MUSE

MUSE
S5 ~ GIVE CARD



MUSE S5


EPISODE 13


S5 \~ GIVE CARD


\~ Bella menatap layar ponselnya, hatinya jauh lebih baik hanya karena perhatian kecil dari Lucas. Bella tak pernah menyangka bahwa berpacaran dan memadu kasih ternyata sangat membahagiakan\~


___________________


AUTHOR POV


Bella baru saja pulang dari sekolahaan, ia melihat seorang tengah berdiri memandang dan tersenyum padanya. Bella mengenalinya, dia adalah pelayan yang mempersiapkan makan malam mereka semalam. Bella bergegas memarkirkan motornya ke dalam pekarangan rumah.


“Nona, Bella,” sapanya dengan hangat.


“Ha—hallo.” Bella membalas sapaannya sambil menundukan kepala.


“Ini baju-baju dari Tuan Lucas. Saya sudah me-laundry semuanya. Ada beberapa tambahan tas dan juga sepatu.”


“Kenapa banyak sekali? Aku sepertinya tidak memilih tas atau pun sepatu kemarin.”


“Tuan Lucas yang memilihnya, mari saya bantu memasukkan semuanya.” Pria setengah tua itu mengeluarkan semua hadiah yang diberikan Lucas dari dalam bagasi mobil.


“Saya bantu.” Bella merebut beberapa paper bag yang dia bisa raih.


Sebenarnya Bella sedikit sungkan menerima semua hal ini, namun ia teringat akan ucapan Lucas tempo hari yang menyebutkan bahwa manusia diharga dari cara mereka berpakaian. Bella tak ingin tampil jelek dihadapan Lucas, ia juga tak ingin membuat Lucas malu saat menyanding dirinya dengan tampilan yang kumal.


“Apa Lucas sedang sibuk?” Bella memberanikan diri bertanya pada pria itu. Lucas sama sekali tak menghubunginya hari ini, ia bahkan tak menagih jam kerja atau apa pun alasan mereka agar bisa bertemu seperti biasanya.


“Tuan Lucas menemani Nyonya besar karena Tuan Rony pergi ke luar kota. Nyonya Katerina sangat lemah akhir-akhir ini, jadi harus ada yang menemani beliau saat di rumah,” jelasnya.


“Ah begitu, baiklah. Terima kasih, ya.” Bella mengangguk tanda mengerti.


“Sama-sama. Saya pulang dulu, Nona.”


“Iya.” Angguk Bella.


Bella bergegas kembali masuk ke dalam rumahnya. Begitu banyak barang pemberian Lucas, tak hanya baju yang dipilihnya kemarin, ada tas, sepatu, bahkan sampai pakaian dalam.


“Apa-apaan ini??” Bella mengangkat sebuah bra berwarna merah dengan broklat hitam.


“Ini apa lagi?” Bella mengangkat celana dalam dengan motif macan tutul.


Kenapa seleranya seperti ini? Ck, dasar mesum emang! Pikir Bella, lidahnya tak berhenti berdecak karena sebal.


Bella menemukan sebuah kartu ucapan, dengan lekas ia membuka kartu itu dan membacanya.


Pakai kalau sedang bersamaku.


Siapa tahu kita melakukannya!


Love,


Pria paling tampan sedunia.


Bella tertawa saat membaca kartu ucapan yang tertera di atas tumpukan pakaian dalam. Entah apa yang sedang ia lamunkan sampai bisa tertawa sebahagia ini?


Bella menghentikan lamunan dan tawa kecilnya, ia harus segera membereskan semua ini atau mamanya pasti akan banyak bertanya.


Namun ....


Kekhawatiran Bella seakan percuma, bahkan sampai semuanya selesai tertata di dalam lemari pun tak ada tanda-tanda suara atau pun kehadiran Fransisca di dalam rumahnya.


Bella menuruni tangga dan menengok ke dapur, makanan yang disiapkannya untuk Frasnsisca sama sekali tidak tersentuh. Bella mengelus dahinya, bubur kacang hijau yang dibuatnya masih utuh dan bahkan telah basi. Sticky note yang di tempelkan Bella bertambah. Bella mencabutnya,


Bella anakku yang cantik


Mama akan pergi beberapa hari


Berlibur ke luar kota


Ada sedikit uang untuk sakumu


Juga uang 15 juta yang Mama pinjam dulu.


Jaga diri dan juga kesehatan.


Mama akan membelikanmu banyak


Oleh-oleh.


Love,


Mom 💋


Bahkan ada cap bibir mamanya di atas sticky notes itu. Bella menaruhnya kembali seraya menghela napas panjang, ia melirik ke arah meja makan, ada sebuah amplop putih yang sangat tebal, semuanya berisikan uang pecahan terbesar negara ini.


Dari mana Mama dapat uang sebanyak ini? Pikir Bella heran.


Bella akhirnya tak ambil pusing. Ia membereskan semua peralatan makan dan piring kotor dari atas meja makan. Hatinya sedikit sakit lantara semua yang di kerjakannya pagi ini sama sekali tak ada artinya. Fransisca sama sekali tak ingin menyentuhnya apa lagi memakannya.


Bella mengusap air matanya yang menetes turun di sela-sela kegiatannya mencuci piring. Matanya sudah tak sanggup membendung lagi air mata itu, hati Bella sakit. Sudah sejauh ini kah hubungannya dengan sang mama? Sudah serenggang inikah?


Tring ... 🎶


Bella menghapus air matanya dan bergegas mengambil ponsel dari saku celana.


Lucas:


Kau sudah menerimanya?


Bella:


Sudah


Terima kasih ya


Lucas:


Sudah kau coba?


Bisa kau pakai dan VC aku?


Bella:


No!!!!! 😡


Dasar mesum


Lucas:


Hahahaha 😜


Aku merindukanmu Ella


Ingin segera memelukmu. 🥰


Bella:


Aku juga. 🥰


Aku begitu merindukanmu.


Lucas:


Kau sudah makan malam?


Lelah?


Bella:


Tidak kok.


Jawab Bella, ia berbohong, Bella sama sekali tidak ada nafsu untuk makan saat ini.


Lucas:


Baiklah.


Selamat tidur Bella.


Aku mencintaimu. ❤️


Bella:


Aku juga mencintaimu Lucas


Selamat tidur. ❤️


Lucas:


Mimpikan aku


Karena aku akan memimpikanmu


Malam ini.


Bella:


Jangan bermimpi mesum, OK!


Lucas:


OK, cantik.


See you soon


Bella menatap layar ponselnya, hatinya jauh lebih baik hanya karena perhatian kecil dari Lucas. Bella tak pernah menyangka bahwa berpacaran dan memadu kasih ternyata sangat membahagiakan. Harusnya dari dulu Bella mencari seorang pacar.


— MUSE S5 —


Malam telah begitu larut, lampu pada sebuah kamar villa di pegunungan masih menyala. Menyinari para penghuninya dengan sinar remang berwarna kuning.


Fransisca duduk di depan jendela. Ia menghidupkan rokok dan menghembuskan asapnya naik ke atas. Kepulannya terihat pekat lalu menghilang, berbaur dengan udara di sekitarnya. Sesekali Fransisca menegguk minuman beralkohol yang tergeletak di depannya. Fransisca tak kedinginan padahal hanya selimut putih bersih yang membungkus tubuhnya.


“Kau tidak mandi?” tanya Rony.


“Aku habiskan rokokku dulu,” jawab Fransisca.


“Sudah aku bilang berhentilah merokok, Sisca.” Rony merebut rokok di tangan Fransisca dan mematikannya.


“Hei, kenapa di matikan?”


“Tidak baik untuk kesehatanmu!”


“Kenapa kau peduli padaku? Kau hanya ingin tubuhku bukan? Kau tidak mencintaiku, jadi jangan sok perhatian padaku.” Fransisca merajuk, ia memulai lagi pertengkarannya dengan Rony setiap pria ini menghubungi istrinya.


Fransisca merasa cemburu dan juga marah. Padahal mereka sedang berlibur berduaan, namun Rony tetap saja terus menghubungi dan juga memikirkan keadaan istrinya.


“Aku mencintaimu, Sisca, sungguh!” sergah Rony sebelum Fransisca lebih marah karena cemburu.


“Kau bohong!! Kau lebih memperhatikan istrimu di bandingkan aku!” jawab Fransisca dengan nada sedikit tinggi.


“Tidak, sungguh. Aku hanya memenuhi kewajibanku untuk menjaganya, sudah tidak ada perasaan cinta lagi yang tersisa untuknya.” Rony mendekap tubuh Fransisca dari belakang dan mencium tengkuknya.


“Sungguh?!”


“Iya, hanya kau yang ku cintai saat ini. Hanya kau yang ku inginkan, Sisca.” Rony mencium bibir Fransisca.


“Kalau begitu kapan kau akan menceraikannya?”


Rony menatap Fransisca dengan pandangan kesal. Sudah beberapa kali Rony mengatakan bahwa ia tak mungkin menceraikan Katerina karena dia ibu dari anaknya Lucas. Setidaknya Rony tak pernah tak menyayangi Lucas, jadi dia tak bisa membuat Lucas kecewa karena kelakuannya.


“Umur Katerina sudah tidak panjang lagi, Sisca. Bersabarlah.” Rony kembali mencium bibir Fransisca dan melumaattnya dengan begitu dalam.


Dokter telah memvonis Katerina, umurnya tak akan panjang karena jantungnya semakin lemah. Rony sempat syok saat mendengarnya, namun ia menyembunyikan kebenaran ini dari Lucas maupun Katerina sendiri. Mengatakan kebenaran hanya akan membuat keduanya semakin cemas dan semakin takut.


“Baiklah, aku akan menunggunya, Ron.” Fransisca mengalungkan tangannya ke leher Ronny.


“Good!! Jaga tubuhmu baik-baik, berhentilah merokok dan minum alkohol. Kita harus memiliki anak, Sisca. Aku ingin seorang anak perempuan yang cantik sepertimu.” Rony mendekap tubuh Fransisca dan mencium lehernya.


“Baiklah, aku akan berhenti merokok dan minum.” Fransisca sangat senang mendengar permintaan Rony. Jangankan satu, ia tak berkeberatan melahirkan selusin anak untuk Rony.


Mereka kembali merasakan keindahan hubungan yang telah lama hilang. Hati mereka yang membeku kini kembali hangat, terisi oleh buaian kisah kasih dan asmara yang begitu membara.


— MUSE S5 —


Hei hei hei


Author mau bikin sekilas info, ikut-ikutan author panutan saya (Haruka, pengarang my unknownhusband and sugar daddy). Wkwkwk ... semoga menghibur ya.


Percakapan ini terjadi di antara Author, Kalila dan Arvin.


Author : Bagian tubuh yang paling kalian suka dari pasanganmu?


Kalila : (Menatap Arvin beberapa saat) lengannya yang kekar mungkin.


Arvin : Wah, ternyata kau mengagumi lenganku, Baby!


Kalila : Diam kau Om ganteng! Fokus sama pertanyaan author.


Author : Kalau kamu, Vin?


Arvin : Tentu saja dada, hm, tapi bibirnya lebih menggoda.


Author: Jadi dada atau bibir nieh??


Arvin : Dada aja deh! Kenyal dan bikin pengen nambah terus.


(PLAK!! Kalila memukul lengan Arvin)


Author : Wah kalau itu author nggak ikut-ikutan deh.


Kalila : Lanjut thor! Keburu ngasih makan anak-anak piyik di rumah.


Arvin : keburu minta jatah juga Thor!


(PLAK!!! Kalila memukul lengan Arvin)


Author : OK - OK!! Kalian ada pesan dan kesan apa buat para pembaca setia Muse?


Arvin : Maaf yang merasa jomblo tolong peluk gulingnya, tempelin foto bias kalian juga boleh. Jadi halunya ada pelampiasan.


Kalila : kasih like dan comment terbaik kalian buat author rengginan. Kasihan dia nulis sampe keriting jarinya kalau nggak di comment.


Author : terharu banget Kalila!!!


Arvin : Nggak perlu banyak, tulis mak crit kaya kucritan tahi ayam juga author udah bahagia.


(PLAK!!! Kalila memukul lengan Arvin)


Kalila : nggak usah bawa-bawa TAHI AYAM!!


Author : gaes tengkarnya di kamar aja!! Mo pamit ama readers.


A+AK : OK!! Semoga setelah membaca MUSE tambah bucin dan membucin. Happynya dapet, nilai-nilainya juga dapet! Jangan lupa juga ikuti give away pulsanya, ya.


Love


Dee, arvin, kalila.