
MUSE S7
Episode
S7 \~ PERMINTAAN.
Jadi dia lebih memilih impiannya daripada diriku?? Memang apa salahku bila aku mengkhawatirkannya?? Apa salahku bila aku takut kehilangan dirinya?
____________
“Apa hanya itu??” tanya Leoni.
“Memangnya kau mau apa lagi?” tanya Levin balik.
Wajah Leoni merona hangat, memang apa lagi yang ia mau. Oh, tentu saja kelanjutannya. Namun … bukankah hal itu terlalu memalukan untuk dikatakan secara langsung? Atau mungkinkah si tengil ini sengaja ingin menggodanya?
“Kau ingin apa, Singa?” Levin yang hanya bisa senyam senyum saat melihat tingkah kekasih cantiknya galau itu kembali bertanya.
“Ingin memberimu hadiah!” Leoni berseru untuk menutupi kegalauan hatinya. Tak ingin ketahuan kalau niat sebenarnya ingin menyentuh tubuh Levin sampai ke bagian terprivat. Tak ingin Levin tahu bahwa nafsu di dalam dirinya sedang bergelora dan bergejolak bak ombak di lautan yang dengan hebat menghantam karang karena keseksian Levin.
Damn it, Leoni! Kenapa malah ngomongin hadiah sih?!
Leoni memejamkan mata kesal pada diri sendiri, mau tidak mau ia harus bangkit untuk memamerkan kebolehannya —yang tidak seberapa— dalam menari balet pada Levin.
“Wah, aku menunggumu, Singa! Cepat menarilah untukku!” Levin langsung melepaskan pelukannya, ia duduk dengan santai bersandar ke belakang, menahan beban tubuh dengan kedua tangannya.
Leoni menelan ludahnya, tubuh Levin terlihat seksi dalam pose itu.
Apa yang aku pikirkan dari tadi?? Woah!! Fokus Leoni! Kau tidak boleh tergoda! Batin Leoni.
“A … aku mulai.” Leoni tergagap. Dengan perlahan gadis itu berjinjit, mengambil pose untuk menari balet.
Leoni menari ala kadarnya di depan Levin. Rasanya malu bercampur kikuk, ia bahkan baru saja belajar dasar-dasar balet, dan kini Levin justru memintanya menari. Mana bisa luwes … yang ada Leoni hampir berkali-kali jatuh saat berputar dengan satu kakinya.
“Awas!!” Levin kaget saat tiba-tiba tubuh Leoni limbung dan terjatuh.
Posisi kakinya yang salah membuat keseimbangan Leoni tidak stabil saat berputar dan membuat tubuh Leoni limbung. Gadis itu terjatuh, beruntung sekali Levin dengan tangkas meloncat untuk menangkapnya.
“Ach!!” Pekik Leoni.
“Aduh!” Pekik Levin.
“Wa!! Sory … sory, kau tidak apa-apa??” Leoni bergegas menarik dirinya dari tubuh Levin. Levin hanya meringis dan bergeleng pelan.
“Maaf, aku ga sengaja! Tuhkan aku bilang juga apa. Aku nggak bisa menari. Minta hadiah aneh-aneh saja.” Leoni mengusap punggung Levin.
“Kok jadi aku yang salah??” Levin mencubit hidung Leoni.
“Oh … karena wanita selalu benar.” Kekeh Leoni.
“Makasih ya hadiahnya.”
Wah, tentu saja wajah Leoni langsung berubah. Tak hanya panas, mungkin sudah meledak.
“Ck, kau membuatku malu. Hadiah apa yang begitu buruk? Penampilanku sangat jelek, terjatuh lagi, gagal sampai kau pun terluka karena melindungiku.” Leoni menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Ck, bagiku bagus kok.” Levin memeluk Leoni dengan erat, “bagiku hadiah tadi sangat istimewa.”
Keduanya terdiam sesaat. Leoni menyandarkan kepalanya dalam dekapan Levin. Ia menikmati alunan detak jantung sang kekasih yang begitu menenangkan.
“Vin …”
“Heung?”
“Saat aku melihatmu bertanding kemarin aku begitu ketakutan.”
“Kenapa?”
“Aku takut bila sesuatu hal buruk menimpamu. Aku takut saat motor yang terlempar di udara itu mengenaimu dan …” Leoni tak sanggup meneruskan kalimatnya.
“Itu resiko seorang pembalap Leoni. Tak perlu cemas, tak perlu takut.” Levin mengelus punggung Leoni.
“Bagaimana mungkin aku tidak cemas, Vin? Itu berarti Kau harus berhadapan dengan maut tiap kali kau turun di sirkuit balap kan?” Leoni mengangkat kepalanya.
“Yah, tapikan tidak setiap kali pertandingan akan ada kecelakaan seperti yang kemarin.”
“Namun tidak menutup kemungkinan akan ada kecelakaan dan itu bisa saja menimpamu.” Leoni merasa kesal karena Levin terus menganggap ketakutannya tak beralasan.
“Sudahlah, bicarakan saja yang lain. Bicarakan saja hal-hal tentang kita.”
“Vin!! Kau pikir keselamatanmu bukan hal-hal tentang kita?? Kau pikir keselamatmu tak ada artinya bagi hidupku?? Apa kau pernah berpikir bagaimana aku bila sampai sesuatu hal yang buruk terjadi padamu?? Apa kau tak bisa mengerti isi hatiku?” Leoni mulai menghujani Levin dengan ketakutannya.
“Lantas kau mau aku bagaimana Singa?? Kau menyuruhku berhenti dari dunia balap motor??” Sergah Levin.
“ ….” Leoni terdiam, tak bisa menjawabnya. Leoni tahu bahwa impian Levin adalah menjadi juara dunia motor GP, dan ia baru saja menapaki karirnya dengan memenangkan grandpix 250cc.
“Bila kau menyuruhku berhenti saat ini, maaf Leoni! Aku tidak bisa. Aku sudah masuk ke dalam industri ini dan aku tak akan menyerah hanya karena ketakutanmu terhadap sesuatu hal yang tidak masuk di akal. Yang belum tentu terjadi! Aku tak akan menyerah pada mimpiku.” Levin bangkit dan keluar dari kamar Gym.
“Vin …” Leoni berusaha mencegah Levin pergi.
Jadi dia lebih memilih impiannya daripada diriku?? Memang apa salahku bila aku mengkhawatirkannya?? Apa salahku bila aku takut kehilangan dirinya?
Leoni menangis, ia memeluk lututnya sembari merenungkan pertengkaran pertama mereka hari ini.
...— MUSE S7 —...