. Tak perlu kau antar, kau pasti kelelahan kalau harus mengantarkan kami dan langsung pergi bekerja,” tutur Elise.
“Ah, kenapa berrasa cepat sekali?” hela Bella. Tinggal dua hari Aiden menginap di rumah kontrakan Bella, sebelum ia kembali ke desa bersama dengan Elise dan Sekar.
•
•
•
Bella juga telah menandatangani kontrak yang baru. Sudah saatnya ia kembali mengais rejeki. Kali ini sebuah club dengan nuansa elegan yang kental, tak ada hentakan keras, musiknya berganre jazz dan clasic jadi tentu saja gerakannya pun lembut. Bella sedang berlatih sebelum akhirnya melirik ke arah ponselnya yang kembali berbunyi.
NICK:
Karena aku pernah menolongmu
Tiga kali, berarti kau berhutang
Tiga hal padaku, My Queen. 😤
Bella tertawa membaca permintaan Nick, kenapa pria ini begitu lucu.
BELLA:
Mana ada Ratu berhutang
Pada kesatrianya? 😅
NICK:
Kau sendiri yang bilang, Queen.
BELLA:
OK, anggap saja begitu.
Apa permintaanmu
yang pertama?
NICK:
Apa kita bisa bertemu? 🥺
Nick menunggu balasan Bella cukup lama. Ia ingin mengatakan pada Bella kalau sedang membutuhkan model Video Clip agar Tugas Akhirnya bisa segera selesai.
BELLA:
Oke, tapi aku tak bisa keluar
Dari Rumah,
Aiden sedang bersamaku.
NICK:
Boleh aku ke rumahmu?
BELLA:
Sure
Aku share alamatnya.
NICK:
Yes!! Thanks My Queen.
Bella kembali tertawa, dia sungguh tak biasa dengan panggilan Nick padanya.
•
•
•
Tok ... Tok ...
Sore ini Nick mengetuk pintu rumah Bella. Rumah kecil di kawasan perkampungan padat penduduk. Walaupun kecil tapi bangunannya baru, terlihat sangat rapi, dan nyaman.
“Hai!” sapa Bella saat melihat wajah Nick yang berseri-seri.
“Hai!!” sapa Nick juga dengan canggung. Nick menyerahkan seikat bunga crysan dan juga sebotol wine.
“Apa ini?” Bella menerimanya.
“Upeti untukmu, Queen,” jawab Nick.
“Ah, kau bisa aja, sih! Ayo masuk! Kebetulan baru saja matang, kita akan makan malam bersama.” Bella mempersilahkan Nick masuk untuk bergabung dengan makam malam mereka.
“Kemari, duduklah!” Elise mempersilahkan Nick duduk di dekatnya.
“Ini Aunty Elise, Sekar, dan Aiden. Ini Nick.” Bella memperkenalkan mereka semua.
“Hallo, Uncle!!” Aiden langsung mengangkat tangannya menyapa Nick, membuat semuanya tergelak.
“Wah, kau pintar sekali, Boy!” Nick mengelus pucuk kepala Aiden.
“Iya, donk!! Aiden harus pintal karena cita-cita Aiden menjadi seolang Batman.” Balita itu menirukan gaya super hero idolanya.
“Benarkah?!! Wah, Uncle juga menyukai Batman,” jawab Nick sembari menirukan gaya Aiden.
Mereka tertawa bersama, membuat hati Bella terenyuh. Apakah suasana di rumah akan menjadi sehangat ini bila ada sosok seorang pria yang mendampingi dan menjaga mereka? Namun Bella cepat-cepat menepis harapan kosong di depannya. Ia lebih memilih untuk fokus membesarkan Aiden, tak ada tempat untuk cinta yang baru, karena cinta yang lama pun masih membekas begitu dalam, baik rasa manis maupun pahitnya.
“Ayo kita makan!” ajakkan Elise membuyarkan lamunan Bella.
Mereka semua duduk bersama untuk makan. Hidangan khas kota S, sengaja Bella masak untuk mengobati kerinduan Bella dan Nick akan rasa dari kampung halaman mereka.
“Ini enak sekali!! Siapa yang masak?” Nick menyendok lahap nasi di depannya.
“Bella, dia yang masak. Kami hanya membantu,” jawab Sekar.
“Wah, benar-benar istriable ternyata!!” puji Nick spontan.
“Uhuk ... uhuk ...!” Bella langsung tersedak.
“Minum dulu, gih!!” Elise memberikan segelas air pada Bella.
Wajah Bella memerah mendengarkan penuturan Nick, ia tak menyangka Nick akan segamblang itu menjabarkan perasaannya terhadap Bella.
“Jangan ngaco!!” sergah Bella setelah berhasil keluar dari rasa gatal.
“Hahaha ...!” Nick malah tertawa, Aiden ikut tertawa menirukan Nick.
Nick mengelus kepala Aiden, mereka kembali melanjutkan makan malam bersama. Mengobrol dengan akrab dan penuh kehangatan keluarga. Tak biasanya Aiden bisa dekat dengan orang luar, namun entah kenapa malam ini Aiden sangat begitu lengket dengan Nick.
“Tuh, apa Aunty bilang?! Dia punya perasaan sama kamu, Nak!” Elise menghampiri Bella yang sibuk mencuci piring.
“Ah, Aunty, jangan godain Bella terus donk! Bella takut memulai hubungan lagi,” lirih Bella,
“Ck, coba kau lihat anakmu! Dia menempel sekali dengan pria itu. Jarang-jarangkan Aiden mau.” Elise menunjuk ke arah Nick dan Aiden yang sedang bermain tembak-tembakkan di ruang keluarga.
Bella menghentikan pekerjaannya, ia memandang wajah anaknya yang berseri bahagia saat bermain dengan Nick. Apakah ucapan Elise benar? Aiden butuh sosok seorang Ayah?
“Cobalah saling mengenal dari hati ke hati, Bella.” Elise meremmat pundak Bella.
Bella mengangguk sebagai jawaban.
“Aiden, ayo tidur!!” Elise meninggalkan Bella dan menghampiri cucunya.
“Ada yang bisa aku bantu?” Nick datang menghampiri Bella.
“Sudah selesai, kok. Oh, ya, hal penting apa yang ingin kau bicarakan padaku?” tanya Bella.
Bella mengajak Nick naik ke atas loteng lantai dua. Di loteng ada halaman kecil tempat biasa Bella menjemur pakaian dan menikmati udara malam. Bella biasa duduk merenung di sini saat suasana hatinya sedang tidak baik. Tak heran ada satu set kursi outdoor di dekat tralis pengaman.
“Ini!! Kita cheers.” Bella menuangkan wine dan memberikan pada Nick.
“Cheers!!” Nick mengadukan gelas mereka, menimbulkan dentingan pelan.
“Hm, enak!” Bella mengecap pelan lidahnya sebelum kembali meminum wine di dalam gelas.
“Kau kuat minum juga rupanya.”
“Tentulah, sudah tuntutan pekerjaan.”
“Ah, begitu.”
“Jadi apa yang membawamu padaku, Nick?” Bella memutar posisi duduknya menghadap Nick.
“Aku butuh seorang model untuk karya Tugas Akhirku, Bella.”
“Ah, kau menawariku sebagai model untuk tujuan itu?!”
“Benar, apa kau mau?”
“Maaf, Nick. Bukannya aku tak mau menolongmu. Tapi aku punya masalah yang membuatku tak bisa menampakkan diri.” Bella mengambil napas panjang.
“Kenapa?”
“Ceritanya panjang.”
“Aku punya waktu untuk mendengarnya, Bella,” tukas Nick penasaran.
Akhirnya setelah menengguk habis segelas wine Bella menceritakan kisah hidupnya. Bagaimana ia mencintai Lucas, hamil, mamanya ingin kandungannya digugurkan, kabur, membentuk hidup yang baru, melahirkan Aiden, merawat bayi itu, terjun ke dunia malam, dan alasan kenapa tak ada yang boleh merekam tariannya.
“Well, maafkan aku, Bella. Aku tak tahu kalau hidupmu sepelik itu.” Nick ikut menghabiskan cairan di dalam gelasnya.
“Hahaha, kenapa kau yang bersedih, Nick?! Bukan salahmu, ini hidupku.” Bella tertawa lalu menangis, sepertinya ia mulai mabuk.
“Hei!! Hei!! Jangan menangis!” Nick menepuk pundak Bella.
“Aunty Elise memintaku untuk mencari cinta yang baru, Nick. Tapi aku takut!! Aku takut kesesakan itu terulang kembali. Aku takut kembali sakit, aku takut kembali kehilangan.” Bella berdiri di depan Nick sambil merancaukan isi hatinya.
“Kemarilah, My Queen!” Nick menarik pergelangan tangan Bella, mendekapnya masuk dalam pelukannya. Ia menepuk punggung Bella beberapa kali.
“Mommy selalu melakukan hal ini saat kami sedih, membuat kami merasa nyaman. Hm ... apa rasanya juga nyaman untukmu?!” tanya Nick, Bella mengangguk, air matanya masih menetes, namun perasaannya sangat hangat.
“Mana ada pria yang mau mencintai wanita sepertiku, Nick! Aku wanita malam dan juga seorang wanita yang memiliki anak di luar pernikahan. Bahkan kau pasti memandang jijik kepadaku kalau aku bukan temanmu?” Bella menarik tubuhnya dari dekapan Nick.
“Aku bisa mencintaimu tanpa syarat, penerimaan adalah kunci dari kebahagian, bukan? Aku pasti menerimamu apa adanya, My Queen.” Nick terbawa luapan perasaan, ia hendak mendekatkan wajahnya pada wajah Bella dan menyatukan bibir mereka.
“Tidak, maaf, erm ... ini hal yang salah. Aku pasti mabuk!! Kita pasti mabuk, Nick!!” Bella bangkit dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Nick dengan wajah memerah.
Ah, kenapa kau bodoh sekali, Nick!!! Nick mengumpati dirinya sendiri.
— MUSE S5 —
( Oh no, did I get too close oh?
Oh, did I almost see what's really on the inside? 🎶
All your insecurities
All the dirty laundry 🎶)
Bella sedang berlatih pada tiang di dalam rumahnya. Ia meliukkan tubuhnya, mengikuti irama musik yang terdengar dari speaker bluetooth.
(Never made me blink one time
Unconditional, unconditionally 🎶
I will love you unconditionally
There is no fear now 🎶
Let go and just be free
I will love you unconditionally)
Nick sedang menatap langit-langit kayu pada plafon rumahnya. Sesekali ia memetik senar gitar mengikuti irama lagu yang keluar dari speaker ponselnya.
(Come just as you are to me
Don't need apologies 🎶
Know that you are all worthy
I'll take your bad days with your good
Walk through this storm I would 🎶
I'd do it all because I love you, I love you)
Bella menghentikan latihannya, bahunya bergerak naik turun karena deruan napasnya yang berat. Latihan dengan pikiran kalud cukup membuatnya kelelahan. Begitu juga dengan Nick, ia meletakkan gitarnya dan memejamkan mata, pikirannya kacau dan kalud. Kenapa dia begitu terburu-buru mengungkapkan cinta?!
(Unconditional, unconditionally
I will love you unconditionally 🎶
There is no fear now
Let go and just be free 🎶
I will love you unconditionally)
Apakah dia akan membuka hatinya untuk cinta yang baru? Pikir Nick dalam hati.
(So open up your heart and just let it begin
Open up your heart, and just let it begin
Open up your heart, and just let it begin
Open up your heart 🎶
Acceptance is the key to be
To be truly free 🎶
Will you do the same for me?)
(Unconditionally-Katy Perry)
Apakah aku bisa membuka hatiku untuk cinta yang baru?! Pikir Bella, ia menaikkan jemarinya untuk memandang cincin pemberian Lucas.
— MUSE S5 —
Wah, MUSE SUDAH EPISODE 200
Wah wah wah... enaknya syukuran apa gengs???!
Love
Like
Vote
Comment
❤️❤️❤️❤️