
MUSE S2
EPISODE 47
S2 ~ HUJAN II
~ Air mata bahagia karena aku telah berhasil menemukannya. Air mata yang menumpuk karena aku merindukannya. ~
Siang itu langit terlihat semakin mendung. Aku sebenarnya sangat malas beranjak dari tempat tidurku untuk mengikuti kencan buta yang diatur Mama untukku. Andai saja aku bisa menolak atau beralasan, aku pasti menolaknya.
“Arvin.. Kau sudah siap? Sudah hampir jam 2, kau bisa terlambat!” teriak Mama dari luar pintu.
“Ma, tak bisakah kita mengundur jadwalnya?” Aku menyembulkan sedikit kepalaku dari dalam kamar. Aku tak ingin Mama tahu kalau aku masih memakai kaos dan celana kolor.
“No, Arvin! Diana juga punya jadwal yang padat. Susah payah Mamanya dan Mama mengatur pertemuanmu kalian.” tolak Mama dengan tegas.
“Baiklah. Aku akan turun sebentar lagi,” diriku masih berusaha untuk membuang-buang waktu.
“Cepat, Arvin!! Pria tak seharusnya membuat seorang wanita menunggu.” omel Mama seraya menuruni anak tangga.
Aku kembali menutup pintu kamar. Bertukar pakaian yang lebih formal. Kemeja lengan panjang dengan motif garis vertikal berwarna hitam aku padukan dengan celana kain model slim fit. Aku memasukkan kemeja ke dalam celana agar terlihat rapi, lalu mengenakan sabuk kulit dengan merk terkemuka. Setelah menyemprotkan parfum kesukaanku dan menyisir rambut, aku menyahut coat abu-abu dari dalam lemari.
“Aku pergi dulu, Ma, Pa,” pamitku, tak lupa aku mengambil sepatu kulit yang tergeletak di rak bawah tangga.
“Sukses, ya, Nak! Bawa pulang menantu buat kami.” teriak Papa.
Entah kenapa aku malah semakin tertekan rasanya.
•
•
•
Aku memacu mobil ku pada sebuah restoran italia. Apa yang terlintas pertama kali di dalam benakmu? Pizza, pasta, dan cream soup pastinya.
Restoran itu terlihat remang karena memang mendung menahan sinar matahari masuk dari jendelanya. Cahayanya kini hanya berasal dari lampu-lampu hias yang melekat pada dinding bata berwarna oranye kemerahan. Juga dari lilin-lilin kecil di dalam gelas kaca.
Aku membuka pintu kayu model cowboy dan masuk ke dalam. Mencari sosok wanita yang sesuai dengan gambaran Mama. Tinggi, putih, cantik dan berkharisma. Padahal hampir tiap wanita yang pernah aku tiduri juga punya ciri khas yang sama dengan wanita dalam gambaran Mama. Lalu bagaimana aku mencarinya?
“Tuan, sudah reservasi?” tanya seorang pelayan.
“Sudah, atas nama Arvin.”
“Tidak ada, Tuan.”
“Coba atas nama Diana.” Aku mencari opsi lainnya.
“Ah, Meja nomor 20, Tuan. Mari saya antar.” ujar pelayan itu sembari menunjukkan meja yang akan menjadi tempat kencang buta kami.
Seorang wanita anggun bangkit dari kursinya untuk menyambutku. Rambutnya lurus pendek bergaya bob, dengan anting panjang pada kedua telinganya. Wajahnya memang sangat cantik dan kulitnya putih bersinar. Ia memakai outer model cape, dalaman broklat dipadukan dengan rok span putih dan sepatu stiletto lancip. Semuanya serba putih, hanya inner suit broklatnya yang berwarna hitam.
“Diana.” Wanita itu mengangkat salamnya untuk berkenalan denganku.
“Arvin,” senyuman ku membuatnya ikut tersenyum, memamerkan bibirnya yang merah karena lip tint mahal yang dipakainya.
“Mau pesan apa?” tanyanya.
“Agli Olio saja. Minumnya air mineral dingin,” pintaku pada pelayan restoran.
“Beef salad, minumnya sama air mineral saja.” ucapnya sembari menutup daftar menu.
“Kau hanya makan salad?”
“Yup, untuk menjaga bentuk tubuh.”
“Ah..”
“Boleh aku memanggilmu Arvin saja?” tanyanya. Pandangannya padaku menyiratkan ketertarikkannya.
“Sure,” jawabku singkat.
“Apa pekerjaanmu, Vin? Mama bilang kau pria mapan yang sukses.”
“Aku mengembangkan game dan software.”
“Wah.. kau lulusan IT?”
“Iya. Kau sendiri?” Aku balas bertanya, sungkan karena dari tadi hanya dia yang melontarkan pertanyaan padaku.
“Aku seorang MUA, Kau tahu film the zombie land? Aku kepala TiM MAKE UP untuk special effect nya.”
“Hebat juga, berarti kemampuanmu sudah go internasional, donk.” Aku memujinya, bukankah wanita memang suka dipuji?
“Tapi masih tak sesukses dirimu.” Ia balik memujiku.
Kami tetap bercakap-cakap saat makan siang kami datang. Diana adalah wanita yang cukup supel dan juga ceria. Mudah bagi orang lain untuk bergaul dengan dirinya. Senyumnya juga manis dan pembawaannya terlihat seperti wanita berkelas pada umumnya.
Krrrinng 🎶
Bunyi ponselku menghentikan obrolan kami, “sory, Diana. Aku harus mengangkatnya.”
“Sure, Vin.”
“Hallo, ada apa Noah.”
“Boss, aku kirim email beberapa gadis yang tingkat kemiripannya di atas 90% ke email anda.” jelas Noah dari ujung lainnya. Ikut terdengar suara ketikan keyboard komputer, aku yakin dia sedang bekerja saat menelfonku.
“Baik, akan segera aku cek,” wajahku mendadak berseri saat mendengar laporannya.
“OKE, boss.”
“Kerjaan, ya?” tanya Diana.
“Yah, semacam itulah.” Aku mengangkat bahuku sebagai gestur pelengkap kalimat.
“Kau sangat sibuk rupanya?”
Aku tak menggubris ucapan Diana, aku ingin segera melihat laporan dari Noah. Berharap kalau aku akan mendapatkan berita baik. Aku ingin segera menemukannya.
“Tidak.. tidak.. ini bukan, ini juga bukan, bukan, bukan, shit!!” gumamku lirih. Tak ada satupun dari sekian banyak foto itu adalah dirinya.
“Where are you, baby?! Kenapa aku begitu susah menemukanmu?” pikirku geram.
“Vin? Are you okay?” tanya Diana, ia mengerutkan alisnya. Mungkin khawatir mungkin juga keheranan karena aku terus mengacuhkannya.
“Sory, Din. Masalah pekerjaan.” Aku menjawabnya singkat, dan meneguk air mineral di dalam gelas sampai habis.
“It’s OK. Ah.. Sudah jam 5 lebih, Vin. Bagaimana kalau kita ngobrol di tempat lain?”
“Pulang saja.” usulku. Aku sedikit merasa sebal dengan laporan Noah yang tak membuahkan hasil. Mood ku jelek dan aku tak ingin melampiaskannya pada Diana.
“Sure.”
Kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah. Aku mengantarkan Diana menuju ke rumahnya. Selama perjalanan, Diana tak berhenti mengajakku mengobrol seputar kehidupannya. Aku tahu dia tertarik padaku, tapi aku tak sedikitpun tertarik padanya. Secara fisik dia memang menarik, tapi aku tak menginginkannya sama seperti aku menginginkan gadis itu.
Krrriiiingg... 🎶
Bunyi panggilan masuk kembali terdengar pada ponsel pintarku. Setelah meminta izin dari Diana, aku mengangkatnya dengan menekan tombol hijau pada setir mobil.
“Halo, boss.” suara Noah masuk ke dalam speaker mobil. Nadanya terdengar terburu-buru, seperti ingin melaporkan sesuatu yang penting secepatnya.
“Ada apa, Noah? Aku sedang menyetir.” jawabku.
“Boss, cek e-mail! Kali ini kemiripannya 97%.”
DEEG...
Jantungku langsung berdegup tak karuan..
Pikiranku kosong...
Perutku berdesir dengan perlahan..
“Tunggu, Noah.” Aku memandang ke arah Diana, tak ingin wanita ini menguping pembicaraanku dengan Noah. Aku mengganti sambungan bluetooth dengan airpod.
“Bicaralah, Noah.”
“Boss, tingkat kemiripannya 97%, dan yang paling bikin saya kaget adalah, gadis itu ada di kota S. Sama dengan anda saat ini, Palette cafe, Boss..!” tanpa titik dan koma Noah mencercaku dengan penemuannya.
Ccciiitt....
Aku langsung mengerem mobilku dalam-dalam. Membuat Diana terpental maju, untung saja ada sabuk pengaman yang membuat kepalanya tak terantuk dashboard.
“Arvin??? Apa-apan, sih?” protesnya kaget.
Aku tak menggubrisnya. Aku hanya ingin segera membuka e-mail dan mencari keberadaan gadis itu.
Tanganku gemetar, mataku berkaca-kaca. Aku menutup mulutku yang melongo setengah tak percaya. Aku masih tak menyangka bahwa dirinya benar-benar ada di dalam layar ponselku saat ini.
“Keluar, Diana!” pintaku.
“Apa??” Diana kaget dengan permintaanku.
“KELUAR!!” bentakku, aku mengusirnya.
“Arvin?? Kau tak bisa menyuruhku turun di tengah jalan begini!!” protes Diana.
Aku tahu aku keterlaluan, menurunkan seorang wanita di jalanan sepi padahal matahari mulai tenggelam. Tapi aku tak punya pilihan. Aku ingin segera menemuinya, aku ingin segera memeluknya.
“Keluarlah, Diana!!” Aku membukakan pintu mobil dari dalam, mengusirnya secara paksa.
“Brengsek kau, Arvin!!” umpatnya. Matanya berkaca-kaca dan ia menggigit bibirnya menahan amarah.
“Maafkan aku. Aku akan menyuruh sopir menjemputmu.”
“Nggak perlu!!” bentaknya.
Diana keluar dan membanting pintu mobil sekuat tenaga. Aku hanya bisa memejamkan mataku menyesali kelakuanku yang kekanakan ini.
Tanpa menunggu lagi aku memutar setir mobil dan mengebut menuju ke alamat yang dikirim oleh Noah. Palette cafe.
•
•
•
Keclapan kilat dan suara guntur saling melengkapi, tak lama suara itu disusul dengan hujan yang turun dengan begitu deras. Aku membuka payungku setibanya di alamat cafe yang ditunjukan oleh GPS. Aku membaca plangkan nama dari lampu neon berwarna warni yang bertuliskan Palette cafe.
Aku berdiri di sebrang jalan, menunggu gadis itu keluar. Setidaknya aku ingin memastikan bahwa dia benar-benar wanita yang selama ini aku cari.
JREEESSSS...
Hujan turun semakin deras. Aku melihatnya mengelap kaca pada pintu cafe. Ia bekerja sangat keras rupanya. Aku memilih diam dalam hujan untuk kembali menikmati wajah cantiknya.
Aku tersenyum melihatnya, wajahnya tak banyak berubah. Dia masih sangat cantik, bahkan lebih cantik dari saat terakhir kami bertemu. Bibirnya yang tebal dan ranum masih merekah merah. Aku benar-benar merindukan lumatan mesra dari bibirnya itu. Bola matanya yang hitam dan bulat juga masih berbinar dengan terang. Aku ingin kembali memenuhi bayangan pada kedua bola matanya itu.
“Ah syukurlah.. Dia terlihat baik-baik saja,” lirihku sambil tersenyum.
Tanpa aku sadari air mataku mengalir perlahan. Air mata bahagia karena aku telah berhasil menemukannya. Air mata yang menumpuk selama aku merindukannya.
— MUSE S2 —
Gadis itu tiba-tiba keluar, membereskan meja lipat di sisi luar cafe. Kenapa dia hujan-hujan? Apa dia tak takut sakit?
Aku sudah tak mampu diam dan menunggu lagi. Melihatnya kedinginan di tengah hujan deras membuat hatiku sakit. Perlahan tapi pasti, aku mulai mendekatinya. Meneduhkannya dari air hujan yang semakin gencar membasahi tubuhnya.
Sepertinya dia terkejut, mungkin bertanya-tanya. Siap yang memberikan payung pada dirinya?
Bola matanya terbelalak kaget saat pandangan kami bertemu. Aku memandangnya lekat, melihat bayangan diriku yang terpantul pada mata hitamnya.
Dan akupun tak bisa menahan hasratku untuk tidak memanggilnya.
“Baby..”
Ada rasa yang berdesir jauh di dalam hatiku. Jantungkupun tak berhenti berdegup dengan kencang. Melihatnya begitu dekat dan lekat membuatku merasa sangat bahagia.
Aku mengangkat tanganku, mengeluskan punggung jari telunjukku pada cerukan di antar dahi dan hidungnya. Aku ingin memastikan bahwa ia benar-benar berdiri di hadapanku. Bahwa ini semua bukan hanya sekedar mimpi yang sangat indah.
Napas kami menderu dan mengeluarkan embun karena dinginnya hujan..
Aroma manis dan lembut dari collone murahnya begitu membangkitkan gairah.
Aku membuang payungku untuk memeluk dirinya erat.
“Aku sangat merindukanmu, baby..”
— MUSE S2 —
Bagi vote donk readers
ada give menarik buat 3 voters terbanyak hlo
jangan lupa masuk GC ya
ditutup tanggal 20 mei 2020
terima kasih sudah membaca, sudah like, sudah komen
terus dukung cinta arvin, kalila, dan angga.