
MUSE S7
Episode
S7\~ TINGGAL BERDUA
\~Johana bisa saja menggoda Levin atau bahkan merayunya. Namun Johana memilih untuk bergerak pelan-pelan, tak ingin terlihat agresif di depan pria yang disukainya ini.\~
*********
Levin menghubungi keluarganya, mau tidak mau Arvin dan Kalila menjadi wali bagi Johana supaya bisa lekas mendapatkan pertolongan medis.
Tiga hari Johana menjalani rawat inap di rumah sakit. Levin dan Kalila bergantian untuk menjaga Johana. Namun pada hari ketiga, Kalila sudah tak bisa menggantikan Levin menjaga Johana karena Gabby harus kembali ke ibu kota untuk konser. Sementara Inggrid menjaga cafe dan Keano harus bekerja. Tak ada yang menjaga si kembar selain Kalila.
“Maaf, Levin, aku merepotkanmu. Kamu tak harus merawatku. Aku masih punya tangan kanan untuk melakukan banyak hal sendiri. Lagi pula aku terbiasa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.” Johana menolak kebaikan hati Levin karena takut merepotkan pemuda ini.
“Jangan, Levin harus bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan.” Kalila tak tega melihat Johana sendirian dengan kaki dan tangan di gips. Pasti akan sangat kesusahan, ia bahkan tak bisa berdiri sendirian tanpa bantuan Kalila atau Levin saat di rumah sakit.
“Tapi sekarang Johana sudah jauh lebih kuat, Tante. Johana bisa berdiri sendiri … akkhh!!!” Johana terpekik, ia berusaha menunjukan kemandiriannya pada Kalila, namun alih-alih sukses, pergelangan kakinya justru semakin terluka dan ia hampir terjatuh. Beruntung dengan sigap Levin menangkapnya.
“Huft … sudah jangan bandel. Biar Levin mengurusmu sementara waktu sampai tante mendapatkan pengasuh untuk si kembar.” Kalila akhirnya mendesak Johana menerima kebaikan hati mereka.
“Baik, Tante. Sekali lagi maaf.”
“Harusnya bocah ini yang minta maaf!! Bukan kamu, Sayang!” Kalila menjitak kepala Levin, dasar anak muda, jiwa pembalapnya terlalu meronta-rontakah sampai mengebut dan menabrak anak orang?!
“Iya, seharusnya aku yang minta maaf, Na.” Levin mengusap kepalanya.
“Sudah sana urus administrasinya. Mommy akan menemani Johana membereskan pakaian gantinya.” Kalila menepuk punggung kokoh Levin.
“Oke.” Levin mengangguk dan bergegas menjalankan mandat Kalila.
Sementara itu, Johana terus menatap Levin. Ia begitu terpesona dengan pria tampan dan jantan sepertinya. Apa lagi Levin adalah pembalap internasional, namanya begitu terkenal dan ia pun sangat baik hati, tidak ada kata sombong. Levin benar-benar gentleman, ia mau bertanggung jawab merawat gadis seperti Johana.
“Jangan lupa minum obatnya secara teratur, Na. Dan juga banyak bergerak ringan biar ototnya tidak kaku.” Kalila memberikan wejangan, Johana tersenyum dan mengangguk sopan. Ia pun tak kalah terkesima dengan Kalila, luar biasanya wanita yang melahirkan Levin ini. Tak hanya cantik, dia juga baik hari, benar-benar malaikat.
“Baik, Tante. Ya ampun Tante baik sekali. Padahal Tante baru saja bertemu dengan Nana. Makasih banyak yang Tante. Beberapa hari ini Nana berasa memiliki seorang Mama. Kecelakaan ini seakan menjadi berkat buat Nana.” Johana memeluk Kalila, Kalila pun mengusap punggung Johana dengan lembut.
“Kalau kamu mau, kamu bisa kok panggil Tante, Mama, atau Mommy seperti anak-anak Tante.”
“Sungguh?? Serius?? Wah … Nana seneng banget dengernya.” Johana menangis haru, Kalila mengusap wajah cantik gadis itu dan tersenyum hangat
...— MUSE S7 —...
Levin menghantarkan Johana ke rumahnya. Mereka berdua berada di dalam satu mobil yang sama sementara Kalila sudah kembali ke rumah untuk menjaga si kembar.
“Maaf, ya, Vin.” Johana mencoba memutuskan rasa canggung di antara mereka.
Johana bisa saja menggoda Levin atau bahkan merayunya. Namun Johana memilih untuk bergerak pelan-pelan, tak ingin terlihat agresif di depan pria yang disukainya ini.
“Eh … Vin. Ngomong-ngomong, kamu beneran nggak apa-apa jagain aku??”
“Maksudmu?”
“Maksudku, pria setampan dan juga setenar dirimu tak mungkin kan tak punya kekasih.” Johana mencoba mencari tahu apakah Levin memiliki kekasih, masihkah Levin halal untuk diperebutkan?
Levin menghela napas panjang, ia baru teringat dengan Leoni dan juga pesannya. Levin sadar betul, ia tak menghubungi Leoni tiga hari belakangan karena sibuk menjaga Johana dan ponselnya pun telah berpindah tangan untuk sementara waktu. Well … lagi pula Leoni sendiri juga telah memutuskannyakan.
“Kami sudah putus kok.”
“Hah?? Serius?? Ada wanita yang memutuskan pria sepertimu?? Wah, sepertinya dia sudah gila. Apa alasannya dia meminta putus, Vin?” tanya Johana Kepo. Tapi dalam hatinya Johana menjerit kegirangan karena kesempatan untuk menjadi kekasih Levin terbuka lebar.
“Tak ada alasan, kami hanya sering bertengkar karena ia menganggap pekerjaanku terlalu berbahaya dan berresiko. Padahal aku punya mimpi setinggi langit dengan karirku ini.” Levin mengangkat bahu, entah kenapa Leoni memang memutuskan ikatan cinta mereka.
“Hanya karena alasan konyol itu?? Serius?? Wah, aku pikir kalau saling mencintai pasti akan saling mendukung impian masing-masing.”
“Nah, kan!! Aku juga pikir begitu! Semua keluargaku pun berpikir begitu! Mereka juga bilang kalau cinta pasti akan saling mengerti dan percaya.” Levin menghela napas jauh lebih panjang karena dadanya sesak. Dan lagi, Levin seakan mendapatkan angin segar karena Johana juga mengerti isi hatinya. Huh … kenapa sih justru kekasihnya tak tahu isi hati Levin?? Kenapa ia tak bisa memahaminya?!
“Kalau aku jadi kekasihmu, aku pasti akan selalu ada di sampingmu dan menemanimu di tiap pertandingan, Vin. Aku akan mendukungmu sampai namamu terukir menjadi sejarah!” Johana tersenyum dan mengepuk punggung tangan Levin yang bercokol di perseneling mobil. “Ups … sory, ngomonganku ngelantur jauh banget. Sampai ngarep menjadi kekasihmu segala. Maaf, ya. Habis aku gemas sama mantan pacarmu. Padahal aku yakin ada ribuan gadis yang rela antri untuk menjadi kekasihmu.” Johana berhasil memanas-manasi Levin.
“Tidak, kamu tidak salah, Na. Kami benar. Dia yang keterlaluan,” dengus Levin kesal.
Tanpa terasa perjalanan mereka telah berakhir. Levin dengan telaten membantu Johana menuruni mobil yang cukup tinggi. Johana berjalan dengan sedikit terpincang sampai berhasil duduk di kursi roda.
Levin mendorong kursi roda masuk ke dalam rumah. Rumahnya sedikit berbau lembab karena ditinggalkan selama tiga hari. Levin mendorong kursi roda masuk ke dalam kamar milik Johana. Kamar kecil yang rapi dan bersih, benar-benar kamar milik seorang gadis manis.
“Aku bantu duduk.” Levin menggendong tubuh Johana dari kursi roda ke atas ranjang.
Jantung Johana berloncatan, ia begitu tak kuasa menahan gemuruh cinta yang menggoda imannya. Rasa haus akan kasih sayang membuatnya ingin mendapatkan cinta Levin. Johana tak pernah tahu, bahwa kekasih Levin adalah Leoni, sahabatnya sendiri.
“Vin …” Johana mencekal pergelangan tangan Levin saat pria itu bangkit.
“Kenapa, Na?” tanya Levin.
“Bisa bantu aku lepasin baju nggak?? Gerah banget, pengen mandi.” Johana menunjukan resleting pakaian di punggungnya. Dengan satu tangan, mustahil ia bisa membuka resleting itu sendirian.
“Eh?? Buka baju?” Levin menelan ludahnya dengan berat.
...— MUSE S7 —...
Hayo Levin … nggak boleh nakal!!