MUSE

MUSE
S5 ~ KURIR CANTIK



MUSE S5


EPISODE 2


S5 \~ KURIR CANTIK


\~ Tanpa sadar, pria tampan itu telah menggoreskan namanya di dalam hatiku. Membuatku ingin kembali berjumpa dengan dirinya. Membuatku ingin mendengar ia menyebut namaku dengan bibirnya.\~


_________________


LUCAS POV


Jadi bagaimana aku bertemu dengannya? Bertemu dengan Bella dan bagaimana aku bisa terikat begitu dalam dengan wanita itu?


Kisah kami terjadi lima tahun yang lalu. Saat itu aku baru saja pulang dari studyku di luar negeri. Aku belum seperti saat ini, mapan dan bergelimang harta. Aku masih seorang broker dan juga penasehat keuangan biasa. Memutar, memantau, dan melipatkan dana investasi kecil-kecilan dari orang-orang yang mempercayakan keuangan mereka padaku. Beruntung ayahku adalah pria yang cukup kaya dan terpandang, jadi tidaklah susah mencari klient dengan embel-embel nama ayah di belakangku.


Aku masih mengingatnya, hari itu hujan turun dengan deras, membuncahkan air dari langit untuk membasahi bumi. Jalanan terlihat sepi, para pengendara motor memilih untuk menepikan motornya, walaupun ada beberapa yang nekat karena memakai jas hujan. Hujan deras memaksa semua orang untuk menghentikan aktifitas perjalanan mereka.


Aroma kopi tercium pekat, saat ini aku sedang duduk di sebuah cafe di kota S, namanya Pallet cafe. Kalian pasti sudah tidak asing dengan cafe ini. Cafe unik dengan suguhan warna-warna pastel yang lembut pada interiornya. Cewek banget kesannya, tapi memang kopi di sini sangat nikmat, rotinya juga enak. Aku cukup betah berlama-lama di sini sambil bekerja mengamati pergerakan pasar saham.


G*SEND:


Sesuai Alamat?


LUCAS:


Benar.


Lampu mulai menyala, tanda sore akan segera tiba. Aku harus bertemu dengan klient sore ini, namun aku melupakan dokumen penting yang harus di tanda tanganinya. Jadi aku meminta jasa pengiriman kurir online untuk mengirim dokumen itu dari rumahku.


Aku menunggu dengan sabar, sesekali memainkan jari-jemariku di atas meja. Mengetukkannya bergantian, membentuk sebuah irama. Aku terus melirik ke luar jendela menunggu kurirnya datang. Sudah hampir 15 menit, tapi belum ada tanda-tanda kedatangannya, padahal rumahku tidak jauh dari cafe.


Aku mengamati jendela. Butiran air yang menempel pada jendela kaca terlihat menetes dan bercampur dengan butiran kecil yang lain. Melahapnya sampai menjadi butiran yang lebih besar dan akhirnya meleleh hilang.


Krincing Kling .... 🎶


“Welcome to Palette cafe!” seru seorang pegawai. Namun orang yang masuk ke dalam cafe menggoyangkan tangannya sebagai kode kalau dia tidak sedang datang sebagai pembeli. Sepertinya dia adalah kurir yang mengantarkan paketanku.


“Maaf, tapi tolong lepas helmnya, airnya menetes dan membasahi lantai!” pinta pelayan cafe dengan ramah, dia mengangguk tanda mengerti.


Kurir itu melepaskan helmnya, rambutnya yang hitam dan ikal bergoyang saat terlepas dari kungkungan helm. Dengan perlahan kurir itu meletakkan helmnya di dekat penyimpanan payung.


Mataku terpatri saat menatap wajahnya, ternyata dia adalah seorang gadis. Seorang gadis kecil yang sangat cantik. Wajahnya berbentuk oval dan punya kesan sensual yang sangat menarik perhatian. Hidungnya sedikit lebar tapi mancung, alisnya tebal dan tatapan matanya sangat menggoda. Yang paling menonjol adalah bibirnya yang begitu sensual dan menggairahkan.


“Permisi, Tuan. Dari G*send. Ini dokumennya. Maaf lama, saya harus berhenti untuk memakai jas hujan karena hujannya sangat deras.” Gadis itu berdiri di sampingku, memberikan sebuah map coklat yang terbungkus rapat dengan kantong plastik hitam.


“Berapa umurmu?” tanyaku, gadis ini terlihat sangat muda untuk ukuran seorang pekerja kasar.


“Ya??” tanyanya balik, mungkin keheranan kenapa aku menanyakan hal yang cukup pribadi.


“Ah, aku hanya penasaran kenapa anak kecil bisa menjadi kurir?” tandasku memberi alasan.


“Aku bukan anak kecil, Tuan! Aku berusia 17 tahun bulan lalu.”


“Oh, baiklah. Terima kasih, ya.”


“Kembali kasih, Tuan. Tolong kasih rate bintang limanya, ya!” pintanya.


“Tentu,” jawabku.


Gadis itu kembali tersenyum setelah mendengar jawabanku. Dia hendak berlalu pergi setelah menyelesaikan tugasnya mengirim barang. Namun ada ketidak relaan dariku saat mengetahui ia akan pergi begitu saja. Kenapa?


“Tunggu!”


“Ya?” Wajahnya kebingungan.


“Siapa namamu?”


Alisnya menyatu mendengar pertanyaanku. Mungkin keheranan karena pasti baru aku, orang yang bertanya tentang hal-hal pribadi pada seorang kurir pengantar barang.


“Ada di aplikasi, Tuan.” Angguknya sopan sebelum akhirnya benar-benar melangkah pergi.


Aku bangkit dan mengikutinya keluar dari cafe, namun gadis itu telah melesat pergi dengan mengendarai sekuter matic lawasnya.


Ah, kenapa wajahnya begitu menarik? Pikirku.


Aku kembali masuk ke dalam, mengecek dokumen yang diantarkannya. Tidak ada yang basah ataupun lecek. Dia bahkan membungkusnya dengan plastik agar tidak basah.


Aku bergegas membuka aplikasi jasa kurir online pada ponsel pintarku. Melirik sepintas pada deretan huruf abjad yang membentuk namanya.


Belaciaquin, ucapku dalam hati.


Namanya sangat unik dan cantik, secantik wajahnya. Tanpa terasa bayangan wajahnya telah terekam di dalam benakku. Bayangan itulah yang nantinya membayangi tiap malamku dengan kerinduan dan rasa ingin memiliki.


Apakah aku bisa bertemu dengannya lagi?


Hmm .... Kenapa tidak? Senyumku senang.


— MUSE S5 —


BELLA POV


UGH ...!


Hari yang buruk dan menyebalkan. Bagaimana tidak?! Aku sudah bergegas mengantarkan dokumen itu secepat mungkin, namun hujan menghentikan laju motorku. Aku terpaksa merelakan plastik yang membungkus seragam sekolahku untuk membungkus dokumen itu. Aku merelakan seragam sekolahku basah agar dokumen itu tidak basah!


Lalu setelah perjuangan menembus hujan dan dinginnya angin, apa yang aku terima???


Bintang satu!!


Teganya pria itu memberikan bintang satu padaku?! Padahal dia sudah berjanji memberikanku bintang lima!


Sialan! Apa dia berubah pikiran hanya karena aku tidak menjawab pertanyaannya? Habis aku sangat heran, kenapa ia menanyakan nama seorang kurir? Apa dia lelaki hidung belang??


Aku menghembuskan napas kasar dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan diri dari keringat dan juga rasa lelah yang mendera setelah bekerja seharian.


Namaku Belaciaquin, nama yang aneh namun juga cantik. Aku sangat menyukai namaku, karena papa yang memberikannya. Papa selalu memanggilku Ella, katanya panggilan itu terdengar sangat imut. Sedangkan teman-teman dan mamaku memanggilku dengan sebutan Bella.


Bella diambil dari kata “Belle” bahasa Perancis yang artinya cantik. Aku memang cantik, semua orang tidak pernah tidak memujiku cantik. Sayangnya kehidupanku tidak sebaik wajahku. Kehidupanku sangat jauh dari kata baik apa lagi sempurna.


Terlahir dari keluarga sederhana, mama mengenal papa, jatuh cinta, menikah, hidup sederhana karena papa hanyalah seorang karyawan swasta. Semua baik-baik saja sampai suatu ketika kecelakaan kerja terjadi. Papa meninggalkan kami berdua untuk hidup dengan penuh perjuangan, ia meninggalkan hutang kredit yang cukup banyak. Ada kredit rumah, kredit kendaraan, dan juga prabot elektronik.


Mama depresi dan jatuh dalam buaian alkohol, akhirnya ia menjadi pecandu minuman keras itu. Kehidupan mama semakin tak terkendali, ia memilih bekerja di club-club malam, menjadi wanita penuang minuman sampai pemuas nafsu para lelaki hidung belang. Berkat kecantikkannya, mama tak pernah kekurangan tamu yang membutuhkan jasanya. Walupun telah menjadi seorang mama, kecantikkannya memang belum pudar. Dia melahirkanku di saat berumur 20 tahun, jadi saat ini dia baru berusia 37 tahun.


Namun, yang namanya uang haram selamanya tetap uang haram, tak akan pernah bisa bertahan dan membuatmu kenyang. Mama selalu kehabisan uang, membayar cicilan hutang, membayar keperluannya berdandan, membayar rumah sakit untuk mempertahankan kecantikkan, dan banyak hal lainnya. Mama hanya memberiku jatah bulanan untuk makan, sisanya aku harus mencari tambahan sendiri. Aku mencari biaya sekolahku sendiri.


Aku teringat dulu mama pernah pulang pagi hari, saat itu aku hendak berangkat sekolah. Aku tengah menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Mama pulang dengan keadaan mabuk berat.


“Kau berhenti sekolah saja, Ella! Bantu Mama bekerja!” ucapnya dalam keadaan mabuk.


“Mama, sadar, Ma!!” Aku membopong tubuhnya yang bau alkohol dan juga rokok.


“Aku tidak mabuk anakku yang cantik!! Aku masih bisa berjalan sendiri!” Dengan sempoyongan mama berjalan menuju ke atas ranjang, dia terjatuh di pinggir ranjang sebelum akhirnya merangkak naik.


“Na ... na ... na.” Senandung cinta keluar dari bibirnya yang dipoles begitu merah, walaupun terlihat bahagia namun aku tahu betul bahwa perasaannya saat ini sangat terluka.


“Mama, ini air hangat. Minum dulu biar pegarnya hilang.” Aku memberikan segelas air, namun mama menepisnya, airnya tumpah dan membasahi tubuhku, membasahi seragamku.


“Anak ini!! Dibilang Mama nggak mabuk!!” Mama menjambak rambutku, membuatku meringis kesakitan karenanya.


“Ach ...! Ma sakit, Ma!” seruku meminta ampun.


“Kau masih mau berangkat sekolah??! Dibilang nggak usah sekolah!! Kerja saja! Cari uang yang banyak! Buat apa sekolah, buang-buang duit, ujungnya jadi karyawan biasa!” Mama melepaskan cengkramannya dengan kasar hingga membuat tubuhku membentur lantai.


“Hiks ....”


“Cari pria kaya! Hiduplah bergelimang harta!! Atau jual diri sana! Kau cantik pasti hargamu sangat mahal!” Mama merancau, aku yakin ucapannya pasti merancau karena buaian alkohol. Aku yakin mama tidak serius menyuruhku menjadi seperti dirinya.


Air mataku meleleh mendengar penuturan itu keluar dari mulut mamaku sendiri.


Perlahan-lahan aku bangkit untuk membantunya kembali merebahkan diri, melepaskan sepatu heelsnya dan juga outer yang dikenakannya. Mama tak melawan, ia langsung tertidur begitu aku selesai melepaskan baju kotornya.


Aku menitikkan air mataku, melihatnya dalam tekanan hidup dan juga terjatuh dalam dosa membuat hatiku sakit. Namun, aku bisa apa? Aku hanya seorang anak kecil, tidak ada yang bisa aku lakukan untuknya.


TING ...!


Flashback masa lalu membuyar dari benakku begitu mendengar bunyi notifikasi pada ponsel menyala.


“Perasaan aku sudah mematikan jam kerjaku.” Aku mematikan shower air, bergegas melilitkan handuk dan keluar dari kamar mandi.


Aku mengecek ponselku, hari ini aku telah mengumpulkan cukup rupiah untuk biaya sekolah, jadi aku mematikan aplikasinya dan hendak fokus untuk belajar. Aku takut ada pekerjaan lagi saat mengetahui ada notifikasi masuk, kali saja aku belum benar-benar mematikan aplikasi jam kerjaku.


Mataku melebar, terbelalak kaget, mulutku langsung mengangga saat melihat report pada aplikasinya. Aku mencelos tak percaya.


Tips!!


Ada yang memberiku tips, ia memberiku tips sebesar 10 juta?! Bagaimana bisa? Bukankah dia memberikanku bintang satu? Lalu kenapa tipsnya banyak sekali?!


Orang ini sangat aneh! Apa maunya?


Aku mencoba melihat kembali catatan pemberitahuan notifikasinya, siapa tahu aku salah menghitung angka enol di belakang angka pertamanya.


“Satu, dua, ..., tujuh, wah!! Daebak!!” seruku masih setengah tak percaya. Aku terus mengerjapkan mataku berusaha menyadarkan diri kalau ini bukan mimpi. Aku melihat kembali ke layar ponselku, mengamati wajah dan juga nama yang tertera pada aplikasi.


Lucas, jadi namanya Lucas.Wajahnya sangat tampan. Ah, tapi bagaimana kalau ternyata dia hanya salah ketik dan terlalu banyak memejet angka enolnya?


Akhirnya aku berusaha untuk mengirimkan pesan singkat pada orang itu. Untung saja ada nomor pada aplikasi yang bisa membantuku melacak keberadaannya.


BELLA:


Tuan saya kurir tadi


Apa benar Anda memberi


saya tips 10 juta?


Aku berdoa dalam hati, semoga ada sebuah keajaiban kalau ia benar-benar memberikanku tips senilai 10 juta.


Tak lama kemudian pria itu membalas chatku.


LUCAS:


Ah, aku terlalu banyak memencet angka nolnya. Harusnya hanya 100 ribu.


Aku menurunkan bahuku kecewa, ternyata benar dia hanya salah memijit angkanya.


BELLA:


Oh begitu.


Akan saya transfer balik besok Tuan.


Bisa saya minta no rek-nya?


LUCAS:


Bagaimana kalau kau


Mengembalikkan uangnya secara langsung?


BELLA:


Kenapa?


Aneh, kenapa harus bertemu? Bukankah jaman sudah moderen, mesin ATM tersebar di mana-mana.


LUCAS:


Karena anda sangat jujur nona.


Kalau orang lain pasti tidak akan


Mengembalikan uangnya.


Mereka pasti akan pura-pura bodoh,


karena hal itu memang


kesalahan dari pihak klient.


Saya ingin berterima kasih karena Anda mengembalikan uang saya.


Aku terdiam belum bisa membalas chatnya.


LUCAS:


Hanya ingin berterima kasih.


Bagaimana kalau secangkir kopi?


BELLA:


Tidak perlu berterima kasih, Tuan.


LUCAS:


Tolong jangan ditolak.


Saya juga ingin meminta maaf


karena salah pencet dan


memberi anda bintang satu.


Ah, ternyata dia juga salah memberi ulasan! Huh ... menyebalkan, ganteng-ganteng kok nggak bisa membaca dengan teliti?! Ya, sudahlah, anggap saja ia sedang menebus ratting pelayananku yang merosot tajam.


BELLA:


Bukan hal besar Tuan.


Baiklah saya akan mengembalikan


Uangnya besok.


LUCAS:


Cafe tadi?


BELLA:


Baiklah.


Jam yang sama?


LUCAS:


Anytime Ella.


Deg, hatiku terasa kacau saat membaca chatnya yang memanggil namaku dengan akrab. Nama panggilan yang sudah lama tidak terdengar di telingaku. Nama panggilan papa terhadapku. Aku terenyuh, mataku berkaca-kaca saat membaca chat itu berulang-ulang. Aku merindukan sapaan itu, merindukan seseorang memanggilku dengan nama itu. Sapaan yang membuat hatiku menghangat dan terasa penuh dengan kenangan manis.


Tanpa sadar, pria tampan itu telah menggoreskan namanya di dalam hatiku. Membuatku ingin kembali berjumpa dengan dirinya. Membuatku ingin mendengar ia menyebut namaku dengan bibirnya.


— MUSE S5 —


Ternyata si Lucas ini licik deh...


🤣🤣🤣


Demi ketemu lagi ada aja caranya.


MUSE S5 UP


Kasih dukungan saya dengan like, comment, dan vote.


Thanks sudah membaca dengan setia sampai episode ini. 😭😭😭


Makasih gaes.