MUSE

MUSE
S7 ~ JATUH



MUSE S7


EPISODE 20


S7 \~ JATUH


Dua motor itu kembali mengeluarkan suara raungan keras. Dengan kecepatan yang kian bertambah motor-motor balap itu menyelusuri track balapan. Kurang dua putaran lagi, dan mereka akan tiba pada garis finish. Levin terlihat mulai serius. Beberapa menit yang menegangkan.


_______________


“ARE YOU READY RIDERS?!!” teriak kakak cantik yang memimpin jalannya start.


“READY!!” Teriak mereka kompak.


BRUM!!! BRUM!! Bunyi kendaraan meraung-raung, sudah tak sabar melompat masuk ke dalam area balap.


Keringat membasahi pelipis Levin, begitu pula Farel. Pandangan mereka fokus ke depan. Minimnya penerangan dan beratnya kondisi lapangan mengharuskan mereka untuk tidak lengah barang sedetik pun. Begitu lengah dalam hitungan detik dan semuanya akan habis. Jatuh, tergelincir, keluar track, bahkan sampai cidera berat.


“AND GO!!!!” teriakan wanita itu langsung di sambut lesatan ke empat motor balap. Dalam sekejap mata keempatnya memacu kuda besi, masuk dalam lingkaran berpasir merah. Mengusahakan 20 putaran sebelum akhirnya keluar menjadi sang juara.


Farel langsung memimpin di depan, dengan cepat melesat jauh menadahului ketiga lawannya yang lain. Dengan latihan berat selama kurang lebih tiga minggu kemampuan Farel meningkat drastis.


Debu pasir mulai mengepul, siang tadi hujan sama sekali tidak turun, jadi pasirnya benar-kering. Levin tak mau kalah dengan dua orang lainnya, sambil berzigzag menghindari pasir Ia melewati keduanya dengan mudah.


Pada tiap tikungan lebar Levin pasti akan menyalip lawannya. Para penonton terkesima dengan kemampuan Levin. Mereka tak mengira kalau bocah berusia 12 tahun itu begitu mahir mengendarai motor. Bahkan tanpa baju pelindung ataupun sepatu tebal. Levin kini berada diposisi ke dua, berada di belakang Farel. Levin menuruti ucapan Leoni, ia memacu motor 250 cc itu tetap stabil di belakang Farel.


Bunyi deruan semakin terdengar keras menyorakkan nama Farel dan juga Levin. Semua mata fokus pada pertandingan antar bocah remaja itu. Farel menengok ke belakang, Levin terlihat santai. Farel menjadi gusar, kenapa Levin mengalah? Apakah dia ingin pamer kebolehan? Atau malah mengejek Farel?


Mereka berdua tiba pada tikungan besar, Farel sedikit memperlambat laju motornya agar bisa sejajar dengan Levin. Farel memberi kode dengan gerakan tangan agar Levin tidak mengalah padanya. Menyuruh Levin bertanding dengan serius. Levin mengangguk.


Leoni terlihat khawatir dengan gelagat Farel, apa ia memprovokasi Levin agar bertanding secara serius?


Jangan, Levin! Jangan turuti kemauan Farel. Leoni harap-harap cemas dalam hatinya.


Dua motor itu kembali mengeluarkan suara raungan keras. Dengan kecepatan yang kian bertambah motor-motor balap itu menyelusuri track balapan. Kurang dua putaran lagi, dan mereka akan tiba pada garis finish. Levin terlihat mulai serius. Beberapa menit yang menegangkan.


Chiko dan Bryan tak tahu harus mendukung siapa, keduanya adalah sahabat. Mereka berempat adalah empat sekawan yang terus hidup berdampingan. Sama sekali tak pernah terbesit kalau mereka akan terpecah hanya karena balapan liar.


“Levin!! Levin!!!” Sorakan penonton beralih pada Levin, membuat Ayah Farel dan juga Firza tercengang.


Pria dengan setelan jas rapi itu mengelus dagunya. Ia terus mengamati pertandingan sengit antara Levin dan juga Farel.


Tinggal satu putaran lagi, Levin sudah hampir menyusul Farel. Cowok itu tinggal mencari celah tikungan agar bisa menyalipnya.


Namun ... belum sempat Levin menyalip Farel, sirine mobil kepolisian terdengar dari kejauhan. Semakin mendekat dan masuk pada area balapan. Semua penonton panik, lari tunggang langgang. Semuanya mengambil motor masing-masing dan bergegas meninggalkan lapangan.


Farel dan Levin langsung menghentikan laju motor mereka dan memutar balik. Levin bergegas mencari keberadaan Leoni yang juga tampak panik di tengah hiruk pikuk lautan manusia.


“LEONI!!” panggil Levin.


“LEVINNN!!!” seru Leoni. Ia melambai-lambai agar Levin bisa melihatnya. Usahanya tak sia-sia Levin bisa melihat tangannya.


Levin menjatuhkan motornya dan berlari menghampiri Leoni. Dengan segera cowok itu menyambar pergelangan tangan Leoni dan mengajaknya kabur.


“Pegangan yang kencang.”


“Iya.” Leoni berdiri di belakang Levin. Levin mengkayuh sepedanya.


Mereka berdua menerobos lautan manusia yang juga hendak pergi menyelamatkan diri. Tak ingin tertangkap oleh aparat penegak hukum. Polisi yang dikerahkan lebih banyak dari pada bulan lalu. Entah bagaimana mereka bisa tahu lagi akan ada balapan liar malam ini.


Farel yang telah melaju bersama Firza hanya bisa menatap punggung Levin dan Leoni yang menjauh keluar dari area bekas tambang batu. Dalam hati Farel ada ketakutan dan kekhawatiran. Bisakah Levin menyelamatkan Leoni? Membawa gadis itu kabur dari sana.


“Cepat, Rel!!” sergah Firza.


“Baik, Kak.”


Paman berjas hitam hanya menonton kekacauan itu dengan santai dan bergegas meninggalkan area tersebut. Motornya tergeletak begitu saja, Levin membuangnya saat mencari Leoni tadi.


“Bocah gila, tapi kemampuannya hebat.” Senyum tipis terlihat pada wajahnya. “Kita akan bertemu lagi, Nak.”


Pada jalanan raya Levin mengkayuh sepedanya sekuat tenaga. Ia tak peduli dengan nasib teman-temannya yang lain. Mereka sudah besar, bisa jaga diri. Levin kini hanya memikirkan nasibnya dan nasib Leoni.


“Hei berhenti!! Kalian bocah-bocah nakal!!” Seorang Polisi tiba-tiba berteriak pada mereka berdua. Padahal Levin kira sudah berhasil keluar dari kepungan aparat.


“Sialan!!” Levin tak mau berhenti, dia malah semakin mengkayuh sepedanya dengan cepat.


“Levin, berhenti! Lebih baik kita mengaku salah.” Leoni mencegah Levin.


“Tapi ini bahaya, dan aku takut.” Leoni memeluk leher Levin.


“Berhenti kalian bocah-bocah nakal!” teriak polisi.


Belum sempat polisi itu menutup mulutnya, tiba-tiba saja ada kendaraan dari arah berlawanan. Pengemudinya kaget. Dengan kebingungan ia membanting setir mobil agar tidak menabrak mereka berdua. Suara dencitan rem terdengar melengking. Mobil itu semakin tak terkendali.


“AWAS!!!” Leoni menjerit kaget.


“ARGH!!” Levin juga. Mereka terserempet mobil dan jatuh terpental. Leoni terseret dua meter pada aspal jalan.


“TIDAK!! Leoni!! SINGA!!! SINGA!!” Levin menjerit, melihat Leoni tergeletak dua meter di depannya.


...— MUSE S7 —...


...Waduh, Leoni kenapa?...


...Jadi deg deg kan 😱😱...


...Like...


...Vote...


...Comment,...


...Follow...



Baca Novel baruku, pengganti TMDM tapi yang di lapak ini belum bisa up karena kendala review. Kalau mau baca di lapak oranye ya.


SINOPSIS:


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kasih dan pengakuan. Cinta dan nafsu. Gairah dan hasrat. Semua itu adalah bagian penuh pesona dalam setiap kisah yang terjalin dalam kehidupan manusia. Pria, wanita, tua, muda, kaya, miskin, semua lapisan golongan dalam bebagai macam warna mata dan kulit menginginkannya.


Keinginan yang tanpa batas untuk memiliki berujung pada obsesi.


Obsesi berujung pada kegilaan.


Kau bisa melakukan apapun saat menjadi gila.


MI VOLAS VIN


BLURB :


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


MI VOLAS VIN


Bahasa Esperanto yang berarti 'aku menginginkanmu'.


Ucapan singkat itu lah yang selalu Leonardo bisikkan pada telinga Jasmine.


Obsesi


Kegilaan


dan


Hasrat


Membuat Leonardo menginginkan wanita bernama Jasmine lebih dari apapun dan bagaimana pun caranya.


Lelaki berbahaya namun tampan dan penuh gairah diperhadapkan dengan wanita biasa yang menyimpan sejuta pesona. Mampukah Leonardo melumpuhkan Jasmine?


"Sampai tetes darah terakhir yang mengalir melalui pembuluh darahmu adalah milikku. Mi volas vin, Jasmine!" Leonardo berbisik panas pada telinga Jasmine, membuat tubuh Jasmine bergetar ketakutan.


"Tidak, ini adalah hal yang salah, Leon!" seru Jasmine.


Terima kasih.


Selamat membaca,


Belle Ame.