
MUSE S2
EPISODE 64
S2 \~ RINDU
\~ Aku menyukai aroma yang dipakainya, aroma laut yang bercampur dengan kesegaran citrus. Membuat debaran itu kembali hadir dalam hatiku, menggelitik jauh ke dalam relung jiwaku.\~
•••
Aku masih saja terus tertawa cekikikan saat mengingat Arvin hari ini. Image keren, tangguh, dan pria penuh pesonanya langsung luntur hanya karena sebuah baju. Baju pink bergambar anak kucing tadi sukses membuatku tak bisa berhenti tertawa.
Ah, benar-benar pagi yang luar biasa.
Aku membanting diri ke atas ranjang, kembali membayangkan hal yang bisa saja terjadi andai saja Aleina tidak datang.
Apakah aku akan kembali ke dalam pelukkannya? Ataukah akan kembali menolaknya karena rasa takut?
Aku mengelus bibirku, membayangkan ciumannya yang begitu manis membuat perutku terus berdesir geli. Kupu-kupu yang menggelitik sekujur tubuhku kembali lagi.
Aku meraba tiap inci permukaan kulitku yang bersentuhan dengan kulitnya. Sepertinya otakku mulai rusak!! Aku mengharapkannya!! Aku membayangkannya!!
“Tidak, Kalila, jangan gila!!” Aku bangkit dari atas ranjang dan bergegas untuk mandi.
•
•
•
Kriinncingg kling...🎶
Aku membuka cafe, Melody sudah memanggang roti dan Caca sudah mengelap semua meja dan kaca. Aku tersenyum pada mereka, mereka memandangku dengan heran. Aku memang tak pernah terlambat pergi ke cafe, tapi hari ini aku terlambat lebih dari 1 jam.
“Bangun kesiangan, Boss?”
“Nggak, kok,” jawabku.
“Kok tumben kau telat lebih dari sejam? Ngapain aja?” Melody melepaskan sarung tangannya.
Nah, hlo!! Pertanyaan Melody kembali menggelitik ingatanku tentang adegan panas pagi ini. Membuat wajahku memanas dan jantungku kembali berdegup cepat.
Ish, dasar cowok mesum!! Kenapa dia harus melakukannya pagi-pagi! Tunggu! Bukan berarti kalau malam aku mau, sih.
“Kenapa, La? Wajahmu merah, sakit??” Melody mendekat dan menaruh punggung tangannya pada dahiku.
“Iya, sakit pikiran...,” jawabku dengan ngawur.
“Gila, donk!” celetuk Caca.
“Iya sedikit,” jawabanku kembali ngawur.
“Kak Mel. Kayaknya boss emang beneran agak gila, deh. Gila karena cinta.” bisikan Caca masih bisa terdengar olehku.
“Angga atau Om ganteng?” tanya Melody.
“Ayo taruhan, Kak Mel. Aku pasang Om ganteng.”
“Oke, deh. Aku pasang Angga. Taruhannya apa?”
“Traktir pizza?”
“Oke.”
“Ck, emangnya kisah cintaku semurahan itu, ya? Kalian menghargainya dengan seloyang pizza?” Aku kesal.
“Dua loyang kok, Boss.”
“Sama aja, emangnya kisahku semurah roman picisan?”
“Jangan galak-galak, boss.”
“Siapa yang galak?”
Aku berjalan masuk ke dalam meja bar, Caca mengikutiku.
“Boss, kalau suka itu diungkapin bukan di pendam. Nanti jadi jerawat.” senggol Caca.
“Iya, bawel.”
Aku kembali pada pekerjaanku. Memulai menggiling kopi dan mem- brewing -nya dengan proses cold drip.
Aroma kopi langsung tercium begitu tetesan demi tetesan seduhannya mulai memenuhi wadah. Aroma kopi adalah parfum terbaik yang diberikan oleh alam. Ia menutup semua aroma yang lain dengan kharismanya yang ringan namun elegan.
Kriinncingg kling...🎶
“Welcome to Palette cafe!” seruku saat lonceng berbunyi.
“Mau pesan apa?”
“Ice black tea. Non sugar.” pesannya.
“Ada lagi?”
“Tidak, itu saja.”
“5000,”
“Maaf, aku lancang. Apa kamu Kalila?” tanyanya, aku jadi bingung. Siapa wanita ini, kenapa mengenalku? Aku tak bisa mengenalnya karena ia memakai kaca mata hitam dan juga topi baseball
“Aku Kana. Kau masih mengingatku?” dia melepaskan kaca mata hitamnya, dan tersenyum.
“Kana?? OMG!! Kau Kana?” Aku setengah tak percaya. Kana teman sekelasku yang juga adalah teman baikku dulu badannya begitu berisi. Sedangkan wanita yang berdiri di hadapanku saat ini begitu langsing dan sexy. Mana mungkin aku bisa mengenalinya.
“Iya, aku Kana.” tawanya. Sepertinya dia juga tak menyangka akan bertemu denganku di sini.
“Mel, Mel, lihatlah siapa yang datang!” Aku berteriak pada Melody.
“Siapa?” Melody keluar dari kamar belakang.
“Kana, dia Kana teman sekelas kita.”
“Kana???” Melody sama kagetnya dengan diriku.
“Melody? Omo, kalian akur sekarang?” tanyanya heran.
“Iya, kami sekarang teman sepenanggungan.” Melody menghampiri Kana.
“Padahal dulu di sekolah kalian sering bertengkar karena Angga.” ledek Kana, memang dulu Melody dan aku sama-sama menyukai Angga. Tapi Angga lebih memilihku.
“Itukan masa lalu,” jawabku.
“Aku marah padamu, Mel. Kenapa dulu kau putus sekolah dan pergi tanpa pamit padaku?” ucapan Kana membuatku sedih. Dulu dia sahabatku, tapi aku bahkan tak pernah berpamitan padanya.
“Maaf, Kana.”
“Sudahlah, itu sudah lama berlalu. Yang penting sekarang kau baik-baik saja.” Kana menggenggam erat tangaku.
“Iya aku baik-baik saja.”
“Kau masih bersama dengan Angga?”
“Eee..., tidak. Kami sudah putus?”
“Ah, sayang sekali.”
“Kau sendiri kenapa ada di kota ini?” Aku sedikit heran, bukankah Kana berasal dari ibu kota.
“Aku akan menjadi MUSE make up. Kalian tahu Dianakan? MUA yang sedang naik daun.”
“Nggak,” kami bergeleng bersamaan.
“Yah, masa nggak tahu, sih?”
“Buta kalau soal make up. Tahunya cuma liptint.” jawab Melody.
“Bener,” tambahku.
“Ya, gitulah. Pokoknya aku mau jadi MUSE Diana untuk blog pribadinya. Kami janji ketemuan di cafe ini. Aku tak menyangka malah bisa bertemu dengan kalian di sini.” Kana tersenyum bahagia.
“Wah, hebat. Jadi kau model?” Melody memuji Kana.
“Iya, aku kuliah dan bekerja sambilan sebagai model.”
“Kau masih jalan sama si singa, nggak?” Aku ikutan kepo dengan kehidupan Kana.
“Sudah nggak, Leon sudah punya pacar lagi. Aku juga sudah punya kekasih.”
“Yah, padahal dulu kalian serasi banget.” Melody nimbrung. Aku menuju meja bar, membuat teh hitam untuk Kana.
“Ini Teh hitam pesananmu, dan ini cake bikinan Melody. Free.” aku membawakannya nampan dengan segelas es teh dan kue.
“Thanks, Kalila. Tapi aku sedang diet.” tolak Kana.
“Ini carrot and pasciato cake, gluten free dan juga rendah kalori. Cocok untukmu saat sedang diet,” jawab Melody.
“Benarkah? Baiklah akan aku makan, thanks, ya.” Kana mencari tempat duduk yang lebih luas untuk menunggu Diana.
Aku memandang Melody, begitu juga Melody. Kami begitu kaget dengan perubahan tubuh Kana yang ekstrem.
“Dia pasti diet ketat.”
— MUSE S2 —
•••
Aku mengamati seorang wanita dengan perawakan tubuh yang tak kalah bagus dengan Kana. Antingnya yang panjang terus bergoyang saat tangannya menyapu kuas make up di wajah Kana.
Ia begitu telaten menggunakan semua peralatan itu. Aku bahkan tak tahu benda apa saja yang dipakainya. Langkahnya banyak sekali. Memoleskan bedak saja ada lebih dari 6 langkah. Membuatku heran sekaligus kagum.
Wanita yang dipanggil Kana dengan nama Diana itu, sesekali menjelaskan cara aplikasinya ke arah kamera. Ia sedang merekam kemampuannya untuk masuk ke dalam blog pribadinya.
“Wah, hebat. MUA profesional memang beda. Kana juga cantik sekali sekarang.” Melody berdecak kagum.
“Benar. Wajahnya jadi begitu mulus, ya. Tak ada satupun noda yang terlihat,” pujiku juga.
Kring... 🎶
Bunyi chat dari ponsel menyita perhatianku.
Arvin:
Meetingnya belum selesai.
Bagaimana denganmu?
Kalila:
Aku sedang menganggur
Cafe mulai sepi.😒
Arvin:
Ah, Sudah lama nggak minum
Kopi buatanmu.
Bisa kau buatkan satu untukku? 🥰
Kalila:
Katanya sibuk.
Kapan kau akan meminumnya? 😒
Arvin:
Ah, benar juga.
Aku masih harus lembur malam ini.😞
Kalila:
Selamat bekerja 😒
Arvin:
Mana ciuman semangat
untukku baby?
😘
Kalila:
😡😡😡
Apa yang aku ketik nampaknya berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalam hatiku. Padahal ada bunga-bunga yang bermekaran di dalam sana. Ah, sepertinya aku mulai merindukan kehadirannya. Membaca text chat bahwa dia akan lembur lagi malam ini membuatku sedih.
— MUSE S2 —
•••
Aku memandang gedung modern di kawasan pertokoan di sekitar ruas jalan utama kota S. Di atas pintu masuknya ada tulisan dari akrilik menyala dengan terang. MAXSOFT. Corp.
Aku menghela napasku beberapa kali sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam gedung itu. Aku sengaja kemari untuk menemuinya. Aku membawakannya setremos kopi dan juga roti.
OMG!! Aku benar-benar sudah kehabisan akal sehat. Bagaimana bisa kakiku melangkah kemari dengan sendirinya? Apa aku benar-benar merindukannya saat ini?
“Permisi bisa saya bertemu dengan Tuan Arvin?” Aku bertanya pada seorang resepsionis.
“Sudah membuat janji temu?”
“Belum.”
“Maaf kalau belum membuat janji tidak bisa menemui beliau.”
“Oh, begitu.”
“Apa bisa kau sampaikan ini padanya?”
“Apa ini Nona?”
“Kopi.”
“Tunggu sebentar, Nona.”
Resepsionis menghubungi seseorang dengan intercom, beberapa saat kemudian dia kembali untuk menanyakan namaku.
“Kalila,” jawabku.
“Anda bisa langsung naik ke atas Nona. Lantai 4, ujung paling kanan. Ada pintu kayu besar. Tunggulah di sana.”
“Baik, terima kasih.”
Setelah mengucapkan terima kasih aku menaiki lift dan mengikuti petunjuk jalan dari wanita penjaga front desk tadi. Mencari sebuah pintu kayu besar pada ujung ruangan.
“Ah, halo Aleina,” sapaku.
“Maaf, Nona. Saya harus pulang tak bisa menemani anda. Anda bisa menunggu presdir di sini. Beliau sedang makan malam dengan iparnya. Sebentar lagi pasti kembali.”
“Baik, Na.”
“Saya permisi.”
Aku menjawab pamitan Aleina dengan sebuah senyuman dan anggukan yang canggung.
Kantor itu sangat sepi, mungkin karena sudah lewat jam kerja. Tinggal beberapa CS dan front office yang memang stand by 24 jam menjawab keluhan dari para gamers.
Aku duduk pada sebuah kursi sofa tunggu di depan ruang presiden direktur. Aku menguap beberapa kali sebelum akhirnya melirik ke arah jam dinding. Sudah pukul 9 malam.
Apa aku tinggal saja kopinya, ya?
Tapi aku ingin bertemu sebentar dengannya.
“Aku tunggu 5 menit lagi, kalau dia tidak datang aku akan pulang,” pikirku, namun ternyata aku kalah melawan rasa kantukku dan tertidur pada sandaran sofa.
•
•
•
“Kalila? Kalila? Baby?” suara Arvin terdengar sayup saat aku mulai tersadar.
“Kau sudah kembali?” Aku mengumpulkan sisa nyawaku yang terbang ke alam mimpi.
“Kenapa tak menelepon?”
“Aku tak mau mengganggumu,” senyumku.
“Kenapa tidur di sini, kalau kau sakit bagaimana? Tuhkan! Wajahmu jadi dingin semua begini.” Arvin mengelus pipiku dengan tangannya yang hangat.
“Aku ketiduran,” ku renggangkan tubuhku, sebuah jas telihat menyelimutiku.
“Apa ini milikmu?!” tanyaku kaget. Aku tak merasa membawa jaket apa lagi jas.
“....”
Arvin terdiam cukup lama, seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Apa jas ini milikmu, Kak?” tanyaku lagi.
“Iya, milikku.” jawab Arvin sambil tersenyum. Ia memindah jas itu ke samping.
“Ah, terima kasih, ya.”
“Ayo masuk.” ajak Arvin.
Aku mengikuti langkah kakinya menuju ke dalam ruang kerjanya. Gaya maskulin begitu melekat pada konsep interiornya. Perpaduan garis-garis tegas, warna hitam dan putih juga aksen kaca beserta permainan LED membuat prabotannya semakin berkesan futuristic.
Aku berjalan mengikuti langkah kaki Arvin dan sampai pada jendela kaca besar di samping meja kerjanya. Aku terkesima, pemandangan kota begitu indah padahal hanya dari atas lantai 4.
“Kenapa kau tak pulang, Kalila? Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku saat Aleina menelepon.” Arvin memeluk pinggangku.
“Aku sebenarnya ingin pulang. Tapi aku juga sangat ingin bertemu denganmu. Lalu saat aku memutuskan untuk menunggumu 5 menit lagi, aku tertidur,” jawabku.
“Kemari!” Arvin bersandar dengan posisi sedikit terduduk pada sisi meja kerjanya. Ia membuka tangannya lebar-lebar, menyuruhku masuk dalam pelukkannya.
“Kenapa?” Aku sedikit canggung, namun tetap berjalan mendekat.
Arvin memelukku dengan erat dan mengelus punggungku, “thanks, baby. Sudah mau menungguku.”
“Iya, Kak.”
“Rasa lelahku hilang begitu melihatmu.”
Aku tersenyum mendengarnya. Dalam pelukan Arvin aku bisa mencium wangi parfum mahalnya. Aku menyukai aroma yang dipakainya, aroma laut yang bercampur dengan kesegaran citrus. Membuat debaran itu kembali hadir dalam hatiku, menggelitik jauh ke dalam relung jiwaku.
“Iya,” ku belai lembut rambutnya. Pria ini benar-benar membuatku terus memikirkannya.
Aku mengencangkan pelukkanku. Memejamkan mata untuk menikmati kehangatan itu. Sepertinya aku memang mulai mencintainya.
— MUSE S2 —
Aduh duh... Kalila tsudere deh..
Padahal aku udah antri buat arvin..
Wkwkwkwkwkw...
Yuk dukung kisah cinta mereka
Live, comment, dan vote
VOTE YA BEBEB BEBEBKUH...
BIAR MUSE TAMBAH FEMES
AUTHORNYA TAMBAH KECE.
Makasih banyak ya!!
I lap yu...❤️❤️