MUSE

MUSE
S7 ~ BAKAT



MUSE S7


EPISODE 22


S7 \~ BAKAT


Arvin menggenggam tangan Kalila, mencoba mencerna perkataan pria itu. Anaknya Levin punya bakat sebagai pembalap. Kini pilihan ada di tangan Arvin dan Kalila, apakah mereka setuju akan mengembangkan bakat Levin atau memilih untuk menguburnya begitu saja.


_________________


Siang hari sebelum balapan terjadi.


Warung bakso di pinggir sekolahan, saat jam pulang sekolah memang selalu ramai. Dipadati oleh anak-anak remaja yang ingin mengisi perut sebelum lanjut eskul. Ekor mata Jesca menangkap Levin yang berboncengan dengan Leoni melintasi trotoar jalan.


“Menyebalkan sekali. Levin sekarang tambah dekat dengan si Singa. Bikin sebal.” Jesca menghenyakkan punggungnya pada sandaran kursi plastik.


“Bryan masih biasa aja ke aku, ya kan Beb.” Sahut Anya sembari memasukkan sebutir bakso ke dalam mulutnya.


“Makan dulu baru bicara. Ntar keselek bakso kapok.” Celetuk Bryan.


“Hei, sebenarnya kenapa mereka bisa jadi dekat? Trus kenapa si Farel sekarang jarang masuk sekolah?”


“Farel mau ikut balapan liar malam ini, berharap bisa jadi pembalap profesional. Jadi dia latihan terus. Sampai bolos-bolos sekolah.” Bryan menyeruput kuah bakso yang sedap tapi sedikit kebanyakan kecap, ulah Anya.


“Malam ini? Levin dan Leoni juga datang?” Jesca membelalak.


“Iyalah, merekakan dekat, aku aja juga datang kok.” Bryan masih mengunyah bakso, sesekali ia menyedot es sirup, kepedasan karena ulah Anya juga.


“Jangan usil napa sih?!” Bryan melirik Anya, keringatnya mulai kebanyakan, segedhe jagung.


“Hahaha, habis kalian ngobrol mulu, kan aku jadi cemburu.” Anya mencibirkan bibirnya.


“Nggak gini juga!! Masa sambel lima sendok dimasukkin ke mangkok baksoku!” Bryan megap-megap.


Jesca hanya tersenyum tipis melihat pertengkaran sahabatnya, ia memikirkan ucapan Bryan. Informasi yang di dapatnya kali ini benarkah akurat? Jesca tak boleh percaya begitu saja. Ia harus melihatnya sendiri.


Dan benar saja, waktu malam tiba, Jesca menuju ke tempat yang di infokan oleh Bryan. Sebuah tambang pasir bekas pabrik semen. Mata Jesca membulat tak ayal melihat Levin dan Leoni bergoncengan menuju ke tempat itu.


“Pak Tejo, coba kau hubungi polisi!! Sepertinya ini area balapan liar deh, Pak.” Jesca berbicara pada sopirnya.


“Baik, Neng.”


Jesca menggigit bibirnya sebal. Mana mungkin Levin yang berasal dari keluarga kaya raya mengikuti balapan liar? Lalu Leoni? Kenapa juga gadis itu ikut-ikutan? Atau Leoni yang memberikan pengaruh buruk pada Levin? Jesca merasa harus memisahkan mereka, ia menyuruh sopirnya menghubungi kepolisian setempat.


“Cepet, Pak! Pertandingannya hampir di mulai!” Seru Jesca.


“Iya, Neng, ini sudah tersambung kok.”


Tak lama polisi datang, menggerebek area itu. Tak lama pula Levin dan Leoni terserempet mobil dan harus dilarikan ke rumah sakit.


...— MUSE S7 —...


Arvin dan Kalila berlari sepanjang koridor rumah sakit. Masih dengan piyama tidur berbalutkan jaket ala kadarnya. Mereka bahkan juga hanya menyahut kunci mobil dan dompet di atas meja. Tak ada barang lain yang mereka bawa. Terlalu panik dan khawatir dengan ke adaan anak bungsunya. Baru saja polisi menelefon Arvin, mengabarkan bahwa anaknya mengalami kecelakaan setelah melakukan balapan liar.


“LEVIN!! Pasien atas nama Levin!!” Arvin menggedor meja resepsionis.


“Anak remaja, yang tadi datang bersama polisi.” Kalila menambahkan.


“Oh, Anak itu baik-baik saja kok. Dia hanya syok. Temannya yang terluka. Bapak Ibu tenang ya!” Suster penjaga resepsionis teringat, siapa yang tak ingat bocah seganteng Levin. Apa lagi petugas kepolisian yang membawanya ke rumah sakit, jadi terlihat jelas.


“Dia sedang menunggu temannya. Bilik no 5 di UGD.”tunjuk sang suster penjaga.


Tangan Kalila yang bergetar mulai berangsur-angsur tenang. Wajah Arvin juga tak lagi terlihat tegang. Mereka hendak masuk ke dalam ruang UGD saat tiba-tiba seorang pria menyapa Arvin.


“Anda ayah dari bocah itu?” tanyanya sopan.


“Benar, Anda siapa?” Arvin mengeryitkan alisnya, merasa tidak kenal.


“Perkenalkan, nama saya Sandro. Perwakilan club motor di negara ini. Pencari bakat. Kebetulan saya hadir dan melihat pertandingan anak Anda.” Sandro, pria berjas hitam itu menyerahkan kartu nama kepada Arvin.


“Club motor? Apa hubungannya dengan anak saya?” Arvin membaca kartu nama itu.


“Anda tidak tahu? Anak Anda adalah salah satu riders yang berlomba malam ini.”


“Dia bukan hanya menonton?” Arvin saling pandang dengan Kalila. Ia kira anaknya hanya menonton pertandingan balapan liar, tidak sampai menjadi joki dari kuda besi itu.


“Anak Anda punya bakat. Bakat alami sebagai seorang pembalap. Instingnya kuat dan refleksnya luar biasa. Bila dilatih dengan baik, dia bisa menjadi pembalap profesional.”


“Dia hanya bocah berusia 12 tahun!” Arvin sedikit nyolot, mana ada orang tua yang membiarkan anak remajanya mengitari lapangan balap dengan usia semuda itu.


“Kami memang memilih anak-anak remaja dengan rentan usia 13-15 tahun. Melatih mereka sedini mungkin. Anda tahu Lorenzo? Ia memulai debut 125 cc saat umur 15 tahun, Pedrosa memenangkan 125 cc pada umur 18 tahun. Rossi memenangkan juara 125 cc pada usia 18 tahun, dan motor GP pada usia 22 tahun. Semakin muda seseorang, semakin panjang pula kesempatannya meraih juara.”


Arvin terdiam sesaat.


“Tolong pikirkan saja perkataan saya. Pertimbangkan baik-baik. Bila setuju, Anda bisa menghubungi nomor ini.” Sandro memilih memberikan Arvin waktu untuk berpikir.


“Baiklah.”


“Semalam malam, Tuan Arvin. Saya menunggu kabar baik Anda. Bakat anak Anda terlalu sayang bila di sia-siakan.”


“Selamat malam.”


Arvin menggenggam tangan Kalila, mencoba mencerna perkataan pria itu. Anaknya Levin punya bakat sebagai pembalap. Kini pilihan ada di tangan Arvin dan Kalila, apakah mereka setuju akan mengembangkan bakat Levin atau memilih untuk menguburnya begitu saja.


Dari balik pilar, seorang bocah menguping pembicaraan mereka. Tak terdengar apapun, bahkan sayup-sayup pun tidak. Tapi bocah itu tahu, bahwa pria ber jas hitam adalah teman ayahnya. Ia memberikan kartu namanya pada Arvin. Alih-alih menemui ayahnya, pria itu lebih memilih untuk menemui ayah Levin.


“Sialan!!!” umpatnya lalu berlari pergi.


Dan tiba di saat yang sama, Leon dan Kanna datang. Berlari menghambus masuk ke dalam ruang UGD dengan wajah super panik. Mengamuk pada Levin yang mencelakai Leoni anak mereka. Setelah suasana yang panas dan penuh air mata. Arvin mendekati putranya. Bertanya tentang hasil balapannya malam ini.


"Pertandingan hari ini?"


"Tak ada yang menang, kami bubar karena digerebek polisi." Levin menghenyakan punggungnya pada sandaran bangku besi.


Arvin diam sesaat, lalu mengelus pucuk kepala Levin dan menciumnya. Benarkah anaknya begitu mencintai dunia balap motor? Apa bakatnya akan hilang kalau Arvin memupusnya? Tapi bukankah itu tidak adil? Levin punya masa depan yang gemilang dengan bakatnya. Tugas orang tua adalah mengarahkan dan membimbingnya supaya berhasil. Bukan memaksakan kehendak mereka.


Setelah menimbang sejenak dalam benaknya, akhirnya Arvin memutuskan untuk mengembangkan bakat Levin sebagai pembalap motor.


"Fokus sekolahan dahulu sampai lulus SMP, Vin. Setelah itu daddy akan mengirimmu ke Spanyol untuk belajar menjadi pembalap profesional."


"Sungguhkah?" Mata Levin membulat sempurna. Arvin mengangguk, senyum tipis menghiasi wajah tampannya.


...—MUSE S7–...


...Wah ya kasihan Farel. Huhuhu ... semoga mereka nggak bertengkar karena hal ini ya....


...Ah, jangan lupa di like sama komen ya. Yang banyak....


...makatih bellecious...


...💋💋💋...